Trip to Kansai-Day 7&8

Numpang komputer di hostel, manfaatkan fasilitas lah yang didapat di hostel lah ya, selagi masih ada, haha.

Pengalaman kemarin itu menarik. Reunian dengan kawan-kawan dari WASEND di Waseda University di Kiyomizudera Temple, sayang hanya tiga orang yang hadir, kelihatannya yang lain punya rencana tersendiri untuk mengisi waktu di kyoto ini, toh kyoto memang terkenal dengan rumah-rumah tradisional ala Jepang jaman dahulu dan banyaknya shrine dan temple yang ada disini. Aku masih agak kesulitan untuk membedakan keduanya dengan sebutan kuil, karena shrine adalah tempat orang-orang shinto memohon sementara temple adalah tempat bagi orang buddha, agak berbeda bukan? Yah, biar lah, yang jelas sudah hampir setengah tahun sejak acara DRR Program di Yogyakarta terakhir kali kita bertemu. Hm, kalau dipikir-pikir Kyoto bagi Jepang mirip dengan Yogyakarta bagi Indonesia, pernah menjadi ibukota pemerintahan, masih kaya dengan tradisi budaya (di Kyoto kalau beruntung kita bisa melihat geisha, haha), hm, mungkin itu merupakan tema program pertukaran pelajar di tahun ajaran ini.

Yang jelas, di Kiyomizudera kita belajar tentang struktur dari kuil tersebut dan apa yang dilakukannya untuk memiimalisir kemungkinan terjadinya bencana, seperti bencana kebakaran dan tanah longsor. Nyatanya, kebakaran di temple ini sudah terjadi sepuluh kali lebih, bahkan ada suatu saat dimana kebakaran menghanguskan seluruh bagian temple selain gerbangnya. Selain itu, posisi temple yang terletak di puncak bukit juga menyebabkan temple ini rawan terhadap tanah longsor. Untuk mengatasinya, pemerintah kyoto melakukan rekonstruksi di beberapa bagian kuil secara berkala, saat kami berkunjung pun ada bagian yang sedang direkonstruksi. Fondasi yang kuat untuk meminimalisir kemungkinan bahaya longsor dan sistem perairan yang diatur sedemikian rupa agar dapat segera digunakan saat kondisi darurat seperti kebakaran melanda. Keren juga. Jadi terpikir, bagaimana sistem di Istiqlal ya?

Setelah itu kami pun berkunjung ke kampus Kyoto University di Uji, bertemu dengan ketua PPI disini saat ini. Kami mempersiapkan workshop yang akan dilakukan hari ini, berkenalan dengan profesor di bidang peningkatan kapasitas kebencanaan melalui permainan dari Lab pengurangan resiko bencana dan inovasi di Kyoto University yang permainannya juga sering digunakan BDSG dalam kegiatannya, Profesor Yamori atau Yamori-sensei. Kami juga berkenalan dengan beberapa murid bimbingannya yang juga akan melakukan presentasi pada workshop hari ini. Selain mendapat kenalan baru, Kak Hendi selaku ketua PPI juga bercerita terkait bagaimana urutan langkah mendapatkan beasiswa dan riset sebelum menjadi mahasiswa S2 disini, kita juga belajar banyak terkait biaya hidup dan kegiatan mahasiswa disini. Pelajaran yang berharga, tidak hanya di bidang kebencanaan memang. Ah, berkunjung ke berbagai tempat dan berdiskusidengan –atau setidaknya mengamati–berbagai jenis manusia memang menyenangkan.

Kejadian menarik terjadi sepulang dari Kyoto University itu, saat aku diundang untuk makan malam bersama di sebuah restoran yang sayangnya hanya menyediakan menu daging. Awalnya aku memesan kimchi karena mengira itu hanya menu sayuran biasa, satu-satunya menu tanpa daging dari semua menu yang ada, namun saat pesanan tiba barulah aku tahu bahwa ada daging yang disajikan juga. Memang itu daging sapi, namun sebagai orang y6ang tidak tahu bagaimana pengolahannya dilakukan, aku lebih memilih untuk tidak mengonsumsi daging selain daging hewan laut disini. Beberapa temanku memang membuat pengecualian untuk memakan apapun yang tidak mengandung babi, tapi entah kenapa aku tetap segan untuk mengonsumsi daging seperti itu. Padahal hanya aku di rombonganku yang tidak memakan nasi dan daging sapi, kelihatannya mereka juga tidak peduli aku memakannya atau tidak. Mungkin saat itu pun anggota kelompokku mungkin malah mempertanyakan kenapa daging di piringku tidak berkurang. Selain itu harga menu yang kupesan dua kali dari menu nasi dan daging sapi yang kuhindari, hampir mencapai 600 yen, sayang ya.

