Cerita

Kadang aku terlalu mudah terbawa cerita. Novel, komik, majalah, buku apapun lah. Dan sekarang juga begitu, sedang terbawa oleh novel seri young sherlock holmes karya andrew lane. Dan sampai sekarang kalau membuka google dan browsing tentang film-film di jaman dahulu seperti lorong waktu dan si unyil, meski aku tidak sepenuhnya ingat cerita lengkapnya tetap saja ada perasaan nostalgia tersendiri. Aku juga penasaran dengan sinetron seperti keluarga cemara dan si doel anak sekolahan yang dulu sempat booming, terutama setelah membaca http://m.kompasiana.com/post/read/510591/3/lima-sinetron-legendaris-indonesia, haha. Sayang keempat judul tersebut agak sulit dicari di internet. Hanya menemukan beberapa musim lorong waktu, lumayan lah buat nostalgia. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai serial jadul seperti ini daripada serial indonesia yang ada saat ini, yah, semua orang berhak untuk punya preferensi tersendiri kan?

Yang jelas jaman dahulu itu lorong waktu merupakan satu-satunya sinetron yang kuikuti, dan entah kenapa selalu jadi pengingat dan pembelajar yang kusukai. Sayang eranya sudah berakhir, hahaha, kelihatannya ini salah satu contoh sulitnya move on dari masa lalu ya. Agak merasa sayang karena sudah berakhir sih, tapi senang lah karena sempat punya kesempatan mengenal sinetron macam itu, memang tidak semua aspek dari sinetron itu bagus sih, aku juga tahu kok ada beberapa hal yang kurang sesuai. Tapi kalau melihat sinetron yang sekarang lebih banyak kekurangannya, hm, ya sudah lah ya, haha.

Hm, kembali ke novel young sherlock holmes pertama, Death Cloud. Salah satu bagian yang kusuka dari novel ini adalah bagian dimana Amyus Crowe memberikan tebak-tebakan yang, sebenarnya sudah lumayan populer dan sering diceritakan. Salah satu versi bahasa indonesianya adalah begini, “A dan B patungan masing-masing 50juta untuk membeli mobil seharga 100juta dari C. Ternyata C memberikan cashback (atau kembalian) 3juta sebagai pelayanan khusus. Karena senang, maka A dan B sepakat untuk memberikan 1juta sebagai bonus bagi C, lalu masing-masing mengambil kembali 1juta. Sehingga A dan B masing-masing hanya menyumbang 49juta pada akhirnya. Pertanyaannya, jika A dan B masing-masing menyumbang 49juta, ditambah dengan uang bonus 1juta yang diberikan kepada C, totalnya adalah 99juta, kemana sisa 1jutanya?”

Pertanyaan trik. Karena 1juta yang diberikan kepada C merupakan bagian dari 98juta, total yang diberikan A dan B. Jelas jumlah itu tidak bisa ditambahkan, pertanyaan ini sejak awal sudah salah. Dan yang menarik, Amyus Crowe yang saat itu berlaku sebagai guru yang mengajarkan metode berpikir kepada Sherlock muda mengatakan, “Permasalahannya ada pada deskripsi. Memang benar 49juta dikali 2 itu 98juta, tapi uang bonus 1juta itu sudah termasuk di dalamnya. Kalau kamu menyusun ulang masalahnya, kamu akan sadar bahwa A dan B membayar 97juta untuk mobil dan 1juta untuk uang bonus. Maka yang kita pelajari adalah …?”

Dan Sherlock muda pun menjawab, “Jangan biarkan orang lain mempengaruhimu dengan opininya, karena mereka mungkin akan mengarahkanmu pada arah yang salah. Ambillah fakta-fakta yang ada, lalu olah semua informasi tersebut dan pandanglah sebuah masalah dari sudut pandang yang logis dan memungkinkanmu menyelesaikannya.” Begitulah nyatanya, dalam pertanyaan trik itu semua akan selesai jika kita hanya memandang fakta berikut, “A dan B menyumbang masing-masing 50juta”, “C memberikan cashback 3juta kepada A dan B” dan “A dan B memberikan bonus 1juta kepada C dan masing-masing mengambil kembali 1juta”.

