Keinginan Menolong dan Ilmu Kebaikan

Sebagai makhluk sosial, tiap orang pasti punya keinginan untuk menolong orang lain. Atau setidaknya, dapat dipastikan tiap orang memiliki kemauan untuk berbuat baik. Guru yang menolong muridnya agar kelak mereka menjadi orang yang dapat melakukan sesuatu di dunia, orangtua yang menyiapkan anaknya untuk menghadapi dunia, teman satu tim olahraga yang berusaha menolong satu sama lain, orang yang memberi uang kepada pengemis di trotoar, para penjual makanan yang memberikan porsi bonus atau potongan harga bagi pelanggannya, para pelanggan yang memberikan tip atau mengikhlaskan kembalian bagi para penjual, orang-orang yang membeli dagangan karena rasa kasihan, orang-orang yang meluangkan waktunya untuk berbagi semangat, ilmu, motivasi atau harta dengan orang yang kekurangan, berapa banyak lagi contoh yang lumrah untuk ditemui di sekitar kita? Mungkin kita memang tidak selalu punya kesempatan untuk melihat hal-hal macam itu, hei, kita tidak punya kekuatan untuk mengetahui isi hati manusia lain kan? Tapi percayalah, ada orang-orang seperti itu di dunia ini, mungkin banyak orang yang kita kenal tergolong kedalamnya, kalau saja kita mau bertanya dan mereka tidak berusaha untuk menyembunyikannya.

Tapi kadang keinginan untuk menolong atau berbuat baik saja tidaklah cukup untuk membantu orang lain.

Ada beberapa sahabatku yang pergi menjadi relawan di sebuah lokasi bencana, pengalaman pertama bagi mereka. Dan sebagai pengamat yang kekanak-kanakkan dan penasaran terhadap kondisi di lokasi tersebut, aku pun menanyakan bagaimana kondisi lapangan disana pada mereka. Salah satu dari orang yang kutanya menjawab sembari berkomentar bahwa menjadi relawan ternyata banyak bingungnya. Teknis tidak selalu sesuai dengan apa yang diperkirakan secara teoritis. Tapi kelihatannya memang selalu begitu bukan? Kebetulan ini juga cocok dengan novel yang saat ini kubaca, serial Young Sherlock Holmes pertama karya Andrew Lane, Death Cloud. Novel yang menceritakan kehidupan Sherlock Holmes saat remaja ini punya beberapa hal yang menarik untuk dipelajari, termasuk beberapa hal yang penting untuk membuat deduksi seperti yang biasa Holmes lakukan.

Dalam novel tersebut diceritakan saat Holmes pertama kali bertemu dengan guru les yang diajukan oleh Mycroft, Amyus Crowe, Crowe meminta Sherlock untuk berkeliling memeriksa lukisan yang ada di rumah pamannya dan menebak mana lukisan yang merupakan lukisan palsu. Sherlock menunjuk sebuah lukisan dan berkata, “Yang satu ini tidak terlukis dengan baik. Perspektifnya penuh dengan distorsi dan anatominya tidak tepat. Apakah ini lukisan palsu?”
“Tentang penipu”, kata Crowe sambil memeriksa lukisan, “para penipu yang kurang berbakat dapat tertangkap dengan cepat. Tidak jarang tipuan lebih meyakinkan dari aslinya. Kamu benar bahwa lukisannya dibuat dengan agak ceroboh, tapi ini asli.” Crowe pun menunjuk lukisan lain dan berkata, “Ini tiruan”
Sherlock pun bertanya, “Bagaimana Anda tahu?”
“Lukisan-lukisan di rumah pamanmu dilukis oleh orang yang sama, yang terkenal dengan gaya pemandangan landscape dari pelabuhan. Ini adalah lukisan dari Pelabuhan Dover, tapi pelukis ini tidak pernah mengunjungi Inggris, sementara detailnya terlalu realistis yang berarti lukisan ini dibuat di pelabuhan itu. Karena itu, ini lukisan yang dibuat dengan meniru gaya pelukis itu, ini tiruan.”
“Aku tidak mungkin dapat mengetahuinya. Aku bahkan tidak pernah belajar apapun tentang pelukis.”
“Dan apa yang dapat kamu ketahui dari hal itu?”
Setelah berpikir sejenak Sherlock pun menjawab, “Aku tidak tahu.”
“Kamu bisa membuat tebakan sesukamu. Tapi tebakanmu percuma jika kamu tidak punya pengetahuan. Informasi adalah hal mendasar dari semua pemikiran yang masuk akal. Carilah informasi. Penuhilah otakmu dengan sebanyak mungkin fakta yang dapat dimuatnya. Jangan membedakan mana informasi yang penting dan mana informasi yang trivial (kurang penting): semuanya punya potensi untuk menjadi informasi penting.”

