Ruangan, Indra dan Kenyamanan

Ada 4 buah hal teknis yang dapat berpengaruh besar terhadap kenyamanan ruangan, yaitu jumlah dan letak cahaya di dalam ruangan, kejelasan dan kebisingan bersuara atau akustik di dalam ruangan, bau yang ada di dalam ruangan serta suhu ruangan. Faktor tersebut akan berpengaruh dalam bagaimana kita melihat, mendengar, mencium bau dan merasakan panas di dalam ruangan, yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap psikologis dan kenyamanan kita. Tiba-tiba tertarik untuk membahas hal ini, dan kebetulan juga di semester ino sedang mengambil mata kuliah di bidang pencahayaan dan bangunan secara general yang di pekan awal seperti sekarang sedang membahas akustik ruangan, meski masih sedikit tapi coba berbagi ilmu yang ada lah🙂

Pertama di bidang pencahayaan, ada yang pernah membandingkan lampu yang digunakan oleh penjual ayam goreng di pinggir jalan dan lampu yang digunakan di lemari pendingin? Kalau belum, cobalah perhatikan. Umumnya, penjual ayam goreng di pinggir jalan menggunakan lampu pijar yang berwarna kuning, sementara lampu yang menyala saat lemari pendingin dibuka berwarna putih (seperti cahaya dari lampu tl atau fluoroscent lamp). Tahu kenapa? Kalau belum, coba pejamkan mata dan bayangkan, ada dua gerobak penjual ayam goreng bersebelahan, salah satu gerobak menggunakan lampu pijar yang memancarkan cahaya kuning terang, dan gerobak lainnya menggunakan lampu tl yang putih bersinar. Jika kalian sedang sangat lapar, gerobak mana yang akan kalian kunjungi terlebih dahulu? Umumnya, orang lebih memilih mengunjungi gerobak dengan lampu pijar, karena cahaya kuning yang dipancarkan memberi kesan hangat dibandingkan cahaya putih yang memberi kesan dingin, dan ayam goreng lebih enak untuk dinikmati selagi hangat, bukan? Entah apakah ada pengaruh dari matahari yang biasanya kita interpretasikan dengan warna kuning dan es atau salju yang biasanya kita interpretasikan dengan warna putih. Karena itu, warna cahaya dapat memberi kesan tersendiri bagi manusia yang melihatnya. Entah apa kesan yang ditimbulkan dari cahaya berwarna merah, biru, hijau, ungu dan lainnya, tapi aku pernah dengar ada jam alarm yang menggunakan blue light untuk membangunkan orang. Jam itu tidak berdering, hanya memancarkan cahaya biru secara berkelap-kelip, tapi katanya cahaya biru itu dapat mempengaruhi mental manusia untuk langsung bangun.

Selain itu, terangnya cahaya juga akan memberikan persepsi yang berbeda bagi manusia. Cahaya yang terang akan memberi kesan ruangan yang luas, hidup dan tempat yang tepat untuk berinteraksi dengan orang banyak. Sementara cahaya yang redup memberi kesan sempit, tapi ada rasa kedekatan. Dan itu adalah salah satu konsep dibalik candlelight dinner, makan malam bersama pasangan ditemani oleh cahaya lilin yang redup. Ada kedekatan tersendiri dengan orang yang terlihat dalam redupnya cahaya itu dan tidak terlalu peduli pada orang-orang di sekitar yang tidak berada dalam lingkup cahaya lilin tersebut. Hm, sayang belum ada kelas psiko-lighting disini. Padahal gagasan untuk memanipulasi orang dengan menata ruangannya terdengar sangat menarik, haha. Oke, sisi buruknya adalah kita tidak akan tahu kapan kita sedang dimanipulasi kalau kita tidak punya ilmu di bidang ini.

Faktor kedua adalah akustik ruangan, terkait bunyi-bunyian. Bunyi juga dapat memberi kesan tersendiri bagi manusia, bahkan kesan yang diberikan bisa jadi lebih menonjol daripada faktor-faktor lainnya. Coba pejamkan mata dan bayangkan bunyi kakus kamar mandi yang sedang disiram, harusnya itu bunyi yang familiar bagi warga kota. Atau coba bayangkan musik yang biasa didengar saat berada di gramedia, toko buku yang menurutku punya bunyi yang khas. Ada beberapa bunyi yang identik dengan suatu tempat, dan bunyi tersebut umumnya disebut soundscape. Misalnya mendengar kekehan suara lumba-lumba dan cipratan air yang diinterpretasikan pada laut atau kolam atraksi, ringkikan kuda, hembusan angin dan gemerisik rerumputan yang diinterpretasikan pada padang rumput, atau racauan komentator bola serta teriakan “Goooolll!” yang diinterpretasikan pada pertandingan klub sepak bola atau futsal.

