Perasaan “Hidup”

It’s not the years in your life that count. It’s the life in your years.
-Abraham Lincoln-

Apa yang membuat kita merasa “hidup”?

Masih terpikir novel young sherlock holmes yang sedang dibaca. Terlepas dari banyaknya informasi menarik dan trivial sebagai sarana edukasi, memang novel ini agak imajinatif dan ada beberapa adegan yang hampir tidak mungkin terjadi, tapi unik juga membayangkan sherlock sebagai tokoh action dengan kemampuan deduksi dan beraksi cepat menghadapi masalah yang terjadi di petualangannya, yah, melihat ketenangannya menghadapi masalah dan beradu strategi dengan para kriminal aku memang yakin dia pernah terlibat masalah besar. Teori pribadi yang diperoleh dari diskusi dengan teman, seseorang bisa bersikap dan berpikiran tenang dalam sebuah masalah hanya jika dia tidak menganggap itu masalah atau dia pernah terlibat masalah yang jauh lebih besar. Dan saat membaca kata-kata di awal tersebut aku terpikir, apakah perjalanan penuh aksi dan petualangan layaknya indiana jones atau sherlock muda ini dapat membuat seseorang merasa hidup?

Aku juga sempat melihat beberapa cerita romansa, yah, kelihatannya itu bumbu bagi semua jenis cerita, masih belum mengerti kenapa. Selalu ada adegan berkata manis satu sama lain yang kadang sampai ke tahapan tidak masuk akal, seperti kehidupan tidak berarti bila tanpa sang pasangan–atau bahkan hidup akan hancur bila sang pasangan meninggalkannya, kerelaan untuk mengorbankan atau memberikan segalanya, janji untuk tidak akan pergi atau berpisah, hm, yaaah, masih banyak lagi hal aneh yang mungkin terucap. Entah sungguh-sungguh, terbawa suasana atau hanya omongan saja, karena aku lumayan yakin bahwa meskipun kita bebas untuk mencintai atau mendambakan siapa saja yang kita kehendaki, akan ada waktu untuk berpisah juga kelak. Ada kemungkinan ini yang membuatku tidak terlalu suka pada tema–dan juga pengalaman dalam–romansa, hal yang dijanjikan kadang terlalu muluk. Yah, memang tidak selalu terjadi antara manusia, ada juga manusia yang mengatakan hal serupa terhadap benda tertentu seperti motor, cincin, liontin dan sebagainya. Antara meninggikan derajat benda tersebut ke tingkatan manusia atau menyamakan derajat manusia yang dicinta dengan benda-benda tersebut. Tapi jadi terpikir juga, apakah berada bersama orang yang didamba atau sesuatu yang berharga dapat membuat seseorang merasa hidup?

Ada juga yang menyatakan:

Growing old is mandatory, growing up is optional
-Chili Davis-

Perkataan yang sudah sering terdengar, entah siapa yang mengatakannya pertama kali karena kelihatannya riwayat perkataan ini tidak pernah disebutkan. Entah siapa yang pertama kali memikirkan bahwa hak cipta dapat diberlakukan bagi hal seperti perkataan. Dalam satu sisi memang baik bagi orang yang ingin memeriksa sumber dari sebuah pernyataan atau karya ilmiah, juga dalam menghargai karya yang diciptakan oleh seseorang. Tapi di sisi lain, ini juga menghambat kreativitas orang lain. Aku memikirkan kemungkinan bahwa para pujangga di masa depan perlu memeriksa google untuk mengetahui apakah kata-kata indah yang mereka pikirkan sudah dipublikasikan orang lain atau belum, meskipun mereka baru saja merangkai kata-kata tersebut secara orisinil. Yah, tiap pilihan punya konsekuensi baik dan buruknya sendiri. Tapi aku selalu kagum pada para pencipta karya yang menentang hak cipta. Aku menganggap mereka sebagai sosok orang yang berkarya memang untuk dinikmati orang lain, atau memberi manfaat bagi orang lain, bukan sekedar mencari untung dari industri semata. Memang orang seperti itu hanya mungkin berasal dari golongan yang sangat kaya, sangat idealis atau mendapat bantuan dana dari sumber seperti pemerintah, tapi terlepas dari itu aku tetap punya rasa hormat yang besar pada mereka. Haha, meracau lagi. Ah, sudah lah, hanya mengeluarkan apa yang ada di pikiran, mungkin kelak ada gunanya bagi diri pribadi atau orang lain, dan kalaupun tidak berguna setidaknya tidak akan terus terpikir seperti yang akan terjadi kalau tidak dikeluarkan. Penyebab lain blog ini lebih banyak diisi tulisan daripada foto-foto atau gambar, meskipun faktor utamanya adalah koneksi internet yang lambat dan membuatku malas menunggu unggahan beberapa foto kegiatan saat di Jepang kemarin dan beberapa gambar yang bagus beres. Kadang aku mempertanyakan apakah speedy punya dendam khusus pada wordpress dan facebook atau memang terlalu banyak orang indonesia yang menggunakan web tersebut sehingga koneksinya lambat, yah, ada hal yang hanya dapat diketahui karena sulit untuk diubah memang.

Oke, kemungkinan lainnya adalah kebijaksanaan yang diperoleh dari “growing up”, proses mendewasakan diri. Selalu dikunjungi orang-orang yang punya masalah untuk mendengarkan ceritanya dan memberikan saran. Orang yang dikagumi dan dihormati oleh orang lain. Orang yang mampu menghadapi masalah dengan ketenangan luar biasa dan menyelesaikannya dengan gayanya tersendiri. Mungkinkah orang yang bijaksana itu merasa hidup?