Dan akhirnya aku memutuskan untuk memberikan dagingnya kepada temanku yang percaya tidak apa untuk memakan daging yang kuanggap kurang jelas itu. Entah, bukan bermaksud menambah banyak tanggungjawabnya kelak, namun aku merasa sayang kalau dagingnya kubuang, setiap koin di Jepang sangat berharga, huhu. Dan sebenarnya sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika aku memilih untuk makan. Entah lah, mungkin tidak ada yang terjadi, dunia masih berputar, matahari masih bersinar… Tapi entah bagaimana denganku.

Pembelajaran hari itu entah kenapa kuanggap lebih sulit, membuat pilihan saat tidak ada orang yang peduli baik-buruknya selain kita. Belajar untuk menjaga kata-kata yang terucap, sebagaimana muslim yang menerangkan islam yang dia percaya dan dia terapkan kepada host family yang ditumpangi baru-baru ini. Belajar untuk konsisten dengan perkataan walaupun tidak ada seorang pun yang peduli jika kamu melanggarnya, dan belajar untuk mempertanggungjawabkan apa yang kamu percaya. Yah, memang nyatanya mungkin saja ikan, udang, sup atau bahkan makanan dan minuman manis yang disajikan disini juga bukan makanan yang boleh kumakan, aku benar-benar kehilangan host family yang selalu siap menerjemahkan tiap bahan yang menyusun sebuah makanan sebagaimana saat aku berada dalam host familyku. Tapi manusia hanya bisa berusaha untuk melakukan semampunya bukan? Biar lah yang diatas yang menentukan hasilnya.

Dan alasanku menulis ini pun karena aku sendiri masih ragu dan mungtkin agak menyesali pilihanku meski aku punya berbagai argumen untuk membenarkan perilakuku saat itu, mengekang diri jika hal serupa terjadi lagi dengan bercerita hal seperti ini bukan hal yang buruk kan?

Dan kegiatan pun berlanjut kepada hari ini, waktunya workshop, pemuda, relawan dan bencana. Semua anggota BDSG telah berkumpul di kampus Kyoto University di Uji sebelum jam 9 untuk mengikuti workshop kepemudaan, relawan dan kebencanaan. Selain BDSG, ada tiga organisasi kepemudaan jepang lainnya yang hadir, yaitu WASEND dari Waseda University, KiDS dari Kyoto dan Kobe RMC dari Kobe. Selain itu, ada juga materi terkait penerapan game dalam meningkatkan kapasitas para penduduk sebelum menghadapi kebencanaan oleh profesor Yamori, atau Yamori-sensei, dari lab DPRI di Kyoto University di Uji. Metode game yang diterapkan Yamori-sensei ini juga merupakan metode yang diadaptasi oleh para organisasi yang hadir dalam mencapai tujuan tiap organisasi yang hadir tersebut, termasuk BDSG, menciptakan dunia yang lebih aman dengan meningkatkan kapasitas orang-orang dalam menghadapi bencana. Yamori-sensei juga mengatakan bahwa dalam menghadapi bencana, ada kemungkinan kita dihadapkan pada sebuah situasi dimana kita menghadapi sebuah pilihan yang tidak mudah, seperti jika kita punya tanggungjawab kepada seseorang yang sudah lanjut usia dan suatu saat terjadi bencana, apakah kita akan pergi ke tempat orang tersebut untuk menyelamatkan diri bersama atau menyelamatkan diri secepatnya? Forum pun terbagi kedalam dua kelompok saat pertanyaan ini dikeluarkan. Dan mungkin saat terjadi bencana kelak, kita akan dihadapkan pada pilihan sulit seperti ini. Memang tidak ada jawaban yang benar ataupun salah terlepas dari pilihan mana yang kita ambil, seperti kata Yamori-sensei, itulah kehidupan. Dan memang, selain membuat permainan yang interaktif dan menarik dalam meningkatkan kapasitas seseorang dalam menghadapi bencana seperti CROSSROAD dan Bosai-Duck, pelajaran yang diberikan Yamori-sensei terkait dilema seperti ini juga membuat para peserta memikirkan apa yang akan mereka lakukan jika situasi ini terjadi. Memang mungkin situasi ini tidak akan pernah terjadi, dan semoga begitu, tapi tidak ada salahnya dalam mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk bukan?

