Yang Baik untuk Yang Baik

Yang baik untuk yang baik. Mungkin kalimat itu telah sering terdengar dalam berbagai variasi. Mulai dari “lelaki yang baik untuk perempuan yang baik” (yang entah kenapa semakin sering terdengar seiring bertambahnya usia di bandung), “balasan yang baik untuk perbuatan yang baik”, yah, banyak lah ya. Tapi sekarang sedang berminat untuk membahas dua kalimat itu, khususnya kalimat yang kedua.

Untuk kalimat pertama, tidak ada yang aneh. Saat seseorang memilih sebuah jalan dan bertemu banyak orang, banyak yang akan berpapasan dengannya. Tapi ada beberapa orang dengan prioritas atau jalan yang sama–meskipun mungkin latar belakang dunia mereka jauh berbeda–yang entah bagaimana bertemu, lalu menganggap prinsip orang tersebut cocok dengannya. Dan jika jalan yang ditempuh atau prioritas yang ditetapkan adalah kebaikan, sama sekali tidak aneh jika lelaki yang baik memilih perempuan yang baik atau sebaliknya kan? Ya, topik yang pertama mungkin memang lebih mampu membuat galau beberapa orang (khususnya beberapa kawanku yang sedang ngebet nikah, entah, punya pendamping dalam suka dan duka mungkin memang menyenangkan, tapi kadang aku mempertanyakan apakah mereka sudah siap berganti tanggungjawab atau belum. Menyendiri sambil mempersiapkan diri bagi yang sudah berniat berganti tanggungjawab–atau bahkan sudah menentukan orang yang ingin dijadikan pendamping tapi belum siap–atau meneruskan perjalanan kebaikan karena siapatahu kelak akan berjalan bersama orang yang tepat bukan hal yang buruk kan?), tapi topik kedua kelihatannya lebih dipertanyakan kebenarannya, dan lebih menarik untuk dibahas.

Dalam Al-Quran Surat Ar-Rahman (55): 60 Allah berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. Maka orang-orang yang berbuat baik seharusnya diberi balasan dengan kebaikan juga. Tapi seiring waktu, aku juga banyak menemukan orang-orang yang kebaikannya seolah tidak ada balasannya. Bahkan ada sahabatku yang tertarik untuk berkecimpung di dunia entepreneur yang berpendapat bahwa, orang-orang yang kaya di dalam dunia bisnis pasti merupakan orang-orang yang licik. Yah, secara logika orang yang terlalu baik dengan membagi-bagikan barang-barang yang dia jual secara gratis kepada orang yang butuh dan kurang mampu kelihatannya tidak akan menjadi kaya kan? Kasusnya berbeda jika seseorang sudah kaya saat melakukan itu, dan, hei, siapa yang tahu kelicikan apa yang dilakukan saat yang terlihat mata hanyalah kekayaan seseorang?

Mungkin ini juga yang terpikir oleh sahabatku. Kelihatannya lumayan banyak ceritaku mengenai sahabat-sahabatku. Aku suka bercerita tentang inspirasi yang kudapat dari mereka memang, entah, mereka terlalu inspiratif dan baik, dan mungkin hal paling minimal yang dapat kulakukan adalah menceritakan kisah mereka, sambil berharap inspirasi dan kebaikan itu dapat menyebar ke berbagai tempat. Sekaligus bentuk syukur karena dipertemukan dengan banyak orang baik lah, dari angkatan atas, seangkatan hingga angkatan bawah, mungkin tiap pertemuan punya maksud tersendiri, seperti agar jadi pembelajaran bagi pribadi, penyemangat dan sahabat untuk berkolaborasi, atau inspirasi untuk disebar ke orang lain. Paragraf yang keluar topik ini ditujukan pada beberapa orang agar berminat untuk terjun di dunia literasi, hahaha.

Saat itu sahabatku yang lain bertanya dengan menyebutkan bengkel dari sebuah jenis motor, menanyakan berapa tip atau uang rokok yang diberikan pada montir saat servis. Beberapa ada yang kurang tahu atau menyebutkan nominal tertentu yang diberikan pada semua montir. Tapi sahabatku ini punya jawaban yang berbeda, dia memberikan tip yang besarnya sesuai dengan rasa puas atau satisfaction yang didapat dari pelayanan sang montir, baik dari penjelasan yang mudah dimengerti, tingkahlaku yang sopan, hasil yang baik dan lain sebagainya. Dia sedang membawa pesan, bahwa orang-orang yang baik pantas untuk mendapatkan yang baik juga.

Sebagai orang yang tidak membawa kendaraan pribadi, aku mencoba membawa nilai itu dengan cara yang berbeda, menjadi langganan beberapa tempat makan yang pemiliknya baik. Aku tidak memasang banyak kriteria untuk “baik” dalam hal ini, ramah dalam bertegursapa, raut muka yang enak dilihat, tidak mencurangi pembayaran dan harga terjangkau, sisanya sekehendak dan senyaman suasana hati saja. Tapi dalam memutuskannya aku harus sendiri agar tidak terdistraksi. Dan ternyata ada untungnya, kadang malah aku diberi bonus porsi ekstra atau potongan harga saat berkunjung ke beberapa tempat itu. Kelihatannya aku tidak salah memilih tempat, haha. Simbiosis mutualisme lah, mengingat aku juga punya peranan menjaga pemasukan tempat mereka stabil berdasarkan hukum 80-20, 80% pendapatan didapat dari 20% konsumen tetap.

Entah lah, tapi jika kita memang benar-benar percaya bahwa yang baik pantas untuk mendapatkan yang baik, yuk mulai bersikap baik kepada orang-orang baik. Orang yang percaya cenderung bertindak sebagaimana sedang berada di lingkungan ideal yang mereka percaya bukan? Lagipula, kenapa tidak mewujudkan lingkungan yang kita impikan dengan cara seperti itu? Hei, jika semua orang berlaku baik karena mereka percaya, dunia penuh dengan kebaikan tidak mustahil bukan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s