Orang-orang yang Terlupakan

Ada perasaan menyesak saat mengetahui bahwa orang-orang yang selama ini kita lupakan merupakan orang-orang yang paling peduli dengan diri kita, meskipun hanya mampu menyatakannya melalui doa dan harapan akan kebaikan bagi diri kita. Bukan karena orang-orang yang dekat tidak peduli, tapi lebih ke rasa bersalah karena kita tidak menempatkan orang-orang tersebut sebagaimana orang-orang tersebut menempatkan diri kita.

Entah apakah dapat digeneralisir, tapi itu lah yang terpikir olehku saat kemarin dihubungi oleh juniorku di rohis smaku, yang meminta bantuan untuk dihubungkan dengan beberapa sahabat seangkatanku. Dan saat bertukar kabar sejenak baru lah kuketahui kalau dia sedang sakit. Saat berbasa-basi sembari mendoakan cepat sembuh dan menyemangati, dia pun merespon “Nothing to worry about, inshaa Allah kak ….. (nama kawan yang dia minta bantuanku untuk dihubungkan) & kak Laksma are in my prayer always”.

Well, mengingat selama ini aku tidak pernah memasukkan dia dalam doa, merasa agak aneh saat mendengarnya. Tidak ada masalah pribadi, memang aku jarang mendoakan orang lain secara khusus, hanya beberapa orang yang menurutku butuh saja. Berusaha mengingat nama begitu banyak orang dan masalahnya masing-masing dalam waktu yang terbatas itu lumayan menyulitkan, lebih menyenangkan mendoakan hal yang general dan dapat dirasakan oleh semua orang. Sekali doa semua termohonkan, efisien bukan?

Dalam The Kite Runner, Khaled Hosseini berpendapat bahwa ada beberapa orang yang menganggap orang lain selalu mengatakan kebenaran atau bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Iya, mungkin tidak selalu begitu. Mungkin dia hanya terbawa suasana dan tidak sengaja salah kata. Tapi entah bagaimana, begini saja sudah memberikan bahan pemikiran, apalagi kalau dia bersungguh-sungguh.

Belum lama ini ada juga temanku yang merasa terabaikan. Meskipun dia punya orang-orang yang dia anggap penting, namun orang-orang itu terkesan tidak menganggap dia seperti itu juga. Merasa terkucilkan. Tahu perasaan itu? Dimana harusnya kamu merupakan bagian dari sebuah kelompok, namun entah mengapa kamu tidak dapat merasa dirimu bagian dari kelompok itu.

Entah ya, mungkin ini semacam teguran untuk memperhatikan orang-orang, khususnya yang dekat dengan kita. Entah sahabat di organisasi, kawan di lab sebelah, orang yang pernah berkomunikasi, well, mungkin agak repot bagi orang-orang yang populer dan memiliki banyak hal untuk diperhatikan. Tapi mengingat silaturahmi adalah salah satu pintu rezeki, kenapa tidak menjaga hubungan baik? Setidaknya mungkin itu dapat meminimalisir perasaan aneh saat orang yang sudah lama tidak berkomunikasi tetiba menghubungi lagi, dan mengetahui bahwa dia menganggap kita berarti.

Amanah

Lelah. Yah, wajar bukan jika manusia merasakannya? Setelah ditunjuk jadi penanggungjawab dari program pasca aktivitas di jepang akhir bulan lalu, dengan selembar kertas A2 (atau A1? Ah, entah) berisi rangkuman apa yang perlu dilakukan dalam jangka waktu 1-3 bulan kedepan, kelihatannya aku tidak bisa berfokus pada Tugas Akhir sebanyak yang kuinginkan. Ya sudah, nikmati saja lah, jadi ingat perkataan seorang sahabat, “Mungkin kesibukanmu adalah cara-Nya menjagamu dari melakukan perbuatan buruk yang Dia benci”. Ya, kuharap begitu.

