And The Mountains Echoed

Sedang membaca And The Mountains Echoed. Yap, judul dari novel ketiga yang ditulis oleh Khaled Hosseini. Kebetulan aku lumayan menyukai karya beliau. Selain mampu mempermainkan emosi para pembaca, pembelajaran terkait situasi politik di Afghanistan, dan, hm. Dia tahu bagaimana cara untuk bercerita. Dan buku ini menarik, tiap bab diceritakan dari sudut pandang orang yang berbeda, menceritakan suatu lini masa. Serupa dengan gaya novel Six Suspects karya Vikas Swarup, yang juga menulis novel Slumdog Millionaire. Ceritanya juga menarik, meskipun mungkin Hosseini telah terkenal dengan tokoh protagonis berupa anak-anak dan cerita diawali dari kondisi afghanistan sebelum pergolakan politik Afghanistan, tapi cerita tentang saudara yang terpisah karena penjualan anak ini menarik juga. Agak sedih melihat bagaimana mereka berjanji tidak akan pernah berpisah saat resensi di balik buku menuliskan bahwa sang adik akan dijual tidak lama setelah itu. Yah, memang selalu ada kemungkinan yang jauh lebih buruk dapat terjadi, seperti yang dikatakan Bill Watterson, pencipta komik strip Calvin and Hobbes dalam karyanya,

That’s one of the remarkable things about life. It’s never so bad that it can’t get worse.

Seperti biasa, aku selalu menyukai buku yang bisa memberikan sudut pandang yang baru, atau menyadarkan, dan karena itu aku lumayan menyukai buku ini. Setidaknya banyak kejadian (walaupun fiktif) yang menarik, sebagaimana yang kutemukan dalam kedua karya sebelumnya, The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns.

Ya, aku selalu menyukai cerita. Entah apa yang menyebabkannya, menganggap kehidupan lain lebih menarik, ingin mempercayai bahwa akhir yang bahagia pasti ada, entah apa. Aku tergolong mudah masuk ke dalam alur cerita yang digunakan oleh penulis, ataupun media. Dan itulah penyebab aku tidak menyukai media, aku terlalu mudah untuk mereka giring, terutama jika mereka benar-benar pandai dalam bercerita.

Dan ada satu pola pikir yang menarik yang kutemukan dari mencari kutipan dari Khaled Hosseini di google, haha.

“It’s a funny thing but people mostly have it backward. They think they live by what they want. But really, what guides them is what they’re afraid of. What they don’t want.

Mungkin ada benarnya. Orang-orang yang supel dan aktif berorganisasi mungkin didorong oleh rasa ketakutan akan tidak punya sahabat atau tidak mampu mengatur orang lain. Orang-orang yang bisa melakukan banyak hal mungkin didorong oleh ketakutan akan tidak punya orang yang dapat diandalkan saat dibutuhkan, karena itu dia menjadi orang tersebut. Orang yang mengikuti berbagai pelatihan mungkin didorong oleh ketakutan akan rasa gagal, ketakutan tidak disukai orang lain jika dia tetap bertahan sebagaimana dirinya atau ketakutan tidak akan sukses saat memulai apa yang ingin dia lakukan. Orang yang mengungkapkan perasaan mungkin takut dia tidak akan mendapatkan kesempatan berikutnya untuk mengutarakannya, dan orang-orang yang memendamnya mungkin takut akan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi jika hal tersebut diutarakan, atau mereka takut akan konsekuensi dari pengucapan hal tersebut.

Tapi mungkin juga tidak semuanya seperti itu. Aku juga telah melihat beberapa orang yang bergerak berdasarkan passionnya, berdasarkan apa yang ingin dia lakukan. Ada orang yang matanya berbinar saat melihat perkembangan atau potensi muridnya dan tersenyum miris saat melihat hal yang berbahaya bagi muridnya. Ada yang menjadikan seseorang sebagai teladan dan berusaha untuk meniru hal-hal baik yang dia lakukan tanpa rasa takut orang-orang tidak akan menerima dirinya. Entah apakah mereka diarahkan oleh ketakutan tidak dapat menerima diri sendiri jika tidak melakukannya, aku meragukan hal itu. Ah, sudah lah, siapa kita untuk berhak menilai orang tanpa tahu mengapa?

Ada yang berkata aku agak unik, dan agak aneh. Yah, aku sendiri tidak menganggap aku mampu menyusun berbagai kalimat menjadi runut dan koheren tanpa menuliskannya terlebih dahulu di selembar kertas, dan semua tulisan yang ada di dalam blog ini hanyalah caraku mengeluarkan apa yang terpikirkan di dalam otak, percayalah, terlalu banyak pikiran itu merepotkan. Sulit untuk fokus kepada segolongan orang jika kita terlalu terpaku pada gambaran besar dari kehidupan dan kesengsaraan, dan karena aku tergolong pendiam di hadapan orang yang belum kukenal atau orang yang kuhormati, yah, pikiranku sangat berisik. Seperti apa yang dikatakan Stephen Hawking.

“Quite people have the loudest mind”

Ada benarnya. Dan jika hanya menilai dari apa yang ada di dalam pikiran, pikiranku sangat acak. Berbagai sudut pandang dan gagasan berdebat memperebutkan posisi gagasan yang akan kugunakan dan kuterapkan dalam kehidupan. Dari gagasan yang jelas kebenarannya sampai yang jelas salah. Yah, mungkin aku hanya suka meracau tentang kehidupan, terlepas dari mana yang benar dan mana yang salah. Dan aku masih berpikir melepas Godzilla di tengah kota merupakan hal yang tepat untuk dilakukan.

Ah, mungkin karena itu juga aku menyukai kata-kata Rumi yang terletak di awal buku.

Out beyond ideas
of wrongdoing and rightdoing,
there is a field.
I’ll meet you there.

And right now I’m just sitting here for hours and just mouth off about the world…

2 pemikiran pada “And The Mountains Echoed

  1. Arghhh belum baca novel ini D:

    • Buku ini sangat kurekomendasikan bie, meskipun kisahnya hosseini selalu dimulai dengan kehidupan anak kecil di afghan jaman dulu, cerita dan insight yang dikasih tetap ngena lah. Paling nggak sampe bab 4 yang baru beres kubaca ini, ada potensi lebih bagus dari Kite Runner. Dia jago ceritanya, penasaran gimana akhirnya :3
      #tapi tugas masih banyak :l

      *spoilers:
      Menyayangkan kenapa ringkasan di belakang buku harus menuliskan sang adik dijual, udah meringis di awal sejak dua bersaudara itu berjanji akan terus bersama selamanya :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s