Random Thought: Melepaskan

“Let go. Let God”, aku lumayan suka dengan kalimat yang dijadikan profpic orang itu. Karena mungkin memang itu lah yang perlu kita ingat.

Entah mengapa aku menganggap di jaman ini kita sering sekali berusaha mengambil hak yang bukan (atau belum saatnya) menjadi hak kita. Seolah-olah kalau tidak diambil maka kita akan jadi orang yang paling merana di dunia. Padahal manusia bukan makhluk yang cepat puas atas kondisi hidup yang dijalaninya. Saat doa orang yang meminta segunung emas dikabulkan, kemungkinan besar dia akan meminta gunung emas yang kedua, bukan begitu? Aku sih tidak masalah kalau ketidakpuasan ini dihadapi dengan memperbaiki diri dan menciptakan teknologi agar semua pihak setidaknya lebih puas daripada sebelumnya, salah satu alasan aku menganggap teknologi sebagai manifestasi ketidakpuasan manusia, namun jika hal ini disikapi dengan mengambil hak yang saat itu bukan milik kita agar kita puas, kedengarannya ada yang salah.

Dan mungkin memang kita perlu belajar untuk melepaskan. Bukan melepaskan usaha yang baik, tapi melepaskan segala ekspektasi terhadap hasil yang akan kita dapat, dan membiarkan skenario-Nya bermain dalam hal itu. Kadang kita terlalu terpaku pada hasil bukan? Dan mungkin itu juga yang berpengaruh pada cara pikir kita, sehingga saat kita melihat adanya kesempatan untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan, tanpa peduli apapun caranya, kita langsung mengambil kesempatan itu. Padahal, apa yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita, dan apa yang tidak kita inginkan belum tentu buruk bagi kita. Itulah fungsinya iklan, membuat kita menginginkan sesuatu, padahal siapa yang tahu barang yang diiklankan itu benar-benar baik bagi kita atau tidak?

Dan mungkin ini tidak hanya berlaku pada hal materiil saja, hal lain seperti orang dalam kehidupan kita juga. Pernah dengar cerita bayi yang dibawa kabur oleh orang yang ingin punya anak? Yah, aneh memang mengingat kasus bayi yang dibuang lebih marak dari cerita itu. Ada yang ingin tapi tak kunjung mendapatkan, ada yang dapat padahal tak menginginkan, hidup itu aneh ya?

Contoh lainnya yang menurutku sudah dianggap lumrah adalah pacaran di kalangan anak muda. Sebagai anak muda jaman sekarang, repot kalau saat kumpul keluarga besar topik itu diangkat, tinggal menunggu waktu sebelum topik itu dikaitkan denganku, setelah puas membahas dua kakak sepupuku yang perempuan. Bahkan topiknya kadang sampai ke menanyakan niat nikah kapan, yang kadang kubalas dengan gerutuan dalam hati, “usia kepala dua belum, punya kerjaan belum, emosi kadang labil, kalian mengharapkanku memimpin keluarga yang seperti apa?” Memang amanah itu memantaskan yang dipilih, bukan memilih yang pantas, tapi kayaknya tetap perlu kriteria minimal deh -_-

Haha, syukurlah orangtua tidak berniat membuatku buru-buru, karena aku juga menganggap pacaran itu kurang pas denganku. Dan menurutku pacaran juga merupakan kegiatan yang mengambil hak yang bukan atau belum menjadi miliknya. Oke, memang ada sepasang kekasih yang aku kagumi, saat yang lain pacaran dengan membuang-buang uang, pacaran mereka justru diisi dengan aktivitas sosial. Semoga mereka cepat menikah dan dapat berkontribusi lebih banyak lagi lah, haha, senang bekerjasama dengan kalian. Memang kadang aku juga menganggap seru juga kalau punya partner setia dalam aktivitas seperti itu, apalagi di dunia dimana relawan datang silih berganti, dari segi sumber daya manusia 2 orang lebih baik daripada sendirian kan?

