Keinginan Menolong dan Ilmu Kebaikan

Sebagai makhluk sosial, tiap orang pasti punya keinginan untuk menolong orang lain. Atau setidaknya, dapat dipastikan tiap orang memiliki kemauan untuk berbuat baik. Guru yang menolong muridnya agar kelak mereka menjadi orang yang dapat melakukan sesuatu di dunia, orangtua yang menyiapkan anaknya untuk menghadapi dunia, teman satu tim olahraga yang berusaha menolong satu sama lain, orang yang memberi uang kepada pengemis di trotoar, para penjual makanan yang memberikan porsi bonus atau potongan harga bagi pelanggannya, para pelanggan yang memberikan tip atau mengikhlaskan kembalian bagi para penjual, orang-orang yang membeli dagangan karena rasa kasihan, orang-orang yang meluangkan waktunya untuk berbagi semangat, ilmu, motivasi atau harta dengan orang yang kekurangan, berapa banyak lagi contoh yang lumrah untuk ditemui di sekitar kita? Mungkin kita memang tidak selalu punya kesempatan untuk melihat hal-hal macam itu, hei, kita tidak punya kekuatan untuk mengetahui isi hati manusia lain kan? Tapi percayalah, ada orang-orang seperti itu di dunia ini, mungkin banyak orang yang kita kenal tergolong kedalamnya, kalau saja kita mau bertanya dan mereka tidak berusaha untuk menyembunyikannya.

Tapi kadang keinginan untuk menolong atau berbuat baik saja tidaklah cukup untuk membantu orang lain.

Ada beberapa sahabatku yang pergi menjadi relawan di sebuah lokasi bencana, pengalaman pertama bagi mereka. Dan sebagai pengamat yang kekanak-kanakkan dan penasaran terhadap kondisi di lokasi tersebut, aku pun menanyakan bagaimana kondisi lapangan disana pada mereka. Salah satu dari orang yang kutanya menjawab sembari berkomentar bahwa menjadi relawan ternyata banyak bingungnya. Teknis tidak selalu sesuai dengan apa yang diperkirakan secara teoritis. Tapi kelihatannya memang selalu begitu bukan? Kebetulan ini juga cocok dengan novel yang saat ini kubaca, serial Young Sherlock Holmes pertama karya Andrew Lane, Death Cloud. Novel yang menceritakan kehidupan Sherlock Holmes saat remaja ini punya beberapa hal yang menarik untuk dipelajari, termasuk beberapa hal yang penting untuk membuat deduksi seperti yang biasa Holmes lakukan.

Dalam novel tersebut diceritakan saat Holmes pertama kali bertemu dengan guru les yang diajukan oleh Mycroft, Amyus Crowe, Crowe meminta Sherlock untuk berkeliling memeriksa lukisan yang ada di rumah pamannya dan menebak mana lukisan yang merupakan lukisan palsu. Sherlock menunjuk sebuah lukisan dan berkata, “Yang satu ini tidak terlukis dengan baik. Perspektifnya penuh dengan distorsi dan anatominya tidak tepat. Apakah ini lukisan palsu?”
“Tentang penipu”, kata Crowe sambil memeriksa lukisan, “para penipu yang kurang berbakat dapat tertangkap dengan cepat. Tidak jarang tipuan lebih meyakinkan dari aslinya. Kamu benar bahwa lukisannya dibuat dengan agak ceroboh, tapi ini asli.” Crowe pun menunjuk lukisan lain dan berkata, “Ini tiruan”
Sherlock pun bertanya, “Bagaimana Anda tahu?”
“Lukisan-lukisan di rumah pamanmu dilukis oleh orang yang sama, yang terkenal dengan gaya pemandangan landscape dari pelabuhan. Ini adalah lukisan dari Pelabuhan Dover, tapi pelukis ini tidak pernah mengunjungi Inggris, sementara detailnya terlalu realistis yang berarti lukisan ini dibuat di pelabuhan itu. Karena itu, ini lukisan yang dibuat dengan meniru gaya pelukis itu, ini tiruan.”
“Aku tidak mungkin dapat mengetahuinya. Aku bahkan tidak pernah belajar apapun tentang pelukis.”
“Dan apa yang dapat kamu ketahui dari hal itu?”
Setelah berpikir sejenak Sherlock pun menjawab, “Aku tidak tahu.”
“Kamu bisa membuat tebakan sesukamu. Tapi tebakanmu percuma jika kamu tidak punya pengetahuan. Informasi adalah hal mendasar dari semua pemikiran yang masuk akal. Carilah informasi. Penuhilah otakmu dengan sebanyak mungkin fakta yang dapat dimuatnya. Jangan membedakan mana informasi yang penting dan mana informasi yang trivial (kurang penting): semuanya punya potensi untuk menjadi informasi penting.”

