Perkataan, Keuntungan dan Resiko

Belum lama ini sempat berkumpul dengan para senior di sebuah organisasi, dan lumayan banyak tukar pikiran yang terjadi. Salah satu hal yang menarik adalah terkait perkataan.

Seniorku yang telah bekerja mengingatkan bahwa saat kita sudah lepas dari tanggungan dan membawa nama baik kita sendiri, akan sulit bagi kita untuk hanya mengatakan mana yang benar dan mana yang salah. Keuntungan dan resikonya perlu dipertimbangkan juga.

Mengatakan suatu kebenaran belum tentu merupakan kebaikan. Penyampaian dengan cara yang salah atau di waktu yang salah justru dapat menimbulkan lebih banyak keburukan daripada kebaikannya. Seniorku mengambil contoh dari jejaring sosial, dimana seorang pegawai mengunjungi sebuah daerah dan meng-update media sosialnya dengan candaan akan pergi ke suatu negara (yang memojokkan sebuah ras tertentu) karena ciri fisik masyarakat yang serupa di daerah itu. Dan saat dia sampai di bandara daerah tujuan, ada e-mail berisi pemberitahuan bahwa dia telah dipecat. Saat ditanya mengapa, seniorku menjawab singkat.

Kita tidak bisa memprediksi gejolak sosial yang timbul dari aktivitas kita di dunia maya.

Sebuah status atau foto dapat di-“like”, di-“+1” atau di-“retweet” berpuluh, ratus bahkan ribu orang dalam waktu singkat, tergantung suasana hati masyarakat media sosial kala itu. Dan siapa yang bisa mengira efek dari suatu berita? Saat bertanya terkait pemilu pada salah seorang temanku, dia berencana golput. Saat kutanya mengapa, dia menjawab bahwa dia sangat kecewa dengan kader dan simpatisan partai yang saling menjatuhkan partai lain, sehingga semua nama calon legislatif yang ada sudah dia cap buruk. Entah apakah tujuan awal dari saling menyebarkan keburukan itu merupakan siasat untuk mencuri pemilih dari basis partai lain atau apa, setidaknya tujuan mengurangi suara partai lain terpenuhi karena itu, sahabatku memilih golput. Beberapa memang menyebut golput sebagai “golongan putus asa” karena ketidakpercayaan terhadap orang lain untuk memimpin, dan temanku pun menjawab skeptis, “kalau calonnya begitu semua, peduli hanya pada golongan sendiri dan saling menjatuhkan golongan lain, harapan apa yang ada bagi bangsa ini?”

Siapa yang menyangka sebuah status, foto atau blog bisa menjadi begitu populer terlepas dari isinya baik atau buruk? Dan siapa yang tahu apa keuntungan dan resiko dari setiap hal yang diunggah? Untuk mencegah hal itu, maka perusahaan tempat seniorku itu bekerja mengeluarkan sebuah aturan standar yang mengatur tata krama pekerjanya di dunia maya. Dan efeknya seniorku rasakan sendiri, dia menjadi jauh lebih berhati-hati dalam berucap atau meng-update informasi di media sosial. Seolah tiap hal yang dia lakukan punya potensi untuk menimbulkan pergolakan sosial, atau setidaknya merusak nama baiknya atau keluarganya, “Eh, si ***** gini loh”, “Padahal pak *** baik loh, kok anaknya kayak gitu sih?” dan berbagai perkataan yang sulit diprediksi timbul karena tindakan apa.

Beberapa temanku yang merupakan perempuan berhijab pun memilih untuk mem-private foto-foto dirinya atau hanya berteman dengan sesama perempuan di media sosial, ada yang ingin meminimalisir kemungkinan fotonya disalahgunakan oleh sahabat-sahabat di media sosial yang tidak mereka ketahui perangainya, ada yang merasa kurang percayadiri dengan penampilannya, ada yang merasa tidak ada gunanya, entah apa sebenarnya alasan utama orang-orang yang melakukannya. Tapi mungkin itu merupakan salah satu kekhawatiran terhadap respon sosial yang sangat tidak terduga.

Ada juga kasus beberapa saat yang lalu dimana lini masa media sosialku penuh dengan berbagai status alay atau galau dari kawan-kawanku di masa lalu, hasil pencarian dari beberapa orang yang terlampau iseng, bosan atau stres. Agak lucu melihat status yang isinya bagus tapi sulit dibaca karena penggunaan huruf kapital dan angka yang tidak pada tempatnya. Yah, hiburan bagi yang membaca serta simpati bagi yang masa lalunya ter-blow up. Bahkan suatu hal yang harusnya telah menjadi kenangan di masa lalu mampu membat gejolak yang lumayan besar di dunia maya.

Semua hal ini seolah mengarahkan kita untuk berlaku sebagai warga negara yang baik, taat dan berhati-hati dalam bertingkahlaku. Beberapa orang menyebutnya tekanan sosial. Ya, mungkin memang hal seperti ini agak sayang jika digunakan untuk menekan adanya perbedaan antar individu mengingat setiap manusia unik dan punya ciri khasnya tersendiri, tapi di sisi yang lain hal ini juga lumayan baik diterapkan untuk menegakkan hak dan aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi setidaknya ini menjadi pengingat untuk turut mempertimbangkan resiko dan keuntungan apa yang ada dari perkataan yang diucapkan atau tindakan yang dilakukan. Gejolak sosial memang akan tetap ada, tapi setidaknya kita tetap dapat meminimalisir besar atau dampaknya kan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s