Pergaulan

Ada sahabat yang berkata “Berkumpul di acara doa kematian seseorang adalah momentum bagi yang hidup untuk mengingat mati dan menghidupi hidupnya”, dan ada juga sahabat yang menanggapinya dengan gurauan galau, “Berkumpul di acara pernikahan seseorang adalah momentum bagi yang jomblo untuk mengingat bahwa semua orang pasti ada jodohnya”.

Dan sahabat yang sama juga mempertanyakan, “Jika saat ini Kartini masih hidup, akankah beliau suka selfie dan menonton Film Korea?”

Oke, itu hanya sebagian kecil dari pemikiran unik yang muncul hari ini. Tapi kalau dipikir kembali, bukankah pergaulan itu sangat berpengaruh bagi kepribadian seseorang? Ada yang tahu berapa banyak anak-anak yang terlibat tawuran atau narkoba karena salah pergaulan? Atau anak-anak yang menjadi baik dan berwawasan luas karena pergaulan juga?

Mungkin kita tidak akan mengenal Albert Einstein sebagai fisikawan ataupun orang yang cerdas jika beliau memilih untuk aktif di sebuah perkumpulan berandalan. Mungkin jika Vincent van Gogh terlahir saat ini, dia tidak akan memilih aktif di dunia lukis karena karyanya tidak pernah dihargai lingkungannya, dan mungkin beralih ke dunia engineer. Mungkin jika Kartini terlahir saat ini beliau hanya akan menjadi remaja yang suka selfie, menonton drama korea dan galau menanti jodoh. Hei, itu hanya satu dari sekian banyak kemungkinan yang ada, siapa yang tahu tokoh favorit kita atau orang yang kita kagumi akan menjadi seperti apa jika saja mereka memiliki pergaulan yang berbeda.

Karena itu aku merasa wajar jika melihat ada sahabatku yang berubah menjadi galau karena pergaulan dia diisi oleh orang-orang yang galau juga. Dan aku pun juga masih mempertanyakan apakah keputusanku bergaul dengan para deadliner dan orang-orang yang tidak terlalu peduli pada akademik tepat atau tidak, hahaha.

Mungkin itu penyebab Rasulullah bersabda demikian.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Bukan berarti kita perlu menjadi pribadi yang tertutup atau pemilih dalam berteman, tapi perlu lebih memperhatikan siapa saja sahabat kita, dan apakah sahabat kita memang mengarahkan kita ke arah yang lebih baik atau tidak. Ini hidup kita, kita bebas bertindak sesuka hati selama ingat untuk bertanggungjawab nanti. Jika ada yang memang bisa berubah dan mengajak teman-temannya untuk berubah juga, itu sangat bagus. Tapi jika belum, langkah apa yang sebaiknya kita ambil agar kita tidak terkena pengaruh buruk, atau pergaulan kita menjadi baik?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s