Perubahan

Tahun baru, perubahan tahun. Kelihatannya akan menarik untuk membahas mengenai perubahan saat ini, momen untuk berubah, dengan berbagai resolusi yang telah ditekadkan.

940809_10151924614791840_274411741_n

Yah, mungkin tidak selalu.

Ada temanku yang pernah berkata bahwa tidak pantas bagi seorang manusia untuk jatuh ke lubang yang sama lebih dari sekali. Tapi ada juga temanku yang berkata bahwa tidak ada yang sama apabila kita melibatkan waktu sebagai dimensi keempat, sehingga jika kita jatuh ke dalam lubang tersebut saat ini dan sejam kemudian kembali jatuh lagi di lubang tersebut, kita tidaklah jatuh ke lubang yang sama. Posisi di dimensi keempat telah berubah. Dan sampai saat ini, aku cenderung kepada pendapat yang kedua. Hei, jelas bahwa setiap kejadian harus dijadikan pelajaran, tapi jika lubangnya telah berubah karena waktu, itu bukan lagi lubang yang sama kan?

 

Jadi ingat hari kamis lalu, saat aku kembali ke Tangerang. Ketika travel yang kugunakan sedang beristirahat di rest area, kehabisan minum dan haus, aku berjalan sepanjang rest area untuk mencari minimarket yang menjual minuman dengan harga yang tergolong murah. Karena harga air putih disana dapat mencapai Rp6.000,- untuk sebotol air berukuran sedang. Bukan bermaksud untuk abai terhadap tempat yang biaya sewanya mahal, namun agak sayang jika kondisi keuangan rusak akibat tidak mampu menahan diri. Yah, apa yang bisa diharapkan dari kondisi keuangan mahasiswa?

Tidak menemukan yang kucari, akupun bergegas kembali ke travel. Repot jika ditinggal di tengah rest area yang agak jauh dari peradaban seperti ini. Namun ketika melihat para penumpang lain dan pengemudi travel juga masih beristrirahat dan meregangkan badan, kelihatannya tidak ada salahnya untuk mondar-mandir sejenak sekaligus meregangkan badan. Alhasil aku mengelilingi jalan itu sebanyak 3 putaran, dan di tiap putaran aku masih mencari minimart, berharap ada tanda yang terlewat. Sayangnya tidak ada yang terlewat. Seorang ilmuwan pernah mendefinisikan kegilaan sebagai melakukan hal yang sama secara terus-menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda dari yang biasa didapatkannya. Antara ilmuwan tersebut belum pernah bertemu dengan penjudi atau hanya menganggap semua penjudi itu orang gila. Hm, mungkin tidak sepenuhnya salah, hahaha.

Tapi pemikiran itu terus berlanjut, setidaknya selama liburan ini. Aku mulai mengamati apa yang ada di sekitar karena penasaran ingin mengetahui apa yang berubah. Lumayan banyak sebetulnya, sebuah jenis minimart yang lumayan menjamur, hilangnya taman kota yang dulu sering kusinggahi untuk bermain dan berbagai merek yang tiba-tiba muncul tanpa pernah kudengar sebelumnya–entah berasal dari mana. Dan melihat hal-hal seperti ini justru malah niat untuk bertanya “Berapa kali mereka mencoba?”, “Berapa kali mereka menawar tempat ini?”, dan pertanyaan-pertanyaan lain terkait kesabaran dan tekad untuk memperjuangkan terus timbul. Kadang juga terselip pertanyaan absurd seperti apakah jika usaha ini tetap tidak berbeda hasilnya, tetap ditolak izinnya seperti biasa, mereka akan dikategorikan sebagai orang gila? Entah lah, yang jelas semuanya selalu berubah.

