Trip to Kansai-Journey’s End

Hari kesembilan dari perjalanan, minggu, 2 maret 2014. Rencana awal adalah paginya pergi ke arashiyama atau gunung bambu dengan tampilan “path of bamboo” yang katanya memukau. Harusnya kami berkumpul jam 9 di depan hostel salah satu sahabat dari jepang, sayangnya, budaya jam karet masih sedikit terbawa disini, massa baru terkumpul pada sekitar pukul 9.30. Namun, ada kabar buruk. Salah satu sahabat dari indonesia yang menginap di tempat lain tidak kunjung datang ke tempat yang dijanjikan. Kabar terakhir darinya adalah dia berada di depan hostel yang aku dan kawan-kawan singgahi beberapa saat setelah kami berangkat. Namun, mengingat wifi tidak terlalu populer di jepang, kelihatannya dia tidak terhubung ke internet lagi. Oke, dia terancam hilang. Akhirnya terbagi dua regu dengan mahasiswa dari jepang di setiap grup untuk memudahkan komunikasi, satu grup pergi ke hostel tempat kita menginap tadi dan grup lainnya tetap berada di tempat perjanjian itu, jika ternyata dia datang sangat terlambat. Aku masuk ke grup yang pergi.

Dan pencarian pun dimulai. Di perjalanan aku juga mengawasi jalan di seberang untuk meminimalisir kemungkinan kita tidak menyadari bahwa kita berpapasan. Sayangnya zebra cross yang terlalu penuh orang menyulitkan pengawasan dari jarak jauh, sehingga akhirnya aku pun mengawasi semampunya saja. Sampai belokan menuju gang kecil tempat hostel itu pun kawanku itu masih belum ditemukan. Dan saat kami sampai di hostel, dia juga tidak ada disana. Oke, sekarang dia kami nyatakan menghilang. Akhirnya kami pun memutuskan untuk merubah rute sedikit, berjalan-jalan ke fushimi inari terlebih dahulu sebelum pergi ke arashiyama yang berada di luar kyoto sambil menunggu dia menemukan cara untuk menghubungi kami, setidaknya dengan begitu kami dapat lebih cepat bergerak jika dia masih berada di dalam kyoto. Dan di perjalanan kembali, kami bertemu dengan geisha, street artist yang terkenal tapi jarang terlihat di shijo gion. Tanpa buang waktu, semua anggota grupku, baik dari indonesia maupun dari jepang, langsung meminta foto bersama, untuk bukti pada teman-temannya bahwa mereka pernah bertemu geisha. Aku sih ikut-ikut saja, seru kok, hahaha.

Dan sesampainya di fushimi inari, ternyata tempatnya bagus juga. Aku suka desain “a thousand gates” disana, berjalan di bawah puluhan, bahkan mungkin ratusan gerbang itu unik. Selain itu, aku juga menikmati taiyaki isi kacang merah dan custard serta takoyaki ala kyoto disana. Haha, berhubung masa perjalanan sudah hampir berakhir, waktunya menghabiskan receh yang memberatkan agar tidak ada beban saat pulang. Yah, sekaligus waktu yang tepat untuk belanja oleh-oleh sih, meskipun memang aku juga sudah membeli lumayan banyak hadiah dan kuliner beberapa menu dari berbagai tempat. Sudah lah, pengalaman, haha.

Dan saat di kuil itu juga akhirnya kawanku yang hilang itu menghubungi kami. Ternyata dia sudah berada di arashiyama. Memang ada di antara kami yang mendeduksi itu, tapi agak ragu juga memang. Dia memghubungi kami dari hp teman barunya yang ternyata berasal dari malaysia. Iya, itu salah satu yang menyenangkan dari jepang, kalau kamu melihat perempuan berjilbab besar kemungkinan dia bisa berbahasa inggris–atau bahkan berbahasa indonesia–dan dimintai tolong. Haha, baiklah, waktunya berkunjung ke arashiyama kalau begitu.

