Random: Kebebasan Bersikap

Oke, meskipun uts sudah tinggal menghitung hari dan deadline tugas tinggal menghitung jam, masih belum ada niat untuk mulai bergerak. Dan, aku malah memilih untuk menikmati waktu luang ini dengan bersantai di depan laptop, menyaksikan film yang sudah lumayan lama, The Black Adder, film komedi tentang Inggris pada abad ke-15 terkait kerajaan dan kudeta yang melambungkan nama Rowan Atkinson sebelum memainkan tokoh Mr. Bean. Terkait bagaimana sikap perilaku orang-orang di film itu, well, harus kuakui mereka barbar. Sistem hirarki masih berlaku, ada perpecahan antara kerajaan dan gereja, perang salib dan kekerasan yang seolah menjadi satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah. Hm, entah, mungkin nusantara di abad ke-15 dahulu tidak jauh berbeda. Seingatku itu abad peralihan dari populernya kerajaan hindu-buddha menjadi kerajaan islam. Oh iya, seingatku juga itu ada lah tahun awal bangsa eropa datang bertamu ke indonesia, yang tidak lama kemudian berkuasa sebagai penjajah. Yah, senang hidup di zaman seperti saat ini bukan? Setidaknya patut disyukuri zaman tersebut telah usai, meski memang kita juga perlu belajar dari apa yang telah terjadi di masa lampau agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Yah, itu juga salah satu faktor pendorong yang membuatku melihat film ini, karena aku menganggap film terkait indonesia di zaman dahulu yang ada saat ini khayal dan special effectnya menjadi bahan olok-olok (ya, menurutku agak mengecewakan kalau film sejarah indonesia seperti ini terus berlanjut, tidak ada kah film yang mau mengangkat strategi perang atau politik kerajaan hindu-buddha atau organisasi macam budi utomo dan taman siswa di zaman dahulu dan tema lain semacamnya untuk menggantikan adegan kekerasan yang tidak masuk akal ini?), apa salahnya melihat film terkait masa lalu negara tempatku terlahir dahulu sebagai perbandingan?

Dan aku tiba-tiba ingin membandingkan beda sifat manusia di zaman dahulu dan saat ini serta pengaruhnya terhadap kehidupan dan kesejahteraan di zaman itu. Hal ini diawali dari pengalaman di angkot siang tadi, saat ada sesosok tangan yang menjulur keluar dari mobil dan menjatuhkan sampah seenaknya sebelum mobilnya langsung tancap gas, apakah mengikuti aturan demi kebaikan bersama sesulot itu? Memang sulit membandingkan zaman dahulu dengan zaman sekarang. Standar yang diterapkan telah berbeda, bagaimana kita membandingkan apakah manusia lebih sejahtera dan bahagia di zaman batu atau di zaman internet? Karena itu aku mencoba mengambil standar sebagaimana yang diterapkan oleh Franklin D. Roosevelt dalam “The Four Freedom”, dimana tiap manusia dapat menikmati keempat hal berikut:
1.Freedom of speech (Kebebasan Berbicara)
2.Freedom of worship (Kebebasan Menyembah atau Kebenasan Beragama)
3.Freedom from want (Right to Earn Adequate Living-Hak untuk mendapat kehidupan yang layak)
4.Freedom from fear (Kebebasan dari Rasa Takut)
Coba bahas satu persatu ah, randomku malam ini parah juga, hahaha.