Temanku juga pernah berkata, “Gak apa lelah, yang penting lillah”. Perkataan yang kuragukan pernah kulakukan selama ini. Entah mengapa aku tidak pernah terpikir melakukan sesuatu karena apa, tidak ada alasan tertentu, hanya melakukan karena ingin saja. Dan aku lebih suka berpikir mengenai apa yang perlu dilakukan daripada berfokus pada kenapa perlu dilakukan, entah, perlukah kita mempermasalahkan sebuah kegiatan itu berguna atau tidak saat ingin melakukannya? Kalau ada yang ingin, silahkan, mungkin terinspirasi dari fiqih prioritas untuk memprioritaskan yang lebih sedikit bahayanya atau lebih banyak manfaatnya, sayangnya aku kurang paham akan hal itu. Entah, bukankah kita diperkenankan berbuat sesuka kita asal kita tidak lupa bahwa kita akan mempertanggungjawabkannya kelak?

Ah, sudah lah, bosan memikirkan amanah yang kuterima. Kemarin ada momen yang menarik di rumah belajar yang kuikuti, bagaimana kalau membahas itu?

Hal itu terjadi saat aku sedang mengingatkan beberapa orang anak untuk menjaga tindakannya. Ada beberapa yang menurut, ada beberapa yang menolak, seperti biasa. Dan umumnya aku menangkap anak-anak tersebut dan melarang mereka mengulang hal tersebut.

Memang ada beberapa orang yang mengatakan bahwa tidak boleh menggunakan kata negatif seperti “jangan” atau “tidak” pada anak kecil, tapi aku tidak terlalu mempedulikannya. Karena di masa kecilku pun aku mendengar beberapa kalimat larangan, dan aku tidak menganggap itu buruk. Sebagaimana saat aku kelas 2 sd dahulu, saat baru pindah ke ciledug, dimana sang imam tarawih membaca surat An-Naas terlalu panjang dan lama. Aku yang bosan mengambil inisiatif untuk membaca surat tersebut sendiri karena bosan menunggu imam menyelesaikan bacaannya, dan akhirnya aku pun mendahului imam. Setelah shalat, kakekku yang berada di sebelahku hanya berkata padaku bahwa tidak boleh mendahului gerakan imam. Sampai sekarang aku tidak pernah mendahului imam lagi. Aku juga pernah mencobanya ke seorang anak, saat dia sedang hobi memegang alat vital anak lain, entah siapa yang mengajarkan. Dan aku pun langsung menegur dia bahwa itu tidak sopan dan tidak boleh dilakukan, setidaknya sudah lebih dari setengah tahun dan aku belum melihat dia melakukannya lagi. Itu satu-satunya kalimat larangan yang pernah kukeluarkan dan (semoga) efektif, aku penasaran bagaimana kakekku melakukannya. Kelihatannya kalimat larangan yang diberikan dengan cara atau pada waktu yang tepat punya pengaruh tersendiri.

Dan saat aku mencoba menarik janji pada seorang anak untuk tidak melakukan suatu hal lagi, si anak itu meronta dan berusaha melepaskan diri karena tidak mau melakukannya. Oke, sebuah tindakan yang menyebalkan disaat situasi sedang riuh dan perlu ditenangkan. Tapi setelah dipikir lagi, bahkan dari anak-anak yang biasa kita golongkan “anak nakal” pun tetap ada yang mengerti beratnya perkataan dan konsekuensi dari mengucapkan janji. Dan aku ingin bertanya, bagaimana dengan pemimpin saat ini?

Sejak SMA, aku lumayan sering bergaul dengan orang-orang yang siap menerima amanah hanya kalau mereka diamanahkan. Dan pola pikir tersebut melekat padaku hingga sekarang, semua amanah yang kuterima merupakan pemberian dari orang-orang yang percaya padaku. Karena itu pada awalnya aku sempat merasa heran pada orang-orang yang meminta amanah untuk dirinya, meminta orang lain untuk percaya padanya. Lihat saja poster-poster yang ada, orang-orang yang tidak kita kenal sama sekali tetiba mengeluarkan poster dan baliho raksasa yang meminta kepercayaan kita. Siapa mereka? Entah. Apakah mereka siap mempertanggungjawabkan janji dan kepercayaan tersebut? Tidak tahu. Well, setidaknya aku sedikit memahami kenapa orang memilih untuk golput.

