Trip to Kansai Day 2

Haha, ternyata ada senior yang punya wifi pocket! Dan karena aku baru kebagian membuat artikel kegiatan pada workshop tanggal 1 februari, masih banyak waktu untuk meracau lah ya, setidaknya sebelum berpisah untuk nginap di rumah orang jepang rabu ini.

Hari pertama beradaptasi. Jika awalnya aku menganggap di dalam bandara itu sudah dingin, di luar bandara jauh lebih dingin. Suhu berada di kisaran -1 hingga 4 derajat celsius. Dari kunjungan audit energiku ke sebuah hotel semester lalu, aku mengetahui fakta bahwa bahan-bahan makanan seperti sayuran atau daging disimpan di kulkas pada suhu antara 3 hingga 7 derajat celsius untuk menjaga kesegarannya. Oh, baru saja datang dan aku sudah dicoba diawetkan.

Tapi diskusi tetap berlanjut terkait jepang dan indonesia. Kita berbicara tentang kebutuhan, dimana katanya Jepang sedang membutuhkan banyak lulusan di bidang sains dan teknik (yang sudah umum) dan kemungkinan besar akan menambah jumlah penerjemah dan perawat untuk memperkukuh dominasinya di Indonesia. Penerjemah diperlukan untuk menjembatani hubungan kerja antar negara, sementara perawat diperlukan untuk menjaga standar pekerja di dalam suatu negara. Dan kata seniorku yang belum lama ini menyelesaikan S2 di Jepang (dan sedang melamar beasiswa S3 di kota yang sama lagi), mereka punya preferensi untuk mempekerjakan orang lokal yang pernah belajar di Jepang.

Dan kita juga meracau tentang perkuliahan di Indonesia. Seniorku menceritakan bahwa ada dua cara untuk mendapat gelar master, yaitu master by course dan master by defense. Master by course berarti gelar master akan diperoleh dengan menyelesaikan semua mata kuliah terkait, sementara master by defense berarti gelar master akan diperoleh dengan menyelesaikan beberapa semester dimana tiap semester ada riset di sebuah bidang yang perlu dilakukan atau dipresentasikan. Bagaimana dengan Indonesia? Setengah-setengah, riset dilakukan hanya di penghujung semester. Apa ini salah satu hal yang menyebabkan para dosen lebih menganjurkan melanjutkan studi master dan doktor di luar negeri?

Dan aku pun turut berbagi informasi terkait beasiswa LPDP, dari apa yang kuketahui setelah mengikuti beberapa seminar beasiswa. Yang menarik dari informasi adalah, terlepas dari berapa mudanya dirimu, selalu ada hal yang kamu ketahui dan belum diketahui orang lain, dan tentu hal itu juga berlaku bagi yang tua, karena itu obrolan dapat berlangsung dengan menarik dan menyenangkan. Beasiswa itu memberikan tunjangan bagi para calon master dan doktor yang besarnya menyesuaikan dengan tempat tinggal sang mahasiswa. Selain itu, ada juga tunjangan keluarga yang memungkinkan mahasiswa mengajak pendamping hidup dan anaknya untuk menemani mahasiswa tersebut melakukan studi di luar negeri, dan tentu saja biaya ditanggung. Untuk dukungan moral mungkin. Yang jelas ada syarat untuk itu, tapi entah apa. Dan karena syarat itu beberapa temanku menganjurkan orang yang mau mengambil beasiswa LPDP untuk menikah dahulu agar dapat melanjutkan studi dengan lebih semangat, haha.

Lalu sore ini pun diisi dengan kegiatan jalan-jalan ke Kobe Meriken Park. Ada banyak spot yang menarik untuk dikunjungi disini, baik bersama anak-anak seperti museum anpanman, maupun bersama pendamping hidup seperti kobe port atau ferris wheel yang katanya romantis. Memang tempatnya bagus, sayang biaya hidup disini sangat mahal. Tapi memang kerja sambilan disini pun sangat besar penghasilannya, katanya kisarannya dimulai dari 1000 yen/jam. Entah lah apakah kelak bisa kesini lagi atau tidak.

Setidaknya ini pengalaman yang bagus lah. Awalnya aku lumayan yakin dapat terbiasa dengan kondisi dingin karena lumayan mampu bertahan di bandung dini hari, oke, setiap orang punya kenaifan tersendiri. Pertama kalinya mandi malam dengan air panas dan kamar mandi penuh uap lah, kelihatannya kelembaban disini juga rendah, mungkin karena kandungan air di udara juga banyak yang memadat di tempat lain. Yang jelas karena itu kulit mebjadi cepat kering dan perlu pelembab atau semacamnya. Repot. Tapi rencana studi ke eropa harus berlanjut, dari yang kudengar justru salah satu unggulnya studi di negara dengan empat musim adalah orang-orang di negara tersebut belajar untuk mempersiapkan diri dan mengatur rencana yang sesuai dengan musim yang perbedaannya tergolong ekstrim agar dapat bertahan hidup.

Tinggal mencari beasiswanya, dan mungkin juga mencari teman yang mau ikut ke luar negeri, haha. Yang jelas sekarang waktunya semangat dan mulai melangkah, bismillaah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s