Yah, semua ada ilmunya. Kumpulan fakta belum tentu menjadi ilmu yang tepat, sebagaimana orang yunani pada zaman dahulu yang menganggap dunia ini terdiri dari empat lapisan, tanah terletak pada lapisan terbawah, air, udara dan api pada lapisan teratas. Jika ada batu (tanah) yang jatuh ke air pasti batu akan turun ke bawah, sementara jika ada udara di dalam air pasti udara akan naik keatas, fakta tersebut yang menjadi dasar mereka berkesimpulan begitu. Jika teori itu dibahas saat ini, jelas kita akan sepakat bahwa faktanya benar tapi kesimpulannya salah. Nyatanya itu juga yang terjadi pada teori geosentris (semua benda langit mengelilingi bumi) dan teori bumi berbentuk seperti pizza. Sekarang kita semua tahu itu merupakan akibat dari rotasi (perputaran) bumi pada porosnya sehingga benda langit terlihat berputar mengelilingi bumi dan gaya gravitasi yang menarik benda agar tetap berada di tanah bola besar ini.

Dan begitu juga membantu orang, ada ilmu yang perlu dipelajari juga, dan kumpulan perbuatan baik belum tentu merupakan tindakan yang tepat.

Ingat kasus pengemis yang punya penghasilan mencapai 30juta rupiah dalam sebulan? Menurutku itu adalah contoh nyata bahwa orang-orang punya niat untuk membantu tapi belum mengetahui ilmunya. Kumpulan perbuatan baik yang, hm, entah apa pengaruhnya saat ini? Memperbanyak jumlah orang yang meminta-minta? Memperbanyak prasangka buruk pada kaum golongan menengah kebawah? Kadang itu juga dijadikan candaan di labku, jika kami (anggota lab) ingin memasang sebuah pembangkit listrik dengan biaya semilyar lebih, berapa lama waktu mengemis yang kami perlukan, hahaha. Syukurnya saat ini orang-orang mulai sadar dan beralih pada fokus mempekerjakan pengemis atau membeli dagangan pedagang asongan yang kesannya: sama-sama membutuhkan tapi memilih untuk berjualan. Daripada disumbangkan ke orangnya langsung, mungkin akan lebih baik jika menyumbangkannya ke lembaga yang bergerak di bidang kemiskinan, agar uangnya dapat dikelola dan mungkin penerimaan sumbangan bagi para kaum miskin pun akan lebih merata, bukan hanya untuk yang meminta-minta, tapi mungkin akan turut berimbas pada orang miskin yang malu untuk meminta-minta juga. Temanku juga ada yang pernah berkata bahwa sebenarnya meminta-minta itu juga ada batasnya, yaitu sampai tulang punggungnya tegak kembali. Aku belum sempat memeriksa sumber ilmunya dari mana, ada yang mungkin tahu hadits atau fatwa terkait meminta-minta? Jika ada, bersediakah berbagi ilmu di kolom komentar? 🙂

Begitu pula sebagai relawan dari bencana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Temanku bercerita bahwa dia beruntung ada saudaranya yang mengerti tentang bagaimana relawan bekerja. Tapi distribusi dan koordinasi masih tergolong kurang meskipun bantuan melimpah. Padahal kalau koordinasi buruk, bisa saja terjadi skenario dimana ada daerah yang terus mendapatkan pertolongan dan ada daerah yang tidak kunjung mendapatkan pertolongan. Fakta lain, banyak spanduk “pilih saya” dan “coblos saya” di lokasi sekitar bencana. Hal yang kurang etis sebenarnya, meminta masyarakat mencoblos saat sedang terkena musibah seperti ini. Saat aku sempat berkunjung ke bpbd pun dikatakan begitu, tidak masalah jika posko bantuan membawa identitas partai, toh itu akan membantu koordinasi. Tapi kalau ada spanduk kampanye disana, bukankah itu tidak tahu diri?

Bukankah ilmu itu penting? Maka belajarlah 😀

Psikologi Warna

Psikologi Warna

Gambar yang lumayan menarik, terkait warna dan kaitannya dengan emosi yang ditimbulkannya.