Ah, kadang pelajaran dan teguran itu selalu ada dimanapun ya, baik terlihat jelas dibawah terangnya cahaya ataupun tersembunyi di dalam pekatnya kegelapan, tapi selalu ada, terutama jika kita mau mencarinya. Pembelajaran kehidupan. Entah apa yang menyebabkan semua ini, ada sahabat yang berkata bahwa kadang kita terlalu sibuk mengobati gejala, tapi lupa mengobati penyakit yang sesungguhnya. Dalam hal ini, entah apa penyakitnya, apakah hal yang sulit dibenahi seperti persepsi masyarakat dan sistem pendidikan, atau hal sederhana seperti pengakuan kepada sang anak yang dididik?

Entah lah, banyak yang perlu dikerjakan, baik bagi sang pemimpin yang akan terpilih ataupun bagi rakyat jelata yang terdidik untuk memperbaiki kondisi saat ini. Yaa, kita bisa diam, berharap ada orang lain yang sadar dan akan mengubah segalanya, tapi bahaya juga kalau semua orang menunggu sosok yang siap mengubah itu. Karena itu, kenapa kita tidak mulai menarik trigger perubahan? Entah bagaimana akhirnya memang, tapi playlist entah kenapa sedang tepat untuk menyemangati, dengan lagu tidal wave dari owl city.

The end is uncertain and I’ve never been so afraid
But I don’t need a telescope to see that there’s hope
And that makes me feel brave

The Heartsmith

The Heartsmith

At first I thought that this will be just another story of love and romance, but it’s getting literal.

Well, the ending is quite nice I suppose 🙂

There are some people who keeps helping the others. Although most people don’t remember them, even those they helped. But for some person, there are some other people that know their stories and always appreciate them.

They matter 🙂

Negara dan Agama

Ah, aku sedang ingin meracau. Belum lama ini membaca sebuah tulisan berjudul “Negara (Tanpa) Agama”, tentang bagaimana kehidupan muslim di Amerika sana, yang katanya tidak se”seram” gambaran di beberapa media. Karena aku belum pernah melihat kondisi disana, aku tidak bisa berkomentar banyak, meski memang kuakui sulit untuk percaya pada media–terutama di Indonesia–saat ini, setidaknya itu kesimpulanku setelah mengunjungi jepang dan mendengar cerita dari muslim di prancis (saat Muslim Show berada di Bandung).

 

Di masa perpolitikan seperti ini, sering kita dengar “Negara dan Agama itu tidak boleh dipisahkan”. Ada benarnya kalau mau melihat ke zaman dahulu, selagi Negara dan Agama masih bersatu di jazirah Arab, tapi sekarang entah kenapa kalimat tersebut lebih terkesan berbau kepentingan politik partai berbasis islam yang menjadi umat mayoritas di nusantara, apa lagi saat pemilu semakin dekat seperti ini. Tapi, saat ini aku terpikir hal lain, apakah kita memisahkan Agama dengan Negara? Ambil contoh yang sederhana saja, masjid. Saat ini mayoritas masjid yang pernah kutemui hanyalah sebuah bangunan besar tempat untuk wudhu dan shalat. Aku tidak mengatakan semuanya begitu, tapi harus diakui bahwa kebanyakan seperti itu. Aku mencoba melihat peran masjid pada jaman Rasulullah dahulu di internet.

 

Dan hasilnya, well, bisa ditebak, banyak. Salah satu situs yang mungkin dapat dijadikan rujukan adalah http://pajatangka.wordpress.com/2012/08/05/fungsi2-masjid-pada-zaman-rasulullah-saw/ dan http://suffahstudy.blogspot.com/2011/02/peranan-masjid-di-zaman-awal.html?m=1, artikelnya setidaknya mencantumkan nama ulama yang dijadikan rujukan, meskipun sebetulnya memasukkan kata kunci peran masjid jaman Rasulullah pun juga akan menemukan banyak artikel serupa 🙂

 

