Mengkhususkan Puasa di Bulan Rajab

Cepat sekali waktu berlalu, dan sekarang bulan rajab sudah tiba. Kabar baik bagi para perindu ramadhan mengingat masanya tidak akan lama lagi 🙂

 

Dan pagi tadi kebetulan ada diskusi singkat di grup siswa kelas bahasa jerman yang tengah kuikuti, terkait memperbanyak puasa atau ibadah di bulan rajab. Dan karena itu aku pun penasaran dan mencari lebih jauh tentang bagaimana hukum sebenarnya akan hal ini.

 

Bulan rajab merupakan satu dari empat bulan haram, bersama dengan Bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram. Berikut merupakan keutamaan dari bulan haram.

 

Keutamaan Bulan-bulan Haram[1]

Bulan-bulan ini telah dimuliakan oleh syari’at sebelum kita, yaitu pada syari’at nabi Ibrahim ‘alaihi assalam dan hal tersebut berlanjut hingga di kalangan arab pada masa jahiliah, padahal mereka adalah orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah didalam ibadah-ibadah yang mereka lakukan, akan tetapi mereka sangat mengagungkan bulan-bulan ini dan sangat menjaga diri mereka dari berbuat dosa dan kemaksiatan didalamnya.

Allah berfirman:
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan (haram) yang empat itu.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 219)


Dan sahabat yang mulia ‘Abdullah bin ‘Abbas telah menjelaskan tafsir dari ayat diatas, beliau mengatakan:

أي فيهن كلهنَّ؛ ثم اختص منهنَّ أربعة فجعلهنَّ حرامًا وعظم حرماتهنَّ، وجعل الذنب فيهنَّ أعظم والعمل الصالح والأجر أعظم

“(Janganlah kalian menganiaya diri kalian) yakni pada seluruh bulan yang ada, kemudian dikhususkan dari bulan-bulan itu empat bulan yang Allah telah menjadikannya sebagai bulan-bulan haram, yang telah dilebihkan kedudukannya daripada bulan yang lain. Dan perbuatan dosa yang dilakukan didalamnya lebih besar dihadapan Allah, begitu juga amalan shalih yang dilakukan akan menghasilkan ganjaran yang lebih besar pula.” (Lathaif Al Ma’arif: 124)

Inilah diantara keutamaan yang telah Allah turunkan pada bulan-bulan haram ini, dilipatgandakannya ganjaran dan balasan bagi seorang yang mengerjakan amalan shalih, sehingga seorang hamba akan bersemangat untuk terus berada di tengah-tengah amalan kebaikan. Begitu pula, ketika perbuatan dosa dan kemaksiatan menjadi lebih besar dihadapan Allah, maka akan mengantarkan dirinya kepada kekhawatiran dan ketakutan dari melakukan hal tersebut, karena akan adanya siksaan dari Allah ta’ala kelak di hari akhir, yang akan menjadikan dia selalu berusaha untuk menjauh dari perbuatan-perbuatan keji tersebut. Oleh karena itu, keutamaan ini akan menjadikan dirinya untuk selalu berusaha meraih keutamaan yang banyak dengan menjalankan keta’atan-keta’atan pada Allah dan menghindari seluruh keburukan dengan menjauhkan dirinya dari perbuatan dosa dan kemaksiatan serta melatih dirinya agar menjadi pribadi muslim yang selalu memegang teguh konsekwnsi keimanan dia kepada Allah dan Rasul-Nya.Yang mana perkara ini akan mengantarkan dirinya kepada puncak kemuliaan, yaitu tatkala ia diselamatkan oleh Allah ta’ala dari siksaan api Neraka dan dimasukkan ke dalam syurga-Nya.

Hadits Tentang Puasa Rajab[2]

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 213). Ibnu Rajab menjelaskan pula, “Sebagian salaf berpuasa pada bulan haram seluruhnya (bukan hanya pada bulan Rajab saja, pen). Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Ibnu ‘Umar, Al Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Sabi’iy. Ats Tsauri berkata, “Bulan haram sangat kusuka berpuasa di dalamnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 214).

