Golongan Putih

Entah kenapa sekarang sedang tertarik dengan dunia pemilihan umum, baik legislatif negara ataupun politik kampus, entah di kosan, entah di kampus, dimanapun lah. Entah karena waktu yang semakin dekat, entah karena memang topik ini banyak dibicarakan orang, entah karena penasaran, entah karena apa. Siapa juga yang akan peduli pada alasan menulis seseorang? Tidak banyak orang yang mempertanyakan, kelihatannya tidak banyak juga yang penasaran, semua langsung saja menilai, mengritisi, dan lain sebagainya. Entah ingin diperhatikan dengan sok pintar, memang menyampaikan apa yang dia rasa benar atau berharap mendapatkan pencerahan dengan adanya diskusi, hm, sulit untuk menilai mana yang terjadi, toh kita tidak bisa mengetahui isi hati. Jika ada pesan yang perlu disampaikan kepada orang-orang yang cepat emosi, hm, mungkin ilustrasi The Muslim Show yang ini sesuai🙂

944445_351769594945121_4485503_n

Dan pada umumnya orang-orang terbagi menjadi dua golongan dalam hal ini, golongan yang akan memilih dan golongan putih. Entah apa alasannya, tapi saat ini golongan putih entah kenapa dikesankan sebagai hal yang negatif, berbagai propaganda sedang disebarluaskan untuk meminimalisir jumlah golongan putih ini, iklan di televisi, grafis di internet, selingan di radio, gambar di koran, dan lain sebagainya. Entah apakah dalam waktu dekat akan ada sms atau e-mail yang masuk ke handphone kita dan menyuruh kita untuk ikut berpartisipasi aktif saat pemilu, hm, mungkin itu akan terjadi di masa depan, meskipun sms dan e-mail juga bergantung pada penggunanya, mau memilih disimpan dan dilaksanakan atau dihapus dan dilupakan. Tergantung individu yang punya kuasa atas handphone tersebut kan? Mungkin yang akan merepotkan adalah jika kedua golongan berdebat sedemikian rupa, seperti gambar di sebelah kanan dalam ilustrasi The Muslim Show lainnya berikut.

1004945_630204987042388_872062915_n

Gambar-gambar yang dibuat karikatur asal Prancis ini memang menarik dan lumayan tepat untuk menyindir, agak disayangkan gambar di bagian pertama masih belum diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, tapi yang tertarik pada ilustrasinya bisa mengunjungi Halaman Facebooknya dengan versi Bahasa Inggris di https://www.facebook.com/themuslimshow atau untuk halaman versi terjemahan Bahasa Indonesia https://www.facebook.com/muslimshowindonesia.

Ada dua buah tulisan yang, kebetulan sedang lumayan ramai dibicarakan oleh beberapa temanku, dan isinya lumayan bagus. Terkait politik dan pemilu, tulisan pertama dibuat oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Dema Fisipol UGM), dan tulisan berikutnya dibuat oleh Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (Semar UI). Aku lebih suka mencari informasi atau pandangan politik dari universitas lain yang memang punya program studi di bidang perpolitikan, menganggap mereka lebih mengetahui ilmu dan apa yang mereka bicarakan. Tanpa bermaksud menganggap bahwa kajian yang selama ini diselenggarakan di universitasku tidak berguna dan lain sebagainya, hanya saja kadang kita perlu melihat dari sudut pandang lain, selain dari sudut pandang insinyur, ilmuwan, seniman dan bisnis manajemen. Lagipula, orang akan lebih percaya saat belajar dengan orang yang memang mempelajari ilmunya kan?

Berikut adalah link tulisannya:
Notes Facebook Dema Fisipol UGM – [Launching] PEMILU 2014 : Gerakan Menolak Bodoh: https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/launching-pemilu-2014-gerakan-menolak-bodoh/500965723346190

Artikel Semar UI – Tentang Advokasi “Mengawal Pemilu”: http://serikatmahasiswaprogresif.blogspot.com/2014/03/tentang-advokasi-mengawal-pemilu.html

Dan, ada satu artikel lagi yang lumayan menarik terkait golput: http://faldomaldini.tumblr.com/post/79895063350/perdebatan-seputar-golput

Mungkin bagi yang berminat bisa membaca ketiga tulisan tersebut. Kesimpulan yang kutarik dari ketiga tulisan tersebut adalah, masalah yang dihadapi pemilu sekarang bukanlah golput atau tidak, melainkan kesadaran terhadap partisipasi politik diluar pemilu. Orang yang hanya memilih dalam pemilu tapi tidak melakukan apa-apa untuk mempertanggungjawabkan pilihannya dan orang yang golput tapi hanya berkicau di media sosial perihal kegolputannya atau masalah trivial lainnya sama-sama bukan hal yang diperlukan saat ini. Tertarik untuk mengutip perkataan dari Dema Fisipol UGM pada artikel mereka,

Partisipasi tak boleh diasosiasikan dengan tindakan mencoblos semata. Partisipasi politik, pada hakekatnya, adalah usaha untuk melakukan pembenahan politik. Bicara partisipasi politik berarti bicara soal perjuangan. Dan perjuangan bisa dilakukan lewat 1001 jalan. Namun, terlepas dari cara apapun yang seseorang pilih, perjuangan mensyaratkan satu hal: konsistensi. Perjuangan adalah ketekunan. Memperjuangkan demokrasi adalah ikhtiar tanpa putus-putus untuk terus maju. Memperjuangkan demokrasi adalah sebuah usaha yang jauh dari kata lelah dan bosan; apalagi rasa jijik.

Makna partisipasi semacam inilah yang sesungguhnya harus kita lindungi setiap saat. Ironisnya, jargon-jargon populer semacam ‘5 menit demi 5 tahun’ rawan sekali menggerus makna ini. Jargon ini cenderung melebih-lebihkan peran pemilu. Seolah-olah, hanya dalam lima menit kita bisa mengubah negeri ini. Seolah-olah, rakyat kita hanya diberi waktu lima menit untuk berbuat sesuatu. Dua hal ini salah kaprah. Pertama, pemilu tak bisa mengubah negeri ini begitu saja. Kedua, pemilu bukan satu-satunya momen di mana kita bisa berbuat sesuatu. Setiap detik, setiap menit, setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun adalah momen untuk berdemokrasi. Setiap saat kita bisa berjuang. Slogan ‘5 menit demi 5 tahun’___jika kita ingin melakukan pencerdasan serius___semestinya dikubur di pemakaman umum dan diganti dengan ‘5 tahun untuk 5 tahun’. Pesan moralnya: Tak usah menunggu lima tahun untuk berbuat sesuatu.

Salah kaprah inilah yang harus kita luruskan. Pemilu bukan jin botol yang bisa mengabulkan semua keinginan kita dalam sekali elus. Kita bukan seorang Cinderella yang berubah nasibnya lewat sebuah pesta dansa. Kita tak bisa mengubah negeri ini dengan beberapa kali coblosan. Jika seseorang hendak membenahi demokrasi, hendaknya ia tak cuma terlibat dalam lima menit, melainkan terlibat dalam lima tahun. Jangan ribut sekarang kalau kemudian cuma nongkrong di toilet kampus selama lima tahun sambil bilang pada diri sendiri, “Akulah sang pembela demokrasi”. Tindakan itu delusional.

Jadi, mungkin masalahnya bukan golput atau tidak, tapi terlepas dari apapun pilihan kita (pilihan caleg, capres dan lain sebagainya, termasuk golput), siapkah kita mempertanggungjawabkannya dan terus berusaha memperjuangkannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s