Tapi yang kukhawatirkan lebih ke batasan interaksi yang tidak jelas. Dulu saat sma ada yang berkata, “2 dari 3 anak muda di kota XC pernah berhubungan. 1 orang sisanya yang merekam” Agak ironis memang, sayangnya kalimat yang pertama merupakan fakta dari survey yang pernah dilakukan, kalimat kedua baru lah merupakan guyon yang ditambahkan temanku itu menilai dari maraknya video bertopik itu yang katanya muncul dari kota XC, entah lah bagaimana dia tahu. Mengambil hak yang bukan atau belum menjadi miliknya. Kalau itu terus berlanjut meskipun pacarnya terus berganti, apa bedanya dengan cerita guru agamaku tentang jaman jahiliyyah, bahwa wanita mengobral diri dan kalau suatu hari dia punya anak, lelaki yang pernah berhubungan itu diundi untuk menjadi ayahnya? Aturan itu ada untuk membawa keteraturan dan membuat hidup menjadi lebih nyaman, tapi sulit untuk melihat itu jika kita terlalu mementingkan diri sendiri bukan?

Hal yang menurutku tidak kalah berbahaya dari pacaran adalah perasaan kedua individu. Pernah mendengar tentang korban bunuh diri akibat putus dengan pacarnya? Memang tidak terlalu banyak, tapi sepengetahuanku tetap saja ada orang yang melakukan itu. Dan karena aku punya beberapa kawan yang kadang meracau tentang sulitnya untuk “move on”, kelihatannya sulit ya melepaskan jika sudah merasa memiliki? Padahal semua nyawa dan hal yang ada di dunia ini ada yang punya, dan sayangnya, itu bukan kita. Ada yang mau melakukan survey berapa banyak rumah tangga yang rusak akibat orang dari masa lalu seperti mantan pacar? Aku penasaran, tapi sulit menemukan cara untuk melakukan survey pada hal pribadi macam itu, haha.

Tapi jika semua sudah berlalu, aku teringat pada perkataan Dr. Seuss, “Jangan menangis karena suatu hal telah berakhir. Tersenyumlah karena itu telah terjadi” Bagaimanapun, tetap ada pelajaran dari setiap hal yang terjadi, dan daripada terjebak di masa lalu, lebih baik membuat masa kini dan masa depan menjadi lebih menyenangkan bukan? Kita memang perlu bahan evaluasi diri, tapi apa gunanya jika hasil evaluasinya tidak kita terapkan untuk memperbaiki diri kedepannya?

Oh, malah jadi membahas pacaran. Ah, sudah lah, pikiranku memang suka berlayar kemana-mana saat tidak ada kerjaan. Contoh lainnya lagi adalah orangtua. Banyak sahabatku yang langsung memesan penerbangan ke kota asal saat mendengar suatu hal buruk terjadi pada orangtuanya, tidak bisa disalahkan karena aku juga lumayan yakin akan melakukan hal yang sama. Ada sahabatku yang menyayangkan tingkahlaku keluarga besarnya yang terkesan abai tiba-tiba berubah menjadi sangat perhatian dan menyesali keabaiannya saat ada yang meninggal, merasa memiliki disaat hal yang dimiliki itu telah benar-benar pergi. Kasus seperti itu lumayan lumrah ya? Entah lah, aku berpendapat bahwa jika seseorang sadar bahwa suatu saat semua akan pergi, dia tidak akan terlalu kecewa saat suatu hal benar-benar pergi. Dan mungkin itu juga penyebab adanya larangan meratapi mayat, siapapun mayat tersebut. Karena kita telah diingatkan berkali-kali bahwa semua ada masanya, dan segala sesuatu yang bernyawa akan merasakan yang namanya mati, termasuk diri kita. Dan semuanya tergantung pada kita, mau mempersiapkan diri sebelum itu terjadi atau menyalahkan situasi saat itu terjadi?

Apa salahnya belajar untuk melepaskan diri dari ekspektasi dan bekerja dengan cara yang diperkenankan? Bukankah kita juga bisa belajar untuk merasa memiliki hal yang nyatanya bukan atau belum menjadi milik kita? Dan mengingat bahwa yang kedua akan lebih sulit dipertanggungjawabkan di dunia-akhirat, kenapa tidak mencoba belajar yang pertama?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s