Dan fakta berikutnya yang kami ketahui saat sampai di arashiyama adalah, arashiyama sangat luas. Pemandangannya yang bagus pun membuat beberapa dari kami mendokumentasikan perjalanan kami dahulu. Ah, dia sudah bisa bertahan sendiri untuk sekitar 5 jam dia dinyatakan hilang kok, apa salahnya membiarkan dia hilang sedikit lebih lama? Pikiran yang keterlaluan memang, tapi biar lah, toh bagi para anak bangsa di rombongan ini memang ini pertama kalinya kami berkunjung ke kyoto, dan ke tempat wisata seperti ini. Lagipula dia sudah besar kok, bisa lah ya dilepas sendiri, haha. Yang jelas, selain tempatnya yang bagus di daerah pegunungan dan dilewati sungai, path of bamboo juga indah kok. Yaa, sebenarnya itu juga cuma jalan di tengah padang bambu biasa sih, tapi terlihat indah saja karena terawat dengan baik. Dan sebenarnya banyak kok tempat di indonesia yang bisa jadi jauh lebih baik dari path of bamboo di arashiyama selama manajemen dan publikasinya bagus serta tempatnya dipelihara dengan baik. Oke, setelah berjalan dari ujung ke ujung, dia masih belum ditemukan juga. Ya sudah, jajan dan beli oleh-oleh lagi saja, siapatahu dia ditemukan di salah satu toko yang ada. Yah, meskipun dingin tapi menikmati es krim rasa campuran teh hijau-sakura nikmat juga. Waktunya jajan, haha.

Dan akhirnya dia ditemukan, ada adik kelasnya yang sadar akan sosoknya di tengah keramaian, entah sekedar adik kelas atau lebih melihat interaksi antar mereka berdua, yang jelas mereka memang sering dijodohkan di organisasi ini, haha. Setidaknya akhirnya ketemu juga lah ya. Waktunya pulang kalau begitu, sudah meniatkan diri untuk mengunjungi museum peace osaka di hari senin sebelum pulang, berkumpul disana untuk kemudian berjalan-jalan melihat osaka, sebelum kembali ke indonesia.

Sebelum kembali untuk menginap di kobe, kami mengambil barang di hostel tempat janjian tadi pagi, dan kebetulan di hostel itu sedang ada pesta takoyaki. Pesta takoyaki bersama traveller dari berbagai negara itu menyenangkan, ada beberapa temanku dari indonesia yang mencoba-coba flirting ke turis dari eropa yang, sebenernya lumayan cantik, tapi sayangnya aku kurang berminat dengan yang terlalu terbuka. Aku malah menyibukkan diri untuk membuat takoyaki sendiri, yang akan dinikmati bersama turis-turis lainnya. Ternyata membuat takoyaki tidak terlalu sulit, asal punya cetakannya dan tahu takaran air, tepung dan telur untuk adonan takoyakinya. Nyatanya, cukup memasukkan adonan hingga mengisi separuh cetakan, lalu memasukkan gurita, keju, jahe dan daun bawang sesuai selera sebelum memenuhi cetakan dengan adonan, lalu membalik adonan saat bagian bawah cetakan terlihat matang, hasilnya sudah bisa disajikan setelah seluruh adonan matang dan hasilnya enak kok. Senang mendapat ilmu baru, bahkan berdiskusi dengan turis dari austria dan finlandia tentang masakanku, padahal baru kali itu aku memasak takoyaki, haha. Semua tergantung pada urutan, takaran dan pemilihan waktu yang tepat ya. Oke, ada juga turis dari filipina yang berbagi permen susu, manisan buah dan popcorn berbentuk kacang, santap malam tambah nikmat. Sayang kami hanya bisa ikut sekitar satu jam karena harus mengejar kereta ke kobe. Ah, sudah lah, tetap saja malam itu menyenangkan.

