Pengingat: Gunung Kelud

“Gunung kelud meletus.”

Pesan itu masuk ke grup whatsappku pagi ini, lumayan kaget juga saat mengetahui solo sudah diselimuti abu dari gunung yang terletak di perbatasan kediri dan kabupaten malang itu. Lumayan jauh ya persebaran abunya. Lebih baik memeriksa apakah ada kawan-kawan di organisasiku yang lain, apakah ada yang terkena efek buruk dari letusan tersebut atau tidak. Saat beberapa responden mengatakan aman atau hanya terkena abu, terlintas pikiran alhamdulillah, yang sekarang malah membuatku merasa bersalah.

Jadi ingat temanku juga pernah mengalami pemikiran serupa, saat itu ada kecelakaan kereta di jakarta, dan ada nama korban jiwa yang sama dengan nama sahabat dari temanku itu di kampusnya. Karena khawatir, temanku itu langsung memeriksa media sosial dari sahabatnya itu, dan bersyukur karena ternyata temannya masih ada dilihat dari aktivitas media sosial yang tidak terhenti, kelihatannya yang meninggal hanyalah orang dengan nama yang sama. Dan saat itulah temanku itu terpikir, meskipun yang meninggal orang lain, tapi tetap saja yang dibicarakan adalah nyawa, pasti ada orang yang sedih karena itu juga. Apakah mensyukuri karena korban yang meninggal itu bukan kenalan kita adalah hal yang layak untuk dilakukan?

Pemikiran yang sama terlintas di benakku sekarang, ya, aku jahat untuk sempat mensyukuri fakta tersebut. Laporan berita yang terakhir kuterima dari temanku adalah 1 orang meninggal dan banyak warga yang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Yah, memang aku pernah mendengar bahwa musibah merupakan azab, pengingat dan anugrah, tergantung pada apa yang dilakukan manusia saat musibah tersebut terjadi. Dan bagi kita yang terkena atau yang selamat, bukankah ini mengingatkan kita bahwa ada kekuatan yang tidak bisa kita prediksi? Dan mengutip perkataan dari film House, “mungkin benar bahwa tidak ada orang suci yang tidak punya masa lalu, tapi tidak ada juga pendosa yang tidak punya masa depan”, bukankah itu fungsi pengingat?🙂

Mungkin bersyukur karena bukan kita atau kenalan kita yang terkena pengaruh dari musibah ini bukanlah hal yang pantas dilakukan, ada orang yang merutuki nasib karena dia atau orang yang dia sayangi terkena pengaruh buruk dari musibah seperti itu, dan mungkin rela melakukan apa saja agar musibah yang dia terima dapat dipindahkan ke orang lain, siapapun itu. Setelah dipikir lagi, mungkin memberikan uluran tangan melalui bantuan atau dana–sebagai ungkapan syukur karena selamat dari musibah ini dan menunjukkan bahwa korban bencana tidak sendirian–merupakan hal yang lebih pantas untuk dilakukan bukan? Percayalah, tidak akan lama sebelum lembaga-lembaga yang biasa menyalurkan bantuan ke daerah yang terkena bencana bergerak, menyumbanglah di tempat yang dapat dipercaya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s