Malas dan Bosan

Bosan. Malas dan bosan. Dua kata yang paling sering kugunakan sebagai alasan untuk menolak ajakan teman-teman untuk berkegiatan, antara aku malas melakukan kegiatan atau kegiatan yang dimaksud memang membosankan. Entah ini pengaruh mood liburan atau apa, waktuku diisi dengan menyelesaikan buku-buku yang ada di kosan dan mempermainkan guling dan bantal diatas tempat tidur seperti yang kucing lakukan saat bertemu gulungan benang. Waktunya meracau.

Saat ini semua hal terlihat membosankan, dan aku sendiri merasa malas untuk melakukan apapun. Agak ironis mengingat aku suka protes jika tak punya cukup waktu untuk menyelesaikan sesuatu, padahal hal yang perlu kulakukan saat ini lumayan banyak, dari mengurus modul praktikum, jalan ke beberapa tempat dan mempersiapkan beberapa hal untuk rencanaku jalan-jalan di akhir februari. Saat sibuk berdoa agar kesibukannya cepat usai, saat luang diam termangu mencari sesuatu yang dapat dikerjakan–setidakberguna apapun itu. Waktu luang memang nikmat yang paling sering tersia-siakan ya.

Padahal tiap ke lab semangat untuk mengerjakan tugas akhir dan menyiapkan modul praktikum, tiap keluar semangat untuk membereskan urusan, tapi saat di dalam kamar kosan entah kenapa menjadi malas dan semua hal terlihat membosankan. Kelihatannya tempat punya pengaruh yang signifikan terhadap sikap dan semangat seseorang, saat berinteraksi dengan teman-teman yang satu tujuan atau berada di tempat seperti panggung atau perlombaan kelihatannya lebih membangkitkan semangat jika dibandingkan dengan berbaring sendirian di atas kasur. Mungkin apa yang dikatakan temanku ada benarnya, gaya gravitasi diatas tempat tidur sangat kuat, sehingga orang yang berada diatas tempat tidur akan sulit untuk bangkit dan berdiri. Itu nyata, bagi beberapa orang setidaknya.

Apa yang menyebabkan orang bosan? Aktivitas yang monoton? Tidak ada tantangan? Entah lah, padahal kegiatan yang dapat dilakukan di muka bumi ini sangat banyak, dan tidak sedikit yang dapat memberikan tantangan serta kegiatan yang seru dan beragam, jadi, kenapa harus bosan? Mencoba kegiatan baru tidak terdengar sebagai hal yang buruk bukan?

Apa yang menyebabkan orang malas? Tidak ada hal yang ingin dilakukan? Putus asa karena keinginannya sangat sulit untuk diraih? Padahal alam penuh dengan hal-hal menarik yang sangat menakjubkan dan membuat penasaran, dan dimana ada keinginan, disitu ada jalan bukan?

Jika harus memilih salah satu antara pengetahuan dan keinginan, kelihatannya keinginan lebih pantas untuk dipilih. Karena orang yang punya keinginan untuk melakukan sesuatu umumnya akan belajar dan mendapat pengetahuan seiring hal tersebut mereka lakukan, sementara orang yang punya pengetahuan belum tentu punya keinginan untuk memanfaatkan pengetahuannya. Jelas itu hanya pendapatku, bagaimanapun, umumnya orang condong kepada sesuatu yang tidak mereka miliki, bukan?

Jadi, kenapa harus bosan? Kenapa harus malas? Bukankah alam semesta ini terlalu menarik untuk dijalankan dan sayang jika dilewatkan?

Kadang aku menganggap selftalking–meracau atau berbicara pada diri sendiri–merupakan tindakan aneh yang punya manfaat besar, entah dalam bentuk perdebatan yang terjadi di dalam otak, tulisan asal ataupun sekedar sahutan tidak jelas. Karena itu merupakan salah satu langkah untuk mengenal diri, mengetahui bagaimana logika kita, apa yang menjadi prioritas kita, dan mungkin dapat menjadi sarana untuk berekspresi atau mengubah kata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s