Salah satu hasil yang kudapat menyatakan bahwa peranan masjid pada zaman Rasulullah intinya adalah sebagai tempat ibadah, pusat pemerintah, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan ekonomi. Oke, kira-kira berapa banyak masjid yang mencakup hal ini? Jika kita melihat masjid-masjid di dalam sekolah, mencakup kantin, tempat pendidikan dan riset (apalagi jika ekskul KIR di sekolah tersebut aktif), budaya, kesehatan (PMR dan DoCil), hm, cuma kekurangan fungsi pusat pemerintahan sepertinya, berbeda dengan beberapa masjid di luar sekolah yang kutemui. Tapi memang, itu adalah asumsi jika sekolah lah yang dimiliki oleh masjid, bukan masjid yang dimiliki oleh sekolah. Dan itu pun hanya terjadi jika ada masjid di dalam sekolah, agak miris karena sempat mendengar kabar bahwa masjid di beberapa sekolah telah dihancurkan. Sudah agak lama memang, tapi tetap saja tindakan tersebut patut disayangkan.

 

Dalam pendapat idealku, aku akan mengajukan Masjid Al-Azhar di Jakarta Selatan, Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat dan Masjid Salman di ITB sebagai masjid termirip dengan kriteria masjid jaman dahulu tersebut. Aku yakin masih banyak masjid serupa namun belum kutemukan (atau aku lupa) saja. Aku memilih ketiga masjid itu karena dari apa yang kulihat, masjid itu hidup. Tidak hanya hidup dari orang-orang yang shalat, berzikir dan kajian islam saja, tapi juga hidup dengan berbagai kegiatan lainnya.

al-azhar

Masjid Al Azhar Kebayoran Baru

Sumber Gambar: http://simbi.bimasislam.com/simas/public/upload/images/medium/al-azhar.jpg

Masjid Al Azhar terletak di kompleks Sekolah Al Azhar, yang lantai 7nya menjadi tempat pelatihan OSN Fisika saat aku mengikutinya, kerepotan dan kegemporan saat naik-turun tangga karena liftnya penuh itu kenangan yang unik, haha. Tapi kegiatan masjid ini beragam, sebut saja Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan kegiatan sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, tentu selain kegiatan ibadah shalat harian yang rutin dilakukan, masjid ini hidup. Setidaknya itu juga yang kurasakan meskipun daftar kegiatan disini kukutip dari http://simbi.bimasislam.com/simas/index.php/profil/masjid/60/?tipologi_id=6, haha.

masjid-istiqlal

Masjid Istiqlal Jakarta Pusat

Sumber Gambar: http://travelerfolio.com/jakarta-holiday-itinerary/

 

Masjid istiqlal, yah, tidak kalah. Masjid terbesar se-Asia Tenggara ini juga memiliki lantai dasar seluas 2.5 hektar sebagai tempat perkantoran, ditambah dengan berbagai fasilitas seperti Koperasi, Taman Kanak-Kanak dan Poliklinik, serta berbagai lembaga keagamaan yang berpusat disana, sebut saja Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII), Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) tingkat nasional, Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI), dan masih banyak lagi, seperti yang dituliskan pada http://wisatasejarah.wordpress.com/2009/09/07/sejarah-singkat-masjid-istiqlal/. Haha, meskipun sempat mengunjungi tempat tersebut beberapa kali, baru sekarang berminat pada aspek kenegaraan dari masjid, jika diberi kesempatan lagi untuk main ke Al-Azhar Kebayoran Baru dan Istiqlal semoga sempat (dan ingat) untuk memeriksa kebenaran situs-situs diatas.

