Skeptis

Aku mempertanyakan media saat ini, masih adakah media yang benar-benar objektif dan mendidik? Hm, untuk objektivitas mungkin bukan hal yang paling mendesak, mengingat kita bisa mencari media yang condong ke sisi yang lain setelah mendapat informasi dari sebuah media condong kepada satu sisi. Tapi dari segi mendidik? Entah ya, beberapa artikel menggunakan bahasa yang kurang pantas, menggembar-gemborkan keburukan sebuah pihak atau golongan tanpa tujuan yang dapat dibenarkan, memuat informasi yang tidak benar, dan masih banyak lagi hal yang membuatku mempertanyakan tujuan dari keberadaan media. Apakah sekedar menyampaikan fakta, atau turut memanipulasinya?

Tidak sepenuhnya buruk memang, jika digunakan oleh pihak yang tepat, dan untuk tujuan yang benar. Dalam cerita Sherlock Holmes pun tidak jarang media diberikan informasi yang salah untuk menciptakan suasana yang membuat penjahat lengah. Tapi kekuasaan yang berlebihan memang berbahaya jika tidak digunakan dengan benar. Lihat saja saat ini, ada media yang sangat menjunjung tinggi bahkan memuja-muja sebuah golongan, sementara di media lain justru golongan tersebut tidak punya catatan baik. Ada yang dikatakan berkonspirasi, mencuci otak, memalsukan fakta, mungkin masih banyak tuduhan yang tidak kuketahui. Dulu aku mengatakan bahwa media yang dapat dipercaya hanyalah media player karena hal ini. Dan di tahun pemilu seperti ini, entah kenapa aku makin percaya pada pernyataanku itu.

Agak khawatir terhadap generasi remaja seperti kedua adikku yang mudah terbawa suasana. Bahaya jika mereka terlibat golongan yang tidak jelas, atau bahkan golongan yang jelas tidak baik karena media tersebut. Ada yang bilang bahwa tanda kaum terpelajar itu adalah bisa membaca dan menulis, tapi, aku meragukan hal itu setelah melihat perdebatan dan komentar-komentar yang muncul di situs-situs berita, khususnya yang condong ke sebuah sisi. Mereka bisa membaca dan menulis, tapi kenapa isi perdebatannya kurang layak baca ya?

Mengatakan bahwa sebuah berita merupakan kebohongan atau konspirasi, padahal hal itu dapat dilakukan dengan pembuktian terbalik, membuktikan fakta yang sebenarnya terjadi itu seperti apa. Berdebat dengan menggunakan data yang dimanipulasi, padahal itu justru membuat orang yang cerdas meragukan kredibilitas dari apa yang dibela, jika yang dibela benar untuk apa memanipulasi data? Menggunakan cacian atau kata-kata yang kurang pantas, entah, tapi yang ada di pikiranku terkait kaum terpelajar tidak seperti itu.

Skeptis lah. Pertanyakan dan caritahu fakta sebenarnya dari tiap informasi yang didapat, bukan hanya informasi yang kita anggap salah, tapi juga yang kita anggap benar. Jika kita menganggap diri kita selalu benar dan orang lain yang tidak sejalan dengan kita pasti salah atau orang bodoh, bukankah itu termasuk sebuah kesombongan?šŸ™‚

Oh, dan sedikit lebih tenang dalam menyikapi perbedaan pendapat mungkin juga akan berdampak baik. Indonesia sudah cukup panas bukan? Apakah perlu ditambah dengan golongan-golongan yang panas karena pendapatnya berbeda?šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s