1. Kebebasan Berbicara (termasuk berpendapat, mengkritik, dan sebagainya)
Dari yang kutonton dan kuketahui selama ini terkait zaman dahulu, di inggris orang-orang jaman dahulu sangat bebas untuk berbicara, kecuali pada orang-orang dengan pangkat atau kasta yang lebih tinggi. Sementara di indonesia, jelas kasta (saat zaman kerajaan hindu) juga membatasi kebebasan berbicara, dan mungkin juga dipengaruhi sopan santun kepada yang lebih tua. Umumnya, pembatasan itu menyebabkan apa yang orang-orang tersebut katakan dipandang sebelah mata atau bahkan tidak dipedulikan, meski memang ada juga kemungkinan orang-orang berkasta lebih tinggi mau mendengarkan jika mereka orang yang bijak. Di zaman orde lama guruku bercerita bahwa saat itu orang-orang sulit untuk berbicara menentang pemerintahan. Yah, kampusku pun memiliki kenangan buku putih, dimana kampusku (katanya) diduduki oleh militer saat buku yang berisi masalah-masalah di jaman pemerintahan almarhum soeharto keluar. Bandingkan dengan kondisi saat ini, dimana orang-orang bebas berteriak saat demonstrasi tapi entah apakah orang-orang yang di-demo itu menggubris. Yah, memang mereka juga punya kebebasan untuk memilih mendengarkan apa. Aku juga punya kebebasan untuk menulis, seperti kalian punya kebebasan untuk membaca dan setuju dengan pendapatku atau tidak. Seperti diskusiku dengan aaron, host familyku di jepang dulu, “Mereka memang punya kebebasan untuk berbicara, tapi kita juga punya kebebasan untuk mendengarkan.” Haha, mungkin di amerika ada pendidikan terkait four freedoms ini juga ya hingga dia bicara seperti itu. Tapi ada hukum yang mengatur pembicaraan yang dapat merugikan orang lain untuk membatasi kita dari berbicara. Namun memang, kalau kita jeli mengamati dan tahu dimana perlu mendengar, tidak sulit untuk menemukan lokasi dimana pembicaraan dapat berlangsung dengan sangat bebas, dan mungkin, sangat kasar.

Dan dalam hal ini, memang perlu ada batasan. Kebebasan berbicara tidak sama dengan kebebasan untuk merugikan orang lain kan? Merusak nama baik orang lain, menyebarkan berita palsu yang dapat menimbulkan kekacauan massal, jika berbicara dibebaskan sebebas-bebasnya, dunia ini pasti sudah kacau balau sekarang. Lalu, bagaimana dengan orang yang belum bisa memilih mana yang baik untuk didengar dan mana yang buruk untuk didengar seperti anak kecil? Memang mungkin omongan mereka tidak terlalu dianggap serius oleh orang dewasa, setidaknya tidak sampai saat mereka dewasa. Dan jika saat dewasa mereka telah terlalu banyak mendengar kata-kata buruk dan terbiasa memakainya, kelihatannya efek ke generasi setelahnya akan terus berkali lipat. Selain itu, kasus bullying dengan perkataan juga tidak pantas untuk dibebaskan bukan? Yah, separuh curhat sih, haha. Oke, ada juga yang bilang bahwa sistem pendidikan saat ini membuat orang takut berpendapat karena takut salah. Yah, aku juga sempat mengalaminya sih, dan mungkin kondisiku akan lebih parah jika beberapa guruku saat sma tidak berinisiatif untuk membuat sistem ujian lisan, jadi mungkin itu memang salah satu hal yang kurang baik. Lagipula aku juga sering berada di dalam kelas dimana mahasiswanya jarang bertanya, bahkan beberapa jarang memperhatikan, kadang aku termasuk jenis itu. Entah apa ini pengaruh buruk dari tidak biasa menggunakan kebebasan untuk bertanya atau kenapa.