Ibnu Rajab kembali berkata, “Tidak dimakruhkan jika seseorang berpuasa Rajab namun disertai dengan puasa sunnah pada bulan lainnya. Demikian pendapat sebagian ulama Hambali. Seperti misalnya ia berpuasa Rajab disertai pula dengan puasa pada bulan haram lainnya. Atau bisa pula dia berpuasa Rajab disertai dengan puasa pada bulan Sya’ban. Sebagaimana telah disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya berpuasa pada bulan haram (bukan hanya bulan Rajab saja). Ditegaskan pula oleh Imam Ahmad bahwa siapa yang berpuasa penuh pada bulan Rajab, maka saja ia telah melakukan puasa dahr yang terlarang (yaitu berpuasa setahun penuh).” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 215).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al Manar Al Munif, hal. 49).

Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401).

Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.”

Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 75394)

Puasa Hari Tertentu dari Bulan Rajab[2]

Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya, “Diketahui bahwa di bulan Rajab dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Apakah puasa tersebut dilakukan di awal, di tengah ataukah di akhir.”

Jawaban dari para ulama yang duduk di komisi tersebut, “Yang tepat, tidaklah ada hadits yang membicarakan puasa khusus di bulan Rajab selain hadits yang dikeluarkan oleh An Nasa-i dan Abu Daud, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari hadits Usamah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah pernah melihatmu berpuasa yang lebih bersemangat dari bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Bulan Sya’ban adalah waktu saat manusia itu lalai, bulan tersebut terletak antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah saat amalan diangkat pada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karenanya, aku suka amalanku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad 5: 201, An Nasai dalam Al Mujtaba 4: 201, Ibnu Abi Syaibah (3: 103), Abu Ya’la, Ibnu Zanjawaih, Ibnu Abi ‘Ashim, Al Barudi, Sa’id bin Manshur sebagaimana disebutkan dalam Kanzul ‘Amal 8: 655).

Yang ada hanyalah hadits yang sifatnya umum yang memotivasi untuk melakukan puasa tiga setiap bulannya dan juga dorongan untuk melakukan puasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14, 15 dari bulan hijriyah. Juga dalil yang ada sifatnya umum yang berisi motivasi untuk melakukan puasa pada bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Begitu pula ada anjuran puasa pada hari Senin dan Kamis. Puasa Rajab masuk dalam keumuman anjuran puasa tadi. Jika engkau ingin melakukan puasa di bulan Rajab, maka pilihlah hari-hari yang ada dari bulan tersebut. Engkau bisa memilih puasa pada ayyamul bidh atau puasa Senin-Kamis. Jika tidak, maka waktu puasa pun bebas tergantung pilihan. Adapun pengkhususan bulan Rajab dengan puasa pada hari tertentu, kami tidak mengetahui adanya dalil yang mensyari’atkan amalan tersebut.

Aku menemukan beberapa tautan serupa, namun tautan yang kuanggap lengkap ada di dua link yang kutautkan dibawah. Artikel lengkapnya dapat dibaca di tautan berikut, namun jika diminta kesimpulan, puasa dan ibadah lainnya tidak hanya dianjurkan pada bulan rajab saja, melainkan pada seluruh bulan haram. Selain itu, dianjurkan juga mengurangi perbuatan dosa di bulan-bulan ini. Yah, mungkin memang akan sangat baik jika kita dapat meninggalkan perbuatan tercela sepanjang saat, tapi, meski mungkin suasana yang dirasakan dalam menjaga perilaku tidak sekondusif ramadhan, tidak ada salahnya untuk mulai memperbaiki diri kita kan? Tidak hanya di bulan ramadhan, mari kita coba lakukan juga di keempat bulan haram 🙂

Mohon dikoreksi apabila ada kesalahan. Semoga bermanfaat 🙂

[1] http://salafybpp.com/index.php/fataawa/136-keutamaan-bulan-bulan-haram-di-dalam-islam

[2] http://rumaysho.com/amalan/puasa-hari-tertentu-di-bulan-rajab-3342

Random: Kesombongan, Pendidikan dan Fanatisme

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan sombong?

Aku pernah mendengar bahwa, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Itulah sombong. Dan entah kenapa, saat ini aku melihat banyak sekali bentuk kesombongan yang ada saat ini, baik disadari atau tidak.

