Persatuan

Entah mengapa, tiap tahun pemilu selalu begini. Semua orang tiba-tiba menjadi negarawan yang merasa handal dan pasti benar, entah memang percaya diri, entah dipengaruhi sahabat atau kenalan yang oknum partai tertentu, entah memang punya pengetahuan yang memadai dan kapabilitas untuk mengambil peran itu, tapi sulit membedakan semua itu kalau kita tidak mengenal orangnya. Dan entah mana pendapat yang valid dan mana yang tidak, entah, mungkin karena data yang diambil salah, diolah dengan cara yang kurang tepat atau dimanipulasi demi kepentingan suatu golongan. Kadang aku menyayangkan politik yang terlihat seperti perang, penuh dengan dusta dan tipu daya. Sebagaimana di pelajaran tadi, seorang sahabatku menceramahiku banyak hal saat aku mengutarakan kemungkinan golput, entah, antara informasi para calon legislatif yang terlalu sulit untuk ditemukan atau usahaku mencarinya yang kurang keras. Dia menyarankan memilih partai yang mudharatnya paling sedikit dan aku menjawab–selain karena belum menemukan oknum yang dapat kupercaya–belum menemukan data yang valid terkait mudharatnya, mengingat aku telah mencari beberapa data serupa dan data yang ter-blowup merupakan data yang dimanipulasi. Semacam black campaign, partai dengan jumlah koruptor terbanyak datanya banyak ditambahkan (ada beberapa oknum dengan posisi yang seharusnya tidak valid untuk dimasukkan ke dalam data), dan partai dengan jumlah koruptor tersedikit datanya banyak yang disembunyikan (tidak dimasukkan ke dalam perhitungan), pengolahan datanya pun tidak tepat, ada beberapa situs yang membahasnya, jelas lah datanya seperti itu, padahal data aslinya tidak terlalu jauh berbeda. Perang pemikiran, saat kebohongan diupayakan menjadi fakta yang dipercaya semua orang. Hebat dan rumit bukan?

Dan kalau ditanya apakah aku menyukai pemilu, tidak. Aku sama sekali tidak menyukainya. Karena tahun saat pemilu terjadi adalah tahun dengan sumpah serapah dan caci maki terbanyak, setidaknya begitulah yang kulihat pada lini masa akun media sosialku. Entah, kadang aku merasa orang indonesia memiliki sifat fanatisme yang berlebih, entah itu dari kegiatan seperti tawuran antar sekolah, geng motor, suporter sepak bola, organisasi dengan latar belakang tertentu, atau bahkan seperti yang ramai saat ini, partai politik ditambah golput. Bahkan aku pernah melihat sebuah riset terkait perceraian bahwa salah satu dari 5 besar hal yang menyebabkan perceraian adalah perbedaan pandangan politik, aku belum sempat melakukan validasi lagi terhadap riset itu dan berapa tingkat ketidakpastiannya, tapi kelihatannya aku bisa mengerti kenapa ayahku memilih untuk tidak terlibat saat ibuku memutuskan masuk dunia politik. Ah, ini selalu menjadi tahun dimana orang-orang berkicau kebaikan partainya, entah tahu benar apa yang dipikirkan oleh petinggi partainya, entah ditipu mereka, atau entah percaya buta. Orang-orang yang golput? Oh, kadang massa golput tidak berbeda dari sebuah partai politik dalam urusan cela-mencela golongan lain, bahkan bisa lebih parah. Bagaimana bisa kita membedakan jika kita hanya mengetahui apa yang tampak? Dan sebagai orang yang tidak menyukai keributan dan pertengkaran, kenapa aku perlu menyukainya? Masalah nasib negara 5 tahun ke depan? Oh, percayalah, negara tidak akan berubah jika ini terus berlanjut.

