Komitmen

Ternyata benar, nikmat waktu luang dan kesehatan itu merupakan dua nikmat yang paling sering terlupakan. Setidaknya bagiku, setelah terlalu lama membuang-buang waktu saat liburan dan tetiba dihadapkan dengan pekan pertama perkuliahan yang lumayan padat, yah, hasilnya tidak terlalu baik. Hari ini pun sebagian besar diisi dengan tepar di kasur setelah kegiatan yang agak melelahkan kemarin, dari bekerja menyelesaikan perlengkapan praktikum untuk tingkat bawah yang kebetulan berhubungan dengan tema tugas akhir yang kuambil, rapat organisasi, dan menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk kegiatan belajar sebuah sekolah. Sebenarnya menyenangkan, tapi agak merepotkan memang jika tubuh tidak sanggup bertahan dengan aktivitas yang berlebihan. Mengingat kelihatannya semester ini akan penuh dengan kesibukan seperti ini, kelihatannya harus kembali membiasakan diri. Yah, orang bisa karena terbiasa bukan?

Tapi di sisi positifnya, syukurlah juga pekan ini tetap penuh dengan pembelajaran seperti biasa, dari pembelajaran terkait teknis menggunakan dan instalasi perlengkapan terkait tugas akhir (hal ini menyenangkan mengingat aku tidak terlalu sering menggunakan perlengkapan tukang, dan tidak lucu jika di rumah terjadi kendala teknis yang memerlukan keterampilan tersebut tapi aku membiarkan perempuan yang ada di rumahku untuk mengurus semuanya, menjatuhkan harga diri dan reputasi kaum adam bukan?), pembelajaran tentang karakteristik mahasiswa–setidaknya mahasiswa di kampusku–saat ini, dan lumayan banyak hal terkait kehidupan bermasyarakat. Dunia universitas dan dinamikanya entah kenapa selalu seru, meskipun di universitasku pelajarannya hanya terfokus ke empat bidang (sains, teknologi, seni dan bisnis), aku tetap merasa hal-hal yang terjadi disini jauh lebih menarik daripada apa yang terjadi di kampus lain. Memang sebagai universitas yang berlandaskan pada teknologi, ada dasar pemikiran tersendiri kenapa hanya empat bidang tersebut yang dibahas. Dari yang kudengar, situasi ideal yang diharapkan timbul adalah begini: mahasiswa sains berpikir dan berteori terkait keilmuan yang dia dalami, kemudian mahasiswa teknik mencoba menerapkan teori yang mereka pikirkan dalam bentuk teknologi yang memudahkan kehidupan manusia. Jika ada teknologi yang telah berhasil ditemukan, mahasiswa seni akan bertugas untuk mendesain teknologi tersebut sehingga dapat diterima oleh masyarakat, dan kemudian mahasiswa bisnis bertugas untuk menjual teknologinya, yang hasilnya dapat menjadi pemasukan bagi para mahasiswa yang terlibat dan dapat digunakan untuk riset kembali. Oke, itu memang merupakan kondisi yang sangat ideal, tapi apa salahnya memiliki mimpi suatu saat itu akan terjadi?🙂

Dan ada hal yang menarik untuk dibahas terkait dengan profil mahasiswa saat ini. Mungkin bukan hal yang menyenangkan untuk diketahui, tapi mungkin juga merupakan hal yang baik untuk dijadikan pelajaran, entah lah. Diawali dari mata kuliah “psikologi sosial” yang kuambil di semester ini, yang secara asal kuambil untuk memenuhi syarat mata kuliah pilihan dari luar program studi. Itu merupakan mata kuliah yang mempelajari tingkah laku manusia saat sedang berada dalam kondisi sosial, dan tugas yang kami dapat pada pertemuan pertama merupakan pemetaan masalah apa saja yang terjadi pada mahasiswa di kampus saat ini. Seharusnya ini didiskusikan dengan teman-teman dari jurusan yang sama, tapi karena jurusanku merupakan kaum minoritas, kami berkumpul dengan beberapa mahasiswa dari jurusan minoritas lainnya. Oke, mungkin akan ada kendala dalam berkomunikasi karena perbedaan latar belakang, tapi kita mendapat kenalan baru dan sudut pandang yang lebih luas. Setiap hal punya sisi positif maupun negatif kan?

Dan kami hampir tidak menemui kendala dalam menentukan masalah apa saja yang ada, kelihatannya itu salah satu keuntungan menjadi orang bermasalah: pengetahuan terkait masalah apa yang kita miliki. Banyak hal yang disebutkan, dari terlambat masuk kelas, tugas yang terabaikan di organisasi, kelakuan titip absen atau ketidakhadiran–kata bolos yang diperhalus–melebihi batas yang diizinkan, sulit bangun di waktu yang diinginkan, dan banyak lagi. Lalu, ketika kami diminta untuk mencaritahu apa yang salah sehingga semua ini terjadi, kesimpulan yang kami dapatkan adalah komitmen.

Saat mahasiswa terlambat masuk kelas, titip absen atau memiliki tingkat ketidakhadiran–lagi, kata bolos yang diperhalus–melebihi batas yang diizinkan, itu merupakan bentuk bahwa kita tidak memiliki komitmen pada peraturan yang berlaku. Saat mahasiswa mengabaikan amanah atau tugasnya dalam sebuah organisasi atau perkumpulan, kita terbukti tidak komitmen terhadap apa yang telah kita pilih. Entah bagaimana dengan universitas lain, tapi pagi tadi pun ada kenalanku yang menyuarakan kefrustasiannya bekerjasama dengan mahasiswa karena komitmen yang buruk itu, dan mengatakan bekerjasama dengan profesional jauh lebih menyenangkan.

