Trip to Kansai-Day 6

Hari terakhir homestay, mari maksimalkan. Diawali dengan sarapan seperti biasa, aku dan hostfamku main ke kyoto disaster prevention center, tempatnya seperti dufan, hanya saja wahana yang disediakan semuanya bertemakan kebencanaan.

Wahana pertama yang dikunjungi adalah cara untuk menggunakan fire hydrant yang sering ada di mall-mall, yaa, untuk apa sebuah perlengkapan itu ada jika tidak ada yang bisa menggunakannya? Kami diberikan pelajaran terkait fire hydrant yang ternyata hanya bisa menyemprotkan air atau gas selama 10-30 detik dan peringatan agar segera menghubungi pemadam kebakaran jika ada kejadian karena mereka yang lebih mengerti cara mengurus kebakaran. Ada juga peringatan untuk tidak menyemprotkan air ke api yang berasal dari tempat memasak yang menggunakan minyak. Setelah itu kami masuk ke smoke room, simulasi bagaimana evakuasi yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran. Dan baru tahu ternyata asap yang dikeluarkan itu dapat menjadi sangat tebal, tidak ada yang bisa dilihat di luar jangkauan tangan. Senter digunakan untuk mencari tanda pintu keluar darurat dengan menyinari ke lantai (tidak ada gunanya menyinari langit-langit yang penuh asap dengan cahaya, hasilnya sama saja seperti nenggunakan lampu sorot kendaraan di tengah kabut tebal) atau mencari cahaya di sekitar langit-langit yang menunjukkan arah jalur evakuasi atau pintu keluar darurat. Dan disini, ada lampu yang akan berkedap-kedip dan speaker yang akan mengeluarkan pengumuman pintu keluar untuk menunjukkan letak pintu keluarnya jika sulit untuk melihat di tengah asap.

Pengalaman berlanjut dengan merasakan simulasi kecepatan angin saat hujan yang mencapai 35m/s, mulai mengerti kenapa sepeda dan mobil bisa terbang saat tiupan angin terlalu kuat, lalu simulasi gempa bumi, dengan langkah segera berlindung dibawah meja saat gempa terjadi, matikan perlengkapan listrik dan api seperti kompor dan mencoba untuk keluar jika memungkinkan saat gempa reda, dan siaga jika terjadi gempa susulan. Beruntunglah di rumah simulasi ini meja, lemari dan beberapa perlengkapan lain telah terpaku di tembok sehingga simulasi berlangsung lumayan aman. Lalu ada juga semacam gamezone gratis bertemakan kebencanaan, mengemudikan helikopter untuk evakuasi, menjadi pemadam kebakaran mode “time crisis” dan sebagainya. Semoga di Indonesia tempat seperti ini segera dibuat, atau diperbagus lagi publikasinya jika telah ada 🙂

Setelah itu hari dilanjutkan dengan hostfamku yang mengantar keliling kyoto, mencari beberapa jenis 100-yen shop untuk oleh-oleh, gantungan kunci untuk kawan dekat, dompet untuk dosen pembimbing dan asistennya. Yaah, mungkin jenis souvenirnya tidak terlalu berpengaruh mengingat harganya sama semua, 105 yen (ditambah pajak 5%, yang april ini akan naik menjadi 8%). Tapi lumayan lah ya, ada beberapa hal yang menarik dan lebih murah daripada indonesia disini. Barang yang dijual tergantung tokonya, dan temanku bilang jika beruntung kita dapat menemukan baju seharga 105 yen. Meski belum menemukan baju, setidaknya ada beberapa gantungan kunci yang ditemukan di salah satu tempat ini, ya sudah lah ya, tiap makhluk punya rezekinya masing-masing kok.

Lalu kebetulan ada tv yang terlihat dan menyiarkan berita bahwa di jepang ada orang yang merusak buku “The Diary of Anne Frank”, fakta yang agak mengejutkan menurut hostfamku. Karena nyatanya, disini tidak banyak orang yang anti terhadap suatu golongan, baik itu anti-yahudi, anti-islam, anti-feminis, dan lain sebagainya. Orang-orang disini menurut hostfamku itu lebih ke arah “lakum dinukum waliyadin”, apa yang kamu percaya dan apa yang kupercaya tidak apa berbeda. Tapi jika ada kepercayaan yang mengganggu orang lain, atau ada orang yang memaksakan kepercayaannya pada orang lain, itu yang mereka anggap masalah.

Kita juga jadi berdiskusi tentang sebuah organisasi, dan hostfamku menyebutnya “angry moslems”, mari kita biarkan organisasinya tetap anonim meski mungkin beberapa sudah bisa menebak organisasi mana yang dimaksud. Hostfamku mempertanyakan apakah cara seperti ini tepat? Maksudnya, dia setuju dengam dilarangnya beyonce, lady gaga dan beberapa artis yang dianggap kurang jelas, bukan contoh yang baik bagi gadis muda memang. Tapi terkait pemaksaan kehendaknya itu yang dipertanyakan. Apakah itu baik?

Kita pun membahas benda-benda lain, minuman keras dan rokok. Aku yang belum pernah berurusan dengan minuman keras di indonesia juga bingung ketika ditanya berapa harganya dan pajaknya di indonesia, karena harga di supermarket yang menjual bir, wine dan semacamnya itu pun umumnya sudah mencantumkan pajak dalam harga kan? Rokok memang jelas hukumnya masih diperdebatkan, tapi harga rokok di jepang ini normalnya mencapai 3-4 kali lipat harga rokok di indonesia karena pajak tembakau yang tinggi. Hm, mungkin ada baiknya pajak rokok yang sangat tinggi ini diterapkan di Indonesia, mari kita lihat berapa perokok yang bertahan, haha.

