Musibah

Sesekali main di facebook, sekalian ngeberesin tugas yang belum kelar, dan ada seorang sahabatku yang mengeluarkan pernyataan sebagai berikut:

“Bencana itu pada dasarnya punya dua perspektif: pertama itu buatan manusia atau buatan alam; kedua itu hukuman dari Tuhan atau ujian dari Tuhan. Manusia bisa menganalisis dan menentukan yang pertama. Buat yang kedua, apa kepantasan kita untuk menilai manusia lain?”

Renungan yang lumayan tepat untuk malam ini, meski renungan kali ini kurang khidmat karena ada deadline yang harus dikejar, haha. Bagaimanapun juga, ini sudah sekitar tiga hari gunung kelud meletus, yang dampaknya juga secara tidak langsung kurasakan di bandung. Selama tiga hari ini aku tidak mampu bertahan di luar kamar kosanku terlalu lama tanpa membuat mataku menjadi perih, yang kucoba atasi hanya dengan meningkatkan intensitas kedipan mata karena khawatir bahaya yang timbul akan lebih banyak. Turut bahagia karena rahmatNya dalam bentuk hujan turun di sore hari ini, momen pertama aku bisa keluar tanpa menyakiti mata karena partikel-partikel yang dikeluarkan letusan tersebut terbawa turun ke tanah oleh air hujan. Pertama kalinya juga bisa nyaman beraktivitas tanpa masker, padahal tadi siang saat mencari colokan pipih untuk persiapan aktivitas di jepang debunya masih membuat mata sakit, alhamdulillaah😀 Sayang colokan pipihnya belum ditemukan, setidaknya sudah mendapat pinjaman kupluk dan syal lah, semoga lancar😀

Bagian pertama, siapa yang dapat disalahkan dalam bencana ini, manusia atau alam? Pertanyaan ini tergolong mudah dijawab. Dari mana sumber api penyebab kebakaran di kompleks pasar A? Apakah dari arus pendek perlengkapan elektronik seorang pedagang ataukah sambaran petir di dekat lokasi kejadian? Kita umumnya akan tahu bahwa alam sedang berulah dalam bencana seperti angin topan dan tsunami, dan kita juga umumnya akan tahu manusia yang salah jika ada bencana macam banjir karena tata kelola air yang kurang baik atau rubuhnya sebuah bangunan saat alam sedang tenang. Oke, mungkin memang tiap manusia punya metode yang berbeda dalam menyikapi terjadinya bencana, ada yang berusaha bangkit dan menolong korban yang lain meski dirinya turut menjadi korban, ada yang terpaku dan termangu karena tidak tahu apa lagi yang dapat dilakukan, ada yang merutuki nasib, ada yang mencari kambing hitam apapun yang dapat disalahkan seolah semua akan berubah jika ada pihak yang mengakui dirinya bersalah (yah, dalam beberapa kasus memang harus diakui, tuntutan ganti rugi jumlahnya tidak sedikit), masih banyak lagi jenis respon yang dapat diberikan oleh manusia jika dirinya terkena sebuah musibah seperti bencana. Namun, kita semua dapat mengetahui siapa yang salah, kondisi alam ataukah manusia.

Berbeda dengan hal yang kedua, ini hukuman atau ujian dari Allah? Hm, selagi menunggu proses instalasi dialux selesai di laptop sahabat sekosan (yang kadang kumanfaatkan untuk nugas karena beberapa faktor), meracau tentang ini kelihatannya seru juga.

Jadi ingat kondisi serupa yang terjadi hampir sedekade yang lalu, saat tsunami melanda provinsi paling utara dari indonesia. Aku masih lumayan ingat bagaimana situasi saat itu di tempat domisiliku, karena saat itu semuanya berubah. Semua stasiun televisi seolah berlomba untuk menyalurkan bantuan ke provinsi tersebut yang nominalnya besar sekali, tiap stasiun menunjukkan nilai angka yang berkisar antara delapan hingga sembilan digit angka, saat itu aku sempat berpikir bahwa dengan sumbangan sebanyak itu tiap orang bisa bertahan hingga kondisi disana kembali aman dengan menggunakan data harga makanan dan aqua galon isi ulang yang ada di dekat rumahku. Yah, memang agak sulit mengharapkan anak kecil tahu harga infrastruktur kota yang nilainya bisa mencapai 10 digit uang rupiah, apa lagi jika kerjaannya hanya makan, jajan, main dan tidur, haha.

Dan salah satu hal lain yang kuperhatikan berubah adalah topik ceramah shalat jumat. Aku ingat bahwa topik ceramahnya lumayan sering membahas bencana tsunami tersebut, dengan mengatakan bahwa bencana tersebut merupakan azab yang ditimpakan pada daerah tersebut karena kaum muslim disana merayakan hari raya umat beragama lain secara berlebihan. Entah karena pengaruh dari serial hidayah yang sedang diputar di sebuah stasiun tv atau memang pembicaraan azab dan siksa kubur sedang ramai saat itu, yang jelas teori ini sering dibicarakan, setidaknya aku lumayan yakin teori ini kudengar di lebih dari dua khutbah jumat. Dan saat guruku berargumen bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan oleh Yang Maha Penyayang, dan semua kejadian yang ada di dunia saat ini dapat diprediksi secara saintifik, aku merasa senang. Entah kenapa, mungkin karena saat itu aku juga tergolong nakal–jumlah furnitur yang rusak karena aku dan saudara-saudaraku bermain bola di dalam rumah sudah tidak bisa dihitung dengan jari tangan satu manusia–jika hukumannya berupa musibah yang menyebabkan kematian atau cedera berat, hm, kedengarannya bukan hal yang diinginkan oleh anak kecil kan?

Aku sempat lupa peristiwa itu sebelum beberapa waktu yang lalu khutbah jumat kembali mengangkat tema tersebut. Namun, khutbah jumat beberapa pekan lalu tersebut menurutku lebih bijak, dengan mengklasifikasikan sebuah peristiwa kedalam tiga jenis bagi orang yang mengalaminya, yaitu azab, anugrah dan cobaan atau pengingat. Sederhananya, jika orang yang sering berbuat jahat meninggal saat musibah sebelum sempat bertobat, itu adalah azab. Jika orang yang sering berbuat baik meninggal saat musibah (saat sedang melakukan perbuatan baiknya), itu adalah anugrah. Sementara bagi orang-orang yang selamat dan orang-orang yang mengetahui terjadinya peristiwa tersebut, itu adalah cobaan atau pengingat. Pembagian ini menurutku lebih adil daripada penilaian secara sepihak dengan menggunakan prasangka yang kuungkap sebelumnya.

Dan saat ini pun aku agak bingung, untuk apa kita mempertanyakan apakah suatu hal merupakan azab, anugrah, cobaan atau pengingat dari-Nya? Bukankah semua tergantung pada diri kita, jika sebuah musibah menimpa diri kita, akan kita jadikan apa musibah tersebut. Jika ingin musibah tersebut menjadi azab, teruslah berbuat buruk, mungkin musibah itu akan datang saat perbuatan buruk sedang berlangsung. Jika ingin menjadikan musibah tersebut sebagai anugrah, dengan logika yang sama, teruslah berbuat baik. Dan jika ingin menjadikan musibah itu sebagai cobaan atau pengingat, kita perlu belajar untuk menghadapinya dengan baik bukan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s