Orang-orang yang Terlupakan

Ada perasaan menyesak saat mengetahui bahwa orang-orang yang selama ini kita lupakan merupakan orang-orang yang paling peduli dengan diri kita, meskipun hanya mampu menyatakannya melalui doa dan harapan akan kebaikan bagi diri kita. Bukan karena orang-orang yang dekat tidak peduli, tapi lebih ke rasa bersalah karena kita tidak menempatkan orang-orang tersebut sebagaimana orang-orang tersebut menempatkan diri kita.

Entah apakah dapat digeneralisir, tapi itu lah yang terpikir olehku saat kemarin dihubungi oleh juniorku di rohis smaku, yang meminta bantuan untuk dihubungkan dengan beberapa sahabat seangkatanku. Dan saat bertukar kabar sejenak baru lah kuketahui kalau dia sedang sakit. Saat berbasa-basi sembari mendoakan cepat sembuh dan menyemangati, dia pun merespon “Nothing to worry about, inshaa Allah kak ….. (nama kawan yang dia minta bantuanku untuk dihubungkan) & kak Laksma are in my prayer always”.

Well, mengingat selama ini aku tidak pernah memasukkan dia dalam doa, merasa agak aneh saat mendengarnya. Tidak ada masalah pribadi, memang aku jarang mendoakan orang lain secara khusus, hanya beberapa orang yang menurutku butuh saja. Berusaha mengingat nama begitu banyak orang dan masalahnya masing-masing dalam waktu yang terbatas itu lumayan menyulitkan, lebih menyenangkan mendoakan hal yang general dan dapat dirasakan oleh semua orang. Sekali doa semua termohonkan, efisien bukan?

Dalam The Kite Runner, Khaled Hosseini berpendapat bahwa ada beberapa orang yang menganggap orang lain selalu mengatakan kebenaran atau bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Iya, mungkin tidak selalu begitu. Mungkin dia hanya terbawa suasana dan tidak sengaja salah kata. Tapi entah bagaimana, begini saja sudah memberikan bahan pemikiran, apalagi kalau dia bersungguh-sungguh.

Belum lama ini ada juga temanku yang merasa terabaikan. Meskipun dia punya orang-orang yang dia anggap penting, namun orang-orang itu terkesan tidak menganggap dia seperti itu juga. Merasa terkucilkan. Tahu perasaan itu? Dimana harusnya kamu merupakan bagian dari sebuah kelompok, namun entah mengapa kamu tidak dapat merasa dirimu bagian dari kelompok itu.

Entah ya, mungkin ini semacam teguran untuk memperhatikan orang-orang, khususnya yang dekat dengan kita. Entah sahabat di organisasi, kawan di lab sebelah, orang yang pernah berkomunikasi, well, mungkin agak repot bagi orang-orang yang populer dan memiliki banyak hal untuk diperhatikan. Tapi mengingat silaturahmi adalah salah satu pintu rezeki, kenapa tidak menjaga hubungan baik? Setidaknya mungkin itu dapat meminimalisir perasaan aneh saat orang yang sudah lama tidak berkomunikasi tetiba menghubungi lagi, dan mengetahui bahwa dia menganggap kita berarti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s