Anyway, aku beranggapan bahwa kebebasan berbicara saat ini lebih baik, tapi mungkin akan lebih baik lagi jika orang-orang diingatkan kembali bahwa mereka punya kebebasan tersebut dan bagaimana menggunakan kebebasan tersebut tanpa mengganggu orang lain. Yah, aku juga tahu ada program pemerintah seperti open government atau lomba dimana kita diberikan kebebasan untuk memberikan gagasan. Belum terlihat efektifnya memang, tapi tetap saja, tak peduli sejauh apapun perjalanannya semua dimulai dari sebuah langkah kan? Semoga siapapun pemimpin dan anggota legislatif yang terpilih merupakan orang baik dan mau memberikan fokus di hal ini juga lah ya, aamiin🙂

2. Kebebasan Beragama
Kalau di eropa zaman dahulu sih jelas ada perang salib yang terkenal, islam melawan kristen (atau kristen melawan islam, tergantung dari sudut pandang orang beragama apa, haha) dengan perang di beberapa periode dalam jangka waktu yang lumayan panjang. Dalam kasus indonesia jaman dahulu, aku tidak terlalu tahu apakah ada peperangan karena isu agama, karena yang kutahu peperangan lebih sering terjadi antar kerajaan dan isunya lebih ke meluaskan wilayah kekuasaan, wallahu a’lam lah ya. Sementara di zaman orde lama, kelihatannya isu agama tidak terlalu booming, setidaknya kalah dengan isu ras seperti isu dengan jepang saat malari (malapetaka 15 januari). Sementara di zaman sekarang? Well, kelihatannya jumlah masalah dengan latar belakang isu ini lebih banyak, aku juga penasaran kapan isu ini mulai marak dan apa awal penyebabnya. Apa ini pengaruh buku “The Satanic Verses” atau “Ayat-ayat Setan” karya Salman Rushdie yang sempat menimbulkan kontroversi di tahun 90an? Atau apa sudah ada kasus serupa di jaman dahulu tapi belum cukup besar untuk didokumentasikan atau tidak terdokumentasikan karena sistem dokumentasinya kurang bagus? Atau pengaruh dari 9/11? Kerusuhan poso? Ah, entahlah, bingung, sulit memang untuk melogikakan suatu hal yang tidak logis seperti manusia.

Entah bagaimana yang benar, tapi yang jelas saat ini kebebasan beragama terkesan lebih terkekang, apalagi bagi minoritas. Yah, mungkin kita juga sering melihat berita dimana suatu golongan menyerang golongan lain. Hal yang patut disayangkan. Waktu di jepang, aku sempat berkunjung ke sebuah gereja di takatori community center yang menjadi markas radio fmyy. Selain karena ada agenda di dekat sana, aku memang tertarik dengan struktur bangunannya yang hanya terbuat dari kertas dan kayu. Haha, anak fisika boleh punya rasa penasaran kan? Dan di dalam gereja tersebut, ada sebuah benda yang menarik. Ada sebuah perjanjian antar pemuka agama di jepang yang dibingkai, perjanjian tersebut dibuat setelah bencana gempa hanshin menerpa dan berisi perjanjian bahwa pemuka agama tidak akan mementingkan kepentingan agama mereka sendiri saja. Somehow, aku menganggap itu keren, mungkin karena bosan melihat debat kusir antar agama yang kalimatnya lebih banyak berisi kata-kata tidak sopan dan kebencian. Apakah negeri ini kekurangan bencana untuk mempersatukan masyarakat? Entah lah. Yang jelas, selalu ada sebuah pertanyaan yang terngiang di kepala sejak sma, muslim itu “rahmatan lil alamin” atau “rahmatan lil muslimin”?

3. Kebebasan untuk Hidup Layak.
Jaman dahulu, mungkin kasta terbawah tidak pernah mendapat kehidupan yang layak, dimanapun mereka berada. Di jaman orde lama, guruku berkata bahwa saat itu setidaknya semua orang mampu mengisi perutnya, swasembada pangan, entah kenapa kedengarannya lumayan makmur meski aku tidak tahu apa penyebabnya dan bagaimana kondisinya. Mungkin berbeda dengan kesenjangan yang terjadi di zaman ini. Yaa, jika masih belum tahu kabar statistik kemiskinan di indonesia cobalah datang ke sebuah markas tim sukses calon presiden dan tanyakan ke mereka janji apa yang calon tersebut berikan dan kenapa. Yang jelas, kemiskinan dan kesenjangan sosial di negeri ini bukan rahasia lagi. Layakkah hidup mereka?

