Trip to Kansai-Day 5

Dan seharian penuh beraktivitas dengan host family hari ini. Menyenangkan juga, dimulai dari bangun kesiangan di jam 6 WIB (yang kukira jam 6 di Jepang atau masih subuh, jet lag memang mudah menipu orang), yang dilanjutkan dengan sarapan roti panggang dengan selai stroberi dan keju. Dan berikutnya dilanjutkan dengan aktivitas di Children’s English Club yang baru saja didirikan oleh yuko-san yang menjadi hostfamku (host family, keluarga yang kutumpangin, haha), mengajari bahasa inggris ke anak-anak. Haha, udah jauh-jauh jalan ke jepang tapi tetap saja kembali ke dunia pendidikan anak juga, penasaran, berapa jauh ya aku akan terjebak di dunia ini?

Ah, urusan nanti biarlah dipikirkan nanti, yang jelas, aku diminta untuk mengenalkan sebuah hal dari Indonesia kepada anak-anak. Pengetahuan geografis dan budayaku itu rata-rata kebawah, gambar jelas bukan ide yang bagus, dan aku tidak bisa menari. Oke, akhirnya aku memutuskan untuk bermain musik saja, setidaknya aku belajar piano sejak kecil dan sekarang masih lumayan menyukainya. Bahkan dulu aku sering bereksperimen dengan pianika untuk menemukan nada dari lagu yang kudengar di televisi, tidak terlalu buruk kurasa. Lucunya kadang kita tidak pernah tahu ilmu mana yang akan terpakai kapan, oke, musik lah yang kupilih. Hm, lagu yang biasa anak-anak nyanyikan itu umumnya balonku, pelangi dan mungkin satu-satu. Balonku dan pelangi aku sudah tahu nadanya, satu-satu perlu kucari dulu dan syukurlah dapat kutemukan dalam waktu kurang dari lima menit. Oke, amunisi siap.

Pelajaran berlangsung dari pukul 10, tapi aku mulai mengisi jam 11, sehingga saat giliranku kedua anak yang ada (ya, syukurlah hanya dua anak yang sedang berkegiatan, maklum, tempat baru) sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Karena itu aku pun mengeluarkan satu benda yang selalu dilarang untuk dikeluarkan saat kegiatan belajar, handphone. Kelihatannya anak-anak disini tidak terlalu tertarik pada handphone, apa mungkin karena mereka telah terbiasa dengan teknologi macam ini? Ah, sudah lah, aku pun membuka aplikasi piano yang ada di handphoneku dan membunyikannya, berhasil, efek yang ditimbulkan seperti jika kamu menaburkan beras atau nasi di tengah-tengah gerombolan ayam, sangat efektif.

Aku pun memainkan lagu bahasa inggris yang umum didengar pada awalnya, twinkle-twinkle little star, atau mungkin versi lainnya merupakan lagu alfabet. Mereka tertarik dan mulai fokus, menangani anak yang jumlahnya sedikit tidak terlalu sulit ternyata. Setelah itu, aku pun bermain lagu anak-anak pelangi, dan anak-anak menyukainya dan mulai bermain hp/piano bersama, meski bunyi yang dihasilkan agak asal tapi menarik juga. Kegiatan pun dilanjutkan dengan membuat craft sederhana, bonela dari gelas plastik, krayon dan origami, info kegiatan lebih lanjut dapat dilihat di http://www.jellybeans-kid.com, meski sayangnya kegiatan diceritakan dalam bahasa jepang jadi mungkin tidak banyak yang mengerti, tapi dokumentasi bocah jepang di musim dingin itu menarik untuk dilihat kok, percayalah, haha.

Setelah makan siang, hostfamku mengajak jalan-jalan di Nisshiki street, jalan yang katanya terkenal karena variasi makanan yang ada disana, lumayan menarik, mayoritas tokonya masih berupa bangunan tua, yang sebetulnya sangat berbahaya dan merepotkan jika kamu dikirim kesini untuk melakukan penyuluhan akan persiapan bencana. Mirip bangunan di kota tua jakarta mungkin dari segi usia, tapi dari segi keamanan bangunan seperti ini sangat rentan hancur jika ada gempa, itu juga yang menyebabkan pemerintah jepang melarang bangunan tradisional seperti yang sering kita lihat di video game dibuat lagi, setidaknya untuk saat ini.