Begitu pula dengan kita. Entah disadari atau tidak, kita semua berubah, meskipun mungkin tidak ada yang tahu apakah kita berubah menjadi lebih baik ataukah lebih buruk, dan memang standar lebih baik bagi tiap orang itu berbeda. Dan ada hal yang menarik dari episode Doctor Who kemarin. Yah, memang Doctor Who bercerita tentang alien yang dipanggil dengan julukan “Doctor” dan dapat berganti nyawa, mencurangi kematian dengan berubah menjadi orang lain. Dan kemarin merupakan episode perpisahan dari Doctor ke-11, dengan pandangannya yang menarik tentang perubahan dalam perbincangannya dengan sahabatnya yang bernama Clara.

1483344_721744364525136_159209444_n

The Doctor: It all just disappears doesn’t it? Everything you are, like breath on a mirror. And he’s a-comin’

Clara: Who? Who’s coming?

The Doctor: The Doctor…

Clara: You. You are The Doctor.

The Doctor: Yup. And I always will be. But times change, and so must I… we all change. When you think about it, we are all different people, all through our lives and that’s okay, that’s good! You’ve gotta keep moving, so long as you remember all the people that you used to be. I will not forget one line of this, not one day. I swear. I will always remember when the doctor was me.

Waktu berganti, dan kita juga harus begitu. Bahkan, dapat dikatakan kita semua berubah. Kalau kita mereka ulang kehidupan kita, kita akan menemukan bahwa kehidupan kita diisi oleh orang-orang yang berbeda. Jelas diri kita saat masih di sekolah dasar tidak dapat (dan belum tentu mau) untuk disamakan dengan diri kita saat sekolah menengah pertama atau saat kuliah. Dan mungkin selama ini sudah banyak pola pikir kita yang berubah dari zaman dahulu. Pemikiran bahwa orangtua akan selalu ada dan menolong kita, pemikiran bahwa hidup selalu diisi dengan kesenangan, dan berbagai pemikiran lainnya. Bahkan mungkin ada pemikiran yang dulu kita miliki dan pemikiran tersebut menyebabkan kita merutuki diri sendiri kenapa pernah punya pemikiran seperti itu.

Pendapatku pribadi, mungkin lebih baik kita memaki diri kita di masa lalu yang disebabkan hal-hal yang belum diketahuinya daripada membiarkan diri kita dimaki oleh diri kita di masa lalu yang disebabkan hal-hal yang telah diketahuinya. Karena pada hal yang pertama, kita melakukan kesalahan karena ketidaktahuan kita, dan diri kita di masa depan yang (semoga) lebih dewasa seharusnya dapat lebih memaklumi kesalahan tersebut.  Namun, pada hal yang kedua, jika kita melakukan kesalahan atas apa yang telah kita ketahui sejak kecil, misalnya seperti melakukan tindak kriminal, apakah diri kita yang dahulu dapat mentolerirnya?

Kadang aku berpikir apa yang akan terjadi jika mesin waktu diciptakan dan diriku dari masa depan datang mengunjungiku. Yah, sangat imajinatif memang karena terinspirasi dari cerita seperti doraemon, tapi aku penasaran, akankah dia jadi orang yang menginspirasiku untuk terus berjuang agar mencapai level yang sama dengan orang yang mengunjungiku atau akankah dia menjadi orang yang kumaki dan berharap kematian datang lebih cepat agar aku tidak perlu berubah menjadi seperti orang yang mengunjungiku? Aku juga penasaran apa yang terjadi jika mesin waktu itu membawa diriku di masa lalu untuk bertemu denganku, akankah dia memandang kagum atau memandang rendah apa yang menjadi masa depannya?

Mungkin itu salah satu tujuan utama resolusi, setidaknya untuk menjaga agar diri kita di masa depan tidak dipandang nista oleh diri kita di masa sekarang ataupun masa lalu. Pesan terakhir:

993547_10151924637726840_7207811_n

Karena harapan tanpa disertai keinginan dan usaha untuk mewujudkan hanyalah menjadi angan, mari menjadikan tahun ini tahun yang baik. Atau mungkin tidak menjadikan tahun ini lebih nista dari tahun-tahun sebelumnya dapat menjadi batasan minimal dari target. Anyway, have a nice year, and let’s make it so🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s