Namun ternyata hidup tidak selalu sesuai dengan perencanaan. Telat bangun, lagi. Oke, sekarang aku mulai khawatir dengan jam biologisku saat kembali ke indonesia. Kelihatannya jet lag memang salah satu hal yang perlu diwaspadai saat melakukan perjalanan agak lama ke tempat dengan zona waktu berbeda. Haha, akhirnya walaupun janjian jam 10 di peace osaka, aku baru sampai pada pukul 11.45. Memang kami membuat perjanjian untuk menunggu sampai jam 12 disana sambil melihat-lihat, dan setelah itu yang belum datang ditinggal saja, berkumpul lagi di bandara pada malam harinya. Dan saat sampai, aku baru menyadari hal bodoh yang seharusnya diperhatikan setiap turis. Peace osaka tutup setiap hari senin. Oh, well, kadang semangat tanpa memperhatikan detail informasi tidak terlalu baik juga, dan dalam kasusku ini, kuakui sia-sia. Oke, temanku juga tidak ada, mungkin sudah pergi duluan karena peace osaka tutup dan aku sangat terlambat. Ya sudah lah, fine, waktunya menikmati kesendirian di tengah kota osaka.

Dimulai dengan mengunjungi kastil osaka, bangunan beratap hijau cerah (tidak yakin terhadap nama warna tersebut, toh bagiku hijau pastel, turquoise, emerald dan jenis hijau lainnya tetaplah hijau, haha) dan halamannya yang luas serta kebun peach dan plum yang sedang mekar benar-benar nyaman dilihat. Mungkin akan lebih indah lagi untuk difoto jika sakura yang masih tanpa daun itu bersemi, tapi ya sudah lah ya. Halaman kastil yang luas dan banyaknya toko yang ada menarik juga, sayang karena biaya masuk kastilnya lumayan mahal dan aku sendirian, lebih baik aku mengagumi dari kejauhan saja lah, masuk ke objek wisata itu lebih seru dan berharga saat berkunjung dengan orang lain dan berceloteh atau berdiskusi sembarang hal tentang apa yang ada disana. Kalau cuma sendiri, aku lebih memilih membeli makanan untuk pengalaman pribadi, haha. Apalagi osaka merupakan daerah asal dari takoyaki dan okonomiyaki di jepang dengan ciri khasnya tersendiri. Memang saat aku memakan takoyakinya rasanya jauh lebih kuat dan enak dibandingkan takoyaki di kyoto, berdasar pendapat pribadiku ya. Sayangnya aku tidak bisa mencicipi okonomiyaki dan yakisoba karena kedua menu itu menggunakan babi, ah, menggadaikan kepercayaan untuk kenikmatan sesaat kelihatannya tidak sebanding. Yah, lagipula di bidang selain makanan kelihatannya aku tidak se-“menjaga diri” itu juga kok, anggaplah tindakan meminimalisir bertambahnya amalan buruk di bidang makanan karena sudah terlalu banyak amalan buruk di bidang lainnya. Janji sering abai, manajemen waktu pun masih belum benar, setelah dipikir lagi masih terlalu banyak yang harus kuperbaiki ya ._.

Ya sudah lah, akhirnya aku membeli roti goreng isi kari dan es krim rasa puding custard atau lebih terkenal dengan julukan “kobe pudding” untuk pelipur lara. Meski kobe beef dan tokyo banana kelihatannya lebih terkenal, tapi merasakan es krim dengan rasa baru nikmat juga. Setelah kubaca lagi kelihatannya artikel ini lebih banyak menceritakan makanan dari artikel sebelumnya, hahaha, bukankah itu salah satu tujuan utama melakukan perjalanan saat jadwal sudah luang?

Dan perjalananku berlanjut tanpa tahu arah. Aku hanya tahu harus pergi ke Namba untuk naik kereta langsung ke bandara internasional kansai, dan aku punya terlalu banyak waktu untuk dibuang. Lalu kabar buruknya adalah tas kertas yang menjadi handbagku rusak. Perlu mencari tas baru, dan sayangnya sulit mencari toko 100 yen (toko yang semua barangnya dijual dengan harga 105 yen, dan mulai april ini mungkin akan naik menjadi 108 yen karena pajak di jepang dinaikkan dari 5% menjadi 8%) karena aku tidak tahu lokasi disini. Hm, sayangnya peta yang kupunya tidak memuat daerah ini, hanya ada peta yang memuat jalur dan stasiun kereta yang bisa kujadikan patokan untuk jalan-jalan ke distrik yang aku punya petanya, distrik shinbashi dan namba. Hm, aku menemukan stasiun ini dan itu, awalnya kupikir aku bisa menebak arah perjalananku dari peta itu dan garis lurus antara dua stasiun yang kutemukan.