Harusnya tiap warga negara pernah mendengar kalimat “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tapi tetap satu juga. Kalimat yang bangsa ini pegang sejak zaman dahulu, yang mempersatukan sabang sampai merauke. Meski kita berbeda bahasa, suku, ras, budaya, agama dan lain sebagainya, kita tetap satu juga, bangsa indonesia. Ironisnya, saat ini justru persatuan tersebut tidak lagi terlihat, dengan orang-orang punya golongan tertentu yang tidak disukai, dan menyebarkan ketidaksukaannya terhadap organisasi tersebut. Entah dari aktivitasnya, orang-orangnya, dan lain sebagainya, padahal dalam kehidupan bernegara, orang-orang tersebut juga bagian dari negara. Jadi ingat perkataan Chief Nyanta saat Shiroe berniat untuk membangun sebuah guild dalam anime Log Horizon, “Saat kita berada di Debauchery Tea Party (komunitas mereka yang lama), semua hal disana terasa menyenangkan karena semua orang berusaha membuatnya begitu, termasuk kau dan aku”. Dan bukankah memang begitu, terlepas dari apakah itu sebuah komunitas, organisasi, ataupun negara, bukankah perlu partisipasi aktif dan niat baik dari seluruh komponen dan manusia yang terlibat untuk membuatnya nyaman? Aku masih ragu sistem saat ini mampu membuat situasi seperti demikian. Entah apakah ini pengaruh dari sistemnya yang kurang sesuai karena masih punya kekurangan atau manusia yang menjalankannya kurang baik karena kurang paham maksud dari sistemnya.

Padahal harusnya kita bersatu, tapi entah kenapa sepertinya tidak mudah. Aku punya banyak pertanyaan terkait tingkah laku manusia saat ini, di negeri ini.

Pekan lalu saat salah satu stasiun televisi menyiarkan berita tentang hilangnya pesawat MH370, lagu “Leaving on a Jetplane” diputar sebagai latar belakang berita tersebut. Selain itu video kesedihan keluarga yang diputar pun selalu sama dan berulang-ulang. Entah apakah kejadian ini perlu didramatisir untuk meningkatkan rating acara tersebut, tapi apakah menayangkan berita seperti itu merupakan cara yang tepat untuk bersimpati dengan para korban? Sering kita melihat kesedihan dan cerita dari korban suatu musibah ditayangkan di berita, tapi aku penasaran akan dua hal. Apakah berita ditayangkan dengan mempertimbangkan perasaan korban? Dan, apakah proses peliputannya berlangsung dengan baik atau perlu merugikan beberapa pihak? Entah dengan kode etik jurnalistik, aku belum membaca semuanya dan kurang mengetahui isi lengkapnya. Tapi tidak masalah kan jika sebuah berita hanya menyampaikan fakta, tanpa embel-embel opini yang dapat menjerumuskan pada kesimpulan yang salah?

Belum lama ini saat masa kampanya pemilu, ada partai berbasis islam yang melakukan kampanye di dalam tempat yang dilarang dalam Undang-Undang (googling sekilas, katanya UU nomor 8 tahun 2012 yang mengatur pemilu ya?), di daerah kampus, dan di dekat rumah ibadah. Hal ini langsung memicu banyak jenis argumen, dari komentar lucu-labil-nan galau karena kebetulan yang jadi model perempuan semua seperti “Aduhhh ukhti nya lucu skali” atau bahkan “ukhti, jika aku suamimu di masa depan, terus terang aku cemburu wajah indahmu dilihat oleh banyak orang :3 #eh” (epik sih ini, hahahaha), komentar yang menyindir–dan sebaiknya tidak dibahas karena jelas-jelas menyerang partai ini langsung, malas terlibat black campaign, hehe–secara frontal, komentar yang mengingatkan macam “Masjid harus terbebas dari segala bentuk transaksi jual beli apalagi transaksi kepentingan politik” dan “Diingetin/tegur langsung aja atuh, kasian itu ukhti-ukhti mejeng di profil akhi-akhi kayak kamu haha”, atau komentar miris macam “Tuhan aja dijadikan komoditas, masa’ gak sekalian rumahNya?” dan “adek2 tersebut di ingatkan saja tentang kampus yang sebaiknya bersih dari segala macam unsur kampanye politik praktis”. Entah digubris atau tidak. Contoh diambil karena dari pengamatan sementara, sindiran seperti ini yang paling ringan, dalam kasus beberapa partai lain sih sudah masuk tingkatan cacian yang terlewat parah.

Di saat kita harus bersatu pun, kenapa menjaga perasaan orang lain terkesan sangat sulit untuk dilakukan? Apakah para pencaci terlalu vokal, para oportunis mampu memanfaatkan situasi secara profesional, atau karena orang-orang yang baik terlalu lama mendiamkan? Entah yang mana, tapi, tidak salah kan orang-orang yang menyimpan asa akan persatuan bangsa, dari partai apa pun, suporter klub bola mana pun, atau golongan mana pun, dan bergerak bersama demi kebaikan bangsa di masa depan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s