Sujud

Entah kenapa dari semua gerakan shalat, aku paling menyukai gerakan sujud. Ada perasaan nyaman tersendiri saat melakukannya, seolah semua masalah yang ada di dalam pikiran mengalir begitu saja ke dalam tanah, atau mungkin memang gelombang listrik yang penuh masalah di otak mengalir ke tanah sebagai ground ya?

Ah, sudah lah, yang jelas menyenangkan memang punya waktu dan tempat untuk bercerita tentang masalah kita, tapi tetap saja usaha untuk menyelesaikannya dimulai setelah bangun dari sujud itu 🙂

Iklan

Random Thought: Melepaskan

“Let go. Let God”, aku lumayan suka dengan kalimat yang dijadikan profpic orang itu. Karena mungkin memang itu lah yang perlu kita ingat.

Entah mengapa aku menganggap di jaman ini kita sering sekali berusaha mengambil hak yang bukan (atau belum saatnya) menjadi hak kita. Seolah-olah kalau tidak diambil maka kita akan jadi orang yang paling merana di dunia. Padahal manusia bukan makhluk yang cepat puas atas kondisi hidup yang dijalaninya. Saat doa orang yang meminta segunung emas dikabulkan, kemungkinan besar dia akan meminta gunung emas yang kedua, bukan begitu? Aku sih tidak masalah kalau ketidakpuasan ini dihadapi dengan memperbaiki diri dan menciptakan teknologi agar semua pihak setidaknya lebih puas daripada sebelumnya, salah satu alasan aku menganggap teknologi sebagai manifestasi ketidakpuasan manusia, namun jika hal ini disikapi dengan mengambil hak yang saat itu bukan milik kita agar kita puas, kedengarannya ada yang salah.

Dan mungkin memang kita perlu belajar untuk melepaskan. Bukan melepaskan usaha yang baik, tapi melepaskan segala ekspektasi terhadap hasil yang akan kita dapat, dan membiarkan skenario-Nya bermain dalam hal itu. Kadang kita terlalu terpaku pada hasil bukan? Dan mungkin itu juga yang berpengaruh pada cara pikir kita, sehingga saat kita melihat adanya kesempatan untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan, tanpa peduli apapun caranya, kita langsung mengambil kesempatan itu. Padahal, apa yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita, dan apa yang tidak kita inginkan belum tentu buruk bagi kita. Itulah fungsinya iklan, membuat kita menginginkan sesuatu, padahal siapa yang tahu barang yang diiklankan itu benar-benar baik bagi kita atau tidak?

Dan mungkin ini tidak hanya berlaku pada hal materiil saja, hal lain seperti orang dalam kehidupan kita juga. Pernah dengar cerita bayi yang dibawa kabur oleh orang yang ingin punya anak? Yah, aneh memang mengingat kasus bayi yang dibuang lebih marak dari cerita itu. Ada yang ingin tapi tak kunjung mendapatkan, ada yang dapat padahal tak menginginkan, hidup itu aneh ya?

Contoh lainnya yang menurutku sudah dianggap lumrah adalah pacaran di kalangan anak muda. Sebagai anak muda jaman sekarang, repot kalau saat kumpul keluarga besar topik itu diangkat, tinggal menunggu waktu sebelum topik itu dikaitkan denganku, setelah puas membahas dua kakak sepupuku yang perempuan. Bahkan topiknya kadang sampai ke menanyakan niat nikah kapan, yang kadang kubalas dengan gerutuan dalam hati, “usia kepala dua belum, punya kerjaan belum, emosi kadang labil, kalian mengharapkanku memimpin keluarga yang seperti apa?” Memang amanah itu memantaskan yang dipilih, bukan memilih yang pantas, tapi kayaknya tetap perlu kriteria minimal deh -_-

Haha, syukurlah orangtua tidak berniat membuatku buru-buru, karena aku juga menganggap pacaran itu kurang pas denganku. Dan menurutku pacaran juga merupakan kegiatan yang mengambil hak yang bukan atau belum menjadi miliknya. Oke, memang ada sepasang kekasih yang aku kagumi, saat yang lain pacaran dengan membuang-buang uang, pacaran mereka justru diisi dengan aktivitas sosial. Semoga mereka cepat menikah dan dapat berkontribusi lebih banyak lagi lah, haha, senang bekerjasama dengan kalian. Memang kadang aku juga menganggap seru juga kalau punya partner setia dalam aktivitas seperti itu, apalagi di dunia dimana relawan datang silih berganti, dari segi sumber daya manusia 2 orang lebih baik daripada sendirian kan?