Diambil dari http://www.colorisjoy.com/wp-content/uploads/2013/02/color-psychology-webs.jpg

Kalau dibagi ke dalam sebuah mata kuliah tertentu, kira-kira program studi apa ya yang meliput ini? Memanipulasi manusia menggunakan warna kelihatannya menarik juga, haha.

Musibah

Sesekali main di facebook, sekalian ngeberesin tugas yang belum kelar, dan ada seorang sahabatku yang mengeluarkan pernyataan sebagai berikut:

“Bencana itu pada dasarnya punya dua perspektif: pertama itu buatan manusia atau buatan alam; kedua itu hukuman dari Tuhan atau ujian dari Tuhan. Manusia bisa menganalisis dan menentukan yang pertama. Buat yang kedua, apa kepantasan kita untuk menilai manusia lain?”

Renungan yang lumayan tepat untuk malam ini, meski renungan kali ini kurang khidmat karena ada deadline yang harus dikejar, haha. Bagaimanapun juga, ini sudah sekitar tiga hari gunung kelud meletus, yang dampaknya juga secara tidak langsung kurasakan di bandung. Selama tiga hari ini aku tidak mampu bertahan di luar kamar kosanku terlalu lama tanpa membuat mataku menjadi perih, yang kucoba atasi hanya dengan meningkatkan intensitas kedipan mata karena khawatir bahaya yang timbul akan lebih banyak. Turut bahagia karena rahmatNya dalam bentuk hujan turun di sore hari ini, momen pertama aku bisa keluar tanpa menyakiti mata karena partikel-partikel yang dikeluarkan letusan tersebut terbawa turun ke tanah oleh air hujan. Pertama kalinya juga bisa nyaman beraktivitas tanpa masker, padahal tadi siang saat mencari colokan pipih untuk persiapan aktivitas di jepang debunya masih membuat mata sakit, alhamdulillaah 😀 Sayang colokan pipihnya belum ditemukan, setidaknya sudah mendapat pinjaman kupluk dan syal lah, semoga lancar 😀

Bagian pertama, siapa yang dapat disalahkan dalam bencana ini, manusia atau alam? Pertanyaan ini tergolong mudah dijawab. Dari mana sumber api penyebab kebakaran di kompleks pasar A? Apakah dari arus pendek perlengkapan elektronik seorang pedagang ataukah sambaran petir di dekat lokasi kejadian? Kita umumnya akan tahu bahwa alam sedang berulah dalam bencana seperti angin topan dan tsunami, dan kita juga umumnya akan tahu manusia yang salah jika ada bencana macam banjir karena tata kelola air yang kurang baik atau rubuhnya sebuah bangunan saat alam sedang tenang. Oke, mungkin memang tiap manusia punya metode yang berbeda dalam menyikapi terjadinya bencana, ada yang berusaha bangkit dan menolong korban yang lain meski dirinya turut menjadi korban, ada yang terpaku dan termangu karena tidak tahu apa lagi yang dapat dilakukan, ada yang merutuki nasib, ada yang mencari kambing hitam apapun yang dapat disalahkan seolah semua akan berubah jika ada pihak yang mengakui dirinya bersalah (yah, dalam beberapa kasus memang harus diakui, tuntutan ganti rugi jumlahnya tidak sedikit), masih banyak lagi jenis respon yang dapat diberikan oleh manusia jika dirinya terkena sebuah musibah seperti bencana. Namun, kita semua dapat mengetahui siapa yang salah, kondisi alam ataukah manusia.

Berbeda dengan hal yang kedua, ini hukuman atau ujian dari Allah? Hm, selagi menunggu proses instalasi dialux selesai di laptop sahabat sekosan (yang kadang kumanfaatkan untuk nugas karena beberapa faktor), meracau tentang ini kelihatannya seru juga.

Jadi ingat kondisi serupa yang terjadi hampir sedekade yang lalu, saat tsunami melanda provinsi paling utara dari indonesia. Aku masih lumayan ingat bagaimana situasi saat itu di tempat domisiliku, karena saat itu semuanya berubah. Semua stasiun televisi seolah berlomba untuk menyalurkan bantuan ke provinsi tersebut yang nominalnya besar sekali, tiap stasiun menunjukkan nilai angka yang berkisar antara delapan hingga sembilan digit angka, saat itu aku sempat berpikir bahwa dengan sumbangan sebanyak itu tiap orang bisa bertahan hingga kondisi disana kembali aman dengan menggunakan data harga makanan dan aqua galon isi ulang yang ada di dekat rumahku. Yah, memang agak sulit mengharapkan anak kecil tahu harga infrastruktur kota yang nilainya bisa mencapai 10 digit uang rupiah, apa lagi jika kerjaannya hanya makan, jajan, main dan tidur, haha.

