Random: Dua Mata, Dua Telinga, Satu Mulut

Pernah dengar pernyataan seperti, “Kamu tahu kenapa kita punya dua telinga dan satu mulut? Supaya kita lebih banyak mendengarkan daripada bicara” kah? Entah kenapa aku sedang tertarik untuk membahas pernyataan tersebut malam ini.

Kenapa kita punya dua mata, dua telinga dan dua lubang hidung tapi hanya punya satu mulut? Sepengetahuanku, kita memiliki dua buah mata agar kita dapat memprediksi jarak antara diri kita dengan benda yang kita lihat secara akurat, karena jarak benda dari mata kiri dan dari mata kanan berbeda. Informasi jarak yang berbeda itu kemudian akan diolah di otak agar kita dapat memperkirakan jarak benda secara akurat. Begitu juga dengan lubang hidung dan telinga. Sama dengan mata, karena jarak antara sumber bau dengan lubang hidung kanan dan kiri atau jarak antara sumber suara dengan telinga kanan dan kiri berbeda, kita dapat menentukan bau atau suara tersebut berasal dari mana.

Jika kita hanya memiliki satu mata, kepekaan kita terhadap jarak berkurang. Coba lah tutup sebelah mata lalu melakukan kegiatan seperti mengambil suatu benda atau melempar gumpalan kertas ke keranjang sampah, harusnya hal tersebut akan lebih sulit dilakukan jika dibandingkan dengan melakukannya dengan kedua mata terbuka. Begitu juga dengan telinga, jika kita hanya memiliki satu telinga yang berfungsi, akan sulit menentukan dimana letak sumber suara secara tepat.

Dan begitu juga dengan informasi yang kita terima. Kita perlu melihat informasi tersebut dari berbagai sudut pandang, mendengar pendapat dari kubu yang berbeda, dan mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum dapat menarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Itulaj sebabnya kita punya dua buah mata, dua buah telinga, hidung, lidah dan kulit, agar kita dapat memperoleh informasi sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Tapi, untuk menyebarluaskan kesimpulan yang kita peroleh, satu mulut saja cukup bukan?

Menurutku ini merupakan salah satu pengingat untuk tidak terpaku kepada satu sumber informasi saja. Karena, ada orang yang dapat berbicara begitu memukau meskipun perkataan yang diucapkan tidak berguna, ada orang yang hanya menampakkan sebagian informasi untuk mengarahkan orang kepada keburukan, ada orang yang hanya mengatakan apa yang ingin kita dengar, hei, bukankah Quran telah banyak menyebutkan golongan orang-orant serupa? Karena itu, carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum menyebarluaskan hasil analisis kita🙂

Renungan dari kelas psikologi sosial kemarin, dimana ada kawan sekelas yang saat sekelompok denganku berhasil menebak sifat yang, hm, bisa dikatakan tidak terlalu baik. Aku tidak terlihat punya tujuan yang jelas, kelihatannya diperoleh dari menganalisis kalimat yang kugunakan dalam mendeskripsikan kegiatanku sehari-hari. Yah, aku tidak menyangkal, aku memang sedang tidak terlalu bersemangat untuk terburu-buru mencapai tujuan. Entah, mungkin salah satu pengaruh dari kelas akselerasi yang kuikuti ketika smp dulu, aku tidak menyukai kehidupan yang serba cepat dan terburu-buru. Untuk apa? Toh kematian akan menjemput baik dalam kondisi kita sudah menjadi pribadi yang sangat hebat ataupun saat kita masih perlu belajar banyak. Saat ini aku lebih suka menikmati perjalanan sambil berbagi ilmu, cerita dan pengalaman kepada orang lain, dan aku menganggap kegiatan sederhana seperti ini lebih menyenangkan daripada terburu-buru mengejar target, baik itu target mendapat beasiswa, target waktu nikah, target penghasilan tinggi, target apa pun lah. Bukan berarti aku tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. Aku tetap yakin akan fokus mengembangkan bidang energi di Indonesia, karena memang itu janjiku saat lulus sma dulu kepada kawanku. Entah dia masih ingat atau tidak, haha, lucu juga sih bagaimana sebuah komentar berisi janji pada notes facebook bisa menjadi motivasi yang kuat bagi diri untuk meraih mimpi. Lagipula aku juga sedang terpikir untuk meminta tolong sesuatu kepada seorang kawan terkait salah satu target tersebut. Yah, setidaknya saat ini aku sudah terpikir langkah yang akan kuambil setelah ini. Tapi yang jelas, aku masih tetap ingin berjalan perlahan, menikmati perjalanan serta berbagi ilmu dan pengalaman kepada beberapa kawan. Tidak apa selama hal-hal yang kulakukan dan kuberikan bisa dipertanggungjawabkan kan?

Harus diakui, paragraf terakhir ini memang tidak ada hubungannya dengan paragraf-paragraf sebelumnya, entah kenapa setelah menulis tiba-tiba ingin meracau, kelihatannya karena uts masih agak lama (4 hari lagi) dan deadline tugas belum terlalu mepet. Semoga kebiasaan ini tidak terbawa pada tes kelancaran berbahasa deh, kedengarannya gagal tes karena terlalu banyak tulisan yang out of topic itu terlalu menyedihkan dan memalukan, hahaha. Ya sudah lah, waktunya beristirahat, oyasuminasai!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s