Yah, semua ada ilmunya. Kumpulan fakta belum tentu menjadi ilmu yang tepat, sebagaimana orang yunani pada zaman dahulu yang menganggap dunia ini terdiri dari empat lapisan, tanah terletak pada lapisan terbawah, air, udara dan api pada lapisan teratas. Jika ada batu (tanah) yang jatuh ke air pasti batu akan turun ke bawah, sementara jika ada udara di dalam air pasti udara akan naik keatas, fakta tersebut yang menjadi dasar mereka berkesimpulan begitu. Jika teori itu dibahas saat ini, jelas kita akan sepakat bahwa faktanya benar tapi kesimpulannya salah. Nyatanya itu juga yang terjadi pada teori geosentris (semua benda langit mengelilingi bumi) dan teori bumi berbentuk seperti pizza. Sekarang kita semua tahu itu merupakan akibat dari rotasi (perputaran) bumi pada porosnya sehingga benda langit terlihat berputar mengelilingi bumi dan gaya gravitasi yang menarik benda agar tetap berada di tanah bola besar ini.

Dan begitu juga membantu orang, ada ilmu yang perlu dipelajari juga, dan kumpulan perbuatan baik belum tentu merupakan tindakan yang tepat.

Ingat kasus pengemis yang punya penghasilan mencapai 30juta rupiah dalam sebulan? Menurutku itu adalah contoh nyata bahwa orang-orang punya niat untuk membantu tapi belum mengetahui ilmunya. Kumpulan perbuatan baik yang, hm, entah apa pengaruhnya saat ini? Memperbanyak jumlah orang yang meminta-minta? Memperbanyak prasangka buruk pada kaum golongan menengah kebawah? Kadang itu juga dijadikan candaan di labku, jika kami (anggota lab) ingin memasang sebuah pembangkit listrik dengan biaya semilyar lebih, berapa lama waktu mengemis yang kami perlukan, hahaha. Syukurnya saat ini orang-orang mulai sadar dan beralih pada fokus mempekerjakan pengemis atau membeli dagangan pedagang asongan yang kesannya: sama-sama membutuhkan tapi memilih untuk berjualan. Daripada disumbangkan ke orangnya langsung, mungkin akan lebih baik jika menyumbangkannya ke lembaga yang bergerak di bidang kemiskinan, agar uangnya dapat dikelola dan mungkin penerimaan sumbangan bagi para kaum miskin pun akan lebih merata, bukan hanya untuk yang meminta-minta, tapi mungkin akan turut berimbas pada orang miskin yang malu untuk meminta-minta juga. Temanku juga ada yang pernah berkata bahwa sebenarnya meminta-minta itu juga ada batasnya, yaitu sampai tulang punggungnya tegak kembali. Aku belum sempat memeriksa sumber ilmunya dari mana, ada yang mungkin tahu hadits atau fatwa terkait meminta-minta? Jika ada, bersediakah berbagi ilmu di kolom komentar?🙂

Begitu pula sebagai relawan dari bencana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Temanku bercerita bahwa dia beruntung ada saudaranya yang mengerti tentang bagaimana relawan bekerja. Tapi distribusi dan koordinasi masih tergolong kurang meskipun bantuan melimpah. Padahal kalau koordinasi buruk, bisa saja terjadi skenario dimana ada daerah yang terus mendapatkan pertolongan dan ada daerah yang tidak kunjung mendapatkan pertolongan. Fakta lain, banyak spanduk “pilih saya” dan “coblos saya” di lokasi sekitar bencana. Hal yang kurang etis sebenarnya, meminta masyarakat mencoblos saat sedang terkena musibah seperti ini. Saat aku sempat berkunjung ke bpbd pun dikatakan begitu, tidak masalah jika posko bantuan membawa identitas partai, toh itu akan membantu koordinasi. Tapi kalau ada spanduk kampanye disana, bukankah itu tidak tahu diri?

Bukankah ilmu itu penting? Maka belajarlah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s