Dan aku salah. Semakin aku melanjutkan perjalanan aku malah semakin tidak percaya pada peta yang kubaca, kelihatannya pintu keluar tidak berarti itu letak stasiunnya dan aku salah menarik garis. Oke, setelah kemarin seharian mencari temanku yang hilang, sekarang giliran aku yang hilang. Ah, sudah lah, yang jelas pesawat berangkat jam 23.35, aku masih punya sekitar 10 jam untuk menikmati osaka. Dan akhirnya aku membeli tas kertas besar di seven eleven yang terletak di dekat tumpukan majalah yang, hm, dari gambar sampulnya kelihatannya kartun yang diperuntukkan ke orang dewasa. Anehnya, di toko itu cuma majalah seperti itu yang disegel selotip, justru tidak ada segel untuk komik terbaru disana, berbeda dengan gramedia yang menyampul semua komiknya. Aku sih menikmati izin yang diberikan untuk melihat gambar di komik terbaru pekan ini, setidaknya aku tahu hasil pertandingan, ada pertarungan apa atau konflik baru apa yang muncul meskipun tidak mengerti bahasanya. Tapi kuakui, aku malah bingung terhadap fakta bahwa majalah dan acara tv di jepang justru lebih parah dari majalah dan acara tv di indonesia, tapi rakyat jepang bisa punya kapasitas yang tergolong baik lah dari sudutpandangku. Aku pernah membaca artikel bahwa pornografi dapat merusak otak, namun tidak terlalu serius membaca alasannya dan apakah kerusakan itu dapat digeneralisir dengan pendapat semua orang yang membaca pasti otaknya rusak. Memang aku juga tidak melakukan survey berapa banyak orang jepang yang langganan majalah tersebut sih, terlalu personal dan aku hanya berasumsi karena di setiap lawson, seven eleven atau minimart lainnya, pasti ada majalah dewasa di salah satu raknya, karena tidak ada minimart yang mau menjual barang yang tidak pernah laku kan?

Paradoks, entah lah, kadang kupikir Dia menyukai teka-teki, terutama yang menguji keimanan hambaNya. Aku jadi ingat bahasan di sma dulu, masyarakat barat bisa maju setelah meninggalkan kitabnya yang banyak diisi oleh kebohongan, namun umat muslim yang mengikuti tindakan tersebut malah mundur setelah meninggalkan kitabnya yang berisi kebenaran. Tanpa bermaksud merendahkan kepercayaan apapun, melihat dari kondisi masyarakat di barat atau australia selaku negara serupa yang pernah kukunjungi dimana gereja hanya diisi oleh anak-anak dan orang tua atau bahkan dialihfungsikan sebagai masjid, mungkin kalimat tersebut pantas untuk dijadikan renungan bagi tiap orang. Apa itu kemajuan? Apa yang salah dengan agama sehingga banyak orang yang meninggalkannya? Atau memang kita terlalu kolot dalam menerapkannya? Entah lah, sampai sekarang aku masih percaya bahwa islam ada untuk menyempurnakan manusia dengan mengajari cara berperilaku dan bermasyarakat serta memberitahu mana yang baik dan mana yang buruk, sebagaimana yang orang itu contohkan dengan mengubah kondisi masyarakat dari zaman kebodohan menjadi masyarakat yang disegani dan salah satu kekuatan dunia pada masanya, bukan hanya aturan dan perintah tanpa makna atau hanya memberatkan saja. Entah pendapat orang lain apa, tapi tiap orang punya kebebasan untuk berpendapat kan?

Ah, sudah lah, meskipun aku bisa meracau panjang terkait hal ini, banyak pendapat yang bisa memicu perdebatan panjang kalau orang yang membaca salah mengerti dan pengunjung dan komentar aneh di blogku bisa bertambah, haha. Biarkanlah situs ini tetap sepi lah ya, agar aku masih merasa aman dan nyaman untuk berbagi pemikiran disini. Jangan berharap terlalu banyak hal positif dengan mempopulerkan orang-orang yang tidak ingin diketahui banyak orang, percayalah.

