Peran Pemuda

Ah, malam cepat sekali berlalu.

Baru saja mengikuti talkshow terkait peran pemuda yang diadakan sebuah organisasi, hm, atau mungkin perkumpulan? Entah lah, tapi sebaiknya tidak kusebutkan nama organisasi atau perkumpulan terkait itu, karena entah kenapa aku kurang puas dengan acara tersebut.

Mengangkat tema “peran pemuda”, harapan awalku adalah acara ini membahas banyak aspek dari kegiatan yang melibatkan pemuda sebagai tokoh utama dalam perubahan yang akan dilakukan, seperti sosial-masyarakat, riset dan pendidikan, ekonomi dan entepreneur, politik dan aspirasi pemuda, teknologi dan trend baru, dan masih banyak lagi hal yang kuharap dibahas dalam forum tersebut. Maklum, tokoh yang diangkat memang pernah menjadi menteri dalam kabinet terbaru ini yang, seharusnya lumayan terkait lah untuk membahas peran pemuda di bidang-bidang tersebut.

Hal pertama yang mengecewakan adalah tradisi jam karet di indonesia. Pengisi acara yang sangat terlambat, dinyatakan dari kalimat yang terlontar dari mulut sang mc, “yak, masih menunggu pak **** yang sedang dalam perjalanan”. Ah, ini acara ketiga dari acara yang pernah kuikuti dan mengundang tokoh penting (dan kalau dihitung memang, kuakui jumlahnya sangat sedikit) yang terlambat seterlambat itu akibat dari tokoh penting yang mengisi acara sangat terlambat. Liter of Lights juga begitu, sangat terlambat karena orang penting yang harusnya mengisi sambutan datang jauh melebihi batas jam yang ditentukan. Namun hal yang membuatku kurang nyaman adalah alasan keterlambatannya saat itu, sesuai dengan laporan teman-temanku yang bertugas sebagai tim penjemput, renang. Entah bagaimana pendapat yang lain, tapi aku tidak terima jika acara liter of lights yang ditujukan kepada masyarakat dan perlu persiapan yang optimal dianggap kalah penting dari acara renang yang bisa dilakukan kapan saja. Yah, cobalah berpikir dari sudut pandang panitia pembuat acara, meskipun kita tahu ini kesalahan siapa, tetap saja kita yang disalahkan masyarakat. Aku juga masih suka terlambat, jadi ini teguran buatku juga. Yang jelas, siapapun kita dan apapun posisi kita, pasanglah skala prioritas dengan baik, jangan sampai kejadian seperti pengalamanku itu terjadi lagi, hormatilah perasaan orang-orang yang memperjuangkan acara atau kegiatan itu. Budayakanlah tepat waktu, waktu yang telah disia-siakan tidak akan dapat digunakan kembali kan?🙂

Hal kedua yang kusayangkan adalah pertemuan barusan itu terlalu berat membahas bidang politik, kurang membahas bagian aspirasi, dan terlalu banyak topik terkait pengalaman hidup si tokoh dan apa yang akan dilakukan jika si tokoh menjadi presiden (yah, kelihatannya ada kemungkinan dia dicalonkan dalam pemilu) dengan mengubah beberapa variabel dan data sehingga kehidupan masyarakat dapat lebih sejahtera. Oke, hal yang kurespon dengan sindiran dalam hati, “oke, kalau terpilih ya. Kalau nggak?” Nyatanya, variabel yang telah berubah hanya berada dalam alam pikirnya, bukan variabel yang ada dan terjadi di dunia saat ini. Dan kalau tidak terpilih, apakah masih berminat untuk memperbaiki negara ini dari posisi yang berbeda?

Well, supaya adil, sampai saat ini masih belum ada partai politik yang bisa kupercaya. Masih mencoba mencari tokoh dari partai politik manapun yang kelihatannya sesuai dengan yang kuinginkan ternyata sulit ya. Ah, atau mungkin standarku terlalu tinggi? Entah lah, bisa jadi. Memang salah untuk apatis dalam politik, tapi jika aku tidak memilih karena dari semua calon, meskipun sudah menonton semua debat dan gagasan yang diungkapkannya, masih belum ada yang bisa memberi pengaruh untuk membuatku memilih, bisakah tidak memilih dikatakan apatis jika alasannya adalah anggapan bahwa semua calonnya masih belum layak untuk dipilih, dan khawatir jika pemimpin manapun dari yang dicalonkan itu naik akan membawa keburukan? Yah, semua orang punya pendapatnya tersendiri.

Hal ketiga yang kusayangkan, peran aktif pemuda yang dapat dilakukan secara langsung seperti sosial-masyarakat, entepreneur dan riset kurang ditonjolkan atau bahkan ada yang tidak dibahas ataupun disebut sama sekali selama keberadaanku di acara itu. Padahal selain partisipasi aktif dalam dunia politik, menurutku pemuda dapat berperan jauh lebih banyak disitu. Dan berbeda dengan politik yang hanya terjadi 5 tahun sekali, kegiatan tersebut dapat dilakukan tiap tahun, atau bahkan tiap hari🙂

Ah, sudah lah, ambil hal yang baik dan jadikan hal yang buruk sebagai pelajaran saja. Apa lagi yang dapat dilakukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s