Trip to Kansai-Day 3

Banyak cerita di hari ini. Dari berjalan-jalan dan melakukan simulasi gempa bumi di Nojima Fault Museum sampai berbagi cerita bersama radio komunitas FM YY di Takatori Community Center.

Dimulai dari pagi hari, saat BDSG berkumpul bersama Kobe RMC untuk berkegiatan bersama. Ada 4 orang mahasiswa yang terlibat, 3 dari jepang dan 1 mahasiswa exchange dari thailand. Ada dua mobil yang disewa khusus untuk kunjungan ini.

Dan perjalanan pun dimulai. Tujuan pertama adalah museum kesalahan nojima, eh, museum patahan nojima. Disini kita melihat contoh langsung akibat yang disebabkan gempa bumi, di daerah yang dikonservasi sejak terjadinya gempa hanshin hampir 20 tahun yang lalu. Keren dan seram juga, ada lempeng yang terangkat keatas dan tergeser ke samping, menyebabkan dinding rumah patah dan tergeser miring karena perubahan tersebut.

Disana juga kami melakukan simulasi gempa bumi di level yang lumayan parah lah, sekitar 7 Richter. Meskipun duduk di tempat masih mungkin dilakukan, tetap saja guncangannya terasa. Dan sekarang aku bertanya-tanya, bagaimana bisa aku tidak pernah menyadari saat beberapa temanku mengatakan ada gempa selama di bandung?

Yang kedua adalah kunjungan ke FM YY. Ini lebih menarik lagi. Bermula dari gempa hanshin pada 17 Januari 1995 pukul 5.47 pagi, yang menghancurkan kegiatan perekonomian di Kobe–seniorku pun bercerita bahwa saat ini Kobe masih belum bisa mengembalikan supremasinya sebagai kota pelabuhan terpopuler di zaman dahulu. Saat itu banyak warga jepang yang tertimpa masalah. Tapi ada segelintir orang yang menyadari bahwa masalah tersebut tidak hanya menimpa warga jepang saja, namun juga warga asing yang berdomisili di jepang. Saat itu segelintir orang tersebut menyadari bahwa bahkan sebelum bencana terjadi, orang asing di Jepang sudah terasingkan, dan kondisinya akan lebih parah saat bencana seperti ini. Apalagi adanya penghalang berupa bahasa bagi orang asing yang berasal dari korea selatan, vietnam, filipina dan lain sebagainya dalam menerima dan memahami informasi terkait bencana yang disebarkan oleh pemerintah jepang. Akibatnya, dibentuklah dua buah radio komunitas yang berfungsi untuk menyebarkan informasi terkait gempa tersebut dalam berbagai bahasa, yaitu Yoboseyo (yang dalam bahasa korea berarti “Halo”) yang menyebarkan informasi dalam bahasa Jepang, Korea Selatan dan Filipina, serta Yumen (yang dalam bahasa vietnam berarti “Dengan Cinta”) yang menyebarkan informasi dalam bahasa Jepang, Vietnam, Korea Selatan dan Spanyol. Kelak pada tahun 1996, kedua radio komunitas ini bergabung menjadi radio komunitas FMYY, dimanaFM merupakan frekuensi radio dan kedua Y diambil dari nama kedua radio komunitas yang bergabung. Saat ini pun informasi tidak hanya disebarkan FMYY melalui radio saja, tapi juga melalui media kertas dan internet.

Dalam keberjalanannya banyak relawan yang bergabung dengan FMYY, saat ini pun tercatat ada 150 relawan yang berpartisipasi. Memang harus diakui, disana kita dapat belajar untuk memberikan opini yang didengarkan oleh masyarakat, belajar bahasa jepang secara tidak langsung (yang telah menyebabkan pekerjaan mayoritas relawan naik kasta, dari pekerjaan seperti pembuat sepatu menjadi pekerjaan seperti penerjemah), bahkan ada beberapa radio komunitas di Indonesia seperti di Aceh dan di Yogyakarta yang merupakan partner dari FMYY ini. Kebetulan september lalu kami berkunjung ke salah satu partnernya di Yogyakarta, Radio Komunitas Gema Merapi. Lumayan menyenangkan kondisi disana, dengan bermodal dasar komputer, mic serta perlengkapan broadcast yang tidak terlalu besar, siaran pun dapat dimulai.

