Persiapan dan Kenyamanan

Karena ada beberapa urusan, dan berniat untuk silaturahmi dengan beberapa sahabat lama, aku memutuskan untuk kembali ke jakarta sampai hari rabu ini. Entah beruntung atau tidak, aku lupa bahwa kompleks perumahanku memiliki tamu berupa limpahan air yang biasanya datang di tiap bulan januari atau februari. Sulit dimengerti memang siapa yang pantas disalahkan jika sebuah daerah banjir, warga yang suka buang sampah sembarangan dan tidak mampu menjaga daerahnya, pemerintah daerah yang kurang mampu mengurus dan menjaga aturan di daerahnya, pemerintah daerah lain yang mengirimkan air ke sungai di daerah ini, ahli tata kota yang salah merencanakan daerah ini, pembuat tanggul yang karyanya kurang memuaskan karena tanggulnya sedang jebol saat ini, ataukah pemerintah pusat yang bertanggungjawab atas semua hal. Yang jelas, jika pihak-pihak terkait ingin berdebat dan saling menunjuk terkait siapa yang salah, akan memakan waktu lama dan kelihatannya tidak akan menyurutkan air di dalam rumahku yang sudah berada di ketinggian dada (atau mungkin bahu) orang dewasa.

Jika aku punya kuasa dalam menentukan beberapa detail dalam banjir ini, aku ingin membuat air banjirnya menjadi lebih jernih, menghilangkan sampah yang mengapung dan binatang-binatang yang mungkin ada dan berbahaya, dan memperbanyak transportasi air baik dalam bentuk rakit ataupun perahu karet. Setidaknya pemandangannya akan lebih indah, mungkin lebih seperti kota water seven dalam manga one piece, kota yang terendam air. Atau mungkin bisa juga seperti kota apung venezia di italia yang katanya romantis. Mengingat tingkat kegalauan anak muda yang saat ini lumayan tinggi, kelihatannya banjir yang membuat tangerang terlihat seperti venezia dapat mendatangkan pemasukan untuk mengganti kerugian yang mungkin terjadi seperti barang atau kendaraan yang rusak karena tingginya air, cat yang terkelupas serta lumpur yang mengganggu dan agak sulit untuk dibereskan setelah banjir surut. Tapi aku lebih condong menyamakan tangerang dengan kota water seven daripada venezia karena diceritakan bahwa penduduk water seven tahu kapan air akan meninggi dan mengatur semuanya saat itu. Yah, dalam hal itu kita agak serupa memang.

Aku dapat berandai-andai juga bukan karena aku tidak khawatir ataupun siap dalam menghadapi banjir, tadi malam pun aku baru masuk ke kamar tidur jam 1.15 karena sibuk mengawasi tinggi air di selokan, sambil menonton anime “Sword Art Online” yang didownload adikku (yang, kuakui cerita dan grafisnya bagus, tapi kurang layak ditonton anak-anak) untuk menghabiskan waktu. Itu pun disebabkan air di selokan telah turun, siapa yang sangka tidak lama setelah itu akan ada bagian tanggul yang jebol dan ketinggian air meningkat drastis?

Dan kondisi pun mengharuskanku bangun lagi sekitar 2 jam setelah mulai terlelap, untuk memindahkan barang dan menyusunnya agar muat di dalam ruang rumah yang sempit. Dan aku agak menyalahkan diriku sebagai gamers yang kurang menekuni permainan Tetris di zaman dahulu. Karena permainan itu melatih kecepatan berpikir dan kecerdasan ruang untuk menaruh benda, cocok bagi kondisi seperti ini. Atau mungkin ada yang berminat membuat permainan simulasi memindahkan barang dalam rumah ke tempat tinggi dan lantai 2 saat banjir agar pelajarannya lebih nyata dan menarik? Ketinggian air pun meningkat dalam laju yang lumayan cepat, dari sematakaki hingga hampir sepinggang atau sekitar semeter dalam kurang dari sejam. Dan sekarang terpaksa mengungsi di lantai 2, dengan berbagai persiapan terkait makanan kering seperti roti untuk dimakan dalam waktu dekat, serta mie instant dan biskuit jika banjir surut lebih lama dari yang diperkirakan. Sudah lama tidak hidup dengan gaya hidup survivor seperti ini, meski agak repot tapi seru sih jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Dan mungkin ini lah pentingnya persiapan, meminimalisir kekhawatiran dan memperkirakan semua skenario yang mungkin terjadi. Adanya persiapan yang cukup akan sangat membantu dalam banyak hal, dari persiapan dalam hal yang (mungkin) diidam-idamkan seperti pernikahan, hingga hal yang (mungkin) ditakuti seperti kematian. Saat persiapan itu cukup, tidak perlu khawatir apakah hal tersebut akan terjadi besok, lusa, tahun depan atau bahkan dekade depan, yang jelas kita siap. Memang bohong jika aku mengatakan persiapan menghadapi banjir ini adalah hal yang kurindukan atau hal yang menyenangkan, tapi aku lumayan senang karena dapat berada disini dan membantu keluarga sekarang. Setidaknya lebih baik begini daripada hanya mendapat kabar ketinggian air saat membuang-buang waktu di bandung, khawatir tapi tidak dapat berbuat apapun.

Ada beberapa yang bertanya kenapa keluargaku masih bertahan disini meski tahu punya tamu tahunan seperti ini. Lagipula, jika perlu melakukan persiapan yang merepotkan tiap tahun, apakah hidup kita nyaman? Tapi setidaknya bagiku rumah ini telah menjadi tempat yang nyaman, sudah lumayan kenal dan dikenal para tetangga, lingkungan yang familiar, dan berbagai faktor lain yang membuatku nyaman untuk tetap berada disini. Kenyamanan tidak berarti tidak ada masalah, kadang itu berarti kita siap menghadapi masalah untuk dapat terus berada di tempat tersebut dengan nyaman. Ini berlaku untuk berbagai hal, dari tempat tinggal, jenis kendaraan pribadi, pendamping hidup, jenis teknologi komputer atau handphone yang digunakan dan lain sebagainya. Entah lah, hanya pemikiran asal dari korban banjir yang selalu asal, haha.

Yah, yang jelas sekarang nikmatilah musibah ini, musibah menghapus dosa muslim kan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s