Lalu kita pun membahas hukum syariah, yang diperjuangkan penerapannya oleh beberapa oknum. Hukum ini dianggap mengerikan oleh masyarakat non-muslim pada umumnya. Aku pun menganggap itu wajar, karena nyatanya hukum yang populer dipublikasikan adalah hukum potong tangan, rajam, dan lain sebagainya. Katanya itu adalah hukum yang bagus dalam “making a point” setelah kujelaskan bahwa hukum itu hanya berlaku bagi yang melakukan, kalau tidak dilakukan, tidak ada masalah kan? Lagipula mereka belum tahu bahwa ada hukum khusus seperti jika orang yang sangat miskin mencuri dari tetangganya yang sangat kaya (aku ingat ada cerita seorang mufti yang menghadapi kasus seperti ini), adil dalam keputusan, hak-hak non-muslim dalam negara islam dan lain-lain. Banyak yang meneriakkan tegakkan khilafah, ganti konstitusi dan lain sebagainya, tapi aku masih jarang melihat ada orang yang sabar dan berusaha menerangkan hukum syariah secara keseluruhan kepada semua orang yang belum mengerti. Hm, mungkin pekerjaan rumah bagi umat muslim yang mengaku merindukan khilafah untuk menjelaskan pada masyarakat terlepas dari muslim atau bukan, kalau semua rakyat sudah bersatupadu, bukankah pemerintah tidak punya banyak pilihan?

Dan akhirnya program homestay berakhir. Ah, chargerku masih hilang, huhu. Tapi setidaknya kita punya free time sampai besok, dan kita menginap di hostel yang punya fasilitas wii gratis. Ah, hostel mau di indonesia ataupun di luar sama ya, fasilitas bersamanya bagus-bagus, agar para traveller dapat berbagi cerita mungkin. Kurang pas dengan sifat introvertku, tapi ya sudah lah.

Agenda hari ini adalah kunjungan ke kuil kiyomizudera dan belajar memanajemen bencana api di kuil tersebut, lalu besok acara puncaknya, seminar kebencanaan bersama beberapa organisasi kebencanaan di jepang. Kabar baiknya, setelah itu tanggal 1 maret sore free time sampai pulang ke jakarta tanggal 3 malam, yuhu~ Waktunya mematikan hp agar bisa menghubungi keluarga saat sampai di Jakarta. Sudah ada niat jalan-jalan ke osaka tapi mungkin foto-foto akan menumpang kamera teman, haha.

Waktunya menikmati perjalanan kalau begitu 🙂

Trip to Kansai-Day 5

Dan seharian penuh beraktivitas dengan host family hari ini. Menyenangkan juga, dimulai dari bangun kesiangan di jam 6 WIB (yang kukira jam 6 di Jepang atau masih subuh, jet lag memang mudah menipu orang), yang dilanjutkan dengan sarapan roti panggang dengan selai stroberi dan keju. Dan berikutnya dilanjutkan dengan aktivitas di Children’s English Club yang baru saja didirikan oleh yuko-san yang menjadi hostfamku (host family, keluarga yang kutumpangin, haha), mengajari bahasa inggris ke anak-anak. Haha, udah jauh-jauh jalan ke jepang tapi tetap saja kembali ke dunia pendidikan anak juga, penasaran, berapa jauh ya aku akan terjebak di dunia ini?

Ah, urusan nanti biarlah dipikirkan nanti, yang jelas, aku diminta untuk mengenalkan sebuah hal dari Indonesia kepada anak-anak. Pengetahuan geografis dan budayaku itu rata-rata kebawah, gambar jelas bukan ide yang bagus, dan aku tidak bisa menari. Oke, akhirnya aku memutuskan untuk bermain musik saja, setidaknya aku belajar piano sejak kecil dan sekarang masih lumayan menyukainya. Bahkan dulu aku sering bereksperimen dengan pianika untuk menemukan nada dari lagu yang kudengar di televisi, tidak terlalu buruk kurasa. Lucunya kadang kita tidak pernah tahu ilmu mana yang akan terpakai kapan, oke, musik lah yang kupilih. Hm, lagu yang biasa anak-anak nyanyikan itu umumnya balonku, pelangi dan mungkin satu-satu. Balonku dan pelangi aku sudah tahu nadanya, satu-satu perlu kucari dulu dan syukurlah dapat kutemukan dalam waktu kurang dari lima menit. Oke, amunisi siap.

Pelajaran berlangsung dari pukul 10, tapi aku mulai mengisi jam 11, sehingga saat giliranku kedua anak yang ada (ya, syukurlah hanya dua anak yang sedang berkegiatan, maklum, tempat baru) sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Karena itu aku pun mengeluarkan satu benda yang selalu dilarang untuk dikeluarkan saat kegiatan belajar, handphone. Kelihatannya anak-anak disini tidak terlalu tertarik pada handphone, apa mungkin karena mereka telah terbiasa dengan teknologi macam ini? Ah, sudah lah, aku pun membuka aplikasi piano yang ada di handphoneku dan membunyikannya, berhasil, efek yang ditimbulkan seperti jika kamu menaburkan beras atau nasi di tengah-tengah gerombolan ayam, sangat efektif.

Aku pun memainkan lagu bahasa inggris yang umum didengar pada awalnya, twinkle-twinkle little star, atau mungkin versi lainnya merupakan lagu alfabet. Mereka tertarik dan mulai fokus, menangani anak yang jumlahnya sedikit tidak terlalu sulit ternyata. Setelah itu, aku pun bermain lagu anak-anak pelangi, dan anak-anak menyukainya dan mulai bermain hp/piano bersama, meski bunyi yang dihasilkan agak asal tapi menarik juga. Kegiatan pun dilanjutkan dengan membuat craft sederhana, bonela dari gelas plastik, krayon dan origami, info kegiatan lebih lanjut dapat dilihat di http://www.jellybeans-kid.com, meski sayangnya kegiatan diceritakan dalam bahasa jepang jadi mungkin tidak banyak yang mengerti, tapi dokumentasi bocah jepang di musim dingin itu menarik untuk dilihat kok, percayalah, haha.