Sayangnya, saat ini FMYY terancam berhenti. Sulitnya pendanaan dan kegunaan yang saat ini dipertanyakan membuatnya begitu, sedang dilangsungkan rapat yang membahas masa depan organisasi non-profit tersebut. Masalah klasik tiap organisasi memang, tapi apa lagi yang dapat dikatakan jika solusinya belum ditemukan?

Yah, berharap untuk yang terbaik saja lah.

Oiya, satu hal lagi yang menarik dari FMYY, mereka tergabumg dalam Takatori Community Center bersama 9 organisasi non-profit lainnya. Disana kesepuluh organisasi non-profit tersebut saling membantu apabila ada masalah. FMYY mempublikasikan acara-acara dari tiap organisasi disana, ada organisasi yang bertugas membetulkan benda-benda teknologi dari kesepuluh organisasi tersebut jika ada kejadian, ada juga yang bertugas menjadi penerjemah, dan masih banyak lagi kolaborasi mutualisme antara kesepuluh organisasi tersebut. Inti yang dibawa adalah, tidak apa menjadi berbeda, toh dengan begitu kita dapat saling melengkapi dengan orang-orang yang lain kan?

Setelah itu kami diajak untuk melihat struktur bangunan Takatori Community Center itu. Dan kuakui, desainnya keren. Tahu pintu beroda dengan engsel yang kalau didorong bisa terlipat-lipat? Di gedung ini rodanya diganti dengan katrol keatas, yang menjadikan sebuah dinding dapat berfungsi sebagai atap jika digerakkan dengan katrol tersebut. Selain itu, ada juga gereja yang dibangun dari kayu dan kertas (entah apa bahan kertas ini, karena lumayan kuat), mungkin di lain kesempatan gambarnya bisa kubagikan. Dan ternyata dunia fisika memang seru dan aplikatif ya, merasa berada di jurusan yang tepat lah, haha.

Perjalanan diakhiri dengan obrolan terkait kebiasaan orang Jepang. Jadi, di eskalator ada aturan tak tertulis (atau tertulis ya? Ah, entah) orang-orang yang ingin bersantai harus mengambil salah satu lajur, dan orang yang buru-buru harus mengambil jalur yang lain. Di kobe, orang yang ingin bersantai berada di lajur kanan dan mempersilahkan orang yang berada di lajur kiri mendahuluinya, sementara di tokyo dan singapura kebalikannya, orang yang ingin bersantai mengambil lajur kiri dan membiarkan orang di jalur kanan lewat. Dahulu saat sma aku juga begitu, kebiasaanku berbicara keras karena pendengaran nenekku sudah kurang baik itu kadamg dipermasalahkan oleh guru-guru yang menganggap itu tidak sopan, padahal ada daerah di indonesia yang menganggap berbicara pelan itu tidak sopan. Obrolan dengan kawan-kawan Kobe RMC tadi juga begitu, di Jepang ada aturan tak tertulis untuk bicara pelan-pelan, sementara di Korea dan Cina bicara sebaiknya lebih keras. Mungkin itu pentingnya bermain ya, agar kita dapat tahu aturan mana yang berlaku di masyarakat. Tiap masyarakat punya alasan tersendiri dalam menerapkan aturannya kan?πŸ™‚

Dan, saat ini sedang terkena musibah nih, charger, colokan universal dan beberapa perlengkapan elektronik yang lumayan penting milikku sedang berada entah dimana, huhu. Mohon doa saja agar cepat selesai urusannya ya, agar mudah menemukan atau mudah mengikhlaskan apabila memang bukan rezekiku. Kalau yang kedua yang terjadi, mungkin sisa pelajaran yang kudapat selama di Jepang akan kubagikan lain kali saja lah ya, bateraiku sudah sekarat soalnya, haha.πŸ™‚

Yoboseyo, yumen. Still like these words!πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s