Refleksi Kuliah Kerja Nyata

Akhir pekan ini aku kembali mengunjungi tempat KKNku satu setengah tahun yang lalu, sebut saja Desa P. Saat itu aku ditugaskan sebagai ketua kloter 2 energi terbarukan, dengan tugas mengoptimalkan potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro-Hidro (PLTMH) dan memperluas jaringan distribusi energi listrik yang dihasilkan PLTMH itu agar sampai ke RT berikutnya. Aku dijadikan ketua karena pertimbangan teman sekelompokku, yang kutumbalkan menjadi ketua kelompok saat pendidikan dan pelatihan panitia masa orientasi itb di tahun sebelumnya, entah dia memang berniat balas dendam atau beginilah cara kerja karma. Yang jelas tiba-tiba semua anggota kelompokku setuju untuk menunjukku, ah,kawan-kawanku yang cerdas hanya diam dan tidak mau memimpin, apa kata dunia?

Oke, semua telah terjadi, biar kuceritakan secara ringkas kejadian yang kualami selana KKN waktu itu. Desa P terletak di kabupaten T, dengan waktu tempuh sekitar 4-6 jam dengan menggunakan mobil dari bandung, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar setengah hingga satu jam. Aku masih ingat waktu itu kami sekelompok berangkat dengan sebuah elf, dan aku juga masih ingat kata-kata pertama yang terucap di dalam elf oleh teman sekelompokku saat kami tiba di desa P, “Eh, itu yang jatuh di kaca tadi ular kan?” Hm, oke, setiap daerah punya cara tersendiri dalam memberikan kesan pertama yang mendalam, dan bagi manusia yang memiliki phobia terhadap hewan melata, berbisa atau bertaring atau bahkan ketiganya, desa ini benar-benar berhasil.

Hari pertama diisi dengan orientasi lokasi, pengenalan terhadap ruang dan lokasi tempat-tempat penting di Desa P ini, dari kamar kecil yang bertembok (mayoritas kamar kecil disini merupakan bilik dari bambu, dimana kotoran yang kita keluarkan dapat segera disambar oleh ikan-ikan yang berada di kolam dibawah tempat kita berjongkok, lumayan memberi sensasi yang berbeda, haha), masjid, dan tentu saja, lokasi dari plant pltmh yang akan kita optimasi kinerjanya. Ternyata lokasi pltmhnya cukup jauh, harus ditempuh dengan menyusuri lembah di tengah hutan selama sekitar 20-30 menit. Dan selama dua pekan beraktivitas disana, dua kali ketemu ular pas naik-turun di trayek pltmh. Kali pertama terjadi saat sedang turun ke plant pltmh sendirian, dengan t-shirt lengan pendek, celana selutut dan sandal jepit, selamat dari patokan ular karena refleks melompat dan kecepatan untuk berlari di bidang miring yang menurun (yap, yang kudengar binatang melata memang sulit untuk bergerak jika permukaan tanahnya tidak datar, entah kebenarannya tapi setidaknya ular itu tidak mengikuti, haha), sementara kali kedua saat sedang ramai-ramai di kolam penenang, baru saja naik setelah membersihkan sampah yang menghalangi aliran air yang masuk pltmh saat melihat binatang melata berwarna hitam itu menggeliat berenang melawan arus air. Alhamdulillaah.