Setelah makan siang, hostfamku mengajak jalan-jalan di Nisshiki street, jalan yang katanya terkenal karena variasi makanan yang ada disana, lumayan menarik, mayoritas tokonya masih berupa bangunan tua, yang sebetulnya sangat berbahaya dan merepotkan jika kamu dikirim kesini untuk melakukan penyuluhan akan persiapan bencana. Mirip bangunan di kota tua jakarta mungkin dari segi usia, tapi dari segi keamanan bangunan seperti ini sangat rentan hancur jika ada gempa, itu juga yang menyebabkan pemerintah jepang melarang bangunan tradisional seperti yang sering kita lihat di video game dibuat lagi, setidaknya untuk saat ini.

Oke, donat dari susu kedelai di jalan ini lumayan enak, sayangnya kurang banyak, hahaha. Ah, harga disini memang jauh berbeda ya, bahkan aaron-san, hostfamku yang berasal dari amerika, mengatakan bahwa harga-harga makanan dan biaya hidup di amerika hanya sekitar separuh dari harga di Jepang. Ah, ternyata bukan cuma orang indonesia yang menganggap negara ini memasang harga terlalu tinggi. Untungnya beberapa tempat wisata seperti kuil dan pemandangan disana dapat dinikmati dengan gratis, jadilah aku mengajak pergi ke kuil setelah puas melihat jalan itu, ya, hanya melihat, haha. Yah, biaya hidupku selama 3 hari ini memang ditanggung hostfam, tapi selain perasaan tidak enak karena merepotkan aku juga tahu bahwa hostfamku sedang perlu menyimpan uang untuk beberapa hal, sehingga tempat wisata yang gratis dapat menjadi win-win solution yang baik. Selain itu di kuil ada pohon sakura, meski aku tahu aku datang terlalu awal untuk sakura dan terlalu terlambat untuk salju, siapatahu ada outlayer yang ditakdirkan untuk kulihat.

Dan alhamdulillah ternyata ada, bukan sakura dan hanya mirip mungkin, tapi cukup lah untuk pelipur lara. Sayang laptopku tidak dibawa karena memang aku berniat untuk mengirit di Jepang, jadi mungkin gambar-gambar akan ku-update kelak atau ditaruh di post yang berbeda kalau diizinkan. Gambar bunganya telah kubagikan pada beberapa kawanku yang kuketahui punya minat untuk berkunjung ke jepang, semoga jadi motivasi 😀

Oke, di perjalanan yuko-san bertanya tentang kehidupan asmaraku. Entah, di jepang maupun indonesia, kenapa asmara merupakan topik yang sering dibahas kaum hawa? Atau itu hanya teman-temanku saja ya? Ah, sudah lah, tidak ada salahnya bercerita pada orang yang tidak akan terlibat, dan yuko-san juga bercerita tentang pertemuannya dengan aaron-san, jadi adil lah. Dan waktu makan malam pun hampir tiba, aku meminta pada yuko-san untuk mengizinkanku menggunakan dapurnya untuk membuat nasi goreng dengan bumbu instan nasi goreng yang kubawa. Ah, bumbu instan sangat berguna di saat seperti ini ya, haha.

Yuko-san pun mengajak pergivke supermarket, membacakan apa saja yang ada dalam kandungan produk dan menanyakan padaku apakah aku bisa memakannya (karena sesuai syariat islam) atau tidak. Iya, mereka baik ya? Mungkin para teroris yang menggunakan bom perlu sesekali bertanya, mengapa tidak biarkan mereka hidup? Siapatau mereka ditakdirkan untuk mendapatkan hidayah, nyatanya aaron-san dan yuko-san pun lumayan banyak bertanya terkait hal praktis, ucapan dalam bahasa arab, kebiasaan muslim dan berbagai hal lainnya padaku. Memang hidayah itu datangnya dari Yang Maha Kuasa, tapi sebagaimana rezeki, karir, jodoh, nasib dan lain sebagainya, manusia boleh berharap dan berusaha kan?

Akhirnya kami membeli chikuwa (produk olahan daging ikan), udang, mentimun dan tomat. Yuko-san masih memiliki wortel, kacang polong, bawang putih dan minyak goreng, jadi bahan-bahan itu lah yang kami gunakan sebagai lauk, dan nasinya juga menggunakan nasi jepang yang bundar dan agak lengket. Saat proses memasak dimulai, sebenarnya aku juga ragu apakah hasilnya enak atau tidak mengingat ada sangat banyak bahan yang kumasukkan tanpa tahu apa itu dan bagaimana pengaruhnya, tapi syukurlah mereka semua suka. Masalah sakit perut kita pikirkan belakangan saja lah ya, kalau ada kejadian, haha.

Waktunya istirahat, besok hari terakhir homestay, kami berencana untuk melakukan simulasi bencana di kyoto bosai atau kyoto disaster prevention center. Dan aku juga perlu mempresentasikan hasil kerjaku dua hari ini (yang entah kenapa kelihatannya kurang banyak, padahal sebenarnya sangat banyak yang bisa dilakukan) sebelum berpamitan dengan mereka. Bismillaah 😀

Trip to Kansai-Day 4

Belum, chargerku belum ditemukan, tapi Allah selalu punya rencana yang wah.

Hari dimulai dengan mengunjungi Disaster Reduction & Human Renovation Institution di HAT (Happy Active Town) Kobe. Tempat yang bagus, entah kenapa Jepang terlihat sebagai kota yang sangat peduli pada pendidikan anak-anaknya. Museum ini trletak di jalan yang saat kubaca alfabetnya bertuliskan “Museum Road” di, hm, aku lupa nama stasiunnya yang jelas terletak satu stasiun setelah stasiun rokko dijalur kereta api listrik hanshin ke arah kobe sannomiya. Yah, jepang memang punya banyak museum, di kobe sannomiya aku juga sempat melihat museum anpanman dan mendengar bahwa ada beberapa museum tokoh kartun lainnya. Kelihatannya semua hal dapat dijadikan topik untuk museum disini. Menariknya, semakin tua seseorang, biaya masuk museum ini semakin mahal, percayalah, anak-anak kecil tidak perlu bayar untuk masuk ke museum ini. Yang jelas, museum ini masih mengangkat tema utama yang sama, The Great Hanshin Earthquake. Yah, adakah bencana yang lebih terkenal dan banyak dampaknya ke kota kobe dibandingkan dengan gempa itu?

