Pemimpin

Tadi ada materi menarik tentang pemimpin. Yap, seperti yang kita ketahui tiap orang bisa menjadi pemimpin. Tiap orang juga punya gaya, panutan, atau impian tersendiri terkait bagaimana cara memimpin orang lain. Dan saat ini aku tertarik untuk membahas pemimpin dari sudut pandangku sendiri, sosok yang kuanggap ada dan selalu menjadi panutan atau penyemangat untuk kuraih🙂

Aku tidak berpikir bahwa pemimpin itu harus saklek pada sebuah tujuan. Dia harus punya kemauan untuk mencapai tujuannya, itu jelas, tapi jika dia menyadari bahwa tujuannya itu salah atau tidak baik, dia tidak boleh segan untuk merubah tujuannya. Kalau dia segan atau enggan untuk mengarahkan dirinya sesuai dengan nilai yang dia anut dan saat itu dia percaya benar, bagaimana dia bisa turut mengarahkan orang lain pada apa yang dia yakini? Dan untuk itu, dia juga perlu menciptakan lingkungan dimana orang-orang yang dipimpin tidak ragu untuk mengutarakan pendapat mereka terkait apa yang bisa diperbaiki sang pemimpin. Tidak ada manusia yang sempurna, itu fakta, dan begitu juga dengan sang pemimpin. Jika dia sadar bahwa dia berbuat kesalahan, dia perlu segera merubah haluan dan memperbaikinya. Tapi dia juga perlu menjelaskan alasan berubahnya tujuan tersebut kepada orang-orang yang dia pimpin, apa yang dia rasa tidak tepat dan mengapa dia beranggapan demikian. Bagaimanapun, pemimpin merupakan orang yang mengarahkan bukan?

Aku tidak menganggap pemimpin itu harus punya pengaruh yang besar pada tiap orang yang ditemuinya. Dan aku juga tidak menganggap bahwa pemimpin harus punya pengikut ratusan atau bahkan ribuan orang. Hei, kita sedang membicarakan orang yang memimpin, bukan pembuat trend atau sensasi di twitter yang meski followernya ribuan entah berapa orang yang benar-benar peduli pada dirinya. Tidak masalah memimpin yang berjumlah sedikit, selama sang pemimpin mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang dia pimpin. Seseorang tidak diakui orang lain karena dia memimpin, tapi dia memimpin karena diakui orang lain. Oke, terlalu banyak membaca naruto, tapi bukankah faktanya begitu? Itulah yang menurutku merupakan fungsi dari pemilu, untuk melihat sosok mana yang diakui rakyat pantas untuk memimpin mereka, terlepas dari segala intrik dalam prosesnya ya. Tapi, jika orang-orang yang dipimpin telah percaya, pemimpin juga perlu siap bekerja kan?

Aku juga tidak menganggap pemimpin harus lah orang terbaik dari sebuah kelompok. Mungkin oraang terbaik memang bisa menginspirasi beberapa orang untuk berbuat lebih, tapi mungkin ada juga beberapa orang yang akan minder atau menganggap standar yang dipasang terlalu tinggi karena itu. Aku lebih menyukai pemimpin yang dapat merangkul semua golongan dan mengajaknya untuk berbuat suatu hal yang bermanfaat dan sesuai dengan tujuan pemimpin itu dipilih.

Dan masih terkait orang yang dipimpin, pemimpin itu bukan orang yang hanya menyuruh mereka yang dia pimpin untuk bekerjakeras membanting tulang tanpa tahu mengapa mereka melakukannya. Dia bukan pengendali boneka yang mengatur semua orang yang dia pimpin untuk berbuat sekehendaknya. Tapi dia harus mampu menempatkan orang dan menjelaskan hal sesuai dengan kemampuan orang tersebut dan menyiapkan orang tersebut agar siap untuk menghadapi dunia dan meraih tujuannya, baik dengan maupun tanpa sang pemimpin itu.

Aku tidak butuh pemimpin yang selalu berhasil tapi tidak ada yang bisa dipelajari dari prosesnya. Karena saat pemimpin ajaib seperti dia turun, kondisi akan kembali kacau, tidak ada hal yang dapat dipelajari dan dijadikan fondasi bagi tindakan generasi berikutnya, justru itu akan membuat sang penerus merasa terpuruk dan dapat dikucilkan oleh orang-orang yang dia pimpin karena tidak mampu membawa kejayaan yang sama dengan sang pendahulunya, turut berduka atas nasib penerus yang tidak punya keajaiban serupa. Aku lebih nyaman dengan pemimpin yang meski tidak selalu berhasil, tapi selalu mampu menunjukkan pada yang dipimpin apa yang dapat kita pelajari dari keberjalanan prosesnya. Dan yang dipimpin pun juga perlu punya kemauan untuk menjalankan dan memahami pelajaran tersebut, sebagai fondasi yang akan membangun langkah generasi berikutnya menuju tujuan.

