Pemberian

Apabila dakwah hanya mengedepankan emosi dan kekerasan, bisa diibaratkan seperti menghadiahkan berlian secara kasar dan menyakitkan. Sehingga orang yang dihadiahi tidak tahu bahwa itu berlian atau hadiah, karena yang dia rasakan hanya batu keras yang menyakitkan

Aku suka kata-kata dari buku “Islam sehari-hari. Yang penting, yang terabaikan” karya Veby Surya Wibawa ini. Seharusnya begitulah semua usaha yang menjadikan kehidupan lebih baik dilakukan, dakwah, pendidikan, perbaikan fasilitas dan berbagai hal lainnya. Tidak diberikan secara kasar ataupun asal, tapi dengan cara yang mampu membuat para penerima itu merasa mau dan perlu untuk menjaganya. Begitulah faktanya, tidak peduli apapun itu.

Coba lihat film-film barat tentang cinta, semua tokoh lelaki berusaha untuk melamar atau propose sekeren mungkin, bahkan temanku di media sosial rajin mempublikasikan itu dan berkata dia akan propose ke pacarnya dengan cara yang lebih keren dari hal itu. Agak mengganggu karena kegalauan lebih baik disimpan sendiri daripada dibagi-bagi ke orang lain yang sedang tidak berminat untuk tertular (meskipun kadang lucu juga sih melihat tingkah laku orang yang sedang galau, haha), tapi bukan itu intinya, bayangkan jika benda yang seharusnya dianggap penting seperti cincin pernikahan diserahkan secara asal dan tidak sopan, mungkin para khalayak yang melihat akan buka lapak judi dengan taruhan pengantin baru ini tahan berapa hari sebelum talak satu, hahaha. Duh, kenapa aku suka sekali membayangkan hal fiktif yang hampir pasti tidak mungkin terjadi ya?

Bagaimanapun, begitulah seharusnya serah-terima dilakukan, bukan cuma serah-terima tanggungjawab perempuan bagi insan-insan dengan perasaan khusus di dalam hati, tapi juga serah-terima manfaat bagi orang lain. Untuk apa memberi pembangkit listrik tenaga nuklir jika penduduk desanya tidak mau merawat dengan baik? Kita tidak butuh fukushima atau chernobyl baru. Untuk apa memberi barang bagus kepada orang-orang yang tidak mau merawatnya? Buang-buang uang dan waktu kan?

Karena itu, jika kita ingin memberikan suatu hal seperti manfaat kepada orang lain, pastikanlah orang yang kita tuju memang siap untuk menerima dan menjaga pemberian kita, bukan membiarkannya begitu saja ataupun mengabaikannya. Iya, pelajaran dari kembali ke lokasi kkn kemarin agak ngena memang. Apalagi karena seniorku ada yang pernah berkata, “Mahasiswa tuh sering banget ya merasa dirinya pahlawan atau semacamnya, padahal kegiatan yang mereka lakukan mungkin nggak ada manfaatnya bagi masyarakat, atau bahkan cuma merepotkan masyarakat?” Ah, itu memang sedikit kusunting dari pernyataan aslinya, hanya agar lebih menggambarkan apa yang kupikirkan saat ini saja.

Ya, memang nyatanya kita bukan pahlawan. Hei, memberikan sesuatu yang entah dibutuhkan masyarakat sedemikian rupa atau malah tidak diperlukan sama sekali untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka mungkin tidak sepenting itu jika yang ada di pikiran sang penerima hanyalah bertahan hidup.

Tapi memang, jika kita terus-terusan menunggu menemukan orang yang bisa menjaga pemberian dengan baik sebelum memberikan sesuatu pada mereka, mungkin seumur hidup tidak akan ada yang kita berikan. Tapi cobalah memberikan pada orang yang kita persiapkan untuk menjaga pemberian kita, dengan begitu kemungkinan kita akan marah akibat pemberian kita disia-siakan berkurang kan? Oke, ini memang berbeda dari konsep mencari jodoh yang dijadikan contoh diatas, dimana seharusnya persiapannya diserahkan pada orang lain meskipun dalam prakteknya ada yang perlu dipelajari bersama juga. Karena saat memberikan sesuatu benda atau fasilitas, kita tentu punya harapan agar orang yang kita bantu itu dapat mandiri dalam dunianya, bukan masuk menjadi bagian yang “tak bisa lepas” dari kehidupan kita. Masalahnya lain jika yang diberikan itu mas kawin, hahaha. Yah, tapi mungkin pertanyaan terakhir memang perlu direnungkan lebih serius meski penyampaiannya tidak demikian, “untuk apa kita memberi? Agar mandiri atau terikat?” Itu perlu kita pikirkan bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s