Memperingati Kepahlawanan

Memperingati kepahlawanan. Tema pelajaran di sebuah sekolah pekan ini. Belum setuju untuk mengangkat ini sebagai tema, tapi kalau protes agak repot juga karena banyak yang telah dipersiapkan untuk ini. Sudah lah, mari meracau disini.

hakikat-perjuangan

Sumber Gambar: http://www.anneahira.com/hakikat-perjuangan.htm

Pahlawan. Kata yang maskulin, menggambarkan sosok-sosok pemberani yang mengusir para penjajah dari negeri ini. Sehingga para lelaki tidak perlu lagi bekerja secara paksa, dan perempuan tidak ada lagi yang diculik untuk dijadikan gundik, bahkan dapat menjadi kaum terdidik. Mulia sekali kedengarannya.

Namun aku punya definisi tersendiri terkait pahlawan. Pahlawan adalah orang yang memperjuangkan kebaikan untukku. Hanya untukku. Egois? Mungkin. Hei, bukankah tiap orang punya kebebasan mendefinisikan kata-kata? Setidaknya itu definisi dari kebebasan berpendapat yang diatur undang-undang bukan?

Bukan berarti aku menganggap para pejuang di belahan bumi lain seperti Nelson Mandela yang memperjuangkan nasib kulit berwarna di benua afrika sana tidak berharga. Aku mengklasifikasikan mereka sebagai “Inspirasi”. Mereka tidak memperjuangkan kebaikan untukku, tapi menggerakkanku, atau mengarahkanku melakukan sesuatu yang kuanggap baik.

Aku menganggap julukan “Pahlawan” bukanlah julukan yang bisa diberikan pada siapapun, tapi aku juga tidak berpendapat julukan itu sebegitu hebat hingga tidak ada yang mampu mendapatkan julukan tersebut.

Dan aku punya banyak orang yang kujuluki pahlawan. Mulai dari pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan di jaman Bung Karno dahulu sehingga hidupku tidak terjajah saat ini, baik itu panglima perang seperti Jenderal Soedirman, negarawan macam Muhammad Natsir, tokoh pelopor pendidikan macam Ki Hajar Dewantara, dan banyak lagi. Sulit untuk menyebutkan semuanya, Bung Hatta, tiga serangkai, seluruh anggota panitia sembilan yang mempersiapkan piagam jakarta, anggota bpupki dan/atau ppki, semua pihak yang terlibat dalam perjuangan memerdekakan negara ini. Pahlawan bangsa, orang-orang yang memperjuangkan kebaikan bagi bangsa, tidak heran mereka dianggap pahlawan oleh banyak orang. Dan, sebuah kehormatan untuk menjadi bagian dari yang mereka perjuangkan🙂

Begitu juga dengan pahlawan yang membuat kehidupan semudah saat ini, dari Isaac Newton yang menyadari mekanika hingga menjadi ilmu yang aplikatif, James Watt dengan mesin uap modernnya yang menciptakan revolusi industri dan berkembangnya teknologi, Alexander Graham Bell yang menemukan telepon, Nikola Tesla yang membuat energi listrik mudah didistribusikan (sangat disayangkan ide wardenclyffe tower belum terwujud, semoga ada yang mau melanjutkan sehingga energi listrik dapat disalurkan secara wireless, kelihatannya akan menarik, haha), dan tokoh-tokoh serupa.

Begitu juga dengan sosok yang menginginkan kebaikan bagi Umat Muslim, Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, para Nabi dan Rasul serta para sahabat di jaman Rasulullah, yang menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Ada beberapa orang yang berkata mereka tidak perlu agama untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi mengingat kehidupan bangsa Arab di jaman dahulu sebelum Rasululllah diturunkan yang mendapat julukan jahiliyyah, aku ragu akan kebenaran perkataan tersebut. Semudah itu kah membedakan yang baik dan buruk saat keburukan telah merajalela dan tidak ada yang tahu hal atau perbuatan seperti apakah yang baik bagi mereka? Entah lah.

Dan yang paling penting, tentu saja, pahlawan yang berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dengan jalan yang halal tentunya; Ibu yang sangat peduli terhadap kondisi anak-anaknya, dari kesehatan hingga pendidikan; Para guru yang benar-benar menginginkan murid-muridnya menguasai ilmu yang dia ajarkan, karena dia yakin akan bermanfaat bagi mereka di masa depan nanti; Para sahabat seperjuangan yang saling bahu membahu untuk tujuan yang sama, entah kebetulan memiliki tujuan yang sama atau memang hanya ingin membantu saja; dan berbagai profesi yang tidak terlihat penting tapi sangat memperjuangkan kebaikan kita, seperti tukang bersih-bersih yang menyebabkan kita tidak terkena penyakit dari tumpukan sampah, para petani dan pedagang tempat kita mendapatkan variasi makanan yang bergizi, para supir kendaraan umum yang mengantarkan kita pada tujuan, dan masih banyak lagi.

Mereka semua pahlawan, dan memang jasa mereka dalam kehidupan kita sangat penting. Tapi meski begitu, aku tidak menganggap kita perlu membuat satu hari khusus untuk memperingati mereka.

Menurutku memperingati mereka dapat dilakukan dengam cara yang lebih sederhana. Ingatlah mereka, dan bayangkanlah mereka mengamati semua tindak-tandukmu selama ini. Menurutmu, akan banggakah mereka?

Dan sampai sekarang aku masih merasa malu pada pahlawan nasional, dan Rasulullah, mengingat kemerdekaan dan kebaikan yang mereka perjuangkan untukku lumayan banyak kusalahgunakan dengan hal yang kurang bermanfaat, seperti terlalu lama berada di depan internet ._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s