Beruntunglah kartu mahasiswa berlaku disini, setidaknya kami masih dapat dianggap mahasiswa, 150 yen itu bisa dua kali makan di Indonesia, haha. Kami membayar 450 yen untuk masuk museum tersebut, lumayan juga, mengingat fasilitas yang akan didapat berupa earphone dan translator yang memperdengarkan bahasa inggris, dua buah film yang salah satunya merupakan film 3 dimensi, berbagai simulasi menarik terkait pengurangan resiko bencana, dan lain sebagainya.

Kunjungan diawali dengan film tentang suasana saat gempa terjadi dan dilanjutkan dengan film mengenai kehidupan salah satu remaja perempuan yang menjadi korban dari gempa tersebut di lantai 4. Koreografi dramanya bagus, suasana gempa digambarkan keseluruhan dengan sangat baik jika standar Indonesia diterapkan disini (dan aku tidak punya standar lain untuk menilai). Setelah itu kami berpindah ke lantai 3 museum dimana berbagai barang pajangan dan slide informasi ditampilkan, hm, bagian ini tidak terlalu berbeda dengan museum di indonesia. Mungkin terlihat lebih menarik karena museum ini menggunakan teknologi seperti touch screen dengan tampilan Windows 8 dalam penampilan datanya. Setelah itu perjalanan berlanjut ke lantai 2, dimana tema yang diangkat adalah bencana secara keseluruhan, mengenalkan jenis bencana yang ada, bagaimana tampilan dan pengaruh dari bencana itu bagi kehidupan, seperti itu lah. Dan di ujung ruangan ada permainan dan simulasi dari beberapa hal, seperti struktur tahan gempa, pengaruh kekuatan dan kedalaman titik pusat gempa, gejala liquefaction, barang-barang di dalam emergency bag, penyuluhan kepedulian melalui cerita, dan lain sebagainya. Para relawan disana sudah tua, tapi tetap semangat dalam menjelaskan banyak hal. Terlepas dari alasan keaktifan mereka yang tidak kuketahui, aku salut lah. Perjalanan ditutup dengan pemutaran film terkait bencana tsunami pada tahun 2011 yang menimpa daerah jepang lainnya, tohoku atau rakuzan kalau tidak salah, yang tingginya mencapai 14.4meter. Filmnya mengerikan, apalagi karena diputar secara 3D. Sayangnya pada bagian usaha renovasi filmnya malah jadi membosankan karena terkesan sangat dokumenter dan lama filmnya 24 menit, ditambah dengan kondisi ruang film yang menyerupai bioskop, ada alasan untuk tidak tidur?

Dan setelah itu kami menuju Gedung JICA (Japan International Cooperation Agency) untuk makan siang di restoran pada lantai dasar JICA. Itu restoran pertama yang kutemui dan menerangkan makanan halal dan tidak di Jepang ini. Dan JICA juga mengirimkan bantuan ke berbagai belahan dunia, saat kami datang ada juga menu vietnam yang dijual dan harganya dimahalkan untuk memberi sumbangan ke korban angin topan haiyan. Syukurlah menemukan tempat seperti ini 🙂

Oke, dan lanjut ke rumah host family di kyoto, pindah kota, ganti trayek kereta. Kereta di jepang bagus-bagus ya, semoga perkeretaan di Indonesia bisa segera menyusul atau bahkan jadi lebih baik daripada jepang lah, perkembangan selama beberapa tahun terakhir ini sudah tergolong baik kok menurutku, asal jangan terus-menerus menggunakan kereta second yang diimpor dari negara lain saja, hehe.

Kami bertemu dengan host family kami di Kawashima, dan setelah foto-foto sedikit kami berpisah ke rumah masing-masing. Rumah hostfamku terletak di Kamigyo-ku, rumah sewaan yang sudah berusia 80 tahun dan sangat tradisional bentuknya. Pemilik rumahnya merupakan pasangan amerika-jepang, sang istri beberapa tahun lalu keluar dari pekerjaannya saat memiliki anak dan sang suami bekerja sebagai programmer game nintendo atau semacam produser film lokal lah, dan produknya umumnya dikhususkan untuk anak-anak. Orangnya baik, banget. Aku dipinjamkan charger dan diberi akses wifi selama disini. Selain itu, pasangan ini sama-sama punya fokus di dunia pendidikan dan anak, yang sempat kugeluti selama hampir empat tahun terakhir (rasanya waktu berlalu dengan cepat ya), sayangnya belum punya kewaspadaan di bidang bencana, dia mengabarkan bahwa gubernur memberi dia peta ke tempat evakuasi yang dibuang karena dia hafal jalan ke kuil atau sekolah yang dijadikan tempat evakuasi. Dan diskusi kami berlangsung di berbagai hal yang seru.

