Keadilan Dalam Tigaratus Rupiah

Adilkah hidup?

Oh, itu sebuah pertanyaan yang sudah dipertanyakan entah sejak jaman apa. Lihatlah sekeliling, ada insan yang bersenda gurau di dalam sebuah restoran mewah, dan ada juga insan yang hanya bisa menatap iri dari luar restoran, ragu apakah dia bisa menikmati hidup semewah itu mengingat dia bahkan tidak tahu apakah hari itu dia mampu untuk membeli makan atau tidak. Ada fotomodel yang rupawan sehingga ribuan insan siap melakukan apapun agar bisa memiliki fisik sepertinya, dan ada juga insan dengan rupa pas-pasan, atau mungkin memiliki indra atau fisik yang tidak lengkap. Ada insan dengan kekuatan yang luar biasa dan mampu mengangkat beban hingga ratusan kilogram, ada juga yang terbaring lemah tanpa daya karena sebuah penyakit, mengandalkan obat-obatan yang diinfuskan ke tubuhnya untuk bertahan hidup. Wajar bukan jika ada yang bertanya, “Adilkah hidup?”

Tetiba terpikir hal ini, setelah mengalami hal yang, hm, agak unik barusan. Sebenarnya lumrah, tadi saat selesai mengajar entah kenapa angkutan umum yang biasanya sangat jarang terlihat langsung muncul dan bergerak setelah aku dan sahabatku naik, namun saat aku turun, kembalian yang harusnya kudapat adalah sebuah koin 500 rupiah, sementara yang kudapat hanyalah sebuah koin 200 rupiah. Aku terkekeh sendiri setelah angkutan umum itu pergi, mengingat kejadian dua pekan yang lalu, saat aku membungkus 200 rupiah dalam selembar dua ribuan dan membayar biaya angkutan umum yang seharusnya 2500 rupiah sebagai tanda kekecewaanku terhadap sang pengendara yang menghabiskan waktuku untuk menunggu penumpang lain yang ingin masuk. Oh, aku memang bukan orang yang terlalu taat dengan aturan (mungkin juga tidak terlalu mengetahuinya), dan aku saat itu menganggap itu adalah potongan biaya 300 rupiah itu merupakan harga dari waktuku yang terbuang, dan saat ini pun aku menganggap biaya tambahan 300 rupiah itu merupakan tip karena sang pengendara tidak membuang waktu. Serupa tapi tak sama, entah sang pengendara sengaja atau tidak sadar, aku telah terbalaskan. Adilkah hidup?

Ya. Aku percaya jawabannya iya.

Mungkin kita terlalu terbutakan oleh keinginan terhadap suatu hal yang kita tidak miliki sehingga sulit untuk menyadarinya. Ada yang menyebutnya karma, ada juga yang mafhum seolah ini hukum alam, entah bagaimana semuanya adil.

Di saat orang-orang berbadan kuat menikmati hidupnya, ada beberapa yang memilih untuk mencoba segala hal yang berpotensi untuk merusak tubuhnya–bukankah dahulu minuman keras dan narkoba lumayan lumrah muncul di berita?–hanya karena penasaran, ada beberapa yang dibenci dan dilaknat masyarakat karena menggunakan kekuatannya untuk memeras yang lebih lemah, ada yang mencari sesama orang kuat lainnya untuk bertarung menentukan siapa yang terkuat dan lain sebagainya. Sementara, jika kita melihat orang-orang yang memberi bantuan pada orang yang terbaring lemah di rumah sakit, entah kenapa selalu ada senyuman, motivasi dan rasa syukur. Tidak hanya bagi orang yang melakukan, tapi juga bagi orang yang melihat atau mendengar ceritanya. Dalam hal ini orang-orang yang terbaring lemah itu memiliki cara tersendiri untuk mewarnai orang lain, membuatnya lebih bersyukur, memotivasi untuk menjadikan hidupnya lebih bermakna, ah, hukum ketiga Newton. Untuk setiap aksi yang diberikan, dalam hal ini kepada orang yang sakit tersebut, selalu ada reaksi yang sama besarnya, dalam hal ini kepada orang yang memberi. Kupikir hal ini juga berlaku pada berbagai perasaan antara manusia, sebut saja cinta dan kasih, persahabatan, tulus berbagi dan ingin menyemangati. Memang tidak semua bakti sosial berjalan dengan ideal seperti itu, namun orang-orang yang terbaring lemah juga punya caranya sendiri untuk bermanfaat bagi orang lain. Entah, kadang aku menganggap perbedaan antara orang yang kuat dan sehat walafiat dengan orang yang sakit dan lemah tak berdaya hanyalah kemewahan memilih cara untuk merusak kekuatan dan kesehatannya.