Ada yang pernah membaca “Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan: Dilematika Ujian Nasional” yang ditulis oleh Nurmillaty Abadiah? Jika belum, silahkan buka link berikut, http://tolakujiannasional.com/2014/04/24/surat-terbuka-untuk-bapak-menteri-pendidikan-dilematika-ujian-nasional/

Silahkan dibaca terlebih dahulu, ada yang ingin kudiskusikan dengan kalian setelah selesai nanti 🙂

——————————————————————————————————————————————————————————–

Sudah selesai membaca?

Dalam beberapa hal, aku kurang sepakat dengan sang penulis itu, tapi dalam beberapa hal lain aku sangat sepakat. Tertarik untuk menguji kemampuan diri dengan soal tahap internasional, tapi tidak berminat jika itu jadi syarat utama kelulusan; Tidak suka dengan kecurangan yang seolah sudah umum terjadi saat ujian, tapi tidak tahu dapat berbuat apa jika satu sekolah sudah berkonspirasi untuk melakukannya; Tidak masalah atas bobot soal ujian yang berbeda-beda mengingat masalah yang kita hadapi dalam kehidupan juga begitu, tapi enggan menjawab pertanyaan terkait bagaimana hasil akhir dari sebuah masalah tanpa mempedulikan prosesnya.

Tapi bukan setuju atau tidak dengan artikel itu yang akan dibahas, menurut kalian bagaimana respon yang diberikan sang menteri?

Entah dengan pendapat kalian, tapi menurutku, respon yang diberikan tidaklah dewasa. Poin-poin argumen yang diberikan oleh sang penulis sepengetahuanku valid, tapi kenapa yang dipertanyakan adalah siapa sebenarnya yang menulis surat itu? Aku juga pernah mendengar seorang sahabat berkata, “Jangan lihat siapa yang berbicara, lihatlah apa yang dibicarakan”. Sekedar bertanya, seberapa penting jawaban dari pertanyaan tersebut berpengaruh terhadap argumen kritikan yang diberikan? Memang yang terbaik adalah mengingatkan secara sembunyi-sembunyi, tapi bisakah kita memberi pengecualian pada hal-hal dimana kita ingin mengingatkan tapi tidak tahu bagaimana mengingatkan secara personal seperti saat ini?

Dan respon di bagian kedua menurutku kurang layak untuk diungkapkan. Dari bagian setelah sang menteri menyatakan tidak ingin terlalu larut dalam polemik ujian nasional. Menurutmu, apakah itu terkesan menolak apa yang dianggap kebenaran oleh sang penulis dan meremehkan pendapat penulis? Menurutku iya, kuharap ini disebabkan gaya penulisan reportase media yang ingin melaporkan kabar secara kontroversial dan menarik minat massa. Ah, kabar tentang menteri yang arogan jelas memenuhi kriteria itu. Tapi, mari kita realistis dan mempertimbangkan semua hal yang mungkin terjadi. Jika apa yang dikatakan media itu memang merupakan kenyataan tanpa ditambah-tambah atau ditutup-tutupi sebagian, bagaimana menurutmu?

Kalau kita membahas secara luas, semua punya kadar kesalahan tersendiri dalam sistem seperti ini. Dalam kasus para siswa, mari kita lihat situasinya sejenak. Benarkah siswa-siswi yang protes merupakan siswa-siswi yang serius dalam menuntut ilmu dan ada perkembangan di sekolahnya? Kalau tidak serius, hm, apakah pantas jika orang-orang yang tidak serius belajar berteriak-teriak meminta sistemnya diganti? Yakinkah jika sistemnya diganti mereka akan berubah? Namun, dalam kasus siswa yang serius namun tidak ada perkembangan, dalam hal itu, menurutku pihak sekolah atau guru lah yang salah karena tidak memiliki kapabilitas untuk menangani murid tersebut. Jika argumennya karena jumlah murid yang perlu diperhatikan terlalu banyak, kenapa kuota siswa baru yang diterima dipasang banyak-banyak?