Tapi yang kukhawatirkan lebih ke batasan interaksi yang tidak jelas. Dulu saat sma ada yang berkata, “2 dari 3 anak muda di kota XC pernah berhubungan. 1 orang sisanya yang merekam” Agak ironis memang, sayangnya kalimat yang pertama merupakan fakta dari survey yang pernah dilakukan, kalimat kedua baru lah merupakan guyon yang ditambahkan temanku itu menilai dari maraknya video bertopik itu yang katanya muncul dari kota XC, entah lah bagaimana dia tahu. Mengambil hak yang bukan atau belum menjadi miliknya. Kalau itu terus berlanjut meskipun pacarnya terus berganti, apa bedanya dengan cerita guru agamaku tentang jaman jahiliyyah, bahwa wanita mengobral diri dan kalau suatu hari dia punya anak, lelaki yang pernah berhubungan itu diundi untuk menjadi ayahnya? Aturan itu ada untuk membawa keteraturan dan membuat hidup menjadi lebih nyaman, tapi sulit untuk melihat itu jika kita terlalu mementingkan diri sendiri bukan?

Hal yang menurutku tidak kalah berbahaya dari pacaran adalah perasaan kedua individu. Pernah mendengar tentang korban bunuh diri akibat putus dengan pacarnya? Memang tidak terlalu banyak, tapi sepengetahuanku tetap saja ada orang yang melakukan itu. Dan karena aku punya beberapa kawan yang kadang meracau tentang sulitnya untuk “move on”, kelihatannya sulit ya melepaskan jika sudah merasa memiliki? Padahal semua nyawa dan hal yang ada di dunia ini ada yang punya, dan sayangnya, itu bukan kita. Ada yang mau melakukan survey berapa banyak rumah tangga yang rusak akibat orang dari masa lalu seperti mantan pacar? Aku penasaran, tapi sulit menemukan cara untuk melakukan survey pada hal pribadi macam itu, haha.

Tapi jika semua sudah berlalu, aku teringat pada perkataan Dr. Seuss, “Jangan menangis karena suatu hal telah berakhir. Tersenyumlah karena itu telah terjadi” Bagaimanapun, tetap ada pelajaran dari setiap hal yang terjadi, dan daripada terjebak di masa lalu, lebih baik membuat masa kini dan masa depan menjadi lebih menyenangkan bukan? Kita memang perlu bahan evaluasi diri, tapi apa gunanya jika hasil evaluasinya tidak kita terapkan untuk memperbaiki diri kedepannya?

Oh, malah jadi membahas pacaran. Ah, sudah lah, pikiranku memang suka berlayar kemana-mana saat tidak ada kerjaan. Contoh lainnya lagi adalah orangtua. Banyak sahabatku yang langsung memesan penerbangan ke kota asal saat mendengar suatu hal buruk terjadi pada orangtuanya, tidak bisa disalahkan karena aku juga lumayan yakin akan melakukan hal yang sama. Ada sahabatku yang menyayangkan tingkahlaku keluarga besarnya yang terkesan abai tiba-tiba berubah menjadi sangat perhatian dan menyesali keabaiannya saat ada yang meninggal, merasa memiliki disaat hal yang dimiliki itu telah benar-benar pergi. Kasus seperti itu lumayan lumrah ya? Entah lah, aku berpendapat bahwa jika seseorang sadar bahwa suatu saat semua akan pergi, dia tidak akan terlalu kecewa saat suatu hal benar-benar pergi. Dan mungkin itu juga penyebab adanya larangan meratapi mayat, siapapun mayat tersebut. Karena kita telah diingatkan berkali-kali bahwa semua ada masanya, dan segala sesuatu yang bernyawa akan merasakan yang namanya mati, termasuk diri kita. Dan semuanya tergantung pada kita, mau mempersiapkan diri sebelum itu terjadi atau menyalahkan situasi saat itu terjadi?

Apa salahnya belajar untuk melepaskan diri dari ekspektasi dan bekerja dengan cara yang diperkenankan? Bukankah kita juga bisa belajar untuk merasa memiliki hal yang nyatanya bukan atau belum menjadi milik kita? Dan mengingat bahwa yang kedua akan lebih sulit dipertanggungjawabkan di dunia-akhirat, kenapa tidak mencoba belajar yang pertama? 🙂

Random Thought: Pemimpin

“Memangnya jadi pemimpin itu harus sempurna banget ya?” tanya seorang kawanku. Entah pengaruh dari pemilu yang semakin dekat atau apa, sekarang media mulai ramai, dan salah satu topik yang diangkat itu jelas, para pemimpin yang terpilih sebagai kepala daerah. Dan mereka dibanding-bandingkan, dari yang kontroversial seperti “Kepala daerah terbaik”, sampai yang agak (atau memang?) berniat untuk menjatuhkan seperti “Kerja nyata vs Kerja pencitraan”, terlihat dari judulnya bahwa satu pemimpin didewa-dewakan sementara yang satu lagi direndah-rendahkan, agak kusayangkan karena menurutku keduanya pemimpin yang bagus, dari partai yang, meskipun keduanya lumayan dipercaya masyarakat saat pemilu, tidak terlalu bagus (korupsi, anggota partai yang percaya buta pada petinggi partai atau orang yang dicalonkan, perang dunia maya yang memuji-muji partai yang dipegang dan menyebar keburukan partai atau pemimpin lain yang entah kebenarannya. Yah, sampai saat ini masih belum ada partai yang kuanggap bagus sih). Dan tidak jarang aku merasa artikelnya tidak objektif dan berat sebelah, yang kadang membuatku merasa kasihan dengan pemimpin yang memimpin orang-orang seperti itu.