Pasangan ini traveler, mereka telah mengunjungi berbagai negara di asia tenggara (memang ini tempat tujuan yang bagus dan murah, bukan?) seperti laos, vietnam, malaysia dan bali. Kita pun berbicara tentang harga barang. Di jepang, harga listrik bulan lalu yang keluarga ini pakai mencapai 15000 yen, mungkin pengaruh dari heater, ac dan lain sebagainya, entah. Harga bahan bakar disini juga 3 kali lebih mahal dari harga di Indonesia. Tapi aku pun bercerita bahwa kondisi di Indonesia, walaupun harganya murah, tapi mata uang di Indonesia nilainya terus jatuh, entah mengapa tidak banyak orang yang terlihat peduli dengan hal ini. Pergerakan ekonomi yang didasari konsumsi nilainya memang bagus, tapi entah lah, aku belum terlalu mengerti pengaruh dan lain sebagainya dari info tersebut. Lalu perbincangan pun dilanjutkan dengan masalah anak, warga Jepang umumnya menganggap anak merepotkan dan mengganggu waktu “own time” mereka, sehingga jumlah anak per keluarga di Jepang hanya sekitar 1.1-1.2 anak, setidaknya itu kata hostfamku. Aku juga bercerita bahwa di Indonesia justru pernikahan dini sedang populer dan banyak orang (terutama perempuan) yang ingin memiliki anak, karena itu jumlah anak per keluarganya masih lebih dari dua, batas aman kelangsungan budaya dan identitas suatu negara (logikanya dua anak meupakan penerus dari kedua orangtua) dan menanyakan apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi ini. Mereka berkata bahwa pemerintah memberikan tunjangan kelahiran (13000 yen per bulan tiap bulan hingga anak berusia 3 tahun, kemudian turun menjadi 5000 yen per bulan hingga anak berusia 13 tahun), tapi jumlahnya sangatkecil jika dibandingkan dengan biaya sekolahnya yang mencapai 2.5juta yen setahun (aku lupa di level pendidikan apa). Kasusnya, sang istri sedang belajar bisnis dan sang suami masa kontrak kerjanya akan habis bulan ini, kelihatannya mereka akan melihat keberjalanan bisnis tersebut dahulu sebelum memutuskan untuk pindah atau tidak, dan jika akhirnya mereka memutuskan untuk pindah, aku siap untuk membantu apabila pulau jawa jadi pilihan singgah mereka, haha 😀

Ah, masih jet lag, sudah jam 1 malam di Jepang dan aku belum terlalu mengantuk. Padahal istri yang orang jepang ini punya semacam tk tempat belajar bahasa inggris, dqn aku diminta untuk mengisi materi tentang indonesia, seperti budaya, permainan tradisional, dan lain sebagainya. Entah kenapa anak-anak kecil jepang yang kutemui lucu-lucu, apa mungkin pengaruh dari pipi yang memerah karena kedinginan ya? Entah lah. Sayang dokumentasi baru bisa dipublikasikan jika sudah mendapat izin dari orang-orang yang terlibat, doakan saja proses dokumentasi dan perizinan selama di jepang ini lancar 🙂

Trip to Kansai-Day 3

Banyak cerita di hari ini. Dari berjalan-jalan dan melakukan simulasi gempa bumi di Nojima Fault Museum sampai berbagi cerita bersama radio komunitas FM YY di Takatori Community Center.

Dimulai dari pagi hari, saat BDSG berkumpul bersama Kobe RMC untuk berkegiatan bersama. Ada 4 orang mahasiswa yang terlibat, 3 dari jepang dan 1 mahasiswa exchange dari thailand. Ada dua mobil yang disewa khusus untuk kunjungan ini.

Dan perjalanan pun dimulai. Tujuan pertama adalah museum kesalahan nojima, eh, museum patahan nojima. Disini kita melihat contoh langsung akibat yang disebabkan gempa bumi, di daerah yang dikonservasi sejak terjadinya gempa hanshin hampir 20 tahun yang lalu. Keren dan seram juga, ada lempeng yang terangkat keatas dan tergeser ke samping, menyebabkan dinding rumah patah dan tergeser miring karena perubahan tersebut.

Disana juga kami melakukan simulasi gempa bumi di level yang lumayan parah lah, sekitar 7 Richter. Meskipun duduk di tempat masih mungkin dilakukan, tetap saja guncangannya terasa. Dan sekarang aku bertanya-tanya, bagaimana bisa aku tidak pernah menyadari saat beberapa temanku mengatakan ada gempa selama di bandung?

Yang kedua adalah kunjungan ke FM YY. Ini lebih menarik lagi. Bermula dari gempa hanshin pada 17 Januari 1995 pukul 5.47 pagi, yang menghancurkan kegiatan perekonomian di Kobe–seniorku pun bercerita bahwa saat ini Kobe masih belum bisa mengembalikan supremasinya sebagai kota pelabuhan terpopuler di zaman dahulu. Saat itu banyak warga jepang yang tertimpa masalah. Tapi ada segelintir orang yang menyadari bahwa masalah tersebut tidak hanya menimpa warga jepang saja, namun juga warga asing yang berdomisili di jepang. Saat itu segelintir orang tersebut menyadari bahwa bahkan sebelum bencana terjadi, orang asing di Jepang sudah terasingkan, dan kondisinya akan lebih parah saat bencana seperti ini. Apalagi adanya penghalang berupa bahasa bagi orang asing yang berasal dari korea selatan, vietnam, filipina dan lain sebagainya dalam menerima dan memahami informasi terkait bencana yang disebarkan oleh pemerintah jepang. Akibatnya, dibentuklah dua buah radio komunitas yang berfungsi untuk menyebarkan informasi terkait gempa tersebut dalam berbagai bahasa, yaitu Yoboseyo (yang dalam bahasa korea berarti “Halo”) yang menyebarkan informasi dalam bahasa Jepang, Korea Selatan dan Filipina, serta Yumen (yang dalam bahasa vietnam berarti “Dengan Cinta”) yang menyebarkan informasi dalam bahasa Jepang, Vietnam, Korea Selatan dan Spanyol. Kelak pada tahun 1996, kedua radio komunitas ini bergabung menjadi radio komunitas FMYY, dimanaFM merupakan frekuensi radio dan kedua Y diambil dari nama kedua radio komunitas yang bergabung. Saat ini pun informasi tidak hanya disebarkan FMYY melalui radio saja, tapi juga melalui media kertas dan internet.

