Hari Terakhir

Belum lama ini saat ditelpon orangtua, aku diingatkan, besok ulang tahun. Haha, bahkan diriku yang harusnya peduli saja tidak setertarik seharusnya. Ingat, tapi tidak merasa itu hal yang penting. Seolah satu malam ini, atau satu hari besok, dapat mengubah segalanya.

Ya, ini hari terakhirku untuk hidup dalam masa teen-age, sebelum memasuki usia kepala dua. Mereka bilang mulai besok aku sudah harus peduli pada umurku sebelum bertindak asal tanpa sebab sebagaimana yang biasa kulakukan. Mereka bilang mulai besok aku harus mulai bersiap mempertanggungjawabkan kehidupanku mengingat banyak hal yang sering kuabaikan atau kubiarkan terbengkalai. Mereka bilang mulai besok aku harus memikirkan masa depan lebih serius. Mereka bilang ini, mereka bilang itu, ah, perkataan manusia memang banyak sekali, seolah tak pernah habis bukan?

Andai sebuah malam pergantian usia dapat membuat manusia menjadi jauh lebih dewasa, bijaksana, cerdas, bermanfaat, serius dan hal-hal positif lain sebagainya, mungkin kita tidak akan pernah peduli pada bagaimana cara orang yang kita kagumi atau hormati mengembangkan diri mereka. Lagipula, jika begitu untuk apa ada ujian kehidupan? Tidak usah belajar, cukup bersabar, masalah akan terselesaikan pada ulang tahun berikutnya.

Yah, memang aku tidak menganggap besok merupakan hari yang istimewa, usiaku hanya bertambah sedetik demi sedetik, sehari demi sehari, hanya kali ini memasuki dekade baru saja. Ah, sudah lah, meski bertambah tua itu adalah pasti, bertambah dewasa itu adalah pilihan. Hal-hal positif dalam diri seseorang tidak dapat diukur hanya dari melihat usianya bukan?🙂

Dan malam ini pun kuisi dengan berandai-andai, menghabiskan waktu sambil membayangkan hal yang tidak relevan dan yang pasti tidak akan terjadi. Jika aku punya kesempatan untuk mengubah satu pilihan saja yang pernah kuambil, akan jadi seperti apa hidupku sekarang?

Beragam jawaban sudah terpikir, mahasiswa jurusan arsitektur, pemain piano muda, tim kampanye dari sebuah partai politik, defender atau kiper di tim sepak bola liga amatir, peserta kompetisi game online, sosok tambun dan pemalas di depan televisi atau internet, mahasiswa yang terbiasa dengan hedonisme, penulis muda, mahasiswa yang tugas akhirnya merakit hovercraft atau membuat prototype mobil terbang, wah, banyak hal yang mungkin lebih baik, dan banyak juga hal yang mungkin lebih buruk daripada kondisi saat ini. Sebuah pilihan yang terkesan kecil dapat mengubah kehidupan dalam skala besar, yang dianalogikan sebagai The Butterfly Effect, dimana kepakan sayap seekor kupu-kupu dapat menysbabkan badai besar di tempat yang berlokasi ratusan kilometer jauhnya. Bahkan mungkin perbedaan dalam mengambil jalan di sebuah persimpangan dapat menentukan nasib dunia. Hei, siapa tahu kan?

Tapi setelah dipikir kembali, jika pertanyaannya diganti menjadi pilihan mana yang ingin kuubah, jawabannya jelas. Tidak ada pilihan yang ingin kuubah. Aku lumayan suka dengan kehidupanku saat ini. Tak peduli seberapa repot, seberapa lelah, seberapa rumit ataupun seberapa sulit konsekuensi yang kuhadapi setelah menentukan pilihan, tak ada hal yang ingin kuubah. Jika tiap situasi merupakan sebuah persimpangan dan tiap pilihan merupakan jalan, bukankah jalan ini adalah tempat kita dipertemukan? Aku, dan beberapa orang yang kuhormati, kusegani, sahabat baik, dan… Hm, mungkin yang ini tidak usah disebutkan.

Mungkin manusia memang selalu merasa kurang. Tidak salah, itu lah penyebab teknologi berkembang pesat dan dunia maju seperti saat ini. Tapi ada beberapa hal yang sebaiknya tetap dibiarkan seperti apa adanya bukan? Seperti pilihan-pilihan yang telah kuambil🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s