Aku tidak mengerti banyak soal tanggungjawab, tapi aku tahu satu hal. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk pemimpin dan tokoh yang banyak dipuja-puja orang itu. Dan memang itulah kodrat manusia, dimana kelebihan seseorang menutupi kekurangan orang lain, saling melengkapi. Aku tidak punya masalah dengan kritik, para pemimpin atau organisasi politik itu jelas butuh bahan untuk evaluasi, dan aku memang tidak terlalu suka orang yang menggunakan bahasa sulit dan berputar-putar yang bertujuan untuk membingungkan yang mendengar. Kadang aku berharap ada yang mau menjawab, “saya tidak menyangkal bahwa saya salah. Dan saya akan berusaha agar kesalahan ini tidak terulang kembali”, ah, tapi kita semua terlalu malu, atau mungkin pongah untuk mengakui kesalahan kita, sudah lah. Hal yang ingin kubahas disini adalah peran masyarakat yang dipimpin.Sebagai masyarakat, apa yang kita lakukan jika pemimpin kita membuat aturan? Mentaati seluruhnya atau melanggar beberapa hal yang kita anggap tidak penting?
Sebagai sumber daya manusia, apa yang kita lakukan jika pemimpin kita membuat suatu acara yang bermanfaat? Membantu keberjalanan acara atau membiarkan sang pemimpin dan sahabat dekatnya atau anggota basis partainya sibuk?
Sebagai yang dipimpin, apa yang kita lakukan jika pemimpin kita meminta kita mengurus sesuatu? Melaksanakannya dengan sebaik mungkin atau menghindar dengan dalih banyak urusan di kantor, kampus dan lain semacamnya?
Dan sebagai pengamat, apa yang kita lakukan jika pemimpin kita berbuat kesalahan? Mengingatkannya langsung secara personal atau mendiamkan dan kemudian menyebarluaskannya agar pemimpin itu dapat dijatuhkan?

Banyak orang yang sibuk meneriakkan reshuffle kabinet, padahal mungkin pemimpinnya juga ingin meneriakkan reshuffle masyarakat, hahaha.

Tapi nyatanya kita memang sering lupa, sehebat apapun seorang pemimpin, dia tetap lah manusia biasa. Dia kita percaya untuk mengurus semua masalah kita, namun dia tidak dapat menjalankan semua yang ingin dia lakukan sendirian. Dan itulah dimana kita dapat berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan masalah kita.

Kadang aku berpikir, jika ada suatu saat dimana kita mendapat pemimpin yang benar-benar baik, maukah kita menjadi warga negara yang baik juga agar jaman kepemimpinannya benar-benar dapat berjalan dengan baik, nyaman dan menyenangkan?

Informasi Banjir

Dapat message di whatsapp yang bunyinya begini, “INFO BANJIR DKI JAKARTA :
Network (NEOnet) – BPPT yang bergerak dibidang kebumian di Indonesia membuat suatu aplikasi online tentang situasi banjir yang terjadi di Provinsi DKI Jakarta saat ini yang bisa diakses kapan saja secara real time. Didalam aplikasi ini rekan-rekan semua bisa melihat status banjir, monitoring ketinggian air disetiap aliran sungai, info cuaca dan kemacetan.

Versi Desktop/PC : http://neonet.bppt.go.id/banjir/
Versi Mobile : http://neonet.bppt.go.id/banjir/Mobile/

Terima Kasih. Semoga bermanfaat:)

NB : Mohon bantu sebarkan.”

Dan pas ngeliat webnya, lumayan takjub lah, hahaha.

Dalam situasi apapun, informasi merupakan hal yang penting. Dengannya kita dapat menentukan langkah yang dapat diambil serta mempertimbangkan baik-buruknya dengan lebih matang. Dan alhamdulillahnya ini pertamakalinya aku dapat kabar tentang aplikasi ini, yang menurutku akan sangat bermanfaat, sebagai pemberi informasi bagi rakyat jakarta yang terkena musibah banjir dan sebagai teknologi yang dapat dikembangkan kedepannya oleh Indonesia.

