“Work” dan “Job”

Nemu di media sosial, hm, mungkin membedakan kata “work” dan “job” ada benarnya.
Di dunia ini ada terlalu banyak pekerjaan yang seharusnya dapat dilakukan. Tapi kata “work” lebih menggambarkan suatu pekerjaan yang membutuhkan usaha untuk dilakukan, sementara kata “job” lebih menggambarkan suatu pekerjaan yang memberikan pendapatan. Kita akan terus memiliki “work” selama masih ada suatu hal yang belum memuaskan diri kita, berbeda dengan “job” yang tergantung pada keinginan pemilik uang.

Mengutip paragraf terakhir, “Negara ini tidak dibangun dari perusahaan besar ataupun birokrasi pemerintah, melainkan dibangun oleh orang-orang yang bekerja” Disaat perusahaan besar menggelontorkan dana dalam jumlah yang banyak untuk program CSR dan pemerintah menetapkan regulasi yang bertujuan untuk menjadikan kehidupan rakyat lebih sejahtera, tetap saja orang-orang yang punya “work” untuk dilakukan lah yang memanfaatkan dana tersebut untuk kegiatan mereka. Sahabatku yang memperlihatkan ini memang orang yang berpihak pada kaum proletar, namun bukan masalah dia berpihak kepada siapa jika yang ditunjukannya mengandung kebenaran, bukan? Lagipula, mungkin ada baiknya pandangan yang berpihak pada kaum proletar disebarluaskan saat ini sebelum kesenjangan sosial yang ada semakin tinggi. Saat kesenjangan sosial sudah tidak terlalu menonjol, silahkan sebarluaskan paham “siapa yang bekerjakeras dialah yang akan mendapat keuntungan paling banyak” untuk meningkatkan minat usaha masyarakat.

“Selama “job” yang ada terikat pada keuntungan yang diperoleh seseorang, maka “work” tidak akan pernah dapat diselesaikan”. Seorang sahabat pernah berkata padaku, mungkin semacam petuah bijak dari sejenis artis media sosial, “Yang penting bukanlah berpenghasilan tetap, tapi tetap berpenghasilan”. Sebagai laki-laki dengan jobdesc pencari nafkah, kalimat itu ada benarnya. Tapi jika “work” yang harusnya kita kerjakan bukanlah hal yang dianggap penting dan tidak termasuk dalam “job” yang dapat memberi penghasilan, apa yang dapat kita lakukan? Merutuki nasib bukan hal yang layak ataupun bermanfaat untuk dilakukan, menyumpahi yang punya uang pun sia-sia saja. Meski terkesan pasrah, tapi mungkin yang dapat dilakukan hanyalah berharap bahwa “job” yang tersedia akan memenuhi “work” yang harus dilakukan. Atau menyediakan “job” yang berkaitan dengan “work” yang harus dilakukan jika kita telah menjadi orang yang punya uang.

Bahan renungan yang tepat untuk mahasiswa semester akhir, karena sampai sekarang aku pun masih belum sempat memikirkan apa yang ingin kulakukan setelah lulus. Sebelumnya yang ada di pikiranku selain melanjutkan studi hanyalah mencari “job” yang bermanfaat, yang sampai sekarang pun aku masih bingung kriteria “job” yang “bermanfaat” itu seperti apa, lalu setelah punya penghasilan baru mulai berpikir serius terkait hal-hal seperti pendamping hidup, pendidikan anak, administrasi keluarga dan masalah di bidang finansial atau pekerjaan. Aku kurang suka aktivitas yang monoton, aktivitas tanpa variasi itu sangat membosankan. Karena itu bagiku pekerjaan yang melibatkan sosial terdengar lebih menarik, karena tipikal pekerjaan seperti ini–meskipun kadang menyebalkan dan menyebabkan stres, aku tidak menyangkalnya–merupakan pekerjaan yang dinamis, selalu punya tantangan baru dan tidak pernah datar. Bidang lain yang mungkin kutekuni adalah sains, tapi mungkin aku lebih suka menjadikan sains sebagai hobiku untuk saat ini, menarik memang, tapi menurutku terlalu banyak hal yang belum dapat dirasakan kebermanfaatannya oleh masyarakat di sekitarku. Hm, mungkin menjadi bagian CSR dari perusahaan sains atau teknologi dapat menjadi opsi yang menarik, apalagi jika dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat ke masyarakat.

Sampai saat ini mungkin duniaku tidak akan berpindah jauh dari dua dunia yang kugeluti di universitas, dunia “pendidikan” dalam bidang sosial dan dunia “energi” dalam bidang keilmuan. Dan sampai saat ini, menurutku dua dunia ini memang memerlukan perhatian lebih. Terkait energi? Pemadaman listrik sudah dianggap lumrah oleh masyarakat, meski memang harus diakui bahwa jumlah pemadaman yang kualami sekarang sudah jauh menurun dibandingkan dengan yang kualami di masa sma, masa yang menyebabkan aku memilih untuk menekuni bidang energi di program studi teknik fisika. Selain itu, masih banyak daerah yang belum tersambung dengan listrik. Memang adanya listrik bukan berarti masyarakat di daerah tersebut akan bertambah bahagia atau semacamnya, ada juga daerah yang ingin mempertahankan ketradisionalannya sebagai ciri khas daerah tersebut, dan ada juga daerah yang mungkin kurang nyaman untuk menggunakan teknologi baru. Tapi bagaimanapun, jaman telah berganti. Mungkin ini salah satu maksud ali ra untuk mendidik anak sesuai dengan zamannya, karena zaman terus berubah, dan kebutuhan manusia saat ini pun sudah banyak berubah dengan kebutuhan manusia saat zaman perang dunia kedua dahulu bukan? Tapi kalau melihat potret pendidikan saat ini, hm, ada yang sudah baca posisi adik-adik sebangsa indonesia menempati posisi berapa di tes internasional pisa kemarin? Mungkin memang hasilnya agak bias karena ada juga yang bilang tes tersebut kurang menggambarkan potensi masyarakat indonesia, toh tes dilakukan dengan menggunakan bahasa inggris, dan justru bahasa inggris itu yang menyulitkan mereka mendapat hasil yang bagus. Selain itu, jika mendengar kata sekolah, mana yang lebih dahulu terbayang, prestasi di dunia internasional atau maraknya geng motor dan tawuran. Memang kadang media sangat berlebihan dalam memberitakan hal negatif dan kurang semangat memberitakan hal yang positif, itu juga yang menyebabkan aku kurang suka pada media, tapi setidaknya itu juga dapat memberikan gambaran bagi kita tentang banyaknya dan ribetnya “work” yang perlu kita lakukan di bidang pendidikan. Yah, lagipula aku lebih suka menganggap situasi yang sedang dihadapi adalah situasi terburuk, karena dengan begitu apapun yang kita lakukan tidak akan membuat situasi menjadi lebih buruk kan?

Yang jelas, meski bukan hal yang mudah, tapi semoga kedepannya negara ini semakin baik, dan semoga generasi muda dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi semua😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s