Dan saat hari ketiga, kami baru tahu kondisi pltmh yang listriknya dimonopoli oleh seseorang dari desa tersebut, sebut saja pak U. Pak U adalah orang termakmur di desa tersebut, pemilik sebagian besar wilayah sawah, dimana mayoritas warga desa bekerja saat musim panen tiba. Ya, umumnya warga Desa P bekerja serabutan, pada lowongan pekerjaan apapun yang dibuka saat mereka butuhkan, seperti memanen padi dari sawah orang lain atau kuli bangunan, meski ada juga yang memiliki pekerjaan tetap, seperti penghasil furnitur dari kayu atau pedagang. Pak U termasuk golongan kedua, pedagang bahan bangunan dan sembako. Di rumah Pak U pun ditemukan banyak perlengkapan elektronik yang beragam, dari TV 29 inchi, speaker, dvd player, hm, banyak lah perlengkapan elektronik di rumah itu yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang di desa tersebut. Satu-satunya kekurangan di desa itu adalah listrik dari pln yang kualitasnya tergolong kurang bagus, dengan tegangan sekitar 110-150V dimana perlengkapan elektronik di Indonesia umumnya memiliki spesifikasi sekitar 190-250V. Hal ini menyebabkan cahaya yang dihasilkan lampu menjadi redup dan perlengkapan elektronik lebih pendek masa hidupnya. Setidaknya begitu, hingga beberapa tahun yang lalu, saat sekelompok mahasiswa memutuskan untuk membantu masyarakat dengan membangun plant pltmh yang menghasilkan listrik lebih layak. Namun sayangnya, karena waktu liburan yang terbatas, akhirnya penyelesaian proyek itu dilakukan tanpa kehadiran kelompok mahasiswa tersebut. Akibatnya, saat penyelesaian dilakukan, Pak U menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan kuasa lebih dalam menggunakan listrik yang dihasilkan pltmh tersebut. Dan mengingat jumlah perlengkapan elektronik di rumahnya yang sangat beragam, dengan daya pltmh yang hanya terpakai 1.5kW dari 5kW yang dapat dihasilkan, siapa yang tahu apakah ada listrik yang tersalurkan pada warga yang lain atau tidak? Hei, aku tidak punya masalah dengan warga desa yang hidup makmur, tapi warga desa yang memonopoli fasilitas umum itu beda kasus.

Kami pun mengetahui hal tersebut dari beberapa senior yang saat itu sedang membantu kami. Ya, memang agak sulit mempercayai sekelompok mahasiswa semester 4 untuk memegang hal-hal yang sangat teknis, dan memang aku sendiri lebih merasa aman saat mengetahui ada mahasiswa tingkat akhir yang ikut. Namun, entah kenapa urusan malah menjadi tambah runyam saat kelompok kami mengetahui hal itu, dan warga tahu kelompok kami mengetahui hal itu. Tiap rapat koordinasi dengan warga pun diisi dengan berbagai prasangka. Mahasiswa dan warga saling menahan informasi penting yang dapat membantu kedua belah pihak karena rasa tidak percaya. Selain itu, beberapa warga yang punya pengetahuan lebih di bidang teknis pltmh dan memang relatif dan dekat dengan Pak U pun turut mengotak-atik pltmh dan mengganggu kerja kami. Ya, jobdesc bertambah satu, mendistribusikan listrik ke warga sebanyak mungkin secara merata. Dan minimnya pengalamanku pada situasi seperti saat itu mengubaj situasi menjadi perang dingin, kami mengelompokkan warga ke warga yang mendukung ide kami dan warga yang membantu Pak U. Rapat rahasia semakin sering dilakukan, dan umumnya kami bergerak secara gerilya melalui sawah. Kami juga membuat berbagai sandi, seperti “pencari madu” untuk menyebut warga yang lewat dan mungkin punya hubungan dengan Pak U yang mungkin sedang mencari info tentang apa yang kami pikirkan. Ah, harusnya saat SMA dulu aku belajar lebih banyak tentang strategi perang dari temanku yang maniak perang, meminjam beberapa bilah kunai, katana atau shuriken koleksinya juga mungkin berguna untuk melindungi dari binatang liar seperti ular. Siapa yang sangka ilmu perang akan dibutuhkan dalam kkn kali ini?