 

39943383

Masjid Salman ITB

Sumber Gambar: http://www.panoramio.com/photo/39943383

Yang terakhir adalah Masjid Salman ITB, yang lumayan sering kukunjungi karena selain merupakan masjid di universitasku, aku juga berdomisili tidak jauh dari masjid itu. Dan yah, bisa dikatakan untuk yang ini aku bisa mendeskripsikan lumayan baik meski tanpa mengacu pada sebuah situs. Masjid ini memiliki dua buah tempat makan (Kantin Salman dan baru-baru ini Restoran Saji Kelinci turut buka lapak disana) dan beberapa pedagang kaki lima yang turut menjajakan dagangannya di daerah Salman, sebuah Minimarket (Toko ISTEK Salman), daerah perkantoran (dari tempat fotokopi dan print, toko obat-obatan herbal, hingga tempat lensa dan busana jilbab), sebuah asrama (yang area ikhwan dan akhwatnya terpisah), sebuah aula dan beberapa ruang rapat, serta sebuah gedung kayu yang dijadikan sekretariat bagi para badan pengurus masjid dan organisasi kemahasiswaan atau unit yang berpusat di Masjid Salman. Ya, bukan berpusat di ITB, tapi berpusat di Salman. Mahasiswa yang terdaftar pun lintas universitas, tidak hanya dari ITB saja, Unpad, UPI, Unpar, Unisba, Polban, UIN dan beberapa universitas lain di Bandung punya mahasiswa yang beraktivitas disini. Dan tiap hari, selalu ada kegiatan, baik itu berupa kajian keislaman, belajar bersama baik dalam bentuk les ataupun tidak, aktivittas unit Salman, dan masih banyak lagi. Dalam hal kemegahan, mungkin Masjid Salman memang tidak semegah kedua masjid yang dijadikan pembanding di awal, namun dalam menilai “hidup”nya masjid, dapat kukatakan masjid ini tidak kalah dari kedua masjid itu.

 

Kadang agak sedih melihat masjid-masjid yang hanya terisi saat adzan berkumandang saja, apalagi jika hanya sedikit orang yang mengisinya. Jika para organisasi politik berbasis islam memiliki kesibukan meneriakkan “Negara tidak bisa dipisahkan dengan Agama” selama dua tahun (saat Pemilihan Kepala Daerah hingga Pemilihan Presiden), bagaimana jika tiga tahun berikutnya digunakan untuk membuktikan bahwa Agama memang tidak bisa dipisahkan dengan Negara? Ramaikan dan hidupkanlah masjid, akan lebih baik lagi jika masjid-masjid yang ada dikembangkan menjadi pusay perekonomian di lingkungannya, sehingga saat ada wacana masjid ingin dirubuhkan, warga akan bersatupadu menentang perubuhan bangunan yang bermanfaat bagi mereka. Jika telah ada kegiatan serupa, kembangkanlah! Karena aku sebagai warga biasa saat ini masih belum merasakan manfaatnya, dan agak sayang jika kegiatan tersebut terhenti separuh jalan bukan? 🙂

 

Memang masjid bukanlah satu-satunya hal dimana Islam berperan dalam mengatur hidup kenegaraan. Akan menarik jika ada yang berminat untuk membahas Sedekah, Zakat dan Baitul Maal yang punya peranan penting dalam perekonomian masyarakat di masa lalu, yang sayangnya saat ini kurasa peranan pentingnya tak terlihat lagi. Selain itu, mungkin ada juga yang perlu menjelaskan tentang hukum syariah. Mungkin memang media luar terlalu membesar-besarkan “hukuman potong tangan jika mencuri” tanpa menilai kondisi yang berlaku saat hukuman tersebut diberikan. Hei, bukankah ada cerita dimana orang yang sangat kaya dihukum ketika mufti (hakim) melihat tetangganya yang sangat miskin mencuri dari dirinya? Selain itu, hukum syariah juga sepengetahuanku memiliki aturannya tersendiri bagi orang-orang yang bukan muslim untuk memperoleh ketenangan dalam kehidupannya di negara tersebut, sayang aku tidak bisa berbicara banyak tentang itu, keterbatasan ilmu. Belum sempat mencaritahu lagi saat ini, ada yang berminat membahas atau menuliskannya mungkin? Karena bagaimanapun, aku hanyalah pengamat kehidupan yang masih amatir, dengan ilmu yang sangat sedikit tapi penasaran terhadap apa yang akan terjadi jika begini dan begitu 🙂

Sikap Baik

Sikap baik adalah sesuatu yang tak akan disesali oleh seseorang. Kau tak akan berkata pada dirimu sendiri saat tua nanti, “Ah, seandainya saja aku bersikap tak baik pada orang itu”. Kau tak akan pernah berpikir begitu.