Oke, yang jelas itu meruoakan salah satu dari sekian banyak topik pemikiran yang terlintas saat aku hilang, tersesat, nyasar, ah sudah lah, pokoknya saat itu. Memang tidak banyak orang jepang yang bisa berbahasa inggris dengan lancar, bahkan para mahasiswa jepang banyak yang bertanya padaku kenapa banyak orang indonesia yang bisa bahasa inggris dengan baik, entah lah dari segi persentase tapi bahasa inggris memang tidak populer di jepang. Mereka perlu belajar hiragana, katakana dan kanji, menambah alfabet untuk dipelajari sama dengan menambah masalah baru kan? Yang jelas, kondisi ini membuatku agak kesulitan dalam berkomunikasi. Meski aku tahu beberapa kata dalam bahasa jepang, tetap saja sulit untuk merangkainya dalam satu kesatuan kalimat yang menjelaskan maksud dengan baik. Apalagi kemampuan mendengar bahasa jepangku masih belum bagus, hm, sudah lah, coba asal bertanya saja, biar Allah menentukan hasilnya. Dan pada percobaan kesekiankalinya, entah keberapakali, akhirnya ada orang jepang yang kutemui dan bisa bahasa inggris serta membaca peta. Dari dia aku mengetahui bahwa di peta kereta itu aku berjalan menuju selatan, di arah yang kukira barat. Hm, oke, pelajaran hari itu, tidak ada gunanya punya peta kalau kamu tidak tahu sedang berjalan ke arah mana. Kelihatannya aku perlu belajar membaca matahari di negara subtropis atau membeli kompas, ah, bisa dilakukan nanti, semoga ingat.

Akhirnya setelah sampai di daerah yang ada di peta aku bisa berjalan-jalan juga. Aku lumayan aktif mengunjungi shopping street dan temple atau shrine yang ada, sekedar melihat susunan arsitekturnya atau membeli makanan unik apa yang ada di dalamnya. Ada beberapa bangunan yang unik dan menarik. Aku juga menghabiskan waktu lumayan banyak di tepian sungai yang, entah namanya apa, haha. Yang jelas disana nyaman untuk berpikir, merenung dan entah lah, hanya menghabiskan waktu.

Pokoknya pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke stasiun dan langsung naik kereta ke bandara untuk mengakhiri perjalananku. Ya, tiap perjalanan tentu harus berakhir, kalau tidak bagaimana mungkin perjalanan baru dapat dimulai? Pesawat lepas landas pada pukul 23.35 waktu setempat, tapi di perjalanan harus kuakui, lampu pesawat yang dimatikan membuat cahaya bintang-bintang terlihat jelas dari pesawat, seperti sedang berada di sebuah planetarium atau kubah yang besar dengan disinari berbagai cahaya dari lampu sorot di bintang yang entah berada dimana. Saat itu aku berpikir banyak tentang dunia sebagai panggung sandiwara dimana para manusia punya peranannya tersendiri dan semua orang punya peran. Melihat bintang dari pesawat itu merupakan pengalaman tersendiri yang menutup perjalanan ke kansai ini dengan keindahannya. Senang punya kesempatan untuk merasakan hal semacam ini🙂

Entah kenapa di jepang aku merasa tiap hari aku punya cerita tersendiri yang seru untuk dihidupi dan diceritakan, hal yang kurang terasa di Indonesia. Entah apa karena aku terlalu terpaku pada rutinitas yang ada atau aku masih belum bisa menikmati kehidupan sebagaimana yang kuinginkan. Yang jelas, cerita di kansai saat ini telah berakhir. Mungkin akan ada sekuelnya, tapi yang jelas bukan sekarang. Waktunya fokus untuk membuat cerita yang berkesan di Indonesia bukan?

Waktunya tugas akhir, masterpiece selama perkuliahan, waktunya melakukan yang terbaik laks🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s