Dan salah satu hal lain yang kuperhatikan berubah adalah topik ceramah shalat jumat. Aku ingat bahwa topik ceramahnya lumayan sering membahas bencana tsunami tersebut, dengan mengatakan bahwa bencana tersebut merupakan azab yang ditimpakan pada daerah tersebut karena kaum muslim disana merayakan hari raya umat beragama lain secara berlebihan. Entah karena pengaruh dari serial hidayah yang sedang diputar di sebuah stasiun tv atau memang pembicaraan azab dan siksa kubur sedang ramai saat itu, yang jelas teori ini sering dibicarakan, setidaknya aku lumayan yakin teori ini kudengar di lebih dari dua khutbah jumat. Dan saat guruku berargumen bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan oleh Yang Maha Penyayang, dan semua kejadian yang ada di dunia saat ini dapat diprediksi secara saintifik, aku merasa senang. Entah kenapa, mungkin karena saat itu aku juga tergolong nakal–jumlah furnitur yang rusak karena aku dan saudara-saudaraku bermain bola di dalam rumah sudah tidak bisa dihitung dengan jari tangan satu manusia–jika hukumannya berupa musibah yang menyebabkan kematian atau cedera berat, hm, kedengarannya bukan hal yang diinginkan oleh anak kecil kan?

Aku sempat lupa peristiwa itu sebelum beberapa waktu yang lalu khutbah jumat kembali mengangkat tema tersebut. Namun, khutbah jumat beberapa pekan lalu tersebut menurutku lebih bijak, dengan mengklasifikasikan sebuah peristiwa kedalam tiga jenis bagi orang yang mengalaminya, yaitu azab, anugrah dan cobaan atau pengingat. Sederhananya, jika orang yang sering berbuat jahat meninggal saat musibah sebelum sempat bertobat, itu adalah azab. Jika orang yang sering berbuat baik meninggal saat musibah (saat sedang melakukan perbuatan baiknya), itu adalah anugrah. Sementara bagi orang-orang yang selamat dan orang-orang yang mengetahui terjadinya peristiwa tersebut, itu adalah cobaan atau pengingat. Pembagian ini menurutku lebih adil daripada penilaian secara sepihak dengan menggunakan prasangka yang kuungkap sebelumnya.

Dan saat ini pun aku agak bingung, untuk apa kita mempertanyakan apakah suatu hal merupakan azab, anugrah, cobaan atau pengingat dari-Nya? Bukankah semua tergantung pada diri kita, jika sebuah musibah menimpa diri kita, akan kita jadikan apa musibah tersebut. Jika ingin musibah tersebut menjadi azab, teruslah berbuat buruk, mungkin musibah itu akan datang saat perbuatan buruk sedang berlangsung. Jika ingin menjadikan musibah tersebut sebagai anugrah, dengan logika yang sama, teruslah berbuat baik. Dan jika ingin menjadikan musibah itu sebagai cobaan atau pengingat, kita perlu belajar untuk menghadapinya dengan baik bukan? 🙂

Pertanyaan

Mana yang lebih banyak di semesta ini, jumlah pasir dan debu di bumi (baik di permukaan ataupun di bawah tanah) atau jumlah bintang yang ada di langit? Hahaha, tetiba terpikir pertanyaan itu setelah mengunjungi salah satu web yang ada di bookmark, http://xkcd.com/, sebuah webcomic (komik di internet) yang membahas sarkasme, matematika (dan teknologi), bahasa (termasuk bahasa pemrograman) dan romansa. Oke, mungkin agak terkesan “geeky” dan “nerdy”, atau memang kesannya begitu. Tapi menyenangkan membacanya, sejak mengikuti ini sekitar setahun lebih, selalu ada ilmu atau wawasan baru yang kudapat, meski aku sendiri masih mempertanyakan kebermanfaatannya, ah, sudahlah. Ilmu tetaplah ilmu, cara menggunakannya adalah masalahmu.