Semoga Indonesia semakin siap dalam menghadapi bencana yang mungkin timbul dan semakin jaya di masa depan 🙂

Random: Keuntungan dan Aturan Main

Akhirnya tadi malam random lagi, setelah sekian lama kegiatan rutinitas yang membosankan, lumayan menyenangkan. Diawali dari menyelesaikan pemasangan modul yang tidak berlangsung dengan baik, menyebabkan luka sayatan pada tangan kiri dan kena setrum bertegangan sekitar 360V–aku benar-benar harus bersyukur arus listrik itu searah, bukan bolak-balik, tapi tetap saja, mengejutkan–karena kecerobohan saat melanjutkan pekerjaan dengan tangan kiri yang tidak berfungsi optimal. Meskipun ternyata dikejutkan oleh listrik bertegangan segitu ternyata tidak semengerikan yang kubayangkan, tetap saja aku tidak berniat untuk terkena gelombang kejut lagi. Yah, terkadang ketidaktahuan kita dapat menjadikan hal yang ada dalam bayangan atau alam pikiran menjadi lebih mengerikan dari hal terburuk yang dapat terjadi di dunia nyata, bukan?

Tapi karena kecerobohan seperti itu mengganggu pikiran–membuat khawatir hal yang serupa akan terulang kelak–dan tidak agenda di malam hari, aku pun memutuskan untuk ikut sahabatku ke bioskop untuk menonton film “The Wolf of Wall Street”. Refreshing jelas diperlukan, terlepas dari film apa itu. Yah, sebagai orang awam terkait saham dan wall street, setidaknya aku berharap punya gambaran terhadap kedua hal ini setelah menonton film ini, setidaknya itu harapan setelah mendengar judul filmnya dari sahabatku itu. Tapi karena waktu yang tersisa sebelum pemutaran film itu masih cukup lama, sahabatku mengajak mampir di sebuah restoran makanan cepat saji yang ternama untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.

Dan saat melihat harga di restoran itu sekarang, kelihatannya “menghabiskan isi dompet” dapat menggantikan “mengisi perut” di kalimat terakhirku. Ya, harganya jauh berbeda dibandingkan saat aku masih di sekolah dasar, aku ingat dahulu banyak menu utama yang dapat diperoleh dengan harga total kurang dari enam ribu rupiah. Dan jujur, dengan tiadanya special service bagi mahasiswa seperti saat aku tiba di bandung dulu, aku heran kenapa restoran ini masih punya pengunjung, hal yang membuat makanan cepat saji sempat populer adalah murah dan mudah, kan? Lagipula, setauku sekarang popularitas makanan cepat saji telah menurun, dan mungkin itu yang menyebabkan mulai banyak paket murah (entah itu harian, potongan harga bagi kartu kredit tertentu atau apa) di restorab seperti itu. Mereka mulai kehilangan pelanggan. Dan itu yang mengawali diskusi kami. Saat aku mengeluhkan harga yang melonjak terlalu tinggi–seharusnya lonjakan harga akibat naiknya harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik tidak sejauh itu–dan mempertanyakan kenapa masih ada yang mau makan makanan cepat saji berharga mahal seperti disini, sahabatku berpendapat bahwa dahulu harga yang murah dipasang untuk menarik pelanggan. Setelah pelanggan sudah tertarik, barulah harga dinaikkan untuk meningkatkan keuntungan. Itulah penyebab dulu harga yang dipasang pada makanan cepat saji dapat bersaing, atau bahkan lebih murah dari harga yang dipasang warung makan. Setelah itu pun diskusi berlanjut untuk memperkirakan berapa besar keuntungannya naik, dari mengingat harga bahan-bahan pembuat makanannya di supermarket–dengan asumsi mereka membeli bahan dasar dari supermarket, karena keuntungannya akan lebih besar lagi jika bahan-bahannya dibuat sendiri–dan memperkirakan dampak naiknya bbm dan tdl pada harga makanan. Bagaimanapun, aku masih menganggap kenaikan lebih dari sepuluh ribu rupiah untuk sebuah makanan masih kuanggap aneh. Apalagi keuntungan yang diambil dari minuman pada restoran seperti itu juga jelas tidak sedikit. Seperti yang dikatakan guruku saat sma dahulu, saat kita pergi ke sebuah restoran mahal, kita tidak sekedar membeli makanan, tapi kita juga membeli gaya. Ya, kita bergaya dengan nongkrong atau membeli makanan di tempat yang bagus, dinding kaca, suasana elit dan lain sebagainya, dan itulah yang menyebabkan harga disana tidak murah. Karena kalian memerlukan biaya tambahan untuk membeli gaya tersebut. Dan ini juga mengingatkanku pada cerita guruku yang lain, tentang pemilik sebuah franchise ternama yang populer karena hamburger yang dijualnya. Karena sang pemilik mengakui bahwa banyak hamburger buatan rumahan yang jauh lebih enak dari hamburger di gerai franchisenya, namun dia lebih menganggap bisnis yang dia jalankan adalah bisnis real estate, bukan bisnis di bidang makanan, mungkin karena suasana dan letak bangunan yang dijadikan franchise, entahlah.