Saat menjelaskan terkait akustik, dosenku juga menyarankan untuk tidak membiarkan saudara atau anak kecil sekolah di pinggir jalan yang berisik. Dosenku yang satu ini sering berbagi ilmu tentang mendidik anak yang, anehnya, dilakukan pada mata kuliah teknik dari cerita terkait pengalaman hidupnya. Beliau lah yang berpesan untuk tidak menakut-nakuti anak selama 5 (atau mungkin 10? Aku lupa tepatnya) tahun pertama usia anak, karena beliau berpendapat anak-anak yang sejak kecil penakut akan membawa sifat penakutnya itu hingga dewasa. Dan terkait sekolah seperti ini, beliau berpendapat berisiknya jalanan akan berpengaruh pada kepribadian sang pengajar, dapat menyebabkan lebih mudah marah. Ya, temanku juga mengatakan ada studi yang menyatakan gelombang berfrekuensi rendah atau suara yang sangat rendah dan berat dapat menimbulkan perasaan khawatir dan waswas pada manusia (seperti apa yang dirasakan saat melalui kuburan di tengah malam sendirian lah kalau perlu contoh, dan kalau belum terbayang cobalah sendiri), yang secara tidak langsung akan mempengaruhi emosi yang dirasakan oleh manusia tersebut. Alasan lainnya adalah karena anak-anak belum bisa membedakan mana yang berupa informasi dan mana yang berupa gangguan, mereka akan mendengarkan semuanya (atau setidaknya, yang paling menarik menurut mereka), suara guru, klakson mobil, kalimat umpatan dari orang-orang di jalan, semua hal akan mereka dengar, dan mereka belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Itulah salah satu penyebab mengapa belajar di tempat yang dekat dengan sumber keributan seperti jalan raya lebih sulit untuk dilakukan secara fokus.

Selain itu, ada yang pernah mendengar tentang “god spot”? Ya, god spot, bukan hotspot untuk internetan. Topik ini lumayan hangat dibahas saat aku sma dulu, sekitar 4-5 tahun yang lalu. Teori ini menyatakan adanya bagian tertentu dari otak manusia yang dianggap berhubungan dengan tuhan. Mungkin dapat dikatakan itu adalah bagian otak kita yang aktif saat kita sedang khusyuk beribadah. Dan para peneliti pun menganggap musik berfrekuensi tertentu dapat memberi stimulus atau rangsangan terhadap god spot itu, yang menyebabkan siapapun kita, baik bertuhan ataupun tidak, merasa dekat dengan Sang Pencipta. Jika ada yang pernah mengikuti pelatihan, training atau motivasi dan semacamnya, umumnya ada bagian dimana sang mc meminta para peserta menutup matanya, kemudian dialunkan musik yang bisa menstimulus god spot tersebut, umumnya musik yang digunakan adalah musik instrumental seperti karya kitaro, aku tahu karena dahulu aku sempat terlibat dalam tim yang jobdescnya adalah membuat anak orang menangis, saat muhasabah di malam hari tentunya, haha. Saat barusan kucari info terbaru di internet, riset terbaru menunjukkan tidak ditemukan adanya god spot atau semacamnya pada otak manusia, tapi ada bagian spiritual yang dapat diakses dengan mengubah kondisi otak. Entah bagaimana lengkapnya, saat ini topik tersebut belum dapat kembali menarik minatku, mungkin jika menarik suatu saat nanti akan kubahas, yang jelas bukan sekarang.