Aku tidak suka pemimpin yang melaksanakan semua pekerjaannya dengan terburu-buru seolah sedang mengejar setoran. Mengetahui ada banyak hal yang perlu diurus itu baik, tapi apa perlu semuanya langsung dibereskan mengingat terburu-buru dapat menyebabkan kualitas pekerjaannya asal-asalan? Saat orang-orang terpikir deadline, umumnya mereka kehilangan kesempatan untuk menikmati proses karena khawatir pekerjaannya terlambat selesai. Di satu sisi memang melatih kedisiplinan dan tepat waktu baik, khususnya bagi orang-orang dengan jam karet, tapi di sisi lain hal itu justru mampu menghilangkan kesempatan orang yang mengerjakan untuk menikmati dan merasakan pekerjaannya, mempertanyakan apa serunya pekerjaan ini dan kenapa ada orang yang mau memperjuangkannya. Tidak ada salahnya menikmati kehidupan kan? Toh kita tahu setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati, terlepas dari sejauh mana kita sudah berjalan. Aku tidak berminat berlomba “siapa-yang-lebih-hebat” dan lain sebagainya dengan orang lain, lebih baik memilih kehidupan yang lambat tapi dapat dinikmati kan? Terburu-buru itu perlu dalam beberapa kondisi, khususnya pada kondisi dimana kondisi akan kacau jika keputusan apapun tidak segera diambil. Tapi jika semua pekerjaan dilaksanakan terburu-buru, apakah kualitas dari hasil, pelajaran yang didapat dan perkiraan kondisi di masa depan akan lebih baik? Jika tidak, mungkin kita perlu mencoret beberapa target🙂

Aku tahu pemimpin itu perlu punya rasa tanggungjawab, terlepas dari dia senang atau sedih diberikan amanah. Karena kalau tidak, jelas dia merupakan orang yang tidak tahu diri. Dirinya adalah pemimpin, dan orang-orang yang dia pimpin telah memutuskan untuk mempercayai dia. Memperlakukan hak-hak orang yang dia pimpin secara seenaknya bukan hal yang pantas untuk dilakukan bukan? Entah lah, yang jelas aku berpendapat bahwa jika ada orang yang benar-benar percaya pada seseorang, maka hal terkecil yang orang itu perlu lakukan untuk menghormatinya adalah dengan sungguh-sungguh menjalankan kepercayaan itu sesuai dengan kemampuan seseorang, terlepas dari orang itu menyukainya atau tidak.

Aku tahu pemimpin itu harus adil. Bukan hanya memperlakukan orang yang dipimpin dengan cara yang sama atau setiap orang mendapatkan tugas yang sama. Hei, menyuruh semua binatang untuk memanjat pohon bukan tindakan yang adil kan, bagaimana nasib ikan? Mungkin dia hanya akan sampai di atas pohon setelah dimangsa oleh kucing atau burung, dalam kondisi sedang dicerna. Yap, adil itu sesuai dengan kadarnya. Tidak masalah memberikan orang yang mampu dan mau lebih banyak tugas daripada yang lain, selama hal tersebut tidak membuat orang lain yang dipimpin resah atau merasa dikesampingkan karenanya.

Aku ragu bahwa pemimpin itu harus pandai bertuturkata. Oh, ini pendapat personal, karena aku tidak pernah menganggap diriku baik dalam hal itu. Mungkin aku lumayan bisa berkomunikasi dengan lancar pada orang-orang yang kukenal atau berbicara secara personal, tapi mengingat aku tidak suka menjadi pusat perhatian dan kadang masih terbata-bata saat berbicara di depan umum. Dan aku juga tidak berminat untuk berorasi atau berpidato jika tidak ada hal yang kuanggap mendesak untuk disampaikan. Entah, aku menganggap diriku lebih ke tipe berbuat daripada berkata. Entah, mungkin terinspirasi dari berbagai kisah action yang pernah kubaca, dan memang salah satu kisah yang paling membuatku kagum adalah kisah perang hunain, dimana riwayat yang kudengar mengatakan bahwa saat keadaan kacau dan umat muslim lari ke belakang Rasulullah tetap bertahan di medan perang walau beliau hanya seorang diri. Mengingat lawannya berjumlah ribuan dan itu bukan permainan seperti Dynasty Warrior, sampai sekarang keputusan beliau di riwayat itu masih membuatku takjub. Tapi yang jelas keputusan itu juga yang menginspirasi umat muslim dalam memutuskan untuk kembali berperang. Itu juga kisah yang sering kugunakan untuk motivasi diri apabila orang-orang sedang malas diatur, mereka akan kembali jadi siapkan saja ruang untuk mereka beraksi jika saatnya tiba. Dan itu berjalan dengan baik. Aku memang tidak siap jika harus melakukan perbuatan seperti dalam riwayat tersebut, tapi aku tahu apa yang bisa kulakukan. Yah, setidaknya riwayat tersebut turut menegaskan bahwa perbuatan itu hebat dan dapat menginspirasi juga bukan?