Dan diskusi pun berlanjut ke topik politik, hei, apa lagi topik yang menarik untuk dibicarakan dan dapat berpengaruh besar ke masyarakat saat pemilu menjelang seperti ini? Dan karena calon presiden dan wakilnya belum ditentukan, diskusi diawali dengan membahas beberapa partai yang jelas ikut pemilu. Hasilnya? Yaah, lumayan menjatuhkan semangat dan memutus harapan. Secara umum, jujur saja, kami agak kesulitan untuk menentukan partai mana yang punya citra positif, yang bukan sekedar kicauan para anggota atau simpatisan partai itu. Aku juga pernah mendengar beberapa hal buruk yang dilakukan oleh partai, dan bahkan ada juga cerita tentang masyarakat yang memanfaatkan partai untuk kesejahteraan desa mereka, dengan memberikan suara 50% lebih sedikit dari penduduk desa mereka agar partai tersebut memudahkan persoalan dana di desa mereka. Setidaknya itulah yang diceritakan oleh supir elf yang pernah kugunakan terjadi di kampungnya, hei, jika pemimpinnya saja sudah tidak benar, masyarakat seperti apa yang mau diharapkan? Itulah penyebab saat pemilihan kepala daerah aku lebih memilih berdasarkan tokoh daripada berdasarkan latar belakang partainya, karena terlepas dari apapun partainya, selalu ada orang baik yang mengusahakan kepentingan rakyat dan orang gak bener yang berusaha memanipulasi rakyat di dalamnya. Tapi terkait masalah kenapa hal-hal yang gak bener jauh lebih ditonjolkan dibandingkan hal-hal yang baik, mari kita salahkan media yang menonjolkan itu. Kita pun sempat membahas beberapa partai yang dahulu bagus meskipun tidak terlalu banyak yang memilih, namun entah bagaimana sekarang.

Diskusi pun berlanjut, terkait baik-buruknya beberapa tokoh yang mungkin mencalonkan diri. Mengingat ada beberapa pemilik media yang mungkin ikut mencalonkan diri, sekedar saran, sebelum memilih coba lihatlah acara-acara di medianya seperti apa, apakah itu menggambarkan sosok pemimpin yang cerdas dan dapat dipercaya untuk memimpin negara atau sosok orang yang gak jelas apa yang ingin dilakukan setelah mendapatkan kekuasaan? Entah lah, aku sudah lumayan lama tidak mengikuti media dalam bentuk apapun, tapi jika memang ada media yang dimiliki oleh yang mencalonkan diri dan menggambarkan sosok yang layak untuk dipilih, kenapa tidak? Meskipun aku sendiri agak meragukan itu akan terjadi, tapi semua orang boleh berharap kan? Selain itu, sekedar saran lain, mungkin ada bagusnya melihat latar belakang dari calon yang akan dipilih. Apakah ada hal buruk yang pernah dilakukan, tanggungjawab yang pernah dilalaikan, janji yang pernah diabaikan, dan lain semacamnya. Secara pribadi aku lumayan yakin tiap orang pernah mengalami hal-hal itu, maka jelas menilai dari punya atau tidak bukanlah hal yang baik. Tapi yang baik untuk dilihat adalah bagaimana orang yang mencalonkan diri itu menghadapi masalah yang dia punya. Apakah dengan turun langsung ke lapangan tanpa tahu apa yang dilakukan? Apakah dengan melarikan diri dari tanggungjawab dan membuat orang-orang lupa bahwa masalah itu pernah ada? Apakah dengan merumuskan langkah-langkah yang entah dapat memperbaiki atau memperparah situasi? Atau apakah orang yang mencalonkan diri itu menghadapi masalahnya dengan baik? Hei, sebagai pemimpin negara, itu penting kan?

Waktu semakin mendekati pemutaran film, kami pun menuju bioskop sambil tetap mengobrol, sulit untuk berhenti jika pembicaraannya terlalu menarik. Kemungkinan yang dapat terjadi jika memiliki presiden yang independen atau tidak terlibat partai, yang mungkin agak sulit untuk membuat peraturan atau undang-undang jika tidak dapat merangkul anggota dpr yang punya kuasa untuk mengesahkan ranacangannya, yang setelah kupikir-pikir lagi sekarang malah membuatku mempertanyakan berapa banyak orang disana yang masih memperjuangkan masyarakat, bagaimanapun juga harus diakui orang-orang yang mencalonkan diri sebagai legislatif memang tidak seterkenal orang-orang yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah atau negara dan ada juga yang mengatakan hal-hal yang kurang baik, tapi semoga masih banyak. Kemungkinan yang kami sepakati akan seru adalah jika semua petinggi negara atau daerah dan legislatifnya independen, ada baik dan buruknya memang, tapi aku penasaran bagaimana indonesia jika hal demikian terjadi, hahaha. Lalu kegiatan lain yang kami lakukan adalah membahas apa yang partai lakukan jika sedang tidak ada pemilu. Hei, mereka punya basis massa yang besar, dan beberapa juga punya sumber dana yang besar, agak aneh jika mereka hanya aktif di tahun menjelang pemilu kan? Tapi mungkin itu hanya akan menjadi pertanyaan tak terjawab lain selama aku masih tidak berminat untuk terlibat di dunia politik. Entah lah, sampai sekarang aku lebih suka bergabung dengan organisasi sosial dan memberi manfaat bagi orang-orang bersama teman-teman yang berminat sama daripada membawa nama golongan tertentu, toh aku juga tidak menganggap untuk bermanfaat harus terlibat politik, meski aku juga tidak mengingkari keberhasilan terjun di dunia politik akan mempermudah proses memberi manfaat. Ah, sudah lah, mari fokus pada masa kini. Kami pun berdiskusi terkait reformasi, nyatanya sejak indonesia mulai menerapkan demokrasi kelihatannya jarak yang harus dikejar untuk menjadi negara maju tetap saja jauh. Temanku berpendapat ini normal karena memang demokrasi baru berjalan sekitar 15 tahun–perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu singkat–dan harusnya rakyat tetap mendukung perkembangan ini dengan terus berpartisipasi aktif dalam segala kegiatan. Memang, sepengetahuanku sendiri perkembangan indonesia tidak buruk. Tidak terlalu hebat, tapi tidak buruk. Tapi aku pun juga mempertanyakan bagaimana rakyat mau berpartisipasi aktif jika pemerintahan tidak menjadi suatu tempat yang dapat dipercaya. Entah ya.