Satu hal lain yang menyebabkan kami tidak terlalu kesulitan menyelesaikan tugas ini adalah karena beberapa dari kami sering menjadi “tempat sampah” bagi orang-orang yang punya masalah. Dan jika aku diminta membuat grafik antara apa yang menjadi masalah (atau “hal yang bikin galau” jika menggunakan bahasa saat ini), umumnya hal ini mengerucut ke dua hal, yaitu masa depan (dan ini juga umumnya mengerucut ke tiga hal, yaitu melanjutkan studi ke luar negeri, mendapat pekerjaan bergaji tinggi dan menemukan jodoh yang menentramkan hati, haha) dan relasi (terkait hubungan antar manusia, seperti persahabatan, percintaan atau sosial masyarakat).

Uniknya, menurutku komitmen akan memiliki peranan penting dalam masalah tersebut. Jika kita ingin melanjutkan studi ke luar negeri, jelas komitmen kita terhadap peraturan yang berlaku harus diperbaiki jika kita tidak ingin mempermalukan diri kita, keluarga atau bahkan negara asal kita. Lagipula, tiap negara punya metodenya tersendiri dalam bertingkah menghadapi para pelanggar aturan, dan itu dapat memberikan masalah yang lumayan merepotkan jika mahasiswa tidak berniat untuk berubah. Lalu, terkait pekerjaan, jika pegawai tidak memiliki komitmen terhadap pekerjaannya, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengambil keputusan memecat pegawai tersebut? Sementara, terkait masalah pernikahan dan hubungan, aku suka dengan perkataan di anime “Log Horizon” yang sedang kuikuti, saat sedang menceritakan masa lalu karakter utamanya, “alasan kenapa kelompok kita di masa lalu sangat menyenangkan adalah karena kita semua berkomitmen untuk menjadikannya begitu”. Lumayan menggambarkan keseluruhan pendapatku.

Dan berbicara terkait komitmen, mungkin akan teringat pada pemilihan umum di tahun ini. Saat banyak orang yang mengumbar janji, tapi entah mana yang benar-benar berniat untuk menepatinya. Mungkin itu juga merupakan masalah komitmen, terhadap amanah yang diberikan masyarakat dan janji yang telah diucapkan. Banyak orang yang menyerukan jangan golput dan sejenisnya, padahal aku tidak terlalu melihat kenapa orang-orang yang memilih untuk tidak memilih itu perlu dipermasalahkan. Mereka hanya tidak menemukan orang yang menurut mereka pantas untuk dipilih kan? Mengapa tidak menyalahkan partai-partai yang ikut pemilihan agar mau membenahi para anggotanya yang mencalonkan diri, setidaknya sampai masyarakat merasa mereka layak untuk dipercaya. Karena sejak awal yang menjadi masalah bukanlah berapa banyak artis yang ada di dalam partai, kealiman anggota partai, atau siapa yang dicalonkan oleh partai, tapi bagaimana meyakinkan kami sebagai rakyat bahwa mereka yang dicalonkan memang kompeten dan berkomitmen untuk mengurus daerah. Dan entah kenapa aku teringat kalimat yang pernah kubaca, kalau tidak salah dari seorang khalifah (kalau tidak salah umar ra, tapi jika ada yang berkenan memeriksa aku akan berterimakasih, karena aku sendiri lupa membacanya dimana dan apa riwayat, sanad dan lain semacamnya) saat ada yang bertanya mengapa dia mengangkat pemimpin yang lebih kompeten tapi kurang dalam kealiman jika dibandingkan dengan calon lainnya, kira-kira jawabannya seperti ini (aku juga lupa redaksi lengkapnya, mohon maaf bagi yang membaca, budayakanlah pemeriksaan silang), “jika aku mengangkat dia sebagai pemimpin, kelebihannya akan menjadi kelebihanku, sementara kekurangannya akan menjadi urusannya. Tapi, jika aku mengangkat dia (calon yang lain) sebagai pemimpin, kelebihannya akan menjadi kelebihannya, sementara kekurangannya akan menjadi kekuranganku.” Oke, agar tidak terkena masalah terkait standar ganda harus kuakui, aku sepakat bahwa amanah itu memang lebih kepada “memantaskan yang dipilih” daripada “memilih yang pantas”. Namun, kelihatannya perlu ada standar minimal terkait kompetensi para calon yang dipilih, itu salah satu alasan kenapa murid tk tidak ada yang menjadi presiden kan? Pengetahuan yang kurang, usia yang belum matang, ketidakmampuan mengambil keputusan, dan banyak lagi hal yang harus dibenahi.

Jadi ingat sebuah puisi yang kubaca di buku sma,
“Kenapa dinamakan pemilu?
Apakah singkatan dari pemilihan umum
Atau karena menyebabkan hati rakyat menjadi pilu?”
Mungkin jika calon yang dipilih tidak memiliki komitmen dan/atau kompetensi yang layak, mereka hanya akan menjadi pemilu hati rakyat. Tapi setidaknya masih ada waktu sampai waktu pemilu tiba, orang-orang yang mencalonkan diri masih punya waktu untuk meningkatkan kompetensinya dan menguatkan komitmennya, rakyat masih punya waktu untuk mencaritahu orang-orang yang dapat dipercaya untuk mewujudkan aspirasi mereka, dan terlepas dari pemilu, kita juga punya waktu untuk belajar mengenai komitmen🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s