Trip to Kansai

Dan perjalanan menuju jepang dimulaišŸ˜€

Pertama kalinya naik pesawat dari terminal 3, terminal terbaru di soekarno-hatta, dan naik penerbangan yang dari segi harga murah, ternyata sensasi yang ditimbulkan beda. Guncangan yang terjadi mudah untuk dirasakan–mudah untuk mengetahui bahwa pesawat sedang melakukan sesuatu, seperti menurunkan roda, mendarat dan sebagainya–kelihatannya peredam yang berfungsi di pesawat tersebut belum cukup mampu untuk meminimalisir hingga pengguna tidak merasakan adanya guncangan dalam penerbangan. Selain itu, tekanan yang dialami penumpang juga berubah–pada beberapa maskapai penerbangan yang baik, umumnya penumpang tidak terlalu sering merasakan pengang pada telinga yang disebabkan perubahan tekanan akibat perubahan ketinggian pesawat–kelihatannya sistem insulasi ruang penumpang belum terlalu baik. Tapi seru juga sih menebak-nebak apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki situasi dan kenyamanan penumpang, salah satu hal yang dipelajari keilmuankušŸ™‚

Dan perjalanan diawali dengan obrolan asal dengan teman sekelompok saat ospek masuk kampus yang kebetulan menyukai manga yang sama–kuroko no basuke, bahkan dia membuat beberapa fanfic terkait itu–dan ikut organisasi yang sama yang menyebabkan kami seperjalanan. Kami mengobrol terkait tema fanfic apa lagi yang dapat diangkat, terutama di bidang ospek dan latar belakang himpunan, kurospek dan kurohimp, haha. Bahkan aku sudah terpikir beberapa cerita kalau mau diseriuskan, imajinatif memang punya beberapa keuntungan tersendiri, haha.

Dan saat sampai di kuala lumpur untuk transit dari soekarno-hatta, teman ngobrolku itu hilang, butuh sekitar satu jam untuk menemukannya–setelah dia makan siang diluar transit hall kuala lumpur, menjelaskan kenapa kami tidak berhasil menemukannya di transit hall.

Perlu digarisbawahi pentingnya komunikasi disini, pergi tanpa memberitahu tujuan atau bertemu lagi kapan dan dimana bisa membuat satu rombongan repot.

Oke, katanya di jepang wifi tidak terlalu banyak, dan aku tidak punya minat untuk membeli nomor atau hp di jepang jika hanya akan digunakan selama sepuluh hari. Sudah lah, haha, mungkin akan sedikit terasing dari teknologi di negara berteknologi maju.

Tapi meski memang ini perjalanan pertama ke negeri lain saat musim dingin, tanpa ditemani orang tua, dan persiapan yang terburu-buru karena pekan ini sibuk diisi dengan menyelesaikan tugas kuliah dengan deadline pengumpulan dua pekan ke depan, aku lebih suka menganggap ini sebagai pengalaman pribadi, repotnya, kesalnya, sulitnya, setidaknya semua hal tersebut akan berkurang saat berikutnya kejadian seperti ini terulang kembali. Entah apakah di jepang dapat terhubung dengan teknologi apa dan mendapat pengalaman apa, yah, setidaknya fokus saja pada apa yang ada di hadapan saat ini bukan?

Mengingat akan berada di jepang sampai 3 maret kelak tanpa kepastian adanya wifi dan jadwal kegiatan (dan jalan-jalan tentunya) yang sulit untuk diabaikan, mungkin berbagi pengalaman mengurus visa ke sebuah negeri dan persiapan ke negara bermusim dingin akan menjadi cerita di lain hari, jika Yang Berkehendak memberikan kesempatan, in syaa AllahšŸ™‚

—————————————————————————————
Dan setelah sampai di kansai baru tersadar, salah satu hal yang menyenangkan dari bandara adalah selalu ada wifi atau koneksi internet tanpa bayar. Penerbangan enam jam ternyata lumayan melelahkan. Dan rombongan tiba di kansai pada pukul 23 waktu setempat, atau pukul 21 WIB. Satu hal yang perlu disebut adalah, menarik juga konsep bandara yang berada di tengah perairan seperti disini. Memang sudah memperkirakan harga di jepang akan jauh lebih mahal dari harga di Indonesia, tapi speechless juga saat melihat harga internet (via komputer) di bandara besarnya 100 yen atau 11500 rupiah per 10 menit dan photobox sekali pakai 800 yen atau sekitar 90000 rupiah. Dan karena bis menuju kobe baru saja habis, waktunya bermalam di bandara. Ah, ada gunanya juga membawa sleeping bag, sekaligus mencoba jadi backpacker lah, haha.

Semoga sepuluh hari ini membawa banyak pelajaran dan pengalaman, baik dari bidang pendidikan kebencanaan, pemikiran dalam teknologi keilmuan, serta pengalaman dan pelajaran kehidupan.

Dan seru juga melihat teknologi disini yang, entah apakah benar memberikan kemudahan atau sekedar menyulitkan diri sendiri. Pintu toiletnya mengingatkan pada aplikasi mata kuliah sistem logika dan digital, dimana pintu memiliki dua kondisi–tertutup dan terbuka–sementara ada empat tombol, dua buah tombol “open” dan dua buah tombol “closed” yang terletak di dalam dan di luar toilet masing-masing sebuah. Situasinya jelas, pintu akan terbuka saat tombol open ditekan dan akan tertutup saat tombol closed ditekan, baik dari luar maupun dari dalam toilet. Namun ada kondisi dimana saat tombol closed di dalam toilet ditekan, toilet akan masuk kedalam kondisi terkunci dimana pintu tidak akan dapat dibuka meskipun tombol open dari luar toilet ditekan berkali-kali.

Entah sistem ini bagus atau tidak, apa yang akan terjadi jika ada kondisi seperti pemutusan arus listrik ya? Harusnya ada juga kondisi darurat yang mengatur kondisi pintu apabila itu terjadi, karena sepengetahuanku jepang juga rawan terhadap gempa bumi seperti di indonesia, tapi memang sistem mitigasi bencana mereka saat ini jauh lebih baik dari indonesia. Entah lah, tapi sekarang aku sedang mencari sebuah benda keras yang agak panjang untuk menekan tombol closed di dalam toilet dari luar toilet, apakah pintu akan masuk dalam kondisi terkunci atau kondisi itu hanya terjadi jika ada sensor yang mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan di dalam toilet ya?

Ah, tapi mungkin aku yang ditangkap duluan, agak disayangkan ada stasiun polisi tepat di sebelah pintu toilet, hahaha. Ya sudah lah, malam masih panjang. Yang jelas meskipun perjalanan ini baru dimulai, ada kemungkinan cerita baru berakhir saat bumi telah tiada, karena ilmu yang didapat dapat terus bermanfaat dan meneruskan cerita insan-insan yang telah tiada. Waktunya berkelana, belajar dan berkicau seperti biasašŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s