Yang jelas akhirnya film pun dimulai. Dan sejujurnya, jika diminta mengomentari film ini aku pun tidak tahu mau berkomentar apa, speechless. Dalam beberapa hal, ini menceritakan aspek kehidupan di amerika, “surga dunia” dan berbagai hal serupa yang sangat menjurus ke dunia dewasa (meskipun telah lolos sensor, anehnya aku masih merasa ada beberapa hal yang lolos), tapi di sisi lain film ini juga mengajarkan banyak hal tentang dunia saham. Aku tidak mengatakan film ini harus ditonton, tapi kalau orang yang menonton sudah dewasa dan dapat membedakan yang baik dan buruk, film ini lumayan informatif terkait praktek kotor di dunia saham dan kehidupan glamor di amerika. Hal ini kuanggap penting karena setiap hal di dalam kehidupan punya aturan main, dan kita dapat dipermainkan oleh orang yang ingin menguntungkan diri sendiri jika kita tidak tahu aturan tersebut.

Aku selalu suka situasi seperti ini, saat dimana aku bisa menjadi anak-anak yang berceloteh banyak tentang kehidupan, entah sisi baik ataupun sisi buruk, dan entah itu benar atau hanya prasangka, selama banyak informasi yang bisa kudapatkan dan kuberikan, selama masih dalam koridor yang diperbolehkan, dan selama apa yang kubicarakan tidak punya pengaruh buruk ke orang lain. Padahal memang hanya sedikit situasi yang memungkinkanku meracau, meski memang racauan itu bisa keluar di saat-saat yang tak terduga sih, hahaha. Meski masa-masa di bandung semakin singkat, semoga momen seperti ini juga akan semakin banyak, dan semoga momen ini tidak hanya timbul di bandung saja 😀

Sekarang, waktunya kembali ke kesibukan di dunia nyata, ada waktu untuk meracau dan ada waktu untuk berusaha~

Komitmen

Ternyata benar, nikmat waktu luang dan kesehatan itu merupakan dua nikmat yang paling sering terlupakan. Setidaknya bagiku, setelah terlalu lama membuang-buang waktu saat liburan dan tetiba dihadapkan dengan pekan pertama perkuliahan yang lumayan padat, yah, hasilnya tidak terlalu baik. Hari ini pun sebagian besar diisi dengan tepar di kasur setelah kegiatan yang agak melelahkan kemarin, dari bekerja menyelesaikan perlengkapan praktikum untuk tingkat bawah yang kebetulan berhubungan dengan tema tugas akhir yang kuambil, rapat organisasi, dan menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk kegiatan belajar sebuah sekolah. Sebenarnya menyenangkan, tapi agak merepotkan memang jika tubuh tidak sanggup bertahan dengan aktivitas yang berlebihan. Mengingat kelihatannya semester ini akan penuh dengan kesibukan seperti ini, kelihatannya harus kembali membiasakan diri. Yah, orang bisa karena terbiasa bukan?

