Trip to Kansai-Day 4

Belum, chargerku belum ditemukan, tapi Allah selalu punya rencana yang wah.

Hari dimulai dengan mengunjungi Disaster Reduction & Human Renovation Institution di HAT (Happy Active Town) Kobe. Tempat yang bagus, entah kenapa Jepang terlihat sebagai kota yang sangat peduli pada pendidikan anak-anaknya. Museum ini trletak di jalan yang saat kubaca alfabetnya bertuliskan “Museum Road” di, hm, aku lupa nama stasiunnya yang jelas terletak satu stasiun setelah stasiun rokko dijalur kereta api listrik hanshin ke arah kobe sannomiya. Yah, jepang memang punya banyak museum, di kobe sannomiya aku juga sempat melihat museum anpanman dan mendengar bahwa ada beberapa museum tokoh kartun lainnya. Kelihatannya semua hal dapat dijadikan topik untuk museum disini. Menariknya, semakin tua seseorang, biaya masuk museum ini semakin mahal, percayalah, anak-anak kecil tidak perlu bayar untuk masuk ke museum ini. Yang jelas, museum ini masih mengangkat tema utama yang sama, The Great Hanshin Earthquake. Yah, adakah bencana yang lebih terkenal dan banyak dampaknya ke kota kobe dibandingkan dengan gempa itu?

Beruntunglah kartu mahasiswa berlaku disini, setidaknya kami masih dapat dianggap mahasiswa, 150 yen itu bisa dua kali makan di Indonesia, haha. Kami membayar 450 yen untuk masuk museum tersebut, lumayan juga, mengingat fasilitas yang akan didapat berupa earphone dan translator yang memperdengarkan bahasa inggris, dua buah film yang salah satunya merupakan film 3 dimensi, berbagai simulasi menarik terkait pengurangan resiko bencana, dan lain sebagainya.

Kunjungan diawali dengan film tentang suasana saat gempa terjadi dan dilanjutkan dengan film mengenai kehidupan salah satu remaja perempuan yang menjadi korban dari gempa tersebut di lantai 4. Koreografi dramanya bagus, suasana gempa digambarkan keseluruhan dengan sangat baik jika standar Indonesia diterapkan disini (dan aku tidak punya standar lain untuk menilai). Setelah itu kami berpindah ke lantai 3 museum dimana berbagai barang pajangan dan slide informasi ditampilkan, hm, bagian ini tidak terlalu berbeda dengan museum di indonesia. Mungkin terlihat lebih menarik karena museum ini menggunakan teknologi seperti touch screen dengan tampilan Windows 8 dalam penampilan datanya. Setelah itu perjalanan berlanjut ke lantai 2, dimana tema yang diangkat adalah bencana secara keseluruhan, mengenalkan jenis bencana yang ada, bagaimana tampilan dan pengaruh dari bencana itu bagi kehidupan, seperti itu lah. Dan di ujung ruangan ada permainan dan simulasi dari beberapa hal, seperti struktur tahan gempa, pengaruh kekuatan dan kedalaman titik pusat gempa, gejala liquefaction, barang-barang di dalam emergency bag, penyuluhan kepedulian melalui cerita, dan lain sebagainya. Para relawan disana sudah tua, tapi tetap semangat dalam menjelaskan banyak hal. Terlepas dari alasan keaktifan mereka yang tidak kuketahui, aku salut lah. Perjalanan ditutup dengan pemutaran film terkait bencana tsunami pada tahun 2011 yang menimpa daerah jepang lainnya, tohoku atau rakuzan kalau tidak salah, yang tingginya mencapai 14.4meter. Filmnya mengerikan, apalagi karena diputar secara 3D. Sayangnya pada bagian usaha renovasi filmnya malah jadi membosankan karena terkesan sangat dokumenter dan lama filmnya 24 menit, ditambah dengan kondisi ruang film yang menyerupai bioskop, ada alasan untuk tidak tidur?

Dan setelah itu kami menuju Gedung JICA (Japan International Cooperation Agency) untuk makan siang di restoran pada lantai dasar JICA. Itu restoran pertama yang kutemui dan menerangkan makanan halal dan tidak di Jepang ini. Dan JICA juga mengirimkan bantuan ke berbagai belahan dunia, saat kami datang ada juga menu vietnam yang dijual dan harganya dimahalkan untuk memberi sumbangan ke korban angin topan haiyan. Syukurlah menemukan tempat seperti ini🙂

Oke, dan lanjut ke rumah host family di kyoto, pindah kota, ganti trayek kereta. Kereta di jepang bagus-bagus ya, semoga perkeretaan di Indonesia bisa segera menyusul atau bahkan jadi lebih baik daripada jepang lah, perkembangan selama beberapa tahun terakhir ini sudah tergolong baik kok menurutku, asal jangan terus-menerus menggunakan kereta second yang diimpor dari negara lain saja, hehe.