Dalam keberjalanannya banyak relawan yang bergabung dengan FMYY, saat ini pun tercatat ada 150 relawan yang berpartisipasi. Memang harus diakui, disana kita dapat belajar untuk memberikan opini yang didengarkan oleh masyarakat, belajar bahasa jepang secara tidak langsung (yang telah menyebabkan pekerjaan mayoritas relawan naik kasta, dari pekerjaan seperti pembuat sepatu menjadi pekerjaan seperti penerjemah), bahkan ada beberapa radio komunitas di Indonesia seperti di Aceh dan di Yogyakarta yang merupakan partner dari FMYY ini. Kebetulan september lalu kami berkunjung ke salah satu partnernya di Yogyakarta, Radio Komunitas Gema Merapi. Lumayan menyenangkan kondisi disana, dengan bermodal dasar komputer, mic serta perlengkapan broadcast yang tidak terlalu besar, siaran pun dapat dimulai.

Sayangnya, saat ini FMYY terancam berhenti. Sulitnya pendanaan dan kegunaan yang saat ini dipertanyakan membuatnya begitu, sedang dilangsungkan rapat yang membahas masa depan organisasi non-profit tersebut. Masalah klasik tiap organisasi memang, tapi apa lagi yang dapat dikatakan jika solusinya belum ditemukan?

Yah, berharap untuk yang terbaik saja lah.

Oiya, satu hal lagi yang menarik dari FMYY, mereka tergabumg dalam Takatori Community Center bersama 9 organisasi non-profit lainnya. Disana kesepuluh organisasi non-profit tersebut saling membantu apabila ada masalah. FMYY mempublikasikan acara-acara dari tiap organisasi disana, ada organisasi yang bertugas membetulkan benda-benda teknologi dari kesepuluh organisasi tersebut jika ada kejadian, ada juga yang bertugas menjadi penerjemah, dan masih banyak lagi kolaborasi mutualisme antara kesepuluh organisasi tersebut. Inti yang dibawa adalah, tidak apa menjadi berbeda, toh dengan begitu kita dapat saling melengkapi dengan orang-orang yang lain kan?

Setelah itu kami diajak untuk melihat struktur bangunan Takatori Community Center itu. Dan kuakui, desainnya keren. Tahu pintu beroda dengan engsel yang kalau didorong bisa terlipat-lipat? Di gedung ini rodanya diganti dengan katrol keatas, yang menjadikan sebuah dinding dapat berfungsi sebagai atap jika digerakkan dengan katrol tersebut. Selain itu, ada juga gereja yang dibangun dari kayu dan kertas (entah apa bahan kertas ini, karena lumayan kuat), mungkin di lain kesempatan gambarnya bisa kubagikan. Dan ternyata dunia fisika memang seru dan aplikatif ya, merasa berada di jurusan yang tepat lah, haha.

Perjalanan diakhiri dengan obrolan terkait kebiasaan orang Jepang. Jadi, di eskalator ada aturan tak tertulis (atau tertulis ya? Ah, entah) orang-orang yang ingin bersantai harus mengambil salah satu lajur, dan orang yang buru-buru harus mengambil jalur yang lain. Di kobe, orang yang ingin bersantai berada di lajur kanan dan mempersilahkan orang yang berada di lajur kiri mendahuluinya, sementara di tokyo dan singapura kebalikannya, orang yang ingin bersantai mengambil lajur kiri dan membiarkan orang di jalur kanan lewat. Dahulu saat sma aku juga begitu, kebiasaanku berbicara keras karena pendengaran nenekku sudah kurang baik itu kadamg dipermasalahkan oleh guru-guru yang menganggap itu tidak sopan, padahal ada daerah di indonesia yang menganggap berbicara pelan itu tidak sopan. Obrolan dengan kawan-kawan Kobe RMC tadi juga begitu, di Jepang ada aturan tak tertulis untuk bicara pelan-pelan, sementara di Korea dan Cina bicara sebaiknya lebih keras. Mungkin itu pentingnya bermain ya, agar kita dapat tahu aturan mana yang berlaku di masyarakat. Tiap masyarakat punya alasan tersendiri dalam menerapkan aturannya kan? 🙂

Dan, saat ini sedang terkena musibah nih, charger, colokan universal dan beberapa perlengkapan elektronik yang lumayan penting milikku sedang berada entah dimana, huhu. Mohon doa saja agar cepat selesai urusannya ya, agar mudah menemukan atau mudah mengikhlaskan apabila memang bukan rezekiku. Kalau yang kedua yang terjadi, mungkin sisa pelajaran yang kudapat selama di Jepang akan kubagikan lain kali saja lah ya, bateraiku sudah sekarat soalnya, haha. 🙂

Yoboseyo, yumen. Still like these words! 😀

Trip to Kansai Day 2

Haha, ternyata ada senior yang punya wifi pocket! Dan karena aku baru kebagian membuat artikel kegiatan pada workshop tanggal 1 februari, masih banyak waktu untuk meracau lah ya, setidaknya sebelum berpisah untuk nginap di rumah orang jepang rabu ini.

Hari pertama beradaptasi. Jika awalnya aku menganggap di dalam bandara itu sudah dingin, di luar bandara jauh lebih dingin. Suhu berada di kisaran -1 hingga 4 derajat celsius. Dari kunjungan audit energiku ke sebuah hotel semester lalu, aku mengetahui fakta bahwa bahan-bahan makanan seperti sayuran atau daging disimpan di kulkas pada suhu antara 3 hingga 7 derajat celsius untuk menjaga kesegarannya. Oh, baru saja datang dan aku sudah dicoba diawetkan.

Tapi diskusi tetap berlanjut terkait jepang dan indonesia. Kita berbicara tentang kebutuhan, dimana katanya Jepang sedang membutuhkan banyak lulusan di bidang sains dan teknik (yang sudah umum) dan kemungkinan besar akan menambah jumlah penerjemah dan perawat untuk memperkukuh dominasinya di Indonesia. Penerjemah diperlukan untuk menjembatani hubungan kerja antar negara, sementara perawat diperlukan untuk menjaga standar pekerja di dalam suatu negara. Dan kata seniorku yang belum lama ini menyelesaikan S2 di Jepang (dan sedang melamar beasiswa S3 di kota yang sama lagi), mereka punya preferensi untuk mempekerjakan orang lokal yang pernah belajar di Jepang.

