Memaknai Pendidikan

“Untuk apa berlelah-lelah demi tiga koma?”

Pertanyaan itu terlintas di pikiranku begitu saja, setelah terlambat bangun di kelas dimana seharusnya aku melakukan presentasi, dimana semua peserta wajib masuk jika tidak ingin nilainya berkurang. Entah apakah pikiranku saat ini ingin menyalahkan kenyataan dan mencari pembenaran atau memang terpikirkan begitu saja dan mempertanyakan apa yang selama ini kuanggap kebenaran. Bukankah itu wajar?

Lalu setelah melihat transkrip aku pun sadar, meskipun aku menjalani semester ini dengan asal-asalan, selama tugas akhir selesai dan lulus dari tes fundamental engineering (FE) yang dilaksanakan jumat pekan ini dan pekan depan, aku sudah bisa bersantai dan bersikap abai terhadap sisa tugasku. Bahkan aku bisa mengerjakan semua tugasku dengan asal untuk fokus hanya ke tugas akhir dan FE, bahkan mungkin juga untuk mencari beasiswa lanjut studi ke luar negeri mengingat akademikku saat ini masih dapat diterima. Cukup bertahan hingga akhir semester, kan?

Mendapat ip tiga koma memang punya keuntungan, seperti cv terlihat sangat indah bagi yang mau melamar pekerjaan, melanjutkan studi ataupun mengikuti seleksi suatu program setelah lulus. Jadi teringat perkataan seorang petinggi perusahaan, yang berkata bahwa mereka menyeleksi mahasiswa berdasarkan ip karena menurut mereka tingginya ip menunjukkan sang pemilik ip menjaga amanah yang diberikan orangtuanya untuk belajar dengan baik, sehingga mereka menganggap sang pemilik ip dapat dipercaya.

Yah, setidaknya itulah yang kudengar, meski aku juga masih skeptis, menganggap itu hanyalah kata-kata manis yang terucap agar sistem seperti ini dianggap benar oleh yang mendengar. Jadi teringat diskusi dengan para senior dahulu, bahwa sistem pendidikan saat ini seolah mengubah pesertanya menjadi robot yang siap dikirim ke pabrik-pabrik. Entah ya, menuruti perintah dengan hasil yang sangat memuaskan, bukankah itu tidak jauh berbeda dengan apa yang seperangkat robot lakukan?

Jadi apakah perkuliahan ini hanyalah kegiatan meng-upgrade soft skill atau meng-install hard skill sebelum para manusia robot ini siap dikirim ke dunia industri? Mungkin iya, dan mungkin tidak. Seperti apa yang dikatakan seniorku sebagai penutup dari diskusi.

“Meski mungkin sistem yang ada saat ini kurang tepat, tapi kita juga perlu memaknai proses pendidikan yang kita ikuti saat ini.”

Ya, memberi makna pada apa yang sedang kita pelajari saat ini. Apakah kita melakukannya karena kita ingin melakukan sesuatu dengan ilmu yang kita dapat atau karena terpaksa? Apakah kita menganggap pelajaran yang kita ikuti sebagai sebuah kewajiban dari masyarakat ataukah sebagai hak untuk meningkatkan kapabilitas kita? Apakah kita menganggap kelulusan atau naik kelas adalah suatu hal yang harus terjadi jika ingin menghindari rasa malu ataukah peningkatan level materi karena kita sudah menguasai materi di level sebelumnya?

Jadi teringat dengan ujian nasional tahun ini yang menggunakan soal internasional. Tidak sedikit peserta yang protes dengan alasan soalnya susah atau khawatir tidak lulus karena UN yang hanya 3 hari ini. Aku memang tidak terlalu setuju dengan un yang kelihatannya hanya membuang-buang anggaran negara karena bocoran dapat merajalela dimana-mana atau guru dan murid saling bekerjasama untuk mengharumkan nama baik sekolah, hei, bukan itu tujuan ujian diadakan kan? Tapi aku juga agak miris membaca komentar-komentar protes tersebut, apa yang salah sih dari mengulang setahun lagi kalau ternyata memang belum mampu?

Entah ini salah siapa, apakah kementerian yang suka menggonta-ganti kurikulum, murid yang belum memaknai pendidikannya, atau situasi sosial dimana anak yang tidak lulus atau tinggal kelas sering diejek atau dicap bodoh seperti saat ini, setidaknya itu cerita pengalaman seorang muridku yang tinggal kelas, yang kudengar dari beberapa warga. Yah, terlepas dari itu, mungkin ini juga merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk memaknai pendidikan. Mungkin memang saat ini makna pendidikan tidak sepopuler makna cinta atau makna sahabat, tapi, mengingat hal ini tidak kalah penting, mengapa tidak mulai memaknainya?🙂

Bisa dimulai dari tiga pertanyaan sederhana. Apa yang dapat kamu lakukan, apa yang ingin kamu lakukan dan apa yang mau kamu usahakan setelah mendapatkan ilmu-ilmu ini?

Selamat memaknai pendidikan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s