Begitu pula dengan kasus mencontek, dari segi moral siswa yang melakukannya dan pihak sekolah atau guru yang mendukungnya sudah salah. Tapi bukan berarti sang menteri juga tidak salah sama sekali, hei, menurutmu, siapa yang punya kuasa untuk mengubah sistem dimana semua komponennya sudah salah tujuan seperti ini? Hanya ingin mengingatkan bahwa dalam sistem seperti ini semua salah, meski tidak memungkiri juga kesalahan terbesar ada di pihak pemerintah yang memutuskan sistem apa yang akan digunakan. Jadi teringat bahwa ada komentar, yang saat ini dunia pendidikan butuhkan bukanlah evolusi, tapi revolusi. Karena jika kita mengevolusikan sistem dengan banyak kesalahan, ada kemungkinan kesalahan-kesalahan tersebut juga akan berevolusi menjadi makin kompleks. Bukan berarti tidak ada sistem yang tidak punya kekurangan, tapi, jika masalah yang ada turut berevolusi menjadi kompleks, siapa yang akan turut kesulitan?

Kelihatannya, kita semua akan kesulitan bukan?

Mari kita beralih pada kasus yang kedua, terkait fanatisme golongan. Di suatu waktu ada sebuah golongan yang menganggap apa yang dilakukan golongannya adalah yang paling benar. Bahkan beberapa mungkin menganggap yang dilakukan golongannya sebagai satu-satunya yang benar. Sehingga saat golongannya ditimpa musibah, semua bersepakat untuk menyalahkan pihak manapun yang bisa disalahkan, karena musibah ini pasti bukan karena kesalahan golongannya. Entah apa yang sebenarnya benar, yang jelas pendapat orang lain yang menyalahkan atau mengkritisi golongan itu pasti salah. Hm, ada kemungkinan menolak kebenaran, ada juga kemungkinan meremehkan orang lain, baik hanya dari pendapatnya atau memang meremehkan seluruhnya.

Nyatanya aku melihat golongan ini ada dalam berbagai kelompok, dari partai politik, organisasi sosial, suporter klub sepakbola, akademisi lab, yah, setelah dipikir kembali kelihatannya hampir semua kelompok bermassa banyak memiliki golongan ini di dalamnya.

Mungkin ini waktunya kita memikirkan kembali, bahwa masalahnya bukan kita berada di kelompok apa, tapi apakah kita termasuk golongan yang fanatik dan sombong atau tidak? 🙂

Pria

Pria

Copas dari kawan *ngambil gambar dari laptopnya tanpa izin*
Hahaha, lebih baik namanya disembunyikan, tapi anyway, isinya bagus juga, agar serius dalam menentukan pilihan dan mengambil tanggungjawab, hal ini kadang terlupakan di saat seperti ini bukan? 🙂

Juga agar berhati-hati saat mengenalkan lawan jenis ke keluarga, mengingat kemungkinan timbulnya prasangka yang kurang tepat dan spekulasi yang mungkin tidak diinginkan, hahaha 🙂

Hitunglah

Baru kemarin mempertanyakan skenarioNya, dan sekarang sudah berganti lagi menjadi lebih mensyukuri skenario hari ini. Kelihatannya hidup memang lumayan sulit diprediksi.

Dari kejadian pagi tadi, kelas yang akhirnya kosong, kepanikan saat berkendara karena beberapa hal yang nyaris membahayakan orang lain dan yang berada diatas motor (ya, syukurnya, nyaris), shalat jumat di masjid yang ceramahnya tergolong singkat sehingga bisa memperhatikan aktivitas di sekitar masjid lain saat shalat jumat belum selesai, belajar sistem kebut waktu singkat yang syukurnya sangat bermanfaat saat ujian kompre, ujian yang alhamdulillah dapat diselesaikan dengan perasaan optimis (terlepas dari hasilnya kelak seperti apa), dan masih banyak lagi.

Maka, nikmatNya yang mana lagi yang akan kamu dustakan?

Kalau aku mengingat ayat itu kemarin, mungkin akan timbul berbagai pertanyaan tentang tafsir. Tapi saat mengingatnya sekarang, entah kenapa terpikir untuk memikirkannya. Berapa banyak nikmat yang telah kudustakan, atau terdustakan?

Bukankah ada sahabat yang berkata “Hisab–(menghitung kebaikan dan keburukan)–lah dirimu sebelum dirimu dihisab”? Kelihatannya sesekali kita memang perlu meluangkan waktu sejenak untuk menghitung. Menghitung berapa banyak nikmat yang kita dustakan, berapa banyak nikmat yang terlupakan, dan berapa banyak kebaikan yang perlu kita lakukan tiap hari untuk memperbaiki timbangan kebaikan kita.

Untuk menghitungnya, tidak perlu rumus khusus kan?