Tiap cerita pasti melibatkan fakta dan opini, terlepas dari apakah cerita itu hanya khayal fiksi ataupun bukan. Tapi, jika kita langsung percaya begitu saja pada semua yang kita dengar, ada kemungkinan kita justru akan menjadikan informasi palsu atau opini sebagai fakta, dan hal tersebut justru dapat menyesatkan kita. Entah kenapa aku menganggap hal ini perlu kita beri perhatian khusus, apalagi di tahun ini, tahun pemilihan umum, tahun yang katanya penuh dengam intrik politik, muslihat kotor dan lain sebagainya. Pemilu juga kelihatannya merupakan cerita yang paling populer di saat ini. Waktunya kita belajar untuk membedakan fakta dan opini dari sebuah cerita, memeriksa ulang kebenaran fakta yang disampaikan dan lebih cerdas dalam menarik kesimpulan.

Ada banyak berita terkait partai, tokoh, dan berbagai informasi lainnya yang dapat ditemukan di media massa, internet, poster atau selebaran dan lain sebagainya. Dan nyatanya, berapa banyak berita tersebut yang merupakan informasi yang salah atau opini?

Entah lah, lima tahun yang lalu sebuah pengalaman unik membuatku terlibat dengan pemilu meskipun belum punya hak untuk memilih, dan dalam keberjalanan saat itu juga aku melihat berbagai jenis orang. Ada orang yang percaya buta pada tokoh atau partai yang dia pilih dan yakin apapun yang dilakukan oleh yang dipilih itu benar. Ada yang memilih hanya karena ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan organisasi atau teman sepergaulannya tanpa tahu apa langkah yang diusung sang calon dan tidak membandingkannya dengan calon-calon lainnya. Ada yang mendukung penuh seorang calon, tapi langsung berbalik dan menyebarkan keburukan calon tersebut saat ada insiden yang terjadi. Ada orang yang menjual suaranya dengan harga tertentu. Ada yang idealis dan memang mendukung calon yang sangat dia sepakati visi dan misinya, tapi merasa terkhianati saat ada insiden lain yang menyebabkan dia kehilangan kepercayaan pada pilihannya, dan entah apakah pilihannya itu benar-benar menjalankan (atau setidaknya mencoba melakukan) janji-janji yang dibuat. Ada juga yang idealis dan terus mengingatkan calon yang terpilih akan janji-janjinya dan kepentingan rakyat melalui demonstrasi, yang entah didengar atau tidak oleh para wakil rakyat itu. Haha, entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi apatis-sinis terhadap pemilu, aku juga masih bertanya-tanya kenapa.

Malam kemarin ada cerita yang menarik terkait ini, ada yang berbagi cerita di bidang motivasi, organisasi dan politik. Sayang ada beberapa bagian yang kuanggap kurang tepat perumpamaannya, seperti saat dia menggambarkan tentang motivasi. Bayangkan kita berada di atap sebuah gedung, dimana ada gedung lain yang tingginya sama dan dapat dicapai dengan meloncat, maukah kita meloncat kesana? Saat itu belum ada yang mau, tapi aku sudah tahu arah pembicaraan dan bergumam, “tergantung, kalau gedungnya terbakar aku loncat.” Salah satu hal yang kurang menyenangkan dari sikap logis adalah kamu kehilangan kesenangan dan rasa “oh, iya juga” saat orang lain mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan melalui perumpamaan jika kamu berhasil menebaknya duluan. Oke, dia yang mendengar juga berucap, “nanti dibahas”. Dia pun memberikan perubahan situasi, dengan menambahkan kondisi menaruh uang satu milyar di atap gedung sebelahnya yang diperuntukkan bagi orang yang berhasil meloncat. Masih belum banyak yang mau memilih meloncat. Di skenario ketiga baru lah dia mengganti variabel uang di gedung sebelah dengan variabel singa di atas gedung yang sama, mau meloncat ke gedung sebelah kalau ada singa yang kelaparan di atap gedung yang sama? Aku diam karena mengerti dan memang ingin membiarkan dia menyampaikan poin penting yang ingin dia buat, bahwa tiap orang perlu motivasi untuk melakukan suatu hal, baik berupa uang di gedung seberang, keselamatan nyawa dari singa dan lain sebagainya. Tapi jika itu ditanyakan padaku, aku pasti akan memilih menetap di atap gedung itu dan mencari cara untuk menjatuhkan singanya, karena jika aku berhasil melompat, aku yakin singa itu pasti juga berhasil melompat. Hal lain yang kurang menyenangkan menjadi orang yang logis, teknis dan pendiam itu adalah kejadian seperti ini, perlu perumpamaan yang memang tepat untuk menyampaikan maksud yang mengena dengan baik. Ah, sudah lah, toh aku memang bukan orang yang suka berbicara ataupun menjadi pusat perhatian orang lain, senang ada yang mau menyampaikan informasi tersebut, tapi sayang perumpamaannya kurang tepat. Ah, sudah lah, terlalu mengandalkan logika itu kadamg menyebalkan juga ya.