Dan kita juga meracau tentang perkuliahan di Indonesia. Seniorku menceritakan bahwa ada dua cara untuk mendapat gelar master, yaitu master by course dan master by defense. Master by course berarti gelar master akan diperoleh dengan menyelesaikan semua mata kuliah terkait, sementara master by defense berarti gelar master akan diperoleh dengan menyelesaikan beberapa semester dimana tiap semester ada riset di sebuah bidang yang perlu dilakukan atau dipresentasikan. Bagaimana dengan Indonesia? Setengah-setengah, riset dilakukan hanya di penghujung semester. Apa ini salah satu hal yang menyebabkan para dosen lebih menganjurkan melanjutkan studi master dan doktor di luar negeri?

Dan aku pun turut berbagi informasi terkait beasiswa LPDP, dari apa yang kuketahui setelah mengikuti beberapa seminar beasiswa. Yang menarik dari informasi adalah, terlepas dari berapa mudanya dirimu, selalu ada hal yang kamu ketahui dan belum diketahui orang lain, dan tentu hal itu juga berlaku bagi yang tua, karena itu obrolan dapat berlangsung dengan menarik dan menyenangkan. Beasiswa itu memberikan tunjangan bagi para calon master dan doktor yang besarnya menyesuaikan dengan tempat tinggal sang mahasiswa. Selain itu, ada juga tunjangan keluarga yang memungkinkan mahasiswa mengajak pendamping hidup dan anaknya untuk menemani mahasiswa tersebut melakukan studi di luar negeri, dan tentu saja biaya ditanggung. Untuk dukungan moral mungkin. Yang jelas ada syarat untuk itu, tapi entah apa. Dan karena syarat itu beberapa temanku menganjurkan orang yang mau mengambil beasiswa LPDP untuk menikah dahulu agar dapat melanjutkan studi dengan lebih semangat, haha.

Lalu sore ini pun diisi dengan kegiatan jalan-jalan ke Kobe Meriken Park. Ada banyak spot yang menarik untuk dikunjungi disini, baik bersama anak-anak seperti museum anpanman, maupun bersama pendamping hidup seperti kobe port atau ferris wheel yang katanya romantis. Memang tempatnya bagus, sayang biaya hidup disini sangat mahal. Tapi memang kerja sambilan disini pun sangat besar penghasilannya, katanya kisarannya dimulai dari 1000 yen/jam. Entah lah apakah kelak bisa kesini lagi atau tidak.

Setidaknya ini pengalaman yang bagus lah. Awalnya aku lumayan yakin dapat terbiasa dengan kondisi dingin karena lumayan mampu bertahan di bandung dini hari, oke, setiap orang punya kenaifan tersendiri. Pertama kalinya mandi malam dengan air panas dan kamar mandi penuh uap lah, kelihatannya kelembaban disini juga rendah, mungkin karena kandungan air di udara juga banyak yang memadat di tempat lain. Yang jelas karena itu kulit mebjadi cepat kering dan perlu pelembab atau semacamnya. Repot. Tapi rencana studi ke eropa harus berlanjut, dari yang kudengar justru salah satu unggulnya studi di negara dengan empat musim adalah orang-orang di negara tersebut belajar untuk mempersiapkan diri dan mengatur rencana yang sesuai dengan musim yang perbedaannya tergolong ekstrim agar dapat bertahan hidup.

Tinggal mencari beasiswanya, dan mungkin juga mencari teman yang mau ikut ke luar negeri, haha. Yang jelas sekarang waktunya semangat dan mulai melangkah, bismillaah 😀

Trip to Kansai

Dan perjalanan menuju jepang dimulai 😀

Pertama kalinya naik pesawat dari terminal 3, terminal terbaru di soekarno-hatta, dan naik penerbangan yang dari segi harga murah, ternyata sensasi yang ditimbulkan beda. Guncangan yang terjadi mudah untuk dirasakan–mudah untuk mengetahui bahwa pesawat sedang melakukan sesuatu, seperti menurunkan roda, mendarat dan sebagainya–kelihatannya peredam yang berfungsi di pesawat tersebut belum cukup mampu untuk meminimalisir hingga pengguna tidak merasakan adanya guncangan dalam penerbangan. Selain itu, tekanan yang dialami penumpang juga berubah–pada beberapa maskapai penerbangan yang baik, umumnya penumpang tidak terlalu sering merasakan pengang pada telinga yang disebabkan perubahan tekanan akibat perubahan ketinggian pesawat–kelihatannya sistem insulasi ruang penumpang belum terlalu baik. Tapi seru juga sih menebak-nebak apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki situasi dan kenyamanan penumpang, salah satu hal yang dipelajari keilmuanku 🙂

Dan perjalanan diawali dengan obrolan asal dengan teman sekelompok saat ospek masuk kampus yang kebetulan menyukai manga yang sama–kuroko no basuke, bahkan dia membuat beberapa fanfic terkait itu–dan ikut organisasi yang sama yang menyebabkan kami seperjalanan. Kami mengobrol terkait tema fanfic apa lagi yang dapat diangkat, terutama di bidang ospek dan latar belakang himpunan, kurospek dan kurohimp, haha. Bahkan aku sudah terpikir beberapa cerita kalau mau diseriuskan, imajinatif memang punya beberapa keuntungan tersendiri, haha.

Dan saat sampai di kuala lumpur untuk transit dari soekarno-hatta, teman ngobrolku itu hilang, butuh sekitar satu jam untuk menemukannya–setelah dia makan siang diluar transit hall kuala lumpur, menjelaskan kenapa kami tidak berhasil menemukannya di transit hall.

Perlu digarisbawahi pentingnya komunikasi disini, pergi tanpa memberitahu tujuan atau bertemu lagi kapan dan dimana bisa membuat satu rombongan repot.

