Trip to Kansai-Day 6

Hari terakhir homestay, mari maksimalkan. Diawali dengan sarapan seperti biasa, aku dan hostfamku main ke kyoto disaster prevention center, tempatnya seperti dufan, hanya saja wahana yang disediakan semuanya bertemakan kebencanaan.

Wahana pertama yang dikunjungi adalah cara untuk menggunakan fire hydrant yang sering ada di mall-mall, yaa, untuk apa sebuah perlengkapan itu ada jika tidak ada yang bisa menggunakannya? Kami diberikan pelajaran terkait fire hydrant yang ternyata hanya bisa menyemprotkan air atau gas selama 10-30 detik dan peringatan agar segera menghubungi pemadam kebakaran jika ada kejadian karena mereka yang lebih mengerti cara mengurus kebakaran. Ada juga peringatan untuk tidak menyemprotkan air ke api yang berasal dari tempat memasak yang menggunakan minyak. Setelah itu kami masuk ke smoke room, simulasi bagaimana evakuasi yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran. Dan baru tahu ternyata asap yang dikeluarkan itu dapat menjadi sangat tebal, tidak ada yang bisa dilihat di luar jangkauan tangan. Senter digunakan untuk mencari tanda pintu keluar darurat dengan menyinari ke lantai (tidak ada gunanya menyinari langit-langit yang penuh asap dengan cahaya, hasilnya sama saja seperti nenggunakan lampu sorot kendaraan di tengah kabut tebal) atau mencari cahaya di sekitar langit-langit yang menunjukkan arah jalur evakuasi atau pintu keluar darurat. Dan disini, ada lampu yang akan berkedap-kedip dan speaker yang akan mengeluarkan pengumuman pintu keluar untuk menunjukkan letak pintu keluarnya jika sulit untuk melihat di tengah asap.

Pengalaman berlanjut dengan merasakan simulasi kecepatan angin saat hujan yang mencapai 35m/s, mulai mengerti kenapa sepeda dan mobil bisa terbang saat tiupan angin terlalu kuat, lalu simulasi gempa bumi, dengan langkah segera berlindung dibawah meja saat gempa terjadi, matikan perlengkapan listrik dan api seperti kompor dan mencoba untuk keluar jika memungkinkan saat gempa reda, dan siaga jika terjadi gempa susulan. Beruntunglah di rumah simulasi ini meja, lemari dan beberapa perlengkapan lain telah terpaku di tembok sehingga simulasi berlangsung lumayan aman. Lalu ada juga semacam gamezone gratis bertemakan kebencanaan, mengemudikan helikopter untuk evakuasi, menjadi pemadam kebakaran mode “time crisis” dan sebagainya. Semoga di Indonesia tempat seperti ini segera dibuat, atau diperbagus lagi publikasinya jika telah ada🙂

Setelah itu hari dilanjutkan dengan hostfamku yang mengantar keliling kyoto, mencari beberapa jenis 100-yen shop untuk oleh-oleh, gantungan kunci untuk kawan dekat, dompet untuk dosen pembimbing dan asistennya. Yaah, mungkin jenis souvenirnya tidak terlalu berpengaruh mengingat harganya sama semua, 105 yen (ditambah pajak 5%, yang april ini akan naik menjadi 8%). Tapi lumayan lah ya, ada beberapa hal yang menarik dan lebih murah daripada indonesia disini. Barang yang dijual tergantung tokonya, dan temanku bilang jika beruntung kita dapat menemukan baju seharga 105 yen. Meski belum menemukan baju, setidaknya ada beberapa gantungan kunci yang ditemukan di salah satu tempat ini, ya sudah lah ya, tiap makhluk punya rezekinya masing-masing kok.

Lalu kebetulan ada tv yang terlihat dan menyiarkan berita bahwa di jepang ada orang yang merusak buku “The Diary of Anne Frank”, fakta yang agak mengejutkan menurut hostfamku. Karena nyatanya, disini tidak banyak orang yang anti terhadap suatu golongan, baik itu anti-yahudi, anti-islam, anti-feminis, dan lain sebagainya. Orang-orang disini menurut hostfamku itu lebih ke arah “lakum dinukum waliyadin”, apa yang kamu percaya dan apa yang kupercaya tidak apa berbeda. Tapi jika ada kepercayaan yang mengganggu orang lain, atau ada orang yang memaksakan kepercayaannya pada orang lain, itu yang mereka anggap masalah.