Yang jelas, lumayan banyak yang kusetujui, baik fakta yang disampaikan atau pun opini yang kebetulan sama. Namun tidak sedikit juga opini yang kupertanyakan. Terkait politik, dia bercerita bahwa saat ini banyak orang hukum yang tidak mengerti teknis, dan menganggap bahwa akan lebih mudah jika mengajarkan hukum kepada orang-orang teknis. Mungkin ada benarnya, tapi jika melihat kondisi lapangan saat ini, aku menganggap bahwa meskipun ceritanya mengandung fakta yang benar, bukan itu inti masalah politik yang ada saat ini. Karena dari apa yang kulihat dan kuamati selama ini, salah satu penyebab dari minimnya partisipasi politik adalah karena orang-orang tidak percaya bahwa suaranya dapat membuat perubahan.

Pernah mendengar kalimat seperti, “udah lah ya, siapapun yang kepilih toh kita bakal tetap gini-gini aja”, “semua partai sama aja busuknya”, “pemilu itu cuma permainan politik” dan lain sebagainya? Menurutku itu lebih merupakan ungkapan ketidakpercayaan kepada pemerintahan yang ada. Kenapa? Karena kita tidak tahu apakah suara atau aspirasi yang kita berikan memang dapat merubah sesuatu, entah itu nasib bangsa, masa depan, atau hal-hal lainnya. Mungkin ini perlu dijadikan prioritas dpr di jaman berikutnya, bagaimana cara agar masyarakat tahu bahwa ada aspirasi mereka yang memang dapat mengubah sesuatu. Menurutku hal itu akan lebih efektif dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat, apalagi bagi anak muda yang punya ideologi dan ekspektasi tinggi. Iya, ini memang cuma opini yang kesimpulannya kutarik dari fakta-fakta yang kuketahui, mungkin benar dan mungkin salah sebagaimana opini tiap orang, tapi bukankah semua orang berhak untuk punya opini tersendiri?

Jadi ingat waktu itu ada forum dimana ada seseorang yang berniat menjadi calon presiden dan menceritakan apa yang akan dia lakukan jika terpilih. Aku tidak punya masalah dengan ceritanya, tapi masalahnya lebih kepada keterlambatan beliau. Entah kenapa aku menganggap seorang eksekutor itu harus paham teknis lapangan, seperti manajemen waktu dan pemanfaatan teknologi. Aku mempertanyakan alasan keterlambatannya dan kenapa dia tidak menggunakan teknologi seperti video call skype untuk meminimalisir kekesalan para peserta. Entah lah, aku menganggap penting bagi seorang eksekutor untuk mengetahui langkah terbaik apa yang dapat diambil dan menghargai orang-orang yang dia pimpin, dan aku menganggap keterlambatan yang sangat parah sebagai sebuah pernyataan bahwa orang-orang yang hadir tidak dia anggap penting. Ini memang bukan acara debat yang diselenggarakan stasiun tv dan disaksikan banyak orang, tapi kita tetap warga yang akan dia pimpin kalau terpilih kan?

Ah, sudah lah. Sekarang kelihatannya membahas cerita politik memang sedang seru, setidaknya meracau untuk melepaakan ketegangan uts yang akan dihadapi pekan depan itu hal yang wajar kan? Yah, memang di semester ini aku masih punya tanggungan lain selain tugas akhir, haha. Ya sudah lah, semoga pikiran cepat plong dari uts dan dapat fokus kembali ke tugas akhir dan rencana memperoleh beasiswa S2 di tempat yang bagus lah ya. Dan jelas untuk dapat mewujudkannya, aku tidak bisa menjadi orang yang terus-terusan hanyut oleh cerita orang, apa jadinya kalau teknologi dibuat dengan kesalahan informasi? Waktunya berusaha dan terus mengevaluasi diri, bismillaah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s