And The Mountain Echoed-Khaled Hosseini

Baru saja selesai membaca novelnya, resolusi yang ditawarkan bagus, dan salah satunya terkutip diatas. Pesan tentang keluarga dan identitas dirinya ngena. Entah kenapa novel kali ini terkesan lebih emosional, tapi worth it laah 😀

Dan sekarang jadi terpikir, benar kah kita tak akan berpikir begitu? Tiap orang punya tindakan yang dia sesali, tapi mungkinkah dia tidak akan menyesali kebaikan?

Dan mungkin sesekali kita perlu bertanya pada diri sendiri, menyesalkah kita akan perbuatan baik yang pernah kita lakukan?

Dan kalau jawabannya tidak, mengapa tidak melakukannya lagi? 🙂

*Laks, tolong, berbaikhatilah pada dirimu sendiri dan selesaikan laporan dalam bahasa inggris serta uts tentang akustik ruang kelas, sebelum semuanya terlambat :l

Permohonan Tanpa Pengetahuan

[Nuh] berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (memberi) belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan masuk orang-orang yang merugi.”

QS Hud (11) : 47

Ah, Allah selalu mengingatkan di waktu yang tepat ya, nyaris saja meminta sesuatu yang tidak kuketahui ilmunya :’)

Merasa diingatkan, kadang kita suka memohon akan sesuatu yang kita tidak punya pengetahuannya ya. Memohon cepat lulus, memohon cepat kerja, memohon usaha sukses, memohon cepat nikah, memohon jadi juara lomba, memohon dapat beasiswa, memohon cepat punya anak, banyak ya.

Tidak bermaksud mengatakan itu salah, karena memang tidak ada yang salah dengan menginginkannya. Hanya sekedar mengingatkan, bukankah semua lebih baik dilakukan saat setidaknya sudah ada gambaran ilmunya atau yang diminta itu seperti apa?

Beberapa kawanku sudah lulus dan tidak tahu mau berbuat apa, sudah menikah–khususnya dengan seseorang tertentu–dan (kabarnya) sudah bercerai tak lama setelah itu, sudah diterima di pekerjaan yang sudah sejak lama dia idam-idamkan dan berhenti tidak lama setelahnya karena beberapa hal yang meengecewakannya, sudah memohon pinjaman bank untuk memulai usaha tapi terlibat masalah besar karena beberapa hal yang terlambat dia ketahui. Entah apa penyebabnya, tapi agak miris memperhatikannya.

Tapi jika memang benar-benar menginginkannya, kenapa tidak mulai mempelajari ilmunya dan menspesifikkan keinginan itu sejak saat ini? Masih ada waktu kan? 🙂

Profile Picture

Tetiba buka catatan-catatan lama yang belum dihapus selagi blog belum aktif lagi. Dan kebetulan menemukan tulisan ini, yang entah bagaimana sangat sesuai dengan topik bahasan tadi. Setidaknya di tengah kesibukan saat turun dari organisasi, ada dokumentasi selain pemikiran tentang ciTA, cinTA, air maTA, dan perjuangan untuk harTA, tahTA dan waniTA. Ck, sebenarnya bukan cuma itu topik yang ada, namun di tengah kesibukan TA yang mencakup semua pemikiran itu, topik-topik itu malah sering terlintas dalam pikiran. Haruskah aku menggalaukan TA yang kukerjakan sekarang? ._.

Ah, sudah lah.

————————————————————————————–

Orang yang terhubung denganku di dunia maya mungkin akan sadar bahwa aku punya kecenderungan menggunakan profile picture yang sama di tiap media sosial.

164645_10200169267927402_1433309774_n

Dan sempat ada sahabatku yang menanyakan kenapa aku menyukai gambar yang suram seperti ini, hahaha.

