Random: Prioritas

Oke, tiba-tiba tertarik untuk membahas masalah prioritas. Diawali dari hobi iseng-isengku untuk mengikuti tes kepribadian enneagram, ada yang menganjurkanku dan mengatakan tesnya lumayan tepat dan sesuai dengan dirinya. Entah ini bagian dari hobi mencari jati diri atau apa, tapi aku ingat di manhwa (manga korea) bertemakan psikologi yang pernah kubaca, “Dr. Frost”, dikatakan bahwa ada fase dimana orang-orang, khususnya remaja akan mencari jati dirinya dengan memirip-miripkan atau menyama-nyamakan dirinya dengan artis terkenal, tokoh kartun, binatang atau apapun. Dan hal ini normal, mungkin ini salah satu penyebab kenapa facebookku penuh dengan undangan ke kuis “What …… are you?”, dimana titik-titik itu dapat diisi oleh berbagai kalimat seperti binatang, karakter film kartun dan semacamnya, dan lumayan banyak yang kuikuti. Tapi seiring berjalannya waktu, aku lebih tertarik pada tes psikologi yang lebih spesifik, seperti disc, mbti, dan semacamnya. Yah, apa salahnya menambah satu tes lagi?

Dan tes menunjukkan aku termasuk tipe sembilan, hm. Peacemaker, aku lumayan suka dengan namanya. Hm, deskripsinya agak panjang. Tapi mari lihat hal-hal utamanya, hal mendasar yang ditakuti adalah kehilangan dan perpisahan (hmm…), keinginan mendasarnya adalah ketenangan pikiran (yap, lumayan tepat), dan motivasi utamanya adalah keinginan untuk menciptakan harmoni atau keteraturan di lingkungannya, menghindari konflik dan tensi, menjaga hal-hal sebagaimana yang biasa terjadi dan menolak apapun yang dapat mengganggunya atau membuatnya kesal (oke, tepat, itu aku). Oke, kekuatan dari tipe ini yang tertulis adalah fleksibel dan mudah beradaptasi, perilaku yang bersahabat dan menyenangkan serta kesiapan untuk menerima ide atau kesan, kemampuan untuk melihat sebuah isu dari segala sisi, kesabaran, sikap yang tidak menuntut dan rileks, dan kemampuan untuk berkompromi dan menerima terhadap manusia atau kehidupan. Hm, beberapa ngena, khususnya yang terakhir disebut, tapi sisanya entah, kesan orang lain bukan masalahku kan?

Lalu kelemahan dari tipe ini adalah keinginan berlebih untuk kehidupan yang nyaman dan mudah (ok, ini ngena, awalnya kupikir ini impian semua orang, kelihatannya aku terlalu menggeneralisir manusia ya), ketidakmampuan untuk memutuskan dan menentukan prioritas, ketidaknyamanan dengam perdebatan meskipun diperlukan, mudah terdistraksi ke hal-hal yang tidak penting (again, ngena, ini hobi burukku yang terjadi hampir di tiap rapat), dan bisa mengikuti orang meskipun penolakan dalam hati sangat kuat. Ada hal yang menarik dibahas di kelemahan kedua, ketidakmampuan untuk memutuskan dan menentukan prioritas.

Saat pertama kali aku ditunjuk sebagai ketua skhole, itu masalahku, tidak mampu memutuskan dan menentukan prioritas. Setidaknya begitulah awalnya, rapat diisi dengan pengambilan keputusan yang, aku sendiri sulit untuk memutuskan. Salah satu penyebabnya mungkin karena dari dulu aku tidak suka menjadi pusat perhatian, orang yang memegang kendali, orang yang perkataannya ditunggu-tunggu dan berbagai beban lainnya. Aku lebih suka bertindak bebas tanpa pengaruh dari persepsi orang terhadap tindakanku, dan aku tidak menyukai punya beban, hidup bebas di bayanganku jauh lebih menyenangkan daripada itu. Mungkin itu yang menyebabkan aku suka menyendiri dan tergolong menjaga jarak dengan orang lain, hingga sekarang, aku perlu ruang untuk menikmati kehidupanku di sela kesibukan dan tugas-tugas yang diharapkan dapat membuat kehidupanku kelak lebih nyaman dan mudah, khususnya kehidupan akhirat. Tapi seiring waktu semuanya berubah, apalagi karena aku melihat ketidakmampuan memutuskan hanya menambah masalah. Ditambah lagi kondisi skhole yang anggotanya mayoritas perempuan yang perlu dipikirkan penjagaan dan keselamatannya (kalau malam setelah pulang ngajar ada yang tiba-tiba hilang, percayalah, beban psikologis akan sangat berat, apalagi kalau orangtuanya marah dan minta pertanggungjawaban meskipun bukan aku yang menghilangkan. Kalau digabungkan dengan beban akademis, kelihatannya aku perlu sekop untuk mengubur diri dan menghilang dari kenyataan -_-), dan tenaga yang kurang mengharuskan persiapan acara dilakukan lebih lama, dan mengharuskan keputusan diambil lebih cepat kalau tidak ingin terlibat masalah yang lebih besar. Pada awalnya menyebalkan memang, tapi seiring waktu setidaknya aku mulai terbiasa mengambil keputusan, meski aku masih tidak menyukai diperhatikan orang. Dan perlahan aku mulai mengerti apa yang temanku katakan saat aku mendapatkan amanah, “amanah bukan memilih yang pantas, tapi memantaskan yang dipilih.” Dan itu masih menjadi quotes favoritku sampai saat ini.

