Random: Keuntungan dan Aturan Main

Akhirnya tadi malam random lagi, setelah sekian lama kegiatan rutinitas yang membosankan, lumayan menyenangkan. Diawali dari menyelesaikan pemasangan modul yang tidak berlangsung dengan baik, menyebabkan luka sayatan pada tangan kiri dan kena setrum bertegangan sekitar 360V–aku benar-benar harus bersyukur arus listrik itu searah, bukan bolak-balik, tapi tetap saja, mengejutkan–karena kecerobohan saat melanjutkan pekerjaan dengan tangan kiri yang tidak berfungsi optimal. Meskipun ternyata dikejutkan oleh listrik bertegangan segitu ternyata tidak semengerikan yang kubayangkan, tetap saja aku tidak berniat untuk terkena gelombang kejut lagi. Yah, terkadang ketidaktahuan kita dapat menjadikan hal yang ada dalam bayangan atau alam pikiran menjadi lebih mengerikan dari hal terburuk yang dapat terjadi di dunia nyata, bukan?

Tapi karena kecerobohan seperti itu mengganggu pikiran–membuat khawatir hal yang serupa akan terulang kelak–dan tidak agenda di malam hari, aku pun memutuskan untuk ikut sahabatku ke bioskop untuk menonton film “The Wolf of Wall Street”. Refreshing jelas diperlukan, terlepas dari film apa itu. Yah, sebagai orang awam terkait saham dan wall street, setidaknya aku berharap punya gambaran terhadap kedua hal ini setelah menonton film ini, setidaknya itu harapan setelah mendengar judul filmnya dari sahabatku itu. Tapi karena waktu yang tersisa sebelum pemutaran film itu masih cukup lama, sahabatku mengajak mampir di sebuah restoran makanan cepat saji yang ternama untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.

Dan saat melihat harga di restoran itu sekarang, kelihatannya “menghabiskan isi dompet” dapat menggantikan “mengisi perut” di kalimat terakhirku. Ya, harganya jauh berbeda dibandingkan saat aku masih di sekolah dasar, aku ingat dahulu banyak menu utama yang dapat diperoleh dengan harga total kurang dari enam ribu rupiah. Dan jujur, dengan tiadanya special service bagi mahasiswa seperti saat aku tiba di bandung dulu, aku heran kenapa restoran ini masih punya pengunjung, hal yang membuat makanan cepat saji sempat populer adalah murah dan mudah, kan? Lagipula, setauku sekarang popularitas makanan cepat saji telah menurun, dan mungkin itu yang menyebabkan mulai banyak paket murah (entah itu harian, potongan harga bagi kartu kredit tertentu atau apa) di restorab seperti itu. Mereka mulai kehilangan pelanggan. Dan itu yang mengawali diskusi kami. Saat aku mengeluhkan harga yang melonjak terlalu tinggi–seharusnya lonjakan harga akibat naiknya harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik tidak sejauh itu–dan mempertanyakan kenapa masih ada yang mau makan makanan cepat saji berharga mahal seperti disini, sahabatku berpendapat bahwa dahulu harga yang murah dipasang untuk menarik pelanggan. Setelah pelanggan sudah tertarik, barulah harga dinaikkan untuk meningkatkan keuntungan. Itulah penyebab dulu harga yang dipasang pada makanan cepat saji dapat bersaing, atau bahkan lebih murah dari harga yang dipasang warung makan. Setelah itu pun diskusi berlanjut untuk memperkirakan berapa besar keuntungannya naik, dari mengingat harga bahan-bahan pembuat makanannya di supermarket–dengan asumsi mereka membeli bahan dasar dari supermarket, karena keuntungannya akan lebih besar lagi jika bahan-bahannya dibuat sendiri–dan memperkirakan dampak naiknya bbm dan tdl pada harga makanan. Bagaimanapun, aku masih menganggap kenaikan lebih dari sepuluh ribu rupiah untuk sebuah makanan masih kuanggap aneh. Apalagi keuntungan yang diambil dari minuman pada restoran seperti itu juga jelas tidak sedikit. Seperti yang dikatakan guruku saat sma dahulu, saat kita pergi ke sebuah restoran mahal, kita tidak sekedar membeli makanan, tapi kita juga membeli gaya. Ya, kita bergaya dengan nongkrong atau membeli makanan di tempat yang bagus, dinding kaca, suasana elit dan lain sebagainya, dan itulah yang menyebabkan harga disana tidak murah. Karena kalian memerlukan biaya tambahan untuk membeli gaya tersebut. Dan ini juga mengingatkanku pada cerita guruku yang lain, tentang pemilik sebuah franchise ternama yang populer karena hamburger yang dijualnya. Karena sang pemilik mengakui bahwa banyak hamburger buatan rumahan yang jauh lebih enak dari hamburger di gerai franchisenya, namun dia lebih menganggap bisnis yang dia jalankan adalah bisnis real estate, bukan bisnis di bidang makanan, mungkin karena suasana dan letak bangunan yang dijadikan franchise, entahlah.