Oke, katanya di jepang wifi tidak terlalu banyak, dan aku tidak punya minat untuk membeli nomor atau hp di jepang jika hanya akan digunakan selama sepuluh hari. Sudah lah, haha, mungkin akan sedikit terasing dari teknologi di negara berteknologi maju.

Tapi meski memang ini perjalanan pertama ke negeri lain saat musim dingin, tanpa ditemani orang tua, dan persiapan yang terburu-buru karena pekan ini sibuk diisi dengan menyelesaikan tugas kuliah dengan deadline pengumpulan dua pekan ke depan, aku lebih suka menganggap ini sebagai pengalaman pribadi, repotnya, kesalnya, sulitnya, setidaknya semua hal tersebut akan berkurang saat berikutnya kejadian seperti ini terulang kembali. Entah apakah di jepang dapat terhubung dengan teknologi apa dan mendapat pengalaman apa, yah, setidaknya fokus saja pada apa yang ada di hadapan saat ini bukan?

Mengingat akan berada di jepang sampai 3 maret kelak tanpa kepastian adanya wifi dan jadwal kegiatan (dan jalan-jalan tentunya) yang sulit untuk diabaikan, mungkin berbagi pengalaman mengurus visa ke sebuah negeri dan persiapan ke negara bermusim dingin akan menjadi cerita di lain hari, jika Yang Berkehendak memberikan kesempatan, in syaa Allah 🙂

—————————————————————————————
Dan setelah sampai di kansai baru tersadar, salah satu hal yang menyenangkan dari bandara adalah selalu ada wifi atau koneksi internet tanpa bayar. Penerbangan enam jam ternyata lumayan melelahkan. Dan rombongan tiba di kansai pada pukul 23 waktu setempat, atau pukul 21 WIB. Satu hal yang perlu disebut adalah, menarik juga konsep bandara yang berada di tengah perairan seperti disini. Memang sudah memperkirakan harga di jepang akan jauh lebih mahal dari harga di Indonesia, tapi speechless juga saat melihat harga internet (via komputer) di bandara besarnya 100 yen atau 11500 rupiah per 10 menit dan photobox sekali pakai 800 yen atau sekitar 90000 rupiah. Dan karena bis menuju kobe baru saja habis, waktunya bermalam di bandara. Ah, ada gunanya juga membawa sleeping bag, sekaligus mencoba jadi backpacker lah, haha.

Semoga sepuluh hari ini membawa banyak pelajaran dan pengalaman, baik dari bidang pendidikan kebencanaan, pemikiran dalam teknologi keilmuan, serta pengalaman dan pelajaran kehidupan.

Dan seru juga melihat teknologi disini yang, entah apakah benar memberikan kemudahan atau sekedar menyulitkan diri sendiri. Pintu toiletnya mengingatkan pada aplikasi mata kuliah sistem logika dan digital, dimana pintu memiliki dua kondisi–tertutup dan terbuka–sementara ada empat tombol, dua buah tombol “open” dan dua buah tombol “closed” yang terletak di dalam dan di luar toilet masing-masing sebuah. Situasinya jelas, pintu akan terbuka saat tombol open ditekan dan akan tertutup saat tombol closed ditekan, baik dari luar maupun dari dalam toilet. Namun ada kondisi dimana saat tombol closed di dalam toilet ditekan, toilet akan masuk kedalam kondisi terkunci dimana pintu tidak akan dapat dibuka meskipun tombol open dari luar toilet ditekan berkali-kali.

Entah sistem ini bagus atau tidak, apa yang akan terjadi jika ada kondisi seperti pemutusan arus listrik ya? Harusnya ada juga kondisi darurat yang mengatur kondisi pintu apabila itu terjadi, karena sepengetahuanku jepang juga rawan terhadap gempa bumi seperti di indonesia, tapi memang sistem mitigasi bencana mereka saat ini jauh lebih baik dari indonesia. Entah lah, tapi sekarang aku sedang mencari sebuah benda keras yang agak panjang untuk menekan tombol closed di dalam toilet dari luar toilet, apakah pintu akan masuk dalam kondisi terkunci atau kondisi itu hanya terjadi jika ada sensor yang mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan di dalam toilet ya?

Ah, tapi mungkin aku yang ditangkap duluan, agak disayangkan ada stasiun polisi tepat di sebelah pintu toilet, hahaha. Ya sudah lah, malam masih panjang. Yang jelas meskipun perjalanan ini baru dimulai, ada kemungkinan cerita baru berakhir saat bumi telah tiada, karena ilmu yang didapat dapat terus bermanfaat dan meneruskan cerita insan-insan yang telah tiada. Waktunya berkelana, belajar dan berkicau seperti biasa 😀

Kebutuhan Manusia dan Relawan (Preview)

Kebutuhan Manusia dan Relawan (Preview)

Akhirnya kerja sambilan riset terkait pemuda dan relawan selesai juga, alhamdulillaah 😀

Padahal topik ini sudah dibahas berkali-kali di Skhole, tapi entah kenapa masih sulit untuk menuangkan ilmu dalam bentuk presentasi dengan lancar, apa ini pengaruh karena fokus pikiran sedang terbagi disana-sini ya?

Ah, sudah lah, mungkin lain kali akan kubahas tentang sistem manajemen relawan di negara luar, tapi mungkin gambar dari http://managementpocketbooks.wordpress.com/2011/11/20/david-mcclellands-three-motivational-needs ini cukup untuk memberikan gambaran inti dari kebutuhan manusia dalam organisasi, apalagi jika berperan sebagai relawan (belum tentu sebagai sukarelawan, dukarelawan mungkin?).

Tiap orang pasti punya kemauan untuk berbagi, tapi tiap orang juga punya kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Dan berbagi akan lebih menyenangkan jika dilakukan saat kebutuhan dasar kita semuanya terpenuhi bukan? 🙂