Salah satu tab yang sering kubuka adalah tab “What If?” di http://what-if.xkcd.com/, yang menjawab pertanyaan terkait kondisi asal tergantung imajinasi penanya dengan simulasi dan ilmu eksak. Yah, dari web ini setidaknya kekhawatiranku adanya invasi dari pasukan robot yang lepas dari kendali manusia seperti di film-film berkurang, bahkan hampir hilang. Hei, ketahuilah bahwa para peneliti pun masih kesulitan untuk membuat robot yang dapat bergerak secara terus-terusan. Selain itu, robot menggunakan bahan bakar yang tidak sedikit, selama kita bisa menemukan tempat persembunyian yang tepat dan bersembunyi dalam waktu yang lumayan lama, bahan bakar akan segera habis sebelum pasukan robot sempat merancang pembangkit listrik baru. Setidaknya mengingat pembangkit listrik tenaga surya belum bisa memberi tenaga dalam jumlah besar, pembangkit listrik tenaga air berada di tempat yang sulit terjangkau dan kondisi masih seperti yang digambarkan di http://what-if.xkcd.com/5/, percayalah, itu hanyalah paranoia.

Ah, akhir-akhir ini tugas sudah bertambah banyak, dan persiapan ke jepang juga harus diurus lebih serius, mengingat perkataan temanku bahwa di jepang koneksi wifi tidak terlalu banyak jumlahnya, kelihatannya akan lebih aktif di dunia nyata hingga pekan pertama maret, dan tulisan hanya menjadi ide-ide gila di kepala atau disimpan di laptop dan diunggah hanya saat sedang ingin saja. Tapi sebagai manusia, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan gila yang seolah untuk menuntut dijawab, seperti pertanyaan tadi yang mungkin tidak ada gunanya sama sekali, apa gunanya mengetahui jumlah pasir yang ada di bumi dan jumlah bintang yang ada di semesta? Otakku sih sudah bertanya lagi kenapa orang yang menemukan bintang punya hak untuk memberi nama bintang tersebut dan pasir tidak ada yang diberi nama? Oh, sayang, shalat jumat kurang dari setengah jam lagi, tidak bisa membuat racauan yang panjang.

Oke, mari meracau dengan singkat, banyak sekali pertanyaan yang dapat timbul. Dari pertanyaan absurd tentang semesta, pertanyaan galau tentang perasaan, pertanyaan bingung tentang ketidaknyamanan dan berbagai jenis pertanyaan lainnya. Lalu aku mencoba mengingat pada jaman dahulu, saat islam baru mulai diturunkan, semua orang bertanya pada Rasulullah saw mengenai ini dan itu, ada yang bertanya mengejek, ada yang bertanya penasaran, dan Rasulullah pun belum bisa menjawab semuanya saat ditanyakan, seperti pada surat Al-Kahfi yang menceritakan saat Rasulullah ditanya tentang ashabul kahfi. Dan orang-orang mukmin pun dipesankan untuk bertanya saat Al-Quran diturunkan agar tidak merepotkan Rasulullah saw, aku lupa di surat mana ayat berapa, kebiasaan mengingat data dan melupakan sumber kadang memang tidak terlalu dapat dipercaya, sangat disayangkan.

Tapi dari sekian banyaknya pertanyaan yang kita punya, mungkin tidak semuanya akan terjawab dengan benar saat kita hidup. Coba tanyakan standar cantik bagi orang mesir di zaman dahulu, karena orang di zaman ini tidak terlalu suka pada wanita dengan keliling lingkar perut yang panjang (atau kita sebut gemuk) yang dahulu sangat populer di mesir karena dianggap dapat punya banyak anak. Teori bumi itu datar seperti pizza atau geosentris (semua benda langit mengelilingi bumi) pun dulu juga ramai dibicarakan dan dipercaya sebelum teori yang saat ini kita percaya dibuktikan. Bukan berarti orang jaman dahulu bodoh atau semacamnya, itu hanya solusi yang mereka dapatkan dari apa yang mereka perhatikan sehari-hari, mungkin di masa depan generasi ini juga akan dianggap begitu. Mungkin saat ini organisasi ini masih begini, pelajaran ini masih membahas sebatas itu, daerah ini masih seperti itu saja, tapi seiring bertambahnya pertanyaan semua akan berubah.

