Mimpi

Bagaimana jika kehidupan yang kita jalani selama ini hanyalah mimpi?

Hanya pikiran asal yang terlintas saat playlist memainkan “Northern Downpour” karya Panic! At the Disco. Tapi jika kehidupan ini memang hanyalah sebuah mimpi dan semua orang mengetahuinya, kira-kira apa yang akan terjadi?

Mungkinkah tingkat kriminalitas dan kecemburuan akan berkurang karena semua tahu bahwa melakukannya dalam mimpi tidak lah berguna?

Mungkinkah tidak akan ada orang yang putus asa karena kita semua tahu ini merupakan mimpi yang bisa mereka bentuk sesuai dengan keinginan kita?

Mungkinkah semua orang akan lebih berani mengambil resiko dan menjalani mimpinya sebagaimana yang mereka inginkan?

Mungkinkah semua akan saling membantu orang-orang di sekitarnya agar mimpi mereka menjadi lebih nyaman untuk dihidupi?

Masih ada berbagai “Mungkinkah?” yang terlintas dalam pikiran, termasuk “Mungkinkah hal buruk ini dan itu akan terjadi?”, hei, semua memang hanya berupa kemungkinan kan?

Yang terjadi mungkin memang tidak akan se-ideal itu, tapi menurutku tetap ada baiknya kita menjalani kehidupan dalam mimpi walau hanya sejenak. Tidak ada alasan khusus atau argumen kuat yang dapat meyakinkan donatur untuk melakukan penelitian dalam hal ini, aku hanya penasaran apa yang akan terjadi pada dunia saat ini.

Terpikir perbincangan singkat dengan adikku yang kemarin berkunjung, sekaligus bersiap untuk un level internasional yang mungkin terulang tahun depan. Dia berkata bahwa saat ini dia masih belum tahu apa yang ingin dia lakukan, yah, setelah kupikir lagi memang tidak sedikit siswa sma yang mengalami hal itu, belum menemukan hal yang mereka anggap pantas untuk diimpikan atau belum punya keberanian untuk mengutarakan impiannya. Memang ada yang sudah, tapi adakah yang pernah menghitung golongan mana yang lebih banyak antara yang sudah memiliki keduanya dan yang belum?

Ada yang berkata bahwa hidup itu berawal dari mimpi. Jika begitu, mungkin saja kita dapat belajar untuk bermimpi. Bermimpi akan kehidupan yang lebih baik di masa depan, dan apa yang kita ingin lakukan untuk mewujudkannya.

Teringat lagi pada hal yang sedikit berbeda, dimana beberapa orang yang sangat sibuk mengejar segala hal yang bisa didapatkan dalam hidupnya, melupakan segala hal selain itu. Berusaha sekeras mungkin agar dapat masuk perguruan tinggi dan/atau beasiswa yang disegani, menikah lalu berpenghasilan atau menikah saat sudah berpenghasilan, mengincar karir yang bagus–mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya atau posisi yang setinggi-tingginya–dan menikmati hasil dari semua usaha itu kelak. Jika penat kita dapat berlibur ke mana saja, keindahan alam lokal atau belahan dunia manapun dapat kita kunjungi.

Tidak ada yang salah dengan kehidupan seperti itu, setidaknya selama dijalani dengan sewajarnya, tidak berlebihan. Jika beasiswa atau karir baik didapatkan dengan mengambil karya orang lain atau menyingkirkan saingan yang lebih kompeten, jika pernikahan dilancarkan dengan manipulasi atau konspirasi agar kita dapat hidup bersama sang pujaan hati, jika keuntungan besar diperoleh dengan mengotak-atik timbangan atau mengacaukan dagangan saingan, atau bahkan jika keuntungan itu diperoleh dari korupsi dana proyek infrastruktur yang dapat membahayakan orang banyak jika infrastruktur itu ambruk atau uang rakyat yang seharusnya dapat memenuhi hajat hidup orang banyak. Orang-orang yang berteriak lantang bahwa “Hidup itu tidak adil!” Jelas hidup tidak akan adil jika orang-orang yang hidup sendiri tidak mau berbuat adil, pertanyaannya, kita semua mau berlaku adil dan mendukung adanya sistem yang adil atau tidak?

Jika ini semua hanyalah mimpi, maukah kita bersikap adil dan mewujudkan sebuah sistem yang adil?

Di sisi lain, ada orang yang berusaha sangat keras untuk meraih impian seperti itu, yang kadang malah menghancurkan dirinya sendiri dengan segala tekanan mental yang dia pikirkan atau kelelahan fisik yang berlebihan. Saat liburan pun seolah kejar setoran, harus punya foto di tempat ini dan itu agar ada yang dapat diceritakan saat kembali ke rutinitas, tak masalah mengendara dalam waktu lama selama target tercapai. Entah bagaimana pendapat yang lain, tapi bagiku itu terkesan kurang menikmati hidup. Jadi teringat perkataan sahabatku.

“Hidup memang merupakan sebuah perjalanan yang panjang. Sangat panjang. Tapi, tak ada yang melarang kita berburu hewan untuk disantap, bermain air di sungai atau danau yang kita temui, beristirahat sejenak diatas kasur gantung di tengah rimbunnya pepohonan ataupun berfoto bersama keindahan alam yang kita temui saat perjalanan bukan?”

Mungkin dalam hal ini kita perlu belajar untuk lebih menikmati kehidupan.

Yah, kadang aku juga berharap semua ini hanyalah mimpi. Setidaknya saat aku melakukan perbuatan buruk, mimpi tak pernah dimintai pertanggungjawaban saat kita terbangun, tidak seperti kehidupan saat kita meninggal kelak bukan?

Dan sekarang sebuah pertanyaan terlintas dalam pikiran, menurutmu, jika selama ini kehidupan yang kita jalani hanya merupakan sebuah mimpi, apa yang akan kamu lakukan setelah terbangun nanti?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s