Dan pada saat giliran kloter kami usai, dengan berbagai hambatan tentunya, kami telah berhasil memperluas jaringan listrik ke rt sebelah, dengan mengecor beberapa bilah bambu untuk dijadikan tiang listrik di beberapa lokasi berdasarkan pada perkiraan luas daerah yang dapat diterangi oleh sebuah lampu LED. Selain itu kami juga sedikit membantu pekerjaan kelompok tema lain, seperti membantu tema infrastruktur membuat jembatan dan membantu tema industri untuk mencicipi makanan. Harus kuakui, wajit susu yang dihasilkan enak. Bekerja dengan kelompok lain di bidang yang berbeda menyenangkan juga.

Kegiatan kkn diakhiri dengan pesta penutupan, dimana tiap tema diminta untuk mementaskan suatu karya selama sepuluh menit. Karya yang kelompok kami pentaskan adalah tarian kecak oleh para laki-laki dan tari shaman oleh para perempuan, dengan koreografi yang diatur sedemikian rupa sehingga para lelaki tidur telentang membentuk lingkaran saat tari kecak usai dan para perempuan memulai tari shamannya di tengah lingkaran tersebut. Uniknya, kami memilih tarian itu tanpa tahu gerakan tari kecak dan shaman yang benar, hanya berdasarkan “perasaan” teman dan irama musik. Hasilnya? Pentas kelompok kami dianggap sebagai pentas terbaik selama dua tahun kkn diadakan di desa ini. Dan agak larut malam setelah pesta berakhir, kami berkumpul di rumah salah seorang warga dan bercerita terkait kesan dan pesan di kelompok kami selama kkn ini. Uniknya, semua menganggap kelompok kecil ini sebagai salah satu kelompok yang kekeluargaannya sangat terasa meski hanya berlangsung selama dua pekan. Entah apakah ini pengaruh diasingkan ke desa terpencil atau pengaruh memiliki musuh bersama, haha, yang jelas banyaknya kejadian dan masalah justru menjadi hal yang menyatukan kelompok kecil ini.

Sebelum kembali ke bandung, kami pun memberitahukan kelompok penerus terkait semua hal yang telah terjadi selama di Desa P ini, warga yang perlu diwaspadai, serta semua proyek yang telah kami lakukan. Wah, menyebarkan kebencian dan permusuhan, kedengarannya nista sekali apa yang kami lakukan kalau dilihat dari sudut pandang itu. Yah, kami memang menganggap hal itu diperlukan agar kelompok penerus kami tidak terlalu banyak membuang waktu di perkenalan warga dan khawatir ada informasi yang dapat disalahgunakan. Salah satu hal yang tidak mengenakkan adalah, saat kami sedang bercerita tentang perilaku buruk warga kelompok Pak U yang melakukan monopoli listrik, datanglah Pak P yang tidak sengaja mendengar isi pembicaraan kami, dan wajahnya pun agak tertunduk lesu saat kami melihatnya, meski beliau masih membalas sapaan kami dengan ceria. Entah apa yang ada ddi pikirannya, tapi aku agak merasa bersalah karena itu.