Oke, donat dari susu kedelai di jalan ini lumayan enak, sayangnya kurang banyak, hahaha. Ah, harga disini memang jauh berbeda ya, bahkan aaron-san, hostfamku yang berasal dari amerika, mengatakan bahwa harga-harga makanan dan biaya hidup di amerika hanya sekitar separuh dari harga di Jepang. Ah, ternyata bukan cuma orang indonesia yang menganggap negara ini memasang harga terlalu tinggi. Untungnya beberapa tempat wisata seperti kuil dan pemandangan disana dapat dinikmati dengan gratis, jadilah aku mengajak pergi ke kuil setelah puas melihat jalan itu, ya, hanya melihat, haha. Yah, biaya hidupku selama 3 hari ini memang ditanggung hostfam, tapi selain perasaan tidak enak karena merepotkan aku juga tahu bahwa hostfamku sedang perlu menyimpan uang untuk beberapa hal, sehingga tempat wisata yang gratis dapat menjadi win-win solution yang baik. Selain itu di kuil ada pohon sakura, meski aku tahu aku datang terlalu awal untuk sakura dan terlalu terlambat untuk salju, siapatahu ada outlayer yang ditakdirkan untuk kulihat.

Dan alhamdulillah ternyata ada, bukan sakura dan hanya mirip mungkin, tapi cukup lah untuk pelipur lara. Sayang laptopku tidak dibawa karena memang aku berniat untuk mengirit di Jepang, jadi mungkin gambar-gambar akan ku-update kelak atau ditaruh di post yang berbeda kalau diizinkan. Gambar bunganya telah kubagikan pada beberapa kawanku yang kuketahui punya minat untuk berkunjung ke jepang, semoga jadi motivasi😀

Oke, di perjalanan yuko-san bertanya tentang kehidupan asmaraku. Entah, di jepang maupun indonesia, kenapa asmara merupakan topik yang sering dibahas kaum hawa? Atau itu hanya teman-temanku saja ya? Ah, sudah lah, tidak ada salahnya bercerita pada orang yang tidak akan terlibat, dan yuko-san juga bercerita tentang pertemuannya dengan aaron-san, jadi adil lah. Dan waktu makan malam pun hampir tiba, aku meminta pada yuko-san untuk mengizinkanku menggunakan dapurnya untuk membuat nasi goreng dengan bumbu instan nasi goreng yang kubawa. Ah, bumbu instan sangat berguna di saat seperti ini ya, haha.

Yuko-san pun mengajak pergivke supermarket, membacakan apa saja yang ada dalam kandungan produk dan menanyakan padaku apakah aku bisa memakannya (karena sesuai syariat islam) atau tidak. Iya, mereka baik ya? Mungkin para teroris yang menggunakan bom perlu sesekali bertanya, mengapa tidak biarkan mereka hidup? Siapatau mereka ditakdirkan untuk mendapatkan hidayah, nyatanya aaron-san dan yuko-san pun lumayan banyak bertanya terkait hal praktis, ucapan dalam bahasa arab, kebiasaan muslim dan berbagai hal lainnya padaku. Memang hidayah itu datangnya dari Yang Maha Kuasa, tapi sebagaimana rezeki, karir, jodoh, nasib dan lain sebagainya, manusia boleh berharap dan berusaha kan?

Akhirnya kami membeli chikuwa (produk olahan daging ikan), udang, mentimun dan tomat. Yuko-san masih memiliki wortel, kacang polong, bawang putih dan minyak goreng, jadi bahan-bahan itu lah yang kami gunakan sebagai lauk, dan nasinya juga menggunakan nasi jepang yang bundar dan agak lengket. Saat proses memasak dimulai, sebenarnya aku juga ragu apakah hasilnya enak atau tidak mengingat ada sangat banyak bahan yang kumasukkan tanpa tahu apa itu dan bagaimana pengaruhnya, tapi syukurlah mereka semua suka. Masalah sakit perut kita pikirkan belakangan saja lah ya, kalau ada kejadian, haha.

Waktunya istirahat, besok hari terakhir homestay, kami berencana untuk melakukan simulasi bencana di kyoto bosai atau kyoto disaster prevention center. Dan aku juga perlu mempresentasikan hasil kerjaku dua hari ini (yang entah kenapa kelihatannya kurang banyak, padahal sebenarnya sangat banyak yang bisa dilakukan) sebelum berpamitan dengan mereka. Bismillaah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s