Entah kenapa, aku menyukainya. Aku masih menganggap sosok yang keren itu tidak selalu merupakan tokoh yang selalu tampil menjadi pusat perhatian dengan semua cahaya menyorot padanya, dimana tingkahlakunya diperhatikan dan dicontoh oleh banyak orang, kata-katanya mampu menginspirasi dan menggerakkan ribuan aksi, kharismanya mampu mempengaruhi semua khalayak di sekitarnya. Ya, mereka memang keren dalam caranya tersendiri, tapi aku menganggap ada yang lebih keren daripada mereka, setidaknya menurut pendapat pribadiku. Hei, tiap orang punya kebebasan untuk berpendapat kan?

Orang-orang yang kumaksud adalah mereka yang terus berjuang di tempat yang tidak tersorot cahaya. Mereka yang terus berjuang walaupun minim mendapat apresiasi dari massa, mereka yang menyembunyikan sebagian besar tindakan baiknya dan mungkin hanya menampilkan sebagian kecil untuk dijadikan pelajaran bagi orang yang memperhatikan, mereka yang terus memberikan manfaat yang dinikmati oleh banyak orang tanpa disadari keberadaannya, mereka yang berjuang dengan caranya tersendiri untuk menebar kebaikan.

Dan mereka sering kita temui atau lewati. Sebagaimana jantung yang tak terlihat tapi terus berdetak dan memberikan kesempatan untuk memberi makna pada kehidupan, coba lihat penyapu jalan atau pengemudi truk sampah yang terus memperjuangkan kebersihan kota, para pekerja di tempat daur ulang sampah dan para penguji batas emisi yang berusaha menekan jumlah polusi, para guru dan dokter yang mengabdikan dirinya di tempat terpencil demi kesejahteraan hidup warga disana, orang-orang dengan tindakan heroik yang tidak terpublikasi, orang-orang yang bertahan memperjuangkan apa yang dia percaya saat orang-orang mulai kehilangan harapan dan mundur satu persatu, dan itu hanya sebagian kecil dari sosok-sosok hebat yang mungkin terlewatkan dari penglihatan kita.

Tidak sedikit yang berkata bahwa saat ini kegiatan baik harus terus dipublikasikan, untuk mengimbangi jumlah kegiatan buruk yang sudah tercatat di media. Ada benarnya. Tapi semua orang punya caranya tersendiri untuk memberikan manfaat, tidak masalah jika cara mereka adalah memperlihatkan kebaikannya agar bisa ditiru oleh orang lain, tapi mungkin tidak semua menyukai metode tersebut. Dan dalam kasus itu, bagaimana jika orang-orang yang mampu menunjukkan kebaikan menambah jumlah kebaikannya untuk menutupi orang-orang yang tidak ingin terungkap amalan baiknya? Memang mungkin akan muncul berbagai kesan seperti pencitraan dan mencari muka, namun apa salahnya melakukannya dalam kebaikan?

Yang kusuka dari gambar tersebut adalah keberadaan sosokku di tengah cahaya yang suram, melihat ke arah orang-orang baik yang sedang tersorot cahaya terang. Aku sudah kehilangan minat untuk mengikuti mereka masuk ke dalam sorotan cahaya itu, sudah bukan waktunya. Tapi aku yakin mereka yang berada di tempat dengan intensitas cahaya yang tinggi akan mengalami kesulitan untuk melihat segala hal yang ada di tempat dengan intensitas cahaya yang lebih rendah, berbeda denganku yang sudah terbiasa dan mampu melihat segala hal yang ada di tempat dengan intensitas cahaya yang setara atau lebih tinggi. Seperti bagaimana pencahayaan sebuah ruangan memberikan privasi bagi orang-orang di zona yang lebih suram dibandingkan dengan zona lain yang mengelilingi zona tersebut. Setidaknya aku bisa membantu mereka membereskan masalah yang luput dari pandangan mereka, membiarkan mereka berfokus menyelesaikan masalah yang mereka sadari.

Mungkin itu penyebab aku menyukai gambar tersebut. Sebagai pengingat terhadap hal yang bisa kulakukan. Dan juga sebagai pengingat bahwa ada orang yang berjuang dalam kegelapan yang lebih pekat dan memperhatikanku dengan pikiran serupa.