Tapi di sisi positifnya, syukurlah juga pekan ini tetap penuh dengan pembelajaran seperti biasa, dari pembelajaran terkait teknis menggunakan dan instalasi perlengkapan terkait tugas akhir (hal ini menyenangkan mengingat aku tidak terlalu sering menggunakan perlengkapan tukang, dan tidak lucu jika di rumah terjadi kendala teknis yang memerlukan keterampilan tersebut tapi aku membiarkan perempuan yang ada di rumahku untuk mengurus semuanya, menjatuhkan harga diri dan reputasi kaum adam bukan?), pembelajaran tentang karakteristik mahasiswa–setidaknya mahasiswa di kampusku–saat ini, dan lumayan banyak hal terkait kehidupan bermasyarakat. Dunia universitas dan dinamikanya entah kenapa selalu seru, meskipun di universitasku pelajarannya hanya terfokus ke empat bidang (sains, teknologi, seni dan bisnis), aku tetap merasa hal-hal yang terjadi disini jauh lebih menarik daripada apa yang terjadi di kampus lain. Memang sebagai universitas yang berlandaskan pada teknologi, ada dasar pemikiran tersendiri kenapa hanya empat bidang tersebut yang dibahas. Dari yang kudengar, situasi ideal yang diharapkan timbul adalah begini: mahasiswa sains berpikir dan berteori terkait keilmuan yang dia dalami, kemudian mahasiswa teknik mencoba menerapkan teori yang mereka pikirkan dalam bentuk teknologi yang memudahkan kehidupan manusia. Jika ada teknologi yang telah berhasil ditemukan, mahasiswa seni akan bertugas untuk mendesain teknologi tersebut sehingga dapat diterima oleh masyarakat, dan kemudian mahasiswa bisnis bertugas untuk menjual teknologinya, yang hasilnya dapat menjadi pemasukan bagi para mahasiswa yang terlibat dan dapat digunakan untuk riset kembali. Oke, itu memang merupakan kondisi yang sangat ideal, tapi apa salahnya memiliki mimpi suatu saat itu akan terjadi? 🙂

Dan ada hal yang menarik untuk dibahas terkait dengan profil mahasiswa saat ini. Mungkin bukan hal yang menyenangkan untuk diketahui, tapi mungkin juga merupakan hal yang baik untuk dijadikan pelajaran, entah lah. Diawali dari mata kuliah “psikologi sosial” yang kuambil di semester ini, yang secara asal kuambil untuk memenuhi syarat mata kuliah pilihan dari luar program studi. Itu merupakan mata kuliah yang mempelajari tingkah laku manusia saat sedang berada dalam kondisi sosial, dan tugas yang kami dapat pada pertemuan pertama merupakan pemetaan masalah apa saja yang terjadi pada mahasiswa di kampus saat ini. Seharusnya ini didiskusikan dengan teman-teman dari jurusan yang sama, tapi karena jurusanku merupakan kaum minoritas, kami berkumpul dengan beberapa mahasiswa dari jurusan minoritas lainnya. Oke, mungkin akan ada kendala dalam berkomunikasi karena perbedaan latar belakang, tapi kita mendapat kenalan baru dan sudut pandang yang lebih luas. Setiap hal punya sisi positif maupun negatif kan?

Dan kami hampir tidak menemui kendala dalam menentukan masalah apa saja yang ada, kelihatannya itu salah satu keuntungan menjadi orang bermasalah: pengetahuan terkait masalah apa yang kita miliki. Banyak hal yang disebutkan, dari terlambat masuk kelas, tugas yang terabaikan di organisasi, kelakuan titip absen atau ketidakhadiran–kata bolos yang diperhalus–melebihi batas yang diizinkan, sulit bangun di waktu yang diinginkan, dan banyak lagi. Lalu, ketika kami diminta untuk mencaritahu apa yang salah sehingga semua ini terjadi, kesimpulan yang kami dapatkan adalah komitmen.

Saat mahasiswa terlambat masuk kelas, titip absen atau memiliki tingkat ketidakhadiran–lagi, kata bolos yang diperhalus–melebihi batas yang diizinkan, itu merupakan bentuk bahwa kita tidak memiliki komitmen pada peraturan yang berlaku. Saat mahasiswa mengabaikan amanah atau tugasnya dalam sebuah organisasi atau perkumpulan, kita terbukti tidak komitmen terhadap apa yang telah kita pilih. Entah bagaimana dengan universitas lain, tapi pagi tadi pun ada kenalanku yang menyuarakan kefrustasiannya bekerjasama dengan mahasiswa karena komitmen yang buruk itu, dan mengatakan bekerjasama dengan profesional jauh lebih menyenangkan.

Satu hal lain yang menyebabkan kami tidak terlalu kesulitan menyelesaikan tugas ini adalah karena beberapa dari kami sering menjadi “tempat sampah” bagi orang-orang yang punya masalah. Dan jika aku diminta membuat grafik antara apa yang menjadi masalah (atau “hal yang bikin galau” jika menggunakan bahasa saat ini), umumnya hal ini mengerucut ke dua hal, yaitu masa depan (dan ini juga umumnya mengerucut ke tiga hal, yaitu melanjutkan studi ke luar negeri, mendapat pekerjaan bergaji tinggi dan menemukan jodoh yang menentramkan hati, haha) dan relasi (terkait hubungan antar manusia, seperti persahabatan, percintaan atau sosial masyarakat).

