Random Thought: Pemimpin

“Memangnya jadi pemimpin itu harus sempurna banget ya?” tanya seorang kawanku. Entah pengaruh dari pemilu yang semakin dekat atau apa, sekarang media mulai ramai, dan salah satu topik yang diangkat itu jelas, para pemimpin yang terpilih sebagai kepala daerah. Dan mereka dibanding-bandingkan, dari yang kontroversial seperti “Kepala daerah terbaik”, sampai yang agak (atau memang?) berniat untuk menjatuhkan seperti “Kerja nyata vs Kerja pencitraan”, terlihat dari judulnya bahwa satu pemimpin didewa-dewakan sementara yang satu lagi direndah-rendahkan, agak kusayangkan karena menurutku keduanya pemimpin yang bagus, dari partai yang, meskipun keduanya lumayan dipercaya masyarakat saat pemilu, tidak terlalu bagus (korupsi, anggota partai yang percaya buta pada petinggi partai atau orang yang dicalonkan, perang dunia maya yang memuji-muji partai yang dipegang dan menyebar keburukan partai atau pemimpin lain yang entah kebenarannya. Yah, sampai saat ini masih belum ada partai yang kuanggap bagus sih). Dan tidak jarang aku merasa artikelnya tidak objektif dan berat sebelah, yang kadang membuatku merasa kasihan dengan pemimpin yang memimpin orang-orang seperti itu.

Aku tidak mengerti banyak soal tanggungjawab, tapi aku tahu satu hal. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk pemimpin dan tokoh yang banyak dipuja-puja orang itu. Dan memang itulah kodrat manusia, dimana kelebihan seseorang menutupi kekurangan orang lain, saling melengkapi. Aku tidak punya masalah dengan kritik, para pemimpin atau organisasi politik itu jelas butuh bahan untuk evaluasi, dan aku memang tidak terlalu suka orang yang menggunakan bahasa sulit dan berputar-putar yang bertujuan untuk membingungkan yang mendengar. Kadang aku berharap ada yang mau menjawab, “saya tidak menyangkal bahwa saya salah. Dan saya akan berusaha agar kesalahan ini tidak terulang kembali”, ah, tapi kita semua terlalu malu, atau mungkin pongah untuk mengakui kesalahan kita, sudah lah. Hal yang ingin kubahas disini adalah peran masyarakat yang dipimpin.Sebagai masyarakat, apa yang kita lakukan jika pemimpin kita membuat aturan? Mentaati seluruhnya atau melanggar beberapa hal yang kita anggap tidak penting?
Sebagai sumber daya manusia, apa yang kita lakukan jika pemimpin kita membuat suatu acara yang bermanfaat? Membantu keberjalanan acara atau membiarkan sang pemimpin dan sahabat dekatnya atau anggota basis partainya sibuk?
Sebagai yang dipimpin, apa yang kita lakukan jika pemimpin kita meminta kita mengurus sesuatu? Melaksanakannya dengan sebaik mungkin atau menghindar dengan dalih banyak urusan di kantor, kampus dan lain semacamnya?
Dan sebagai pengamat, apa yang kita lakukan jika pemimpin kita berbuat kesalahan? Mengingatkannya langsung secara personal atau mendiamkan dan kemudian menyebarluaskannya agar pemimpin itu dapat dijatuhkan?

Banyak orang yang sibuk meneriakkan reshuffle kabinet, padahal mungkin pemimpinnya juga ingin meneriakkan reshuffle masyarakat, hahaha.

Tapi nyatanya kita memang sering lupa, sehebat apapun seorang pemimpin, dia tetap lah manusia biasa. Dia kita percaya untuk mengurus semua masalah kita, namun dia tidak dapat menjalankan semua yang ingin dia lakukan sendirian. Dan itulah dimana kita dapat berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan masalah kita.

Kadang aku berpikir, jika ada suatu saat dimana kita mendapat pemimpin yang benar-benar baik, maukah kita menjadi warga negara yang baik juga agar jaman kepemimpinannya benar-benar dapat berjalan dengan baik, nyaman dan menyenangkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s