Kebaikan dan Diam

“Mas, sampahnya dipegang dulu aja gimana? Nanti dibuang di tempatnya…” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut orang yang kutahu pendiam itu, hal yang sedikit kuanggap aneh karena aku tahu betapa pendiamnya ia, jangankan mengingatkan orang yang tak dikenal, sekedar bertegur sapa pun tak berminat. Dan aku juga melihat orang yang dia tegur terdiam, dan tak lama kemudian orang itu pun memungut sampah makanannya yang baru saja dilempar sembarangan di dalam angkot yang kami tumpangi itu. Situasi sempat sunyi selama beberapa saat, agak tegang kupikir, tapi beberapa saat kemudian orang-orang yang terlibat pun sudah kembali berbincang dengan teman-temannya di angkutan umum tersebut. Aku pun kembali hanyut dalam pikiranku.

Tidak sedikit orang yang sepakat bahwa kekacauan yang terjadi di dunia saat ini bukan merupakan akibat dari merajalelanya orang-orang jahat, tapi karena banyak orang-orang baik yang memilih untuk diam. Akibatnya, orang yang belum mengerti pun dapat berbuat hal yang kurang pantas, dan mungkin semakin lama dibiarkan hal itu akan semakin menjadi kebiasaan dan akan terus terbawa hingga orang yang belum mengerti itu meninggal, dan mungkin dia tidak akan pernah menyadari kekeliruannya. Yah, kemungkinan apa lagi yang mungkin terjadi jika orang-orang baik tidak ada yang mengingatkan bahwa itu salah? Mungkin ada kemungkinan kecil dimana orang tersebut memikirkan dampak dari kebiasaannya, atau terkena dampak dari kebiasaannya dan memutuskan untuk berhenti, tapi secara pribadi aku menganggap kemungkinan itu sangat kecil.

Perlu contoh? Mari kita lihat Ibukota Indonesia, banyak yang mengetahui bahwa sampah adalah salah satu penyebab terjadinya banjir dan berbagai penyakit saat banjir menerpa. Namun berapa banyak warga yang berhenti membuang sampah sembarangan saat banjir telah surut? Entah lah, tapi tadi pun ada penumpang angkot yang melempar sampahnya tepat ke hadapanku–nyaris mengenai kakiku–dan itu cukup untuk memperburuk moodku hari ini. Andai angkot tersebut diam lebih lama dan sampah yang dilempar itu mengenaiku, mungkin aku akan melempar balik sampah itu.

Ya, hari ini aku sedang kembali ke kota tempat tinggalku untuk mengurus beberapa hal, dan tindakan orang itu pun menurutku agak ironis karena tidak jauh dari tempat itu ada “genangan air” yang lumayan tinggi, dan mungkin akan bertambah tinggi jika malam ini hujan kembali turun di daerah jabodetabek. Syukurlah aku tidak diberi kesempatan membalas, aku hanya sempat melihat sang pembuang sampah, pria paruh baya berkausdalam dengan lengan penuh tato. Oke, mode pakaian berstigma negatif dan mood yang buruk bukanlah kombinasi yang baik jika dipertemukan, karena dapat mengundang banyak prasangka yang mungkin jauh lebih buruk daripada kondisi yang sebenarnya. Dan itu lah yang terjadi padaku tadi, pikiran dipenuhi prasangka buruk.

Setelah agak tenang dan mulai dapat berpikir jernih kembali, aku pun sadar, dalam beberapa hal mungkin aku lebih unggul dari sumber prasangka burukku itu, tapi dalam beberapa hal lain dia lebih unggul. Salah satu keunggulan dia yang kuakui adalah keberanian untuk tampil beda dan menunjukkannya, hal yang menurutku kurang dimiliki oleh orang-orang baik. Entah benar atau tidak, karena banyak orang baik yang kuketahui yang tidak ingin terlihat berbuat baik atau beramal secara terang-terangan. Oke, tidak ingin sombong atau membengkokkan niat memang dapat menjadi alasan, tapi dalam beberapa kasus, menurutku perlu ada amalan yang perlu dilakukan secara terang-terangan. Argumenku sederhana, jika Rasulullah tidak pernah menunjukkan amalan yang dilakukan–dan hadits hanya sekedar perkataan–kira-kira dari mana kita mendapat contoh bagaimana cara beramal yang benar? Dan dari mana kita mengetahui mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang buruk untuk dilakukan? Entah lah apa yang akan terjadi jika begitu, ada sebuah skenario yang terpikir dalam pikiranku tapi mungkin ada baiknya kusimpan untuk diriku sendiri karena beberapa hal, lagipula tidak semua hal harus diutarakan bukan? Itu juga salah satu alasan blog itu menyenangkan, sebagai sarana untuk beropini tanpa harus terlibat situasi penuh emosi di dunia nyata, dan karena tidak banyak orang yang tertarik untuk berselancar di dunia blog, kelihatannya tidak banyak yang akan terjadi disini. Seperti yang kuharapkan karena blog ini hanyalah dokumentasi dari pemikiran yang pernah kumiliki dan disimpan di internet, entah siapa yang mau membaca tapi selama dokumentasi pemikiran ini tidak merepotkanku aku tidak punya masalah😀

Kadang aku berpikir jika semuanya terjadi dalam kondisi yang berbeda, apa yang akan terjadi? Akankah ada kondisi dimana perdamaian dan kesejahteraan dunia dapat terwujud? Akankah sumber prasangkaku itu menjadi orang baik yang tingkahlakunya diharapkan masyarakat? Ah, entah lah, yang jelas bukan itu skenario yang dimainkan saat ini. Dunia nyata memang bukan tempat yang ideal, akan ada banyak hal yang memerlukan usaha keras untuk kehidupan yang lebih baik, dan mengajak orang lain untuk berbuat baik juga akan menjadi hal yang fundamental untuk mewujudkan itu, hei, apa yang dapat kamu lakukan dengan mengikuti aturan saat tidak ada lagi yang peduli dengannya? Karena itu, mungkin ini saat yang tepat untuk mengajak dan mengajarkan hal baik kepada orang lain, bukan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s