Sepekan kemudian aku kembali lagi ke desa itu, untuk membantu pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pesantren yang ada di tempat kkn kami bersama kelompok penerus itu. Namun saat itu, ada kejadian lagi dimana bearing dari PLTMH rusak, diperkirakan dirusak oleh manusia melihat bentuk lubangnya dan mengingat tidak ada hewan dengan bagian tubuh yang sekeras besi atau cukup pintar untuk membuka plant dan menggunakan besi untuk melakukan sabotase, sehingga harus menggunakan bearing milik Pak U dulu, menyebabkan beliau punya keuntungan dalam meminta jatah listrik lebih dalam negosiasi pembagian jatah listrik yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Dan karena sudah berada lumayan lama dan punya prasangka yang buruk satu sama lain, kelompok mana lagi yang kami perkirakan merusak bearing tersebut selain kelompok Pak U? Berbagai saran pun terlontarkan, dari argumen yang bisa menahan Pak U untuk mendapat jatah listrik lebih hingga argumen asal untuk merusak pltmh yang kuutarakan. Daripada hanya menjadi sumber masalah dan perpecahan, dan juga mengingat kemungkinan dirusaknya bearing oleh kelompok mereka, apa salahnya meembalas kerusakan dengan kerusakan? Temanku pun berargumen jika kita melakukan itu, apa bedanya kita dengan mereka? Sebetulnya aku ingin menjawab dengan menekankan bahwa kita memang tidak berbeda dengan mereka dan mrempertanyakan apa yang membedakan kita dengan mereka, dan aku pun teringat bahwa justru itu yang ditekankan sejak awal kuliah, kita berbeda, kita adalah mahasiswa, kita harusnya bisa membangun peradaban. Mungkin ada pengaruh antara tingkat pendidikan warga desa tersebut yang umumnya hanya lulusan sd dengan kita yang punya kesempatan untuk kuliah (tanpa bermaksud merendahkan kompetensi orang-orang lulusan sd, seperti yang telah kukatakan, ada juga warga di desa itu dengam keahlian teknis yang jauh lebih baik daripada para mahasiswa), sehingga saat yang kita pikirkan adalah sebuah sistem yang bisa menopang kehidupan semua manusia di desa itu, mungkin yang orang-orang disana pikirkan hanyalah bagaimana mereka dapat hidup layak dengan usaha seminim mungkin. Tapi bagaimanapun, semua ini disebabkan mereka belum mengerti. Dan bahkan Rasulullah pun tidak pernah menghukum seseorang dikarenakan ketidaktahuannya. Jadi apa yang memberiku hak? Akhirnya aku memutuskan untuk diam dan mendengarkan, keahlian yang saat ini kuanggap sangat bermanfaat dalam berbagai situasi. Cobalah kalau tidak percaya, diam dan mendengarkan untuk memahami situasi yang terjadi dan pola pikir orang yang berpendapat membuat kita lebih memahami situasi dan dapat mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan situasi dibandingkan dengan asal berbicara untuk mempertahankan pendapat yang entah benar atau tidaknya.

Meskipun membantu juga dalam persiapan negosiasi tersebut, sayangnya aku tidak dapat hadir dalam acaranya karena sudah harus kembali lagi ke bandung, tapi dari yang kudengar negosiasinya berjalaan lancar. Bahkan, Pak P tidak meminta jatah listrik sama sekali (yang sampai sekarang membuatku merasa bersalah tiap mengingatnya, jika alasannyya disebabkan percakapan itu), dan Pak U hanya meminta 4.5 Ampere untuk 5 rumah (sekitar 1kW), lumayan sedikit mengingat sebelumnya dia memonopoli lebih dari 7 Ampere untuk 1 rumah. Setidaknya listrik dapat lebih tersebar, dan semua senang bukan?

Setidaknya itu yang ada di pikiranku hingga kemarin, saat aku kembali ke Desa P, meski untuk tujuan yang berbeda, menemani temanku yang menyalurkan sumbangan untuk memperbaiki jalan di desa itu. Dan sepenglihatanku sekarang semuanya sudah berbeda, masjid yang dulu berlantai dan berdinding kayu sekarang sudah berlantai ubin dan berdinding beton, pltmh sudah tidak lagi beroperasi, lampu-lampu led yang disebar untuk menerangi jalan tidak banyak yang terlihat, bambu-bambu yang dijadikan tiang listrik yang hilang atau tumbang dan kelompok pltmhku waktu itu pun sudah tidak lengkap lagi karena ada seseorang yang meninggal di semester lalu karena sakit vertigo berdasarkan apa yang kudengar. Perasaan campur aduk antara hampa karena saat itu aku hanya berangkat bersama seorang temanku dan mengingat kelompok kecilku sudah tidak lengkap lagi serta tidak berguna dan sedih karena semua yang kelompokku kerjakan waktu itu sepertinya sudah tidak memberikan manfaat yang kami harapkan. Industri yang waktu itu dibangun juga tidak berjalan sama sekali sekarang, mungkin hanya jembatan yang masih bermanfaat hingga saat ini.