Dan perlu kita ketahui, dari sekian banyaknya pertanyaan yang ada saat ini, mungkin tidak semuanya ditakdirkan untuk terjawab saat ini juga. Mungkin kita tidak akan pernah tahu teknologi yang lebih maju daripada internet seperti apa, mungkin kita tidak pernah tahu perasaan orang yang kita suka seperti apa, mungkin kita tidak tahu bagaimana cara orang-orang berkompromi dengan situasi dimana mereka harus memulung untuk bertahan hidup, dan ada banyak sekali hal yang mungkin tidak akan pernah kita ketahui. Tapi, bukankah menemukan jawabannya, terlepas dari benar atau salah, membawa kesenangan tersendiri? 🙂

Ya, mungkin tidak semua pertanyaan ditakdirkan untuk terjawab, tapi menikmati sisa hidup yang ada dengan berusaha mencari jawabannya juga bukan pilihan yang buruk kan?

Pengingat: Gunung Kelud

“Gunung kelud meletus.”

Pesan itu masuk ke grup whatsappku pagi ini, lumayan kaget juga saat mengetahui solo sudah diselimuti abu dari gunung yang terletak di perbatasan kediri dan kabupaten malang itu. Lumayan jauh ya persebaran abunya. Lebih baik memeriksa apakah ada kawan-kawan di organisasiku yang lain, apakah ada yang terkena efek buruk dari letusan tersebut atau tidak. Saat beberapa responden mengatakan aman atau hanya terkena abu, terlintas pikiran alhamdulillah, yang sekarang malah membuatku merasa bersalah.

Jadi ingat temanku juga pernah mengalami pemikiran serupa, saat itu ada kecelakaan kereta di jakarta, dan ada nama korban jiwa yang sama dengan nama sahabat dari temanku itu di kampusnya. Karena khawatir, temanku itu langsung memeriksa media sosial dari sahabatnya itu, dan bersyukur karena ternyata temannya masih ada dilihat dari aktivitas media sosial yang tidak terhenti, kelihatannya yang meninggal hanyalah orang dengan nama yang sama. Dan saat itulah temanku itu terpikir, meskipun yang meninggal orang lain, tapi tetap saja yang dibicarakan adalah nyawa, pasti ada orang yang sedih karena itu juga. Apakah mensyukuri karena korban yang meninggal itu bukan kenalan kita adalah hal yang layak untuk dilakukan?

Pemikiran yang sama terlintas di benakku sekarang, ya, aku jahat untuk sempat mensyukuri fakta tersebut. Laporan berita yang terakhir kuterima dari temanku adalah 1 orang meninggal dan banyak warga yang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Yah, memang aku pernah mendengar bahwa musibah merupakan azab, pengingat dan anugrah, tergantung pada apa yang dilakukan manusia saat musibah tersebut terjadi. Dan bagi kita yang terkena atau yang selamat, bukankah ini mengingatkan kita bahwa ada kekuatan yang tidak bisa kita prediksi? Dan mengutip perkataan dari film House, “mungkin benar bahwa tidak ada orang suci yang tidak punya masa lalu, tapi tidak ada juga pendosa yang tidak punya masa depan”, bukankah itu fungsi pengingat? 🙂

Mungkin bersyukur karena bukan kita atau kenalan kita yang terkena pengaruh dari musibah ini bukanlah hal yang pantas dilakukan, ada orang yang merutuki nasib karena dia atau orang yang dia sayangi terkena pengaruh buruk dari musibah seperti itu, dan mungkin rela melakukan apa saja agar musibah yang dia terima dapat dipindahkan ke orang lain, siapapun itu. Setelah dipikir lagi, mungkin memberikan uluran tangan melalui bantuan atau dana–sebagai ungkapan syukur karena selamat dari musibah ini dan menunjukkan bahwa korban bencana tidak sendirian–merupakan hal yang lebih pantas untuk dilakukan bukan? Percayalah, tidak akan lama sebelum lembaga-lembaga yang biasa menyalurkan bantuan ke daerah yang terkena bencana bergerak, menyumbanglah di tempat yang dapat dipercaya 🙂

Sia-sia?

Sia-sia?

Pernah terpikir untuk menyayangkan keputusan kita untuk berhenti dari suatu tujuan hanya karena ada kemunduran dalam apa yang kita lakukan, entah apakah karena usaha kita tak kunjung membuahkan hasil yang diinginkan, tidak ada kemajuan atau bahkan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan?

Kata-kata ini menurutku lumayan menggambarkan situasi yang dihadapi 🙂