Kami bertemu dengan host family kami di Kawashima, dan setelah foto-foto sedikit kami berpisah ke rumah masing-masing. Rumah hostfamku terletak di Kamigyo-ku, rumah sewaan yang sudah berusia 80 tahun dan sangat tradisional bentuknya. Pemilik rumahnya merupakan pasangan amerika-jepang, sang istri beberapa tahun lalu keluar dari pekerjaannya saat memiliki anak dan sang suami bekerja sebagai programmer game nintendo atau semacam produser film lokal lah, dan produknya umumnya dikhususkan untuk anak-anak. Orangnya baik, banget. Aku dipinjamkan charger dan diberi akses wifi selama disini. Selain itu, pasangan ini sama-sama punya fokus di dunia pendidikan dan anak, yang sempat kugeluti selama hampir empat tahun terakhir (rasanya waktu berlalu dengan cepat ya), sayangnya belum punya kewaspadaan di bidang bencana, dia mengabarkan bahwa gubernur memberi dia peta ke tempat evakuasi yang dibuang karena dia hafal jalan ke kuil atau sekolah yang dijadikan tempat evakuasi. Dan diskusi kami berlangsung di berbagai hal yang seru.

Pasangan ini traveler, mereka telah mengunjungi berbagai negara di asia tenggara (memang ini tempat tujuan yang bagus dan murah, bukan?) seperti laos, vietnam, malaysia dan bali. Kita pun berbicara tentang harga barang. Di jepang, harga listrik bulan lalu yang keluarga ini pakai mencapai 15000 yen, mungkin pengaruh dari heater, ac dan lain sebagainya, entah. Harga bahan bakar disini juga 3 kali lebih mahal dari harga di Indonesia. Tapi aku pun bercerita bahwa kondisi di Indonesia, walaupun harganya murah, tapi mata uang di Indonesia nilainya terus jatuh, entah mengapa tidak banyak orang yang terlihat peduli dengan hal ini. Pergerakan ekonomi yang didasari konsumsi nilainya memang bagus, tapi entah lah, aku belum terlalu mengerti pengaruh dan lain sebagainya dari info tersebut. Lalu perbincangan pun dilanjutkan dengan masalah anak, warga Jepang umumnya menganggap anak merepotkan dan mengganggu waktu “own time” mereka, sehingga jumlah anak per keluarga di Jepang hanya sekitar 1.1-1.2 anak, setidaknya itu kata hostfamku. Aku juga bercerita bahwa di Indonesia justru pernikahan dini sedang populer dan banyak orang (terutama perempuan) yang ingin memiliki anak, karena itu jumlah anak per keluarganya masih lebih dari dua, batas aman kelangsungan budaya dan identitas suatu negara (logikanya dua anak meupakan penerus dari kedua orangtua) dan menanyakan apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi ini. Mereka berkata bahwa pemerintah memberikan tunjangan kelahiran (13000 yen per bulan tiap bulan hingga anak berusia 3 tahun, kemudian turun menjadi 5000 yen per bulan hingga anak berusia 13 tahun), tapi jumlahnya sangatkecil jika dibandingkan dengan biaya sekolahnya yang mencapai 2.5juta yen setahun (aku lupa di level pendidikan apa). Kasusnya, sang istri sedang belajar bisnis dan sang suami masa kontrak kerjanya akan habis bulan ini, kelihatannya mereka akan melihat keberjalanan bisnis tersebut dahulu sebelum memutuskan untuk pindah atau tidak, dan jika akhirnya mereka memutuskan untuk pindah, aku siap untuk membantu apabila pulau jawa jadi pilihan singgah mereka, haha😀

Ah, masih jet lag, sudah jam 1 malam di Jepang dan aku belum terlalu mengantuk. Padahal istri yang orang jepang ini punya semacam tk tempat belajar bahasa inggris, dqn aku diminta untuk mengisi materi tentang indonesia, seperti budaya, permainan tradisional, dan lain sebagainya. Entah kenapa anak-anak kecil jepang yang kutemui lucu-lucu, apa mungkin pengaruh dari pipi yang memerah karena kedinginan ya? Entah lah. Sayang dokumentasi baru bisa dipublikasikan jika sudah mendapat izin dari orang-orang yang terlibat, doakan saja proses dokumentasi dan perizinan selama di jepang ini lancar🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s