Pertanggungjawaban Pilihan

Meski perlu disertai kewaspadaan saat berbincang dengan orang yang tidak kita kenal, jumlah informasi yang didapatkan dari sekedar berbincang dengan sembarang orang di dekat kita sangat banyak. Lumayan, sempat mendengarkan pengalaman di jaman orde baru, sistem penggunaan hak pilih, kasus-kasus lama, dan lain sebagainya. Aku tidak terlalu menyesal terpaksa golput kemarin meski sudah mencoba memperjuangkan hak suara, akibat dari simpang-siurnya informasi yang beredar dan ternyata salah saat hari-h, tapi banyak informasi yang didapat dari obrolan saat itu.

Lagipula hasil quick count yang ada lumayan menggambarkan preferensiku, meski agak disayangkan kelihatannya tidak ada koalisi poros tengah–koalisi antar partai-partai islam–lagi. Kadang aku berharap partai dengan ideologi yang sama disatukan saja agar tidak repot memilih, tapi kelihatannya sulit jika belum ada partai yang bersedia untuk mengalah, itu yang menyebabkan partai nasionalis mulai bermunculan bukan? Yah, sulit memang jika tidak ada penyebab seperti musuh bersama–“Asal Bukan Megawati”–di pemilu 99 silam, tapi persebaran suara yang mulai imbang dan tidak ada partai yang memperoleh suara lebih dari 20% kelihatannya patut disyukuri. Artinya perlu ada koalisi, dan diskusi ulang terkait siapa yang akan dicalonkan. Berharap diskusi yang akan berlangsung itu mengurangi kepentingan beberapa golongan saja dalam pencalonan pemimpin, dan masyarakat mendapat manfaat yang lebih banyak karenanya. Semoga. Bismillaah🙂

Tapi dari pengalaman masa kampanye kemarin jadi terpikir, jika tujuannya sama-sama untuk kebaikan masyarakat, kenapa partai banyak yang saling menyerang dan menjatuhkan dalam kampanyenya? Memang untuk kebaikan masyarakat, atau demi kebaikan pribadi semata? Aku memang mengkhawatirkan tiap partai yang melakukan black campaign, apapun alasannya. Sebab, tiap manusia punya pengalaman tersendiri, baik maupun buruk, menguntungkan maupun merugikan. Tapi perlu diingat bahwa kita tidak berada dalam posisi mereka itu saat mereka mengambil keputusan, tidak tahu tekanan apa saja yang mereka hadapi saat keputusan diambil. Dan meskipun saat ini kita bisa mengkritisi hasil pilihannya tersebut, kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika pilihan yang diambil berbeda. Benarkah semua akan berjalan lebih baik dari saat ini?

Tiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, siapapun atau pemimpin apapun dia. Dan itu wajar kan? Dan sebagai pihak yang dipimpin, bukankah kita juga punya tanggungan untuk melaksanakan perintah terkait kebaikan dan mengingatkan saat diperintah yang buruk? Ada kalanya masyarakat juga perlu bertindak. Jika pemimpin ingin menjual aset-aset negara, suarakanlah pendapat kita jika memang perlu ditentang, tuntut penjelasan mengapa sejelas-jelasnya. Jika pemimpin ingin melakukan tindakan yang melanggar ham dalam suatu hal, cobalah ingatkan dan usahakan agar jalur diplomasi dimaksimalkan dahulu. Jika pemimpinnya tidak terlihat fokus melaksanakan janjinya, ingatkan tanggungan-tanggungannya. Tidak mudah, memang tidak mudah, berapa banyak demo atau aspirasi masyarakat yang kita ketahui (mungkin) menjadi pertimbangan pemerintah? Entah, tapi bagaimana lagi cara untuk mempertanggungjawabkan pilihan kita kemarin? Setidaknya, kita punya alasan untuk berlepas diri dari pertanggungjawaban ketika ditanya kenapa, baik di dunia ataupun akhirat.

Dan terlepas dari bagaimanapun hasilnya, mari berharap yang terbaik bagi negeri ini, Indonesia kita🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s