Lagi-lagi membandingkan dengan yang terjadi di Jepang, disana tidak ada golongan yang benar-benar miskin, setidaknya di kota yang kukunjungi (dan kebetulan kobe, kyoto dan osaka merupakan kota besar semua di jepang) kesenjangan sosial dan pekerjaan seperti pengemis atau pembersih kaca mobil yang bekerja saat lampu merah (dan kebetulan pernah bertemu pelerjaan serupa juga di australia) tidak terlihat. Tapi memang tidak salah bila dikatakan tiap orang sama menderitanya dengan tingginya harga barang-barang dan biaya hidup di jepang, apalagi di kota besarnya. Tapi, beberapa temanku juga mengakui bahwa orang jepang yang cenderung individualis juga ada. Yah, mungkin tiap sistem punya kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Yang jelas, saat ini masih banyak yang harus dibenahi agar semua warga indonesia dapat hidup layak.

4. Kebebasan dari Rasa Takut.
Di zaman dahulu sumber utama ketakutan kemungkinan besar merupakan peperangan dan bencana alam. Yah, entah bagaimana dengan tindak kriminal, aku juga penasaran apa yang menginspirasi Jack the Ripper atau kriminal populer lainnya untuk beraksi pada masanya. Pada zaman orde lama, kalau tidak salah ada kasus petrus atau penembakan misterius dimana mayat preman atau orang-orang bertato bisa ditemukan begitu saja tergeletak di pinggir jalan, terapung di sungai atau di tempat dan kondisi lain, menyebabkan tingkat kriminalitas pada saat itu menurun. Selain itu, takut pada pemerintah mungkin juga merupakan hal yang normal di masa itu. Dan untuk saat ini, hm, terorisme mungkin sudah tidak terlalu nge-hype meski dulu memang sempat marak dan penjagaan ketat terus berlangsung sampai sekarang, mungkin sekarang yang (katanya) masih perlu diwaspadai setidaknya di kota ini adalah geng motor. Yah, aku tidak masalah dengan perkumpulan orang yang punya motor selama aku dapat tidur nyenyak dan tidak ada korban yang ditimbulkan baik karena perbuatan usil ataupun perbuatan terencana mereka. Oh iya, kelihatannya pencopetan dengan berbagai modus operandi juga sedang marak. Setidaknya di saat ini pun masih banyak hal yang menimbulkan ketakutan. Yang membedakan adalah sumber rasa takut bagi warga saat ini adalah warga lainnya, yang mungkin merupakan teroris, geng motor, pencopet dan lain sebagainya. Hm, apakah saling mempercayai dan tidak mengganggu hak orang lain sesulit itu untuk diwujudkan? Itu yang menyebabkan rasa takut pada saat ini kan?

Akhir-akhir ini aku sering berpikir kalau aturan itu dibuat untuk melindungi hak yang dimiliki setiap orang. Kendaraan perlu berhenti di lampu merah agar pengemudi lain dan penyeberang jalan dapat mengambil haknya untuk berjalan. Membuang sampah di tempatnya perlu dilakukan agar tidak mengganggu hak sehat dan merasa nyaman yang dimiliki oleh warga lainnya. Tapi entah kenapa dalam keberjalanannya aku sering melihat fakta-fakta sederhana tersebut sering terabaikan, entah kenapa. Dan terabaikannya aturan ini pada gilirannya akan berpengaruh kepada tiap warga negara, baik orang-orang yang mengabaikannya ataupun tidak. Mungkin kita memang perlu belajar bagaimana cara menggunakan kebebasan bersikap yang membuat semua orang nyaman bukan? Karena itu, belajar yuk🙂

Dan sebagai kalimat penutup, karena tidak ada manusia yang sempurna, mohon koreksi jika ada kesalahan, maaf jika ada yang menyinggung atau di luar batasan dan informasi, saran atau kritik jika ada yang berkenan membagikan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s