Berbeda dengan masalah prioritas, sampai saat ini aku hanya menentukan prioritas berdasarkan deadline dari tugas atau amanah tersebut. Dan memang harus diakui, tugas atau amanah tersebut baru akan kukerjakan saat waktunya sudah mepet dengan mempertimbangkan kemampuan dan keunikanku. Aku dapat menurunkan tugas menjadi beberapa langkah sederhana, menyebabkan aku lumayan dapat memperkirakan estimasi waktu dan langkah pengerjaan riilnya. Tapi sayangnya kemampuan ini hanya aktif saat waktu yang tersisa sudah sangat mendesak. Bukan karena tidak minat mengerjakan, tapi seperti yang telah diketahui secara umum, banyak jalan menuju roma, ada berbagai variasi langkah yang dapat dipilih untuk mencapai tujuan. Dan sayangnya, aku sulit untuk menentukan metode mana yang ingin kugunakan dalam menyelesaikan tugas saat waktu yang tersisa masih banyak, tiap metode punya kekurangan dan kelebihannya tersendiri, bagaimana mengetahui metode mana yang hasilnya paling baik jika tiap metode butuh waktu yang lumayan banyak? Dan untuk apa mengerjakan hal yang sama lebih dari sekali untuk tujuan yang sama? Namun, jika waktu sudah sangat mendesak, aku tidak akan pikir panjang dan memilih metode secara asal, hahaha. Entah kenapa mood last-minute panic itu sangat bermanfaat di saat seperti ini. Di komik tentang golongan darah yang pernah kubaca, golongan darah A memang gampang panik saat kondisi normal tapi tergolong kuat menghadapi situasi yang menyebalkan. Oke, aku mudah panik saat kondisi normal dan kuat saat kondisi panik karena banyak masalah, fakta yang berhasil membuatku menganggap mimpi hidup nyaman dan mudah itu akan sangat sulit kualami -_-

Yah, intinya deadline merupakan satu-satunya pertimbanganku dalam menentukan skala prioritas. Nah, kemarin sore aku bertanya terkait dengan tugas di salah satu organisasiku di saat grup itu sedang membahas tentang nikah, entah kenapa topik ini selalu hangat dan direspon dengan cepat disaat yang kutanyakan tidak direspon sama sekali, tertimpa bahasan nikah tersebut. Karena agak kesal tidak dipedulikan, aku sih menyindir saja dengan sopan, menyayangkan perilaku mereka yang terlalu sibuk membicarakan hal yang waktu terjadinya masih merupakan rahasia ilahi, di saat bahasan yang kubawa penting bagi kegiatan pekan depan. Ah, menyindir dengan kata-kata yang menusuk itu efeknya lebih ngena daripada marah, apapun alasannya, habis meskipun pernikahan itu bagian dari masa depan yang penting dan harus dipersiapkan, mungkin waktu yang diberikan untuk mempersiapkannya lebih lama dari 7 hari yang ada untuk mempersiapkan acara pekan depan. Jadi ingat cerita kawan di sebuah universitas di depok, bahwa ketua bem disana sempat “ngambek” karena kajian pra-nikah selalu penuh disaat kajian terkait isu negara tergolong kosong. Ada beberapa waktu dimana kita perlu mempertanyakan apakah prioritas kita benar, dan mungkin sekarang salah satu waktu yang tepat untuk mempertanyakannya.

Yah, kalau ditanya prioritas jangka panjang pun aku juga bingung apa yang mau kuprioritaskan. Berdasarkan target harusnya mencari beasiswa s2 di luar negeri dahulu, lalu cari penghasilan sampingan selagi kuliah, lanjut dengan menikah dan s3 (tetap di luar negeri kelihatannya sebelum kembali ke indonesia, dosen-dosenku berkata lebih baik studi magister dan doktor dilakukan di negeri lain yang lebih bagus sistem dan kualitas akademisinya) atau kerja. Semuanya kondisional, bahkan aku sudah membayangkan beberapa situasi yang mengharuskan aku melamar anak orang sebelum waktu targetku, dari situasi yang mengerikan, tak terprediksi sampai situasi yang absurd dan hampir tak mungkin terjadi. Sayangnya, hampir tak mungkin terjadi tidak sama dengan tak mungkin terjadi, ah, sudah lah, simpan saja skenarionya di pikiran dan berdoa supaya bukan itu yang tertulis di suratanku.

Dan akhirnya malam ini kuakhiri dengan membuat malam dari tepung, garam dan air. Oke, ini kubuat agak asal dari segi takaran, dengan mengandalkan feeling dari melihat orang itu yang sudah pernah membuat hal serupa, haha. Oke, pada awalnya takaran yang kumasukkan justru menghasilkan adonan lem. Ah, kelihatannya aku punya bakat terpendam untuk menghasilkan produk lain dari bahan-bahan dan metode yang sama, saat tahun pertama dulu juga begitu, pada tantangan bisnis sebagai salah satu pengenalan unit kelompokku berniat untuk berjualan brownies yang kami berdua buat dengan ricecooker dan resep miliknya, namun kelihatannya meskipun kedua laki-laki yang terlibat ini bernama hanif, jalan yang mereka tempuh tidaklah lurus. Karena makanan yang dihasilkan dari mengikuti resep brownies itu adalah martabak berwarna coklat, hal yang sampai sekarang masih kupertanyakan dimana kesalahannya. Entah bagaimana orang lain dapat membuatnya terlihat mudah, dan entah bagaimana cara dia melakukannya sehingga pekerjaannya terlihat mudah saat waktu itu kita melakukannya bersama😐

Ah, sudah lah, beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk diketahui kan? Mungkin aku akan meminta copy dari lembar enneagram saja untuk memastikan hasil tes ini benar atau tidak, aku agak ragu dengan tes dari versi hp seperti ini. Dan sekarang waktunya membuat malam yang bermanfaat🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s