Dan diskusi pun berlanjut ke topik politik, hei, apa lagi topik yang menarik untuk dibicarakan dan dapat berpengaruh besar ke masyarakat saat pemilu menjelang seperti ini? Dan karena calon presiden dan wakilnya belum ditentukan, diskusi diawali dengan membahas beberapa partai yang jelas ikut pemilu. Hasilnya? Yaah, lumayan menjatuhkan semangat dan memutus harapan. Secara umum, jujur saja, kami agak kesulitan untuk menentukan partai mana yang punya citra positif, yang bukan sekedar kicauan para anggota atau simpatisan partai itu. Aku juga pernah mendengar beberapa hal buruk yang dilakukan oleh partai, dan bahkan ada juga cerita tentang masyarakat yang memanfaatkan partai untuk kesejahteraan desa mereka, dengan memberikan suara 50% lebih sedikit dari penduduk desa mereka agar partai tersebut memudahkan persoalan dana di desa mereka. Setidaknya itulah yang diceritakan oleh supir elf yang pernah kugunakan terjadi di kampungnya, hei, jika pemimpinnya saja sudah tidak benar, masyarakat seperti apa yang mau diharapkan? Itulah penyebab saat pemilihan kepala daerah aku lebih memilih berdasarkan tokoh daripada berdasarkan latar belakang partainya, karena terlepas dari apapun partainya, selalu ada orang baik yang mengusahakan kepentingan rakyat dan orang gak bener yang berusaha memanipulasi rakyat di dalamnya. Tapi terkait masalah kenapa hal-hal yang gak bener jauh lebih ditonjolkan dibandingkan hal-hal yang baik, mari kita salahkan media yang menonjolkan itu. Kita pun sempat membahas beberapa partai yang dahulu bagus meskipun tidak terlalu banyak yang memilih, namun entah bagaimana sekarang.

Diskusi pun berlanjut, terkait baik-buruknya beberapa tokoh yang mungkin mencalonkan diri. Mengingat ada beberapa pemilik media yang mungkin ikut mencalonkan diri, sekedar saran, sebelum memilih coba lihatlah acara-acara di medianya seperti apa, apakah itu menggambarkan sosok pemimpin yang cerdas dan dapat dipercaya untuk memimpin negara atau sosok orang yang gak jelas apa yang ingin dilakukan setelah mendapatkan kekuasaan? Entah lah, aku sudah lumayan lama tidak mengikuti media dalam bentuk apapun, tapi jika memang ada media yang dimiliki oleh yang mencalonkan diri dan menggambarkan sosok yang layak untuk dipilih, kenapa tidak? Meskipun aku sendiri agak meragukan itu akan terjadi, tapi semua orang boleh berharap kan? Selain itu, sekedar saran lain, mungkin ada bagusnya melihat latar belakang dari calon yang akan dipilih. Apakah ada hal buruk yang pernah dilakukan, tanggungjawab yang pernah dilalaikan, janji yang pernah diabaikan, dan lain semacamnya. Secara pribadi aku lumayan yakin tiap orang pernah mengalami hal-hal itu, maka jelas menilai dari punya atau tidak bukanlah hal yang baik. Tapi yang baik untuk dilihat adalah bagaimana orang yang mencalonkan diri itu menghadapi masalah yang dia punya. Apakah dengan turun langsung ke lapangan tanpa tahu apa yang dilakukan? Apakah dengan melarikan diri dari tanggungjawab dan membuat orang-orang lupa bahwa masalah itu pernah ada? Apakah dengan merumuskan langkah-langkah yang entah dapat memperbaiki atau memperparah situasi? Atau apakah orang yang mencalonkan diri itu menghadapi masalahnya dengan baik? Hei, sebagai pemimpin negara, itu penting kan?