Dan aku pun terpikir suatu hal yang langsung terucap kepada temanku, “Menurutmu, apakah ini akan terjadi jika kita waktu itu membiarkan monopoli Pak U terus berlangsung?” Dan dia hanya menjawab, “Entahlah, mungkin”. Ya, bagaimanapun setelah dipikir kembali, meskipun Pak U melakukan monopoli terhadap listrik yang dikeluarkan pltmh tersebut, secara tidak langsung beliau juga memonopoli tanggungjawab dan rasa kepemilikan terhadap segala keperluan pltmh itu, dan mungkin itu lah yang hilang setelah negosiasi berlangsung. Tidak ada rasa kepemilikan dan tanggungjawab karena kelompok Pak U menganggap ini sudah bukan urusan mereka, dan warga lain tidak terbiasa dengan tanggungjawab baru ini. Akhirnya semua terabaikan. Ah, jadi ingat aku pernah membaca komentar di kaskus bahwa kadang mahasiswa bertindak tanpa pikir panjang akan akibatnya, seperti saat zaman orde baru dulu, ingat bagaimana kacaunya pemerintahan setelah presiden kedua digulingkan? Memang sekarang berbagai kondisi sudah lebih baik, tapi siapa yang tahu apa saja hal merepotkan yang telah dibereskan untuk mencapai situasi seperti saat ini? Dan perlu diingat, manusia tidak pernah puas, pasti masih banyak tuntutan yang harus dipenuhi.

Entah kenapa kita selalu menuntut adanya perubahan ke arah yang lebih baik, tapi tak jarang kita lupa bahwa arah yang lebih baik tidak hanya diiringi dengan hak yang lebih banyak saja, namun juga kewajiban yang bertambah. Anehnya, kita siap untuk menerima hak lebih, tapi tidak siap untuk menambah kewajiban kita. Mungkin ini perlu dijadikan pr bagi para mahasiswa yang akan melakukan kuliah kerja nyata, agar tidak sekedar melaksanakan jobdesk saja, tapi turut berperan agar masyarakat tahu dan mau membiasakan diri dengan kewajiban yang bertambah untuk masa depan yang lebih baik. Memang bukan hal yang mudah, bahkan 40 hari pun mungkin kurang untuk memenuhi tugas ini, tapi mungkin ini lah hal paling mendasar yang sering kita lupakan. Kita berencana untuk mengubah hidup masyarakat dengan berbagai fasilitas, soft skill, penyuluhan dan berbagai macam hal lainnya, namun pernahkah kita berencana untuk mengubah pola pikir masyarakat yang terlibat bagaimana untuk memanfaatkan fasilitas, soft skill, ilmu dan berbagai hal lainnya setelah mereka mendapatkannya? Mungkin ini salah satu penyebab quotes “Pendidikan yang baik adalah yang mengajarkan orang-orang untuk siap menghadapi perubahan” dari film Sokola Rimba lumayan membekas di benakku. Nyatanya seperti itu bukan, orang-orang yang dapat menghadapi, bahkan memanfaatkan perubahan dengan baik lah yang dapat berpindah kasta dalam waktu singkat. Tapi memang, jika hanya satu orang yang tahu dan menahan ilmunya dari orang lain, orang itu akan maju tapi tidak dengan komunitasnya. Hm, Asean Free Trade dikatakan akan berlangsung pada 2015, jelas akan terjadi perubahan besar. Ada yang mau membantu untuk mempersiapkan komunitas-komunitas yang ada saat perubahan itu terjadi kelak agar kita dapat menjadi masyarakat yang lebih baik?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s