Kita juga jadi berdiskusi tentang sebuah organisasi, dan hostfamku menyebutnya “angry moslems”, mari kita biarkan organisasinya tetap anonim meski mungkin beberapa sudah bisa menebak organisasi mana yang dimaksud. Hostfamku mempertanyakan apakah cara seperti ini tepat? Maksudnya, dia setuju dengam dilarangnya beyonce, lady gaga dan beberapa artis yang dianggap kurang jelas, bukan contoh yang baik bagi gadis muda memang. Tapi terkait pemaksaan kehendaknya itu yang dipertanyakan. Apakah itu baik?

Kita pun membahas benda-benda lain, minuman keras dan rokok. Aku yang belum pernah berurusan dengan minuman keras di indonesia juga bingung ketika ditanya berapa harganya dan pajaknya di indonesia, karena harga di supermarket yang menjual bir, wine dan semacamnya itu pun umumnya sudah mencantumkan pajak dalam harga kan? Rokok memang jelas hukumnya masih diperdebatkan, tapi harga rokok di jepang ini normalnya mencapai 3-4 kali lipat harga rokok di indonesia karena pajak tembakau yang tinggi. Hm, mungkin ada baiknya pajak rokok yang sangat tinggi ini diterapkan di Indonesia, mari kita lihat berapa perokok yang bertahan, haha.

Lalu kita pun membahas hukum syariah, yang diperjuangkan penerapannya oleh beberapa oknum. Hukum ini dianggap mengerikan oleh masyarakat non-muslim pada umumnya. Aku pun menganggap itu wajar, karena nyatanya hukum yang populer dipublikasikan adalah hukum potong tangan, rajam, dan lain sebagainya. Katanya itu adalah hukum yang bagus dalam “making a point” setelah kujelaskan bahwa hukum itu hanya berlaku bagi yang melakukan, kalau tidak dilakukan, tidak ada masalah kan? Lagipula mereka belum tahu bahwa ada hukum khusus seperti jika orang yang sangat miskin mencuri dari tetangganya yang sangat kaya (aku ingat ada cerita seorang mufti yang menghadapi kasus seperti ini), adil dalam keputusan, hak-hak non-muslim dalam negara islam dan lain-lain. Banyak yang meneriakkan tegakkan khilafah, ganti konstitusi dan lain sebagainya, tapi aku masih jarang melihat ada orang yang sabar dan berusaha menerangkan hukum syariah secara keseluruhan kepada semua orang yang belum mengerti. Hm, mungkin pekerjaan rumah bagi umat muslim yang mengaku merindukan khilafah untuk menjelaskan pada masyarakat terlepas dari muslim atau bukan, kalau semua rakyat sudah bersatupadu, bukankah pemerintah tidak punya banyak pilihan?

Dan akhirnya program homestay berakhir. Ah, chargerku masih hilang, huhu. Tapi setidaknya kita punya free time sampai besok, dan kita menginap di hostel yang punya fasilitas wii gratis. Ah, hostel mau di indonesia ataupun di luar sama ya, fasilitas bersamanya bagus-bagus, agar para traveller dapat berbagi cerita mungkin. Kurang pas dengan sifat introvertku, tapi ya sudah lah.

Agenda hari ini adalah kunjungan ke kuil kiyomizudera dan belajar memanajemen bencana api di kuil tersebut, lalu besok acara puncaknya, seminar kebencanaan bersama beberapa organisasi kebencanaan di jepang. Kabar baiknya, setelah itu tanggal 1 maret sore free time sampai pulang ke jakarta tanggal 3 malam, yuhu~ Waktunya mematikan hp agar bisa menghubungi keluarga saat sampai di Jakarta. Sudah ada niat jalan-jalan ke osaka tapi mungkin foto-foto akan menumpang kamera teman, haha.

Waktunya menikmati perjalanan kalau begitu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s