Dan yang terakhir, aku ragu pemimpin itu haruslah orang yang kuat. Dia memang harus tahu sikap apa yang tepat untuk digunakan dalam suatu kondisi, khususnya pada kondisi saat semangat orang-orang yang dipimpin dapat naik setinggi-tingginya atau turun serendah-rendahnya tergantung pada sikap sang pemimpin. Dia juga perlu kemampuan untuk mengendalikan diri dalam rangka mewujudkan hal tersebut, bagaimana seseorang mampu bersikap dengan baik jika pikirannya kacau pada saat seperti itu? Tapi, bukankah tiap manusia punya kelebihan dan kelemahan tersendiri? Meski mewujudkan hal yang tidak mungkin dicapai jika sendirian adalah salah satu fungsi adanya pemimpin, aku tidak beranggapan bahwa pemimpin tidak boleh menunjukkan sisi lemah. Tidak apa menunjukkannya, asalkan pada orang yang tepat dan di saat yang tepat. Pidato di depan wartawan mungkin bukan momen yang tepat, tapi tidak salah kan jika seseorang menunjukkan kelemahannya dalam dekapan bunda, pangkuan ayah atau bahu seorang sahabat? Apa salahnya bersikap manusiawi? Ada alasan manusia disebut makhluk sosial kan?

Haha, yah, sampai saat ini aku memang masih sosok yang kekanak-kanakkan dan berkeras ingin menemukan jalanku sendiri memang, mungkin karena itu aku lumayan sering keluar-masuk organisasi dan mencari yang cocok dengan sikapku itu. Aku tidak suka diberitahu jalan mana yang harus kutempuh, dan jika diminta untuk tidak menempuh suatu jalan pasti akan banyak bertanya jika aku tidak mengerti mengapa. Seminar terakhir yang kuikuti adalah Seminar Sukses Di Kampus, sayangnya aku mendapat ip lumayan bagus tanpa mempedulikan seminar tersebut, well, kelihatannya aku juga sudah lupa apa yang kakak pembicara waktu itu sampaikan, dan aku tidak punya minat apapun untuk mengikuti kegiatan yang memberitahu kamu harus begini dan kamu harus begitu, semua orang keren jika mereka mengetahui diri mereka dengan baik dan mau menonjolkan kelebihannya. Dan karena itu poin terakhir yang kuanggap penting bagi seorang pemimpin adalah kesabaran dan keteguhan hati, karena nyatanya ada orang yang belum mengerti dan mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan usaha yang sangat besar untuk membuatnya mengerti. Menyebalkan memang, karena itu pemimpin perlu sabar dan teguh. Tapi jika berhasil, mungkin hasilnya akan jauh lebih worth it daripada apa yang seseorang bisa bayangkan, percayalah.

Ada yang bilang pemimpin itu harus tulus dan mencintai apa yang dia pimpin, tapi aku beranggapan jika poin diatas dapat dipenuhi semua sang pemimpin itu juga akan belajar untuk tulus dan mencintai, jadi ya sudah lah ya.

Wah, sebulan lagi pemilu, dan aku masih belum menemukan calon mana yang sesuai dengan kriteriaku. Masih ragu untuk abstain, tapi belum menemukan calon yang tepat. Kadang aku berharap punya kemampuan deduksi terhadap isi hati orang agar mengetahui mana yang tulus dan mana yang dusta, atau kemampuan untuk melihat dari sudut pandang yang sangat luas apa yang terjadi jika seseorang terpilih sebagai legislatif atau presiden. Yah, ilmu saat ini belum cukup memang, masih banyak yang perlu kuketahui dan pelajari. Lagipula tiap orang pasti punya rahasia yang hanya ingin diketahui oleh dirinya dan Tuhannya kan? Mungkin ada baiknya begini saja🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s