Uniknya, menurutku komitmen akan memiliki peranan penting dalam masalah tersebut. Jika kita ingin melanjutkan studi ke luar negeri, jelas komitmen kita terhadap peraturan yang berlaku harus diperbaiki jika kita tidak ingin mempermalukan diri kita, keluarga atau bahkan negara asal kita. Lagipula, tiap negara punya metodenya tersendiri dalam bertingkah menghadapi para pelanggar aturan, dan itu dapat memberikan masalah yang lumayan merepotkan jika mahasiswa tidak berniat untuk berubah. Lalu, terkait pekerjaan, jika pegawai tidak memiliki komitmen terhadap pekerjaannya, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengambil keputusan memecat pegawai tersebut? Sementara, terkait masalah pernikahan dan hubungan, aku suka dengan perkataan di anime “Log Horizon” yang sedang kuikuti, saat sedang menceritakan masa lalu karakter utamanya, “alasan kenapa kelompok kita di masa lalu sangat menyenangkan adalah karena kita semua berkomitmen untuk menjadikannya begitu”. Lumayan menggambarkan keseluruhan pendapatku.

Dan berbicara terkait komitmen, mungkin akan teringat pada pemilihan umum di tahun ini. Saat banyak orang yang mengumbar janji, tapi entah mana yang benar-benar berniat untuk menepatinya. Mungkin itu juga merupakan masalah komitmen, terhadap amanah yang diberikan masyarakat dan janji yang telah diucapkan. Banyak orang yang menyerukan jangan golput dan sejenisnya, padahal aku tidak terlalu melihat kenapa orang-orang yang memilih untuk tidak memilih itu perlu dipermasalahkan. Mereka hanya tidak menemukan orang yang menurut mereka pantas untuk dipilih kan? Mengapa tidak menyalahkan partai-partai yang ikut pemilihan agar mau membenahi para anggotanya yang mencalonkan diri, setidaknya sampai masyarakat merasa mereka layak untuk dipercaya. Karena sejak awal yang menjadi masalah bukanlah berapa banyak artis yang ada di dalam partai, kealiman anggota partai, atau siapa yang dicalonkan oleh partai, tapi bagaimana meyakinkan kami sebagai rakyat bahwa mereka yang dicalonkan memang kompeten dan berkomitmen untuk mengurus daerah. Dan entah kenapa aku teringat kalimat yang pernah kubaca, kalau tidak salah dari seorang khalifah (kalau tidak salah umar ra, tapi jika ada yang berkenan memeriksa aku akan berterimakasih, karena aku sendiri lupa membacanya dimana dan apa riwayat, sanad dan lain semacamnya) saat ada yang bertanya mengapa dia mengangkat pemimpin yang lebih kompeten tapi kurang dalam kealiman jika dibandingkan dengan calon lainnya, kira-kira jawabannya seperti ini (aku juga lupa redaksi lengkapnya, mohon maaf bagi yang membaca, budayakanlah pemeriksaan silang), “jika aku mengangkat dia sebagai pemimpin, kelebihannya akan menjadi kelebihanku, sementara kekurangannya akan menjadi urusannya. Tapi, jika aku mengangkat dia (calon yang lain) sebagai pemimpin, kelebihannya akan menjadi kelebihannya, sementara kekurangannya akan menjadi kekuranganku.” Oke, agar tidak terkena masalah terkait standar ganda harus kuakui, aku sepakat bahwa amanah itu memang lebih kepada “memantaskan yang dipilih” daripada “memilih yang pantas”. Namun, kelihatannya perlu ada standar minimal terkait kompetensi para calon yang dipilih, itu salah satu alasan kenapa murid tk tidak ada yang menjadi presiden kan? Pengetahuan yang kurang, usia yang belum matang, ketidakmampuan mengambil keputusan, dan banyak lagi hal yang harus dibenahi.

Jadi ingat sebuah puisi yang kubaca di buku sma,
“Kenapa dinamakan pemilu?
Apakah singkatan dari pemilihan umum
Atau karena menyebabkan hati rakyat menjadi pilu?”
Mungkin jika calon yang dipilih tidak memiliki komitmen dan/atau kompetensi yang layak, mereka hanya akan menjadi pemilu hati rakyat. Tapi setidaknya masih ada waktu sampai waktu pemilu tiba, orang-orang yang mencalonkan diri masih punya waktu untuk meningkatkan kompetensinya dan menguatkan komitmennya, rakyat masih punya waktu untuk mencaritahu orang-orang yang dapat dipercaya untuk mewujudkan aspirasi mereka, dan terlepas dari pemilu, kita juga punya waktu untuk belajar mengenai komitmen 🙂

10 Reasons Why Traveling Makes You A Better Person | Thought Catalog

Oke, baru tahu ternyata fitur re-blog juga ada di WordPress, kegagapan dalam menggunakan teknologi kurang menyenangkan untuk dimiliki di zaman seperti saat ini memang -_- Tapi setidaknya tidak ada kata terlambat untuk belajar kan? 🙂 Setidaknya bisa lebih mudah berbagi tentang artikel yang kuanggap menarik sekarang 😀

10 Reasons Why Traveling Makes You A Better Person | Thought Catalog.