Contoh lainnya adalah di runah sakit. Jika pintu kamar pasien yang punya penyakit jantung punya kecenderungan untuk membiarkan suara lewat meskipun pintunya sedang ditutup, bayangkan apa yang akan terjadi saat ada orang yang tidak sengaja memecahkan gelas di depan pintu pasien tersebut. Efeknya dapat menjadi fatal, dan dapat berujung dengan kematian. Atau contoh lainnya, jika waktu dengung ruangan terlalu tinggi, suara akan bergema lumayan lama, dan hal ini dapat menyebabkan bisikan yang pelan pun punya energi untuk sampai ke telinga orang lain yang tidak terlibat percakapan. Bayangkan dampak yang timbul jika bisikan seorang suster ke dokter yang menyatakan waktu hidup pasien tinggal 2 jam lagi karena operasinya gagal terdengar oleh pasien. Apa yang akan pasien rasakan atau lakukan dalam situasi tersebut? Kelihatannya sesuatu yang kurang baik.

Mari bahas contoh yang lain lagi, instrumentasi yang dimiliki oleh industri kadang juga menghasilkan suara yang terlalu keras padahal tidak diinginkan, sehingga menjadi polusi suara. Jika ada yang pernah bermain ke industri, di area dengan kebisingan lebih dari 80dB (kalau tidak salah), para pekerja harus menggunakan tutup telinga, karena pengaruh yang ditimbulkan lingkungan seperti itu memang dapat berdampak besar pada pendengaran manusia, dari kehilangan pendengaran (butuh suara yang lebih keras untuk menggetarkan gendang telinga orang itu) baik sementara hingga permanen. Yah, dalam kasus ini memang apapun yang berlebihan tidak baik sih, tapi mata dapat memicing atau bahkan menutup secara refleks jika terlalu banyak cahaya yang masuk ke mata kita, berbeda dengan telinga yang sulit untuk dilindungi.

Faktor ketiga adalah bau, umumnya manusia sensitif terhadap hal ini. Saat kita sedang bergerombol dan ada orang yang mengeluarkan bau tak sedap, entah dari mulut, kentut atau sumber bau tak sedap lainnya, kita secara otomatis akan menutup hidung atau bahkan menjauh dari sumber bau. Dan dari segi pengharum ruangan, saat ini sudah banyak varian wangi yang tersedia, dimana orang-orang akan membeli varian yang dirasa cocok atau membuat dirinya nyaman. Selain itu, jika bau tidak penting, bagaimana nasib para pabrik parfum? Hei, parfum merupakan produk yang bertujuan meningkatkan daya tarik penggunanya berdasarkan baunya bukan? Atau mungkin iklan-iklan saja yang salah menafsirkan produk yang disunnahkan dipakai sebelum bergegas menuju masjid ini? Entah mana yang benar, yang jelas bau wangi lebih membuat kita nyaman daripada bau busuk, itu fakta.

Faktor keempat adalah termal atau suhu ruangan. Bukankah alasan teknologi HVAC (Heating, Ventilation dan Air Conditioning) seperti ac dan kipas angin adalah karena manusia merasakan ketidaknyamanan termal? Siang terlalu panas, malam terlalu dingin, padahal dari skala celsius mungkin perubahannya tidak terlalu terlihat, tapi kita merasakannya, dan kita tahu kapan kita merasa nyaman dari segi termal dan kapan kita merasa tidak nyaman dari segi termal.

Mungkin hal lain yang dapat dimasukkan dalam faktor ini adalah kelembaban, tapi kelembaban juga mempengaruhi perasaan nyaman kita terhadap temperatur. Jika ada yang pernah mendengar grafik psikrometrik ashrae atau ashrae psychrometric chart, kurva itu menggambarkan pengaruh dari kelembaban dengan temperatur, yang keduanya dirasakan oleh kulit manusia juga terkait termal. Kelembaban tinggi memang menyebabkan keringat lebih banyak, karena jika kelembaban rendah keringat akan menguap karena kadar air di udara yang masih relatif kecil, dan keringat juga punya pengaruh terhadap kenyamanan bukan?

Selain itu ini juga berhubungan dengan tulisanku terkait concert hall, ada standar terhadap ruangan dari segi pencahayaan, akustik (terkait waktu dengung, kekerasan suara dan lain semacamnya) dan termal untuk dapat digunakan dalam memenuhi fungsi tertentu. Dalam hal ini, standar bau kelihatannya masih agak sulit untuk ditetapkan, entah kadar gas mana yang perlu diukur dan bagaimana menentukan parameternya agar ruangan dapat nyaman dari segi bau, haha. Bagaimanapun, ruangan akan lebih nyaman jika segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan parameter yang kita kehendaki kan? Dan itu lah parameter yang mungkin perlu kita otak-atik untuk membuat kita merasa nyaman🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s