Mungkin orang yang rupawan juga tidak seberuntung itu. Meskipun mereka mungkin dikagumi banyak orang, tapi perlu diingat bahwa kekaguman tidak selamanya positif. Siapa yang tahu berapa banyak surat cinta, telepon gelap, dan berbagai jenis gangguan yang ditimbulkan oleh para pengagumnya kepada sang rupawan? Siapa yang tahu berapa banyak orang yang hanya menilai rupanya, tanpa memedulikan kepribadian, kebaikan yang telah dilakukan dan berbagai hal yang seharusnya lebih mencerminkan manusia daripada sekedar sosok yang elok dipandang? Siapa yang tahu berapa banyak orang yang membayangkan dia melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak etis untuk memuaskan keinginan mereka? Hal terakhir ini juga yang menjadi pertimbanganku untuk tidak mengunggah beberapa foto bersama sahabat-sahabatku yang kuanggap menarik, tapi dalam beberapa aspek bisa disalahgunakan, apalagi jika yang terancam adalah foto sahabatku. Dalam hal ini, orang dengan rupa pas-pasan atau fisik dan indra yang kurang berfungsi mungkin tidak terlalu memusingkannya. Dan, orang dengan disabilitas atau ketidakmampuan juga punya cara sendiri untuk memberi warna pada orang lain. Sebagaimana yang telah Helen Keller lakukan. Wanita ini memiliki disabilitas penglihatan dan pendengaran, kemampuan berbicaranya juga tidak terlalu jelas tapi beliau punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Bahkan, beliau mampu menjadi penulis ternama, aktivis politik dan dosen terlepas dari segala keterbatasannya tersebut. Kisah beliau juga menginspirasi Tere Liye dalam novel berjudul “Moga Bunda Disayang Allah” dalam dunia sastra Indonesia, terlepas dari kontroversi yang (mungkin) terjadi setidaknya cobalah ambil hikmah yang ada, bukankah hikmah adalah pusaka kaum muslim? Contoh lain dari kekurangan fisik yang ada adalah Nick Vujicic, seseorang yang terlahir tanpa tangan ataupun kaki tapi mampu menjadi motivator yang telah menginspirasi ribuan, atau mungkin jutaan orang, dengan mengisahkan perjuangan hidupnya dalam kondisi tersebut. Setidaknya aku lumayan yakin orang-orang melihat mereka apa adanya dan keseluruhan sebagai manusia, tidak hanya berpusat pada rupa dan fisik saja.

Dan dengan orang-orang yang kaya, hm, aku pernah melihat beberapa rumah dengan sistem pengaman yang sangat canggih. Aku lumayan menyukai serial Leverage dimana para pencuri menggunakan berbagai trik dan teknologi untuk mencurangi balik orang-orang yang mencurangi orang lain atas permintaan korban yang tercurangi, seperti campuran antara Robin Hood dan Ocean Eleven lah. Dan, bukankah memiliki harta itu merepotkan? Berapa banyak pencuri yang mengincar dan tekanan yang ditimbulkan? Ah, jadi teringat perkataan Ali radiyallahu anhu terkait perbedaan harta dan ilmu, “Harta itu kamu yang menjaga, sementara ilmu itu akan menjagamu”. Bagaimana dengan orang dengan keterbatasan finansial? Hm, ada yang sudah melihat film “Denias Senandung di atas Awan” atau film atau tetralogi novel “Laskar Pelangi”? Keterbatasan finansial juga memiliki caranya tersendiri untuk mempertajam kreativitas dan menginspirasi orang.

Dan kalaupun itu masih dirasa belum cukup adil, Dia masih memiliki akhirat. Bukankah Allah itu Maha Adil?

Akhir-akhir ini aku merasa bahwa yang penting bukanlah apa yang tidak kita miliki, tapi bagaimana kita memaknai dan memberi kesan penting pada hal-hal yang kita miliki. Dan jika kita telah mampu melakukannya, mungkin saat itulah kita dapat melihat bahwa semuanya tercipta dengan adil. Kadang aku bingung mengapa keadilan dalam 300 rupiah bisa membuatku meracau banyak tentang keadilan.

Dan berbicara tentang keadilan, kira-kira apa yang bisa kulakukan saat aku perlu mempertanggungjawabkan janji-janjiku yang belum kutepati, hutang-hutang yang belum kulunasi dan lain sebagainya ya, saat Dia menegakkan keadilanNya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s