Ada juga sahabatku yang unik. Dia sebenarnya cerdas dan punya hobi untuk membaca dan mencaritahu informasi-informasi unik yang ada di dunia, tapi dia kelihatannya agak kesulitan dalam menghadapi pelajaran kuliah, yah, dia memang sangat jarang terlihat pada kegiatan perkuliahan. Dan dia memang tidak segan untuk mengakui bahwa dia menghalalkan segala cara untuk lolos, juga tidak segan berargumen bahwa orang-orang yang untung besar dari dunia perdagangan pasti licik. Seperti tadi siang, dia punya metode licik untuk menyusupkan kertas rumus pada lembar ujian, caranya dirahasiakan agar tidak ditiru mahasiswa atau diketahui dosen yang kebetulan membaca, haha. Dan aku membiarkan. Di satu sisi aku tahu bahwa mencontek bukan perilaku yang terpuji dan memang punya dampak buruk bagi masa depan sang pelaku, tapi di sisi lain aku juga tahu bahwa sahabatku itu memang cerdas dan pelajaran yang diajarkan ini terlalu teoritis dan mungkin tidak ada gunanya di masa depan jika kita tidak menekuni bidang yang terkait. Salah satu dilema dalam beretika yang kualami akhir-akhir ini. Memang, aku tidak punya niatan untuk mencontek karena lebih senang jika hasil yang kudapat murni karena kemampuanku sendiri, sekaligus karena penasaran apa informasi yang masyarakat anggap penting dan mungkin bermanfaat untukku dari kecenderungan soal uts. Tapi entah kenapa aku memandang hidupnya sebagai salah satu hidup yang berwarna. Apakah memperoleh kesenangan dengan mencurangi sistem dapat membuat kita merasa hidup?

Ada juga orang-orang yang kebut-kebutan di tengah malam, berperilaku sesuai dengan yang mereka mau, seolah bebas melakukan apa yang mereka suka jika tidak terlihat oleh pihak yang berwenang, pergaulan bebas, penggunaan minuman keras, narkotika dan obat-obatan terlarang, dan perbuatan lain sebagainya. Ramai dan orang-orang yang melakukannya terlihat bahagia. Hm, apakah perbuatan melanggar aturan demi kesenangan diri sendiri meskipun mengganggu orang-orang dan bahkan membahayakan diri sendiri itu dapat membuat kita merasa hidup?

Ada juga yang sibuk memberi manfaat–atau setidaknya mencoba untuk melakukannya–pada orang lain, banyak menghabiskan waktu dengan membagikan ilmu, dana, tenaga dan berbagai jenis sumber daya kepada orang yang membutuhkan, tetangga atau warga sekitar, anak jalanan, korban bencana, penyandang disabilitas, dan banyak lagi. Mengabdi tanpa bayaran, entah karena waktu terlalu luang, panggilan hati atau memang menganggap hal tersebut keren. Orang-orang berterimakasih pada mereka dan mungkin senang atau bahkan menunggu-nunggu kehadiran mereka. Apakah itu juga bisa membuat seseorang merasa hidup?

Dan meski aku belum pernah melihat orang seperti ini secara langsung, hanya dari cerita-cerita atau semacamnya, tapi ada juga orang yang berperan sebagai partner atau dukungan bagi karakter utama sebuah cerita. Entah kenapa aku tidak terlalu banyak melihat orang yang mau melakukan hal seperti itu di kota ini, banyak anak muda yang idealis yang memiliki keinginan untuk berbuat sesuatu sebagai tokoh utama daripada membantu orang lain dengan tujuan dan impian yang sama untuk mewujudkannya bersama, padahal sendirian punya banyak keterbatasan. Aku menganggap peran ini sama pentingnya dengan karakter utama, dan hal yang menyenangkan dari peran ini adalah kita dapat membuat perubahan dan tetap berada dalam kondisi anonim. Yah, ada juga kemungkinan ini disebabkan dukungan itu tidak selalu dapat dilihat mata, dan, apakah berperan begitu dapat membuat orang merasa hidup?

Jika ingin melihat contoh perasaan “hidup”, aku menyarankan membaca komik strip “Calvin and Hobbes”, aku kurang mengerti kenapa tapi aku menganggap Calvin benar-benar hidup di kisah 2-Dnya. Kadang ada kekerasan, kadang ada ketakutan, kadang ada petualangan, kadang ada perbuatan seenaknya dan kadang ada kebahagiaan. Entah kenapa aku melihat Calvin sebagai sosok yang bisa menularkan kehidupan dari semangatnya beraktivitas dan kemampuan menikmati momen dalam tiap cerita. Baru menemukan bahwa pacar dari sahabatku yang tinggal di sebelah kamarku juga penggemar Calvin and Hobbes dan ada buku aktual yang bukan soft file dan bisa dibeli di toko buku kinokuniya. Agak mahal memang, tapi aku ingin punya, haha. Ada karya yang seseorang akui hingga dia memilih untuk menyumbangkan uang sebagai bentuk apresiasi tertinggi kan?

Dan mungkin perasaan hidup itu memang tidak ada hubungannya dengan perbuatan apa yang kita lakukan, tapi lebih terkait pada apakah kita menikmati dan senang atas apa yang kita lakukan, terlepas dari perbuatan apapun itu. Tapi, ada batasan yang perlu kita perhatikan, ada aturan yang perlu kita turuti. Kita tidak senang bila orang lain membuat kita tidak dapat menikmati hidup bukan? Kalau iya, apakah pantas kita membuat orang lain tidak dapat menikmati hidup mereka?

Setidaknya kita tetap dapat menikmati hidup sambil menghormati hak-hak orang lain kan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s