Waktu semakin mendekati pemutaran film, kami pun menuju bioskop sambil tetap mengobrol, sulit untuk berhenti jika pembicaraannya terlalu menarik. Kemungkinan yang dapat terjadi jika memiliki presiden yang independen atau tidak terlibat partai, yang mungkin agak sulit untuk membuat peraturan atau undang-undang jika tidak dapat merangkul anggota dpr yang punya kuasa untuk mengesahkan ranacangannya, yang setelah kupikir-pikir lagi sekarang malah membuatku mempertanyakan berapa banyak orang disana yang masih memperjuangkan masyarakat, bagaimanapun juga harus diakui orang-orang yang mencalonkan diri sebagai legislatif memang tidak seterkenal orang-orang yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah atau negara dan ada juga yang mengatakan hal-hal yang kurang baik, tapi semoga masih banyak. Kemungkinan yang kami sepakati akan seru adalah jika semua petinggi negara atau daerah dan legislatifnya independen, ada baik dan buruknya memang, tapi aku penasaran bagaimana indonesia jika hal demikian terjadi, hahaha. Lalu kegiatan lain yang kami lakukan adalah membahas apa yang partai lakukan jika sedang tidak ada pemilu. Hei, mereka punya basis massa yang besar, dan beberapa juga punya sumber dana yang besar, agak aneh jika mereka hanya aktif di tahun menjelang pemilu kan? Tapi mungkin itu hanya akan menjadi pertanyaan tak terjawab lain selama aku masih tidak berminat untuk terlibat di dunia politik. Entah lah, sampai sekarang aku lebih suka bergabung dengan organisasi sosial dan memberi manfaat bagi orang-orang bersama teman-teman yang berminat sama daripada membawa nama golongan tertentu, toh aku juga tidak menganggap untuk bermanfaat harus terlibat politik, meski aku juga tidak mengingkari keberhasilan terjun di dunia politik akan mempermudah proses memberi manfaat. Ah, sudah lah, mari fokus pada masa kini. Kami pun berdiskusi terkait reformasi, nyatanya sejak indonesia mulai menerapkan demokrasi kelihatannya jarak yang harus dikejar untuk menjadi negara maju tetap saja jauh. Temanku berpendapat ini normal karena memang demokrasi baru berjalan sekitar 15 tahun–perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu singkat–dan harusnya rakyat tetap mendukung perkembangan ini dengan terus berpartisipasi aktif dalam segala kegiatan. Memang, sepengetahuanku sendiri perkembangan indonesia tidak buruk. Tidak terlalu hebat, tapi tidak buruk. Tapi aku pun juga mempertanyakan bagaimana rakyat mau berpartisipasi aktif jika pemerintahan tidak menjadi suatu tempat yang dapat dipercaya. Entah ya.

Yang jelas akhirnya film pun dimulai. Dan sejujurnya, jika diminta mengomentari film ini aku pun tidak tahu mau berkomentar apa, speechless. Dalam beberapa hal, ini menceritakan aspek kehidupan di amerika, “surga dunia” dan berbagai hal serupa yang sangat menjurus ke dunia dewasa (meskipun telah lolos sensor, anehnya aku masih merasa ada beberapa hal yang lolos), tapi di sisi lain film ini juga mengajarkan banyak hal tentang dunia saham. Aku tidak mengatakan film ini harus ditonton, tapi kalau orang yang menonton sudah dewasa dan dapat membedakan yang baik dan buruk, film ini lumayan informatif terkait praktek kotor di dunia saham dan kehidupan glamor di amerika. Hal ini kuanggap penting karena setiap hal di dalam kehidupan punya aturan main, dan kita dapat dipermainkan oleh orang yang ingin menguntungkan diri sendiri jika kita tidak tahu aturan tersebut.

Aku selalu suka situasi seperti ini, saat dimana aku bisa menjadi anak-anak yang berceloteh banyak tentang kehidupan, entah sisi baik ataupun sisi buruk, dan entah itu benar atau hanya prasangka, selama banyak informasi yang bisa kudapatkan dan kuberikan, selama masih dalam koridor yang diperbolehkan, dan selama apa yang kubicarakan tidak punya pengaruh buruk ke orang lain. Padahal memang hanya sedikit situasi yang memungkinkanku meracau, meski memang racauan itu bisa keluar di saat-saat yang tak terduga sih, hahaha. Meski masa-masa di bandung semakin singkat, semoga momen seperti ini juga akan semakin banyak, dan semoga momen ini tidak hanya timbul di bandung saja😀

Sekarang, waktunya kembali ke kesibukan di dunia nyata, ada waktu untuk meracau dan ada waktu untuk berusaha~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s