Workshop dilanjutkan dengan presentasi dari tiap organisasi yang mengikuti workshop, seperti latar belakang organisasi tersebut didirikan, metode yang digunakan organisasi tersebut dalam meningkatkan kapasitas kebencanaan orang-orang, kegiatan apa saja yang sudah dilakukan dan berbagai informasi menarik lainnya. Selain itu, beberapa Grad Students yang dibimbing oleh Yamori-sensei juga mempresentasikan apa yang mereka kerjakan dibawah bimbingan beliau, menarik dan informatif!

Setelah santap siang sejenak, Forum Group Discussion pun dilaksanakan. Tujuannya adalah menciptakan metode baru dalam meningkatkan kapasitas kebencanaan seseorang. Ada empat kelompok dengan berbagai ide yang menarik yang terlontarkan saat diskusi. Dan pada akhirnya, beberapa metode baru tercipta, inovasi dari metode-metode lama, maupun ide yang terlontar karena presentasi yamori-sensei atau hanya kebetulan terlintas saat diskusi. Entah berapa puluh atau bahkan berapa ratus ide yang telah terlontar, yang jelas kita telah menghasilkan suatu hal baru. BDSG punya mailing list tersendiri, entah apakah boleh dipublikasikan ke khalayak ramai atau tidak, yang jelas cobalah buka blognya di http://bandung-disaster-study-group.blogspot.com, mungkin kelak informasinya akan dibagikan juga🙂

Setelah workshop, kita pun santap malam bersama anggota WASEND dan Kobe RMC yang ada di restoran indonesia yang bernama “Hati-Hati”. Di perjalanan, kami berpapasan dengan Geisha yang agak langka dan sulit ditemui disini, para pemilik hostel kami pun bilang geisha hanya dapat ditemui di daerah ini diantara jam 17 hingga 19 jika kita beruntung. Entah kenapa geisha kelihatannya sering disalahinterpretasikan oleh beberapa (atau mungkin mayoritas?) orang, karena nyatanya Geisha lebih merupakan pekerja seni di bidang seni menuangkan sake, seni menemani negosiasi dan lain sebagainya. Setidaknya begitulah apa yang dikatakan seniorku. Dan saat sampai di restoran “Hati-Hati” ini, suasanya memang sangat nyaman. Pemilik restorannya orang padang, dan kokinya orang sunda. Sayangnya seperti restoran pada umumnya, tidak ada logo halal disini, mungkin memang informasi ini bukan merupakan informasi yang dianggap penting oleh banyak orang di Jepang. Harganya yang mahal dan menu yang turut menyajikan bir, anggur dan semacamnya membuatku tetap ragu meskipun suasananya sangat Indonesia. Tapi aku mulai bisa merasakan perasaan para mahasiswa rantau dari Indonesia disini, lagu yang diputar semuanya merupakan lagu yang sempat populer di Indonesia. Meskipun di Indonesia aku tidak pernah menyukai ST12 atau Mulan, entah kenapa mendengar lagu yang sama di tempat yang jauh dari tempat seharusnya seperti disini terasa sangat menyenangkan.

Setelah santap malam, beberapa anggota WASEND harus pulang terlebih dahulu untuk mengejar kereta menuju Tokyo. Tapi sebelum pulang mereka memberikan para anggota BDSG sekantong omiyage, oleh-oleh. Aku mendapat sebuah kipas dengan gambar kabuki (aktor teater tradisional jepang yang menutupi mukanya dengan bedak), pembatas buku bergambar Kiyomizudera temple dan saputangan, entah kain apa ini karena aku belum membuka plastiknya. Tapi harus kuakui, mereka merupakan tuan rumah yang sangat baik. Menyenangkan punya sahabat lintas-negara seperti ini, percayalah!

Entah kapan aku bisa terhubung ke internet lagi, yang jelas aku sudah punya rencana untuk mengunjungi hutan bambu di kyoto sebelum mulai menjelajah osaka dan kembali ke jakarta pada tanggal 3 maret malam. Pengalaman selama disini sangat berkesan, senang diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan seperti ini. Dunia terus berputar, matahari terus bersinar, teruslah melangkah sampai waktunya tiba, semoga perjalanannya menyenangkan😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s