Amanah

Lelah. Yah, wajar bukan jika manusia merasakannya? Setelah ditunjuk jadi penanggungjawab dari program pasca aktivitas di jepang akhir bulan lalu, dengan selembar kertas A2 (atau A1? Ah, entah) berisi rangkuman apa yang perlu dilakukan dalam jangka waktu 1-3 bulan kedepan, kelihatannya aku tidak bisa berfokus pada Tugas Akhir sebanyak yang kuinginkan. Ya sudah, nikmati saja lah, jadi ingat perkataan seorang sahabat, “Mungkin kesibukanmu adalah cara-Nya menjagamu dari melakukan perbuatan buruk yang Dia benci”. Ya, kuharap begitu.

Temanku juga pernah berkata, “Gak apa lelah, yang penting lillah”. Perkataan yang kuragukan pernah kulakukan selama ini. Entah mengapa aku tidak pernah terpikir melakukan sesuatu karena apa, tidak ada alasan tertentu, hanya melakukan karena ingin saja. Dan aku lebih suka berpikir mengenai apa yang perlu dilakukan daripada berfokus pada kenapa perlu dilakukan, entah, perlukah kita mempermasalahkan sebuah kegiatan itu berguna atau tidak saat ingin melakukannya? Kalau ada yang ingin, silahkan, mungkin terinspirasi dari fiqih prioritas untuk memprioritaskan yang lebih sedikit bahayanya atau lebih banyak manfaatnya, sayangnya aku kurang paham akan hal itu. Entah, bukankah kita diperkenankan berbuat sesuka kita asal kita tidak lupa bahwa kita akan mempertanggungjawabkannya kelak?

Ah, sudah lah, bosan memikirkan amanah yang kuterima. Kemarin ada momen yang menarik di rumah belajar yang kuikuti, bagaimana kalau membahas itu?

Hal itu terjadi saat aku sedang mengingatkan beberapa orang anak untuk menjaga tindakannya. Ada beberapa yang menurut, ada beberapa yang menolak, seperti biasa. Dan umumnya aku menangkap anak-anak tersebut dan melarang mereka mengulang hal tersebut.

Memang ada beberapa orang yang mengatakan bahwa tidak boleh menggunakan kata negatif seperti “jangan” atau “tidak” pada anak kecil, tapi aku tidak terlalu mempedulikannya. Karena di masa kecilku pun aku mendengar beberapa kalimat larangan, dan aku tidak menganggap itu buruk. Sebagaimana saat aku kelas 2 sd dahulu, saat baru pindah ke ciledug, dimana sang imam tarawih membaca surat An-Naas terlalu panjang dan lama. Aku yang bosan mengambil inisiatif untuk membaca surat tersebut sendiri karena bosan menunggu imam menyelesaikan bacaannya, dan akhirnya aku pun mendahului imam. Setelah shalat, kakekku yang berada di sebelahku hanya berkata padaku bahwa tidak boleh mendahului gerakan imam. Sampai sekarang aku tidak pernah mendahului imam lagi. Aku juga pernah mencobanya ke seorang anak, saat dia sedang hobi memegang alat vital anak lain, entah siapa yang mengajarkan. Dan aku pun langsung menegur dia bahwa itu tidak sopan dan tidak boleh dilakukan, setidaknya sudah lebih dari setengah tahun dan aku belum melihat dia melakukannya lagi. Itu satu-satunya kalimat larangan yang pernah kukeluarkan dan (semoga) efektif, aku penasaran bagaimana kakekku melakukannya. Kelihatannya kalimat larangan yang diberikan dengan cara atau pada waktu yang tepat punya pengaruh tersendiri.

Dan saat aku mencoba menarik janji pada seorang anak untuk tidak melakukan suatu hal lagi, si anak itu meronta dan berusaha melepaskan diri karena tidak mau melakukannya. Oke, sebuah tindakan yang menyebalkan disaat situasi sedang riuh dan perlu ditenangkan. Tapi setelah dipikir lagi, bahkan dari anak-anak yang biasa kita golongkan “anak nakal” pun tetap ada yang mengerti beratnya perkataan dan konsekuensi dari mengucapkan janji. Dan aku ingin bertanya, bagaimana dengan pemimpin saat ini?

Sejak SMA, aku lumayan sering bergaul dengan orang-orang yang siap menerima amanah hanya kalau mereka diamanahkan. Dan pola pikir tersebut melekat padaku hingga sekarang, semua amanah yang kuterima merupakan pemberian dari orang-orang yang percaya padaku. Karena itu pada awalnya aku sempat merasa heran pada orang-orang yang meminta amanah untuk dirinya, meminta orang lain untuk percaya padanya. Lihat saja poster-poster yang ada, orang-orang yang tidak kita kenal sama sekali tetiba mengeluarkan poster dan baliho raksasa yang meminta kepercayaan kita. Siapa mereka? Entah. Apakah mereka siap mempertanggungjawabkan janji dan kepercayaan tersebut? Tidak tahu. Well, setidaknya aku sedikit memahami kenapa orang memilih untuk golput.

Ah, kadang pelajaran dan teguran itu selalu ada dimanapun ya, baik terlihat jelas dibawah terangnya cahaya ataupun tersembunyi di dalam pekatnya kegelapan, tapi selalu ada, terutama jika kita mau mencarinya. Pembelajaran kehidupan. Entah apa yang menyebabkan semua ini, ada sahabat yang berkata bahwa kadang kita terlalu sibuk mengobati gejala, tapi lupa mengobati penyakit yang sesungguhnya. Dalam hal ini, entah apa penyakitnya, apakah hal yang sulit dibenahi seperti persepsi masyarakat dan sistem pendidikan, atau hal sederhana seperti pengakuan kepada sang anak yang dididik?

Entah lah, banyak yang perlu dikerjakan, baik bagi sang pemimpin yang akan terpilih ataupun bagi rakyat jelata yang terdidik untuk memperbaiki kondisi saat ini. Yaa, kita bisa diam, berharap ada orang lain yang sadar dan akan mengubah segalanya, tapi bahaya juga kalau semua orang menunggu sosok yang siap mengubah itu. Karena itu, kenapa kita tidak mulai menarik trigger perubahan? Entah bagaimana akhirnya memang, tapi playlist entah kenapa sedang tepat untuk menyemangati, dengan lagu tidal wave dari owl city.

The end is uncertain and I’ve never been so